Selasa, 15 Maret 2016

[TUJUAN] Tujuan

Di sebuah restoran yang terletak di pelataran pusat perbelanjaan mewah ibukota, dua orang pria tampak berbincang serius. Yang satu setengah baya, menggunakan kemeja putih digulung selengan. Ia menggunakan jam emas dan sepatu dari kulit buaya. Sesekali ia membolak-balik kertas di hadapannya, menatapnya serius sembari mengusap keringat dengan sapu tangan.

Di seberang meja duduk lawan bicaranya. Berpakaian santai, kemeja lengan pendek berwarna biru pastel, celana khaki, dan sendal kulit buatan Jerman. Rambutnya tersisir ke belakang, klimis oleh pomade. Ia duduk bersandar sambil menyilangkan kaki. Kacamata hitam tak lepas dari wajah, padahal sinar matahari terhalangi oleh gedung-gedung di seberang jalan.

“Saya dengar keputusan Kejaksaan untuk membuka kasus anda sudah final?”
“Ya.”
“Anda tidak khawatir, Bos?”
“Kalau mereka berhasil mendakwaku, setidaknya terancam 15 tahun penjara. Tentu saja aku khawatir.”
“Wah… menyebalkan sekali ya.” Pria setengah baya itu berhenti membaca dan menengadah ke arah lawan bicaranya. Ia berdeham dan matanya menatap sinis.

“Jadi bagaimana? Anda berminat dengan proposal yang saya tawarkan?
“Saya masih belum sreg dengan syarat dan ketentuannya.”
“Ada pasal yang meragukan?”
“Tidak juga. Saya hanya merasa perlu membaca setidaknya satu kali lagi, agar tak ada pasal atau klausul yang luput dari pengamatan.”
“Sepertinya anda termakan rumor yang beredar, Bos. Anda kan tahu, di zaman media sosial seperti sekarang, berita tidak jelas pun menjadi viral. Asal pas bumbunya.” Si pria setengah baya mengacuhkannya. Sebagai seorang politisi senior, ia sudah biasa dengan rumor.

“Saya sudah melakukan bisnis ini lama sekali. Inti dari penawaran saya sederhana saja. Saya punya aset yang saya tahu Bos inginkan. Sementara, Bos memiliki persis apa yang saya butuhkan. Pasal-pasal di sana hanya tetek bengek yang memastikan bahwa lingkup perjanjian kita tidak menjalar kemana-mana,” pria itu memperbaiki posisi kacamata hitamnya. “Sungguh, pasal-pasal itu lebih banyak berisi tentang perlindungan klien. Bisnis kami berbasis kepuasan klien, Bos,” sambungnya, mengongkang-onkang kaki.
“Ya, anda boleh berkata seperti itu. Tetapi anda juga tentu sudah tahu reputasi anda di masyarakat. Saya akan bodoh sekali bila tidak berhati-hati,” jawab si politisi sambil terus meramban baris demi baris kata-kata di kertas.
“Begini, Bos. Saya rasa kita tak perlu terlalu lama bertele-tele,” pria itu membuka kacamatanya. Matanya yang sayu menatap lurus ke mata si politisi. “Anda punya keinginan. Sama juga seperti saya. Saya yakin anda tahu persis isi perjanjian ini,” ujarnya sambil menekankan jarinya ke kertas. “Saya bahkan telah menjabarkan bonusnya. Bonus yang hanya ditawarkan ke orang-orang seperti anda.” Ia lalu mencondongkan badannya ke depan, “jadi saya akan tanya sekali lagi: are you in, or are you out?”

Si politisi menutup map yang mengamplopi kertas-kertas tadi. Ia memandang langit kota yang memerah oleh senja yang merekah. Entah apa yang dicarinya di sana. Bila akan jaminan keabsahan niat si pria berkacamata, jelas dia salah alamat. Tatapannya bergerak ke sana ke mari. Wajahnya berlipat, sesekali tangannya mengusap dagu, sesekali merubah posisi duduk.

Beberapa saat kemudian ia mendapatkan keputusan. Diulurkannya tangan ke depan, yang dengan segera disambut oleh jabatan erat pria di depannya. Satu lagi perjanjian bisnis yang sukses berhasil dikantongi.

Pria berkacamata itu tersenyum lebar sambil meneguk secangkir triple espresso. Aku yakin si politisi mengerti sepenuhnya masalah yang ia telah undang. Tetapi dalam kondisi buah simalakama, keuntungan seperti apa pun tidak boleh dilewatkan.

§


Lima tahun kemudian.

Si politisi tengah bersantai di vila pribadinya. Hari itu udara pegunungan sangat sejuk, nisbiah untuk daerah tropis seperti ini. Aroma yang menyebar dari pepohonan pinus menggelitik hidung. Rumput masih basah oleh kabut yang perlahan menguap diusir mentari tengah hari. Suara burung-burung di pucuk pepohonan bersaing dengan suara musik dari pemutar piringan hitam dan dengan cekikikan gadis-gadis berpakaian minim yang lalu lalang di sisi kolam renang. Vila ini dibangun seorang gubernur jenderal di masa kolonial. Aslinya tidak memiliki kolam renang, tetapi atas permintaan si politisi sebuah kolam dibangun tiga tahun lalu. Agar lebih meriah, ungkapnya. Ya, tentu. Yang jelas sejak kolam ini selesai, aku tak pernah lagi melihat keluarga si politisi berkunjung ke vila.

Seorang gadis berkulit putih bagai pualam yang tubuhnya hanya ditutupi dua lembar kain tipis mendekatinya sambil membawa telepon genggam. Dengan senyuman dan kerlingan ia menyerahkannya pada si politisi. Bak penari ia membalikkan badan dan melenggak-lenggok ke arah kolam. Tempat ini memang penuh dengan keindahan. Pantas saja bisnis temanku tidak pernah seret.

“Halo, Karina.”
“Ya, Pak. Saya masih baru saja turun dari heli, Pak. Sekarang sedang di mobil menuju ke vila.”
“Oke, bagus. Untunglah kamu bisa menyempatkan datang. Saya tahu kamu baru mengambil cuti liburan tiga hari lalu.”
“Tidak masalah, Pak. Bapak kan mengerti saya, tidak bisa tenang selama liburan. Terus menerus memikirkan masa kampanye yang tinggal dua minggu lagi,” jawabnya penuh semangat. Tulus atau tidak, aku tak mampu memastikan.
“Baiklah, saya tunggu di vila.”

Ia merebahkan badan dan memejamkan matanya. Dengan jentikan jari, dua orang gadis yang sedang duduk-duduk di tepi kolam mendekat. Aku bagai menyaksikan penampilan virtuoso kala jari-jari mereka yang lihai mengoleskan losyen, mengusap, membelai, dan melemaskan otot dan urat yang tegang pada tubuh pria tua itu.

Deru mesin dan suara ban mobil yang melindas kerikil membuyarkan lamunannya. Ia meraih kimono putih tebal yang ada di meja dan berjalan masuk ke dalam ruang kerja. Di sana direktur kampanye sudah berdiri menunggu. Nafasnya sedikit terengah-engah tetapi wajahnya sumringah. Sebuah koper besar teronggok di dekat pintu.

“Bagaimana liburannya, Pak?” ujarnya membuka percakapan.
“Lumayan. Bagaimana Rio?”
“Wah ramai sekali, Pak. Penuh dengan turis. Saya lebih banyak menghabiskan waktu di kamar, merancang strategi kampanye dan berkoordinasi dengan pasukan media sosial kita.”
“Bagus, bagus. Bagaimana dengan nyonya besar?”
“Tim saya sudah menanganinya sesuai dengan pesan Bapak. Ibu dan anak-anak baru tiba di St. Moritz. Kami sudah berkoordinasi dengan polisi setempat agar menjauhkan pers dari keluarga Bapak.”
“Oke. Penting sekali bagi saya untuk berkonsentrasi pada kampanye tanpa gangguan nyonya besar,” matanya melirik ke arah kolam renang.
“Tentu saja, Pak. Tentu saja.”

Politisi senior itu menduduki kursi di belakang meja kerjanya yang sangat besar. Pada dinding di belakangnya tergantung sebuah lukisan portret setinggi tiga meter. Di sana tampak ia berdiri menggunakan seragam kebesaran, lengkap dengan segala regalia, dengan latar belakang keindahan alam negaranya.

“Karina, silakan duduk.” Perempuan itu tergopoh-gopoh mendekati kursi di hadapan si politisi. Sedikit terhuyung-hutung. Masih jetlag sepertinya. “Ada sesuatu yang sangat penting yang hendak saya bicarakan.”
“Masalah elektabilitas, Pak?” air mukanya cemas.
“Ya, salah satunya. Saya benar-benar khawatir mengenai hal ini. Dalam tiga bulan terakhir, elektabilitas saya selalu kalah jauh dari si keparat. Rata-rata tertinggal 25%.” Mendengar hal itu Karina semakin gelisah.
“Pasukan media massa dan media sosial kita sudah dikerahkan untuk menyebar propaganda, Pak.”
“Saya tahu. Tetapi sejak si Jaksa Agung Muda idealis itu berkoar di media bahwa dia akan membuka kasusku dari lima tahun lalu, semua tindakan kita bagaikan tong kosong. Apalagi tadi pagi ia baru saja sesumbar di akun media sosialnya bahwa besok akan membawa bukti-bukti baru ke Kejaksaan.” Sang direktur kampanye menunduk semakin dalam. “Kamu tahu artinya bila kita kalah?”

Karina, sang direktur kampanye, adalah mantan sukarelawan yang paling vokal saat si politisi mencalonkan diri lima tahun lalu. Imbas dari kemenangan jagoan yang dielu-elukannya, konglomerasi keluarganya mendapat durian runtuh. Berbagai kontrak pemerintah dilimpahkan ke mereka. Mulai dari pembangunan jalan tol, pengadaan kapal-kapal berat, hingga impor vaksin bagi seluruh rumah sakit di pelosok negeri. Dengan perpanjangan tangan-tangan kekuasaan si politisi dan mesin propaganda raksasa Karina di belakang mereka, sama sekali bukan hal yang sulit untuk menggiring opini masyarakat. Mengalihkan tatapan mata publik ke arah lain sudah bagai permainan anak-anak.

Ancaman kekalahan di pemilihan berikutnya berpotensi menjungkirbalikkan fondasi kekuasaan dan menghentikan perputaran roda propaganda yang telah mapan. Dan Karina memiliki banyak rahasia yang harus tetap terkubur. Jauh di dalam tanah, jauh dari endusan publik.

“Apa yang harus saya dan tim lakukan, Pak?”
“Begini. Saya telah memikirkan hal ini selama beberapa hari terakhir. Saya rasa saya tahu orang yang dapat membantu kita keluar dari masalah,” jawab si politisi. Matanya menatap tajam ke arah Karina.
“Siapa, Pak? Biar saya hubungi sekarang juga.”
“Kamu tidak mengenalnya,” Karina sedikit terkejut. “Saya akan pertemukan kamu dengannya nanti. Tetapi sebelum itu, saya ingin kamu melakukan sesuatu untuk saya. Sebuah permintaan pribadi.”
“Tentu saja, Pak. Apa saja, Bapak tinggal sebutkan,” jawabnya tergesa-gesa.
“Orang yang saya ceritakan ini, dia memiliki pengaruh yang luar biasa. Saya sangat yakin, dengan bantuannya kita mampu lolos dari masalah elektabilitas yang sedang kita hadapi.” Karina memperbaiki posisi duduknya dan memperhatikan dengan seksama. “Pria ini membantu saya keluar dari masalah tuntutan hukum lima tahun lalu.” Si politisi mengeluarkan sebatang cerutu dari dalam laci. “Namun sebagai akibatnya, saya berhutang banyak. Sementara itu,” ia menyalakan cerutunya, “kamu tahu sendiri bahwa arus keluar-masuk asetku saat ini sedang diawasi secara ketat. Saya tidak dapat meminta bantuannya lagi sebelum…”
“Maaf bila saya lancang memotong, Pak. Saya rasa saya tahu arah pembicaraan ini. Tentu saja saya siap, Pak. Berapa pun besarnya hutang tersebut, saya yang akan menanganinya,” ujarnya berapi-api.
“Kamu yakin? Hutang ini sangat besar. Memang, bantuan darinya akan sangat sepadan. Sangat, sangat sepadan.”
“Bapak tidak perlu meyakinkan saya lagi. Bapak berikan saja nomer kontaknya, saya yang akan menangani selanjutnya,” jawab Karina mantap.

Konglomerasi keluarganya tiga tahun berturut-turut berada di Forbes 500, rekening pribadinya tersebar dari Geneva hingga Pulau Cayman, tentu Karina dapat menjawab permintaan si politisi dengan percaya diri. Lagi pula apa gunanya semua aset tersebut bila nanti dibekukan oleh rezim pengganti. Lebih baik berkorban sekarang untuk mendapatkan untung yang lebih besar di kemudian hari, mungkin begitu pikirnya. “Berapapun biayanya akan saya sediakan. Kelanggengan kepemimpinan Bapak adalah tujuan hidup saya,” tambah Karina. Dalam benak ia mengira-ngira besar hutang si politisi serta mengalkulasi aset-aset apa saja yang harus ia korbankan. Lamunannya dibuyarkan oleh suara ketukan di pintu. Saat pintu terbuka, seorang pria dengan kemeja merah muda dan celana kargo selutut sudah berdiri di sana.

“Halo, Bos!”
“Halo. Silakan masuk.”
“Halo, sepertinya kita belum berkenalan,” ujar pria itu sambil mengulurkan tangan ke arah Karina.
“Karina, direktur kampanye Pak…”
“Ah, tentu saja,” pria itu menyambut tangan Karina dan mencium punggun tangannya dengan lembut.
“Ini, Karina. Calon duta besar saya di periode berikutnya,” sambung si politisi sambil sedikit menyunggingkan senyum, berusaha mencairkan suasana. Ia berjalan mendekati kabinet yang berisi beberapa botol minuman. “Saya tadi baru saja berdiskusi dengan Karina. Dia setuju untuk mempergunakan asetnya untuk membayar hutang saya kepadamu.”

Dari perubahan mimik wajahnya, pria itu terlihat agak kaget. Ia masih memegang tangan Karina saat menoleh ke arah si politisi. “Begitu?” ujarnya.

“Ya, saya setuju untuk menggantikan beliau melunasi hutangnya pada anda,” ucap Karina tegas. “Sebagai pendukungnya yang paling setia, saya seratus persen berkomitmen pada keputusan ini. Secepatnya tim pengacara dan akuntan saya akan segera menghubungi anda, memformalkan perubahan kontrak.”
“Tidak perlu, nona. Saya melihat mata anda yang begitu indah, saya tahu anda orang yang dapat dipercaya. Yang saya butuhkan hanya persetujuan verbal dan jabatan tangan anda,” ujar pria itu, senyum masih tersungging di bibir.

Karina mengulurkan tangannya dengan sigap. Pria itu melirik pada si politisi yang hanya menatap dari jauh dengan raut wajah dingin. Si politisi meneguk sekaligus minuman di gelasnya. Saat ia menggengam erat tangan Karina, matanya sekilas tampak bersinar. Tapi kurasa cuma aku yang bisa melihat itu. Karina sendiri sedikit terkejut oleh betapa dingin tangan yang ia genggam. Pikiran yang masih diselimuti oleh berbagai masalah kampanye membuatnya segera menepis keanehan tersebut.

“Nona cantik, anda tidak perlu lagi pusing memikirkan masalah kampanye,” ujar pria itu.
“Baiklah. Terima kasih, Karina. Sekarang ada yang hendak saya bahas dengan teman saya ini,” ujar si politisi.
“Tentu saja, Pak,” jawab Karina. Seiring kakinya melangkah menuju pintu, Karina merasakan suhu ruangan drastis berubah menjadi sangat dingin. Ia menatap ke luar, mentari masih bersinar cerah. Mungkin cuma thermostat yang bermasalah, gumamnya dalam hati.

“Saya tahu kamu seorang politisi yang licin. Tetapi mengkhianatinya seperti itu… Wow, saya terkesima, Bos,” ujar si pria sesaat setelah pintu kembali tertutup.
“Kamu sendiri yang menulisnya di kontrak yang kamu sodorkan lima tahun lalu,” jawab si politisi singkat.
“Dari awal saya sudah merasakan bahwa anda adalah pelanggan yang spesial. Jarang sekali ada yang membaca tumpukan pasal-pasal itu,” sang pria tertawa kecil. Sang politisi kembali duduk di kursinya.
“Lalu, mengenai bonus yang kamu tawarkan?”
“Kita baru saja menutup satu bisnis dan anda sudah hendak membahas bisnis baru. Santai sedikit lah,” pria itu menjatuhkan badannya ke sofa besar di sudut ruangan. “Tentu. Seperti ucapan saya dulu, bisnis ini mementingkan kepuasan klien. Saya tidak pernah mengingkari janji. Tidak pernah. Anda akan segera mendapat tambahan keuntungan pasca perjanjian yang baru kita tutup tadi.”
“Baiklah. Lalu, mengenai atasan anda?” tanyanya hati-hati.
Pria itu tertawa lantang, bagai telah menunggu-nunggu pertanyaan tadi. “Jawaban saya masih sama. Beliau tidak suka kepadamu, Bos. Nilai merahmu terlalu banyak. Tidak ada peluang sama sekali ia akan meloloskanmu. Tapi,” pria itu mengambil jeda sejenak, “mungkin saya bisa menawarkan bisnis baru lainnya.”
“Maksudmu?”
“Saya tetap memberikan bonus sesuai yang telah dijabarkan di perjanjian awal kita dulu, efektif mulai detik ini: anda akan terpilih untuk periode kedua,” gelegar guntur terdengar dari balik jendela tepat di akhir kalimat pria itu. Ya, petir di siang bolong. Temanku itu memang teatrikal.

“Mengenai bisnis baru yang kau sebutkan barusan?”
“Bila anda bisa membawa lebih banyak orang lagi untuk menyerahkan jiwanya padaku, seperti yang baru saja anda lakukan pada gadis malang tadi…”

Di sini pria itu tiba-tiba menghentikan kalimatnya. Ia mengeluarkan arloji bandul dari dalam saku celananya. Sambil menatap arloji, ia mengangkat tangannya. Tak lama kemudian, ia mulai menghitung mundur menggunakan jari-jarinya.

“Lima, empat, tiga, dua, satu.” Berselang sekitar satu detik dari kata terakhir tadi, sayup-sayup terdengar suara menggelegar dari kejauhan. Kali ini bukan petir. “Helikopter yang ditumpangi Karina baru saja menabrak tebing,” pria itu menekuk wajahnya, membuat mimik sedih. Ia memasukkan arloji ke dalam saku. Si politisi hanya duduk membisu. Wajahnya pucat, cerutu di tangannya hampir saja jatuh.

“Sampai di mana tadi? Oh ya, bila anda dapat terus menyuplai saya dengan jiwa-jiwa malang, maka tim kami, yang tersebar di seluruh benua dan samudera, akan menjamin bahwasanya semua kemewahan, semua kesenangan, semua gadis-gadis muda, semua Chardonnay, Merlot, dan Chianti yang anda cintai, vila-vila besar di kaki gunung seperti ini, mulai dari Patagonia hingga Carpathia, akan selalu tersedia bagi anda. Kamu memang tidak akan menuju ke atas,” tangannya menunjuk ke langit-langit, “tetapi setidaknya Bos bisa menikmati tempat ini sembari menunggu tujuan akhir.” Ia membalikkan tangannya, telunjuknya mengarah ke lantai. “Jadi, sekali lagi, are you in or are you out?”

Politisi setengah baya itu bangkit dari kursinya. Ia menghisap cerutu dalam-dalam, lalu mematikannya di asbak bersalut emas. Ia berjalan menghampiri si pria, “bila itu tujuan akhir saya, tentunya akan lebih baik bila saya membawa banyak teman.” Dan ia pun mengulurkan tangannya.
“Haha, saya tahu anda memang pelanggan yang cerdas,” pria itu bangkit dari sofa, menyambut tangan si politisi dan menjabatnya erat. Ia lalu melangkah ke arah pintu keluar.

“Bos, selera anda bagus. Saya sangat menyukai vila ini. Dulu saya pernah mengunjungi sang gubernur jenderal yang membangunnya. Tak terkira berapa ribu jiwa-jiwa malang yang ia kirimkan kepadaku. Nanti saya akan kenalkan anda padanya. Kalian berdua pasti cocok. Sampai bertemu lagi!”

Si pria misterius itu menutup pintu. Suara menggelegar dari luar jendela mengiringi tawanya yang masih terdengar dari balik dinding. Sebuah petir menghujam bumi tidak jauh dari komplek vila mewah sang politisi. Awan mendung besar bergulung-gulung menyusuri punggung pegunungan. Gadis-gadis muda dari kolam renang tertawa-tawa kecil, berlarian masuk ke dalam ruangan kerja si politisi untuk menghindari gerimis.

Tak berselang lama hujan berubah deras. Sederas keuntungan bisnis temanku selama beberapa ribu tahun terakhir. Bangsa manusia, kalian memang selalu jatuh pada lubang-lubang yang sama.

[SENDAL JEPIT] LEMPAR !!!





“Ayolaaah… Masa gitu doang nggak bisa?, yang kenceng dong….”

            “Berisik kau, Du!!.”

FFUUUUHHHHHH… Serpihan genteng pun terbang dilempar Iman.

PRAANNGGG… Meleset.

“Hahaha, nggak kena!,” Dudu joged kegirangan.

“Arggh… ,” Iman tampak kesal, kami ikut-ikutan.

Kami sedang memasuki ronde 5, pilar pendek yang tersusun dari potongan genteng masih berdiri tegak, kami harus meruntuhkannya agar ronde 5 ini dimulai. Dudu jadi ‘kucing’ yang jaga sedangkan kami berenam yang akan bersembunyi. Halaman rumah Reni cukup luas biasanya dipakai untuk garasi mobil colt bak terbuka milik Ayahnya, kami terkadang bermain disini, biasanya 15 orang lebih ikut bermain, kali ini sepi Reni tidak ada di rumah.

Lima kali bermain lima kali pula harus jaga, sepertinya Dudu hobby jadi tukang jaga, dia berbakat menjadi Hansip.

“Kamu aja Wi, ayo cepet lempar!!!.” Dudu menantang sembari tersenyum penuh percaya diri.

Aku pun maju, pandanganku lurus mengunci sasaran, tumpukan genteng itu berdiri 10 langkah didepanku. Aku tarik nafas panjang, potongan genteng ditangan Aku genggam erat, perlahan ku ayunkan tanganku kemudian kulempar sekuat tenaga, potongan genteng memelesat tajam.

PRAANNGGG… Kena!!.

“Hahaha, Ayo sembunyi!!,” Andi berlari paling duluan, kami menyusul berlari kesegala arah.

Aku berlari ke arah timur samping gang rumah Pak Nano, sekejap mataku melirik ke belakang, tampak Dudu sedang berdiri sambil tersenyum, dia tidak segera merapikan potongan genteng yang berserakan, dia memperhatikan arah larinya anak-anak yang lain, curang.

“Ihhh,, ngapain sih kamu ngikutin Aku mulu??, kesana ihh jangan ngikutin.” Aku berlagak marah, Iman mengikutiku dari belakang.

“Kalau ngumpet sama yang lain Aku sering ketahuan,” Iman menunduk, kami berdua duduk dibelakang rumah Pak Nano, beruntung desa kami masih jarang orang yang membangun tembok tinggi atau memasang pagar besi untuk membatasi tanahnya, kami bebas berlarian di halaman mereka, kadang dimarahin sih.

“Ya sudah, awas kalau bikin Aku repot.”

“Siap Wii,” Iman mengangguk.

                Kami berdua berjalan perlahan sambil mengintip memeriksa keadaan, ini adalah tempat persembunyian andalanku, dari sini bisa melihat jelas ke arah halaman rumah Reni, Dudu sudah berhasil menyusun genteng, dia sedang memandangi jam ditangannya, entah taktik macam apa yang sedang dia siapkan.
               
                “Nisa tuh Nisaa … keluar aja Nis… ,” Dudu teriak kegirangan, mantra ajaib pun diucapkan,”Nisa ‘bancak’!!,” satu mangsa ditangkap. Kaki Dudu menginjak-injak batu kecil tidak jauh dari lingkaran yang terpahat ditanah tempat tumpukan genteng berada.
               
                “Yaahh,… Kok bisa tau sih ??,” Nisa keluar dari persembunyian, rambut hitamnya melambai-lambai tertiup angin, rok hitamnya ikut berkibar, tangannya mencengkeram sebungkus makanan ringan.

                “Tau dong, Hahaha,” Dudu bangga.

                Yaa bagaimana tidak ketahuan, kalau setiap sembunyi larinya ke warung Bu Ika terus. Nisa duduk diteras rumah Reni sambil menikmati keripik kentang rasa ayam barbeque, KREESS… KRESS… KRESS… bikin Dudu ngiler.

                CING KOROKOK BODOGOL CAU…
                UCING NA NGOKOK BOOL NA BAU …
               
                Nyanyain khas petak umpet pun berkumandang, itu suara Deni. Sepertinya dia bersembunyi tidak jauh dari halaman Reni, Dudu memperhatikan sekitar dengan sesama, matanya liar seperti elang mencari buruan.

                “Suara Si Deni, Wii.” Iman menepuk-nepuk punggungku setengah mendorong.

                “jangan dorong-dorong dong, entar Aku ketahuan… Aku juga tahu itu Deni!!, ,” Aku balik mendorongnya pelan.

                “Oh, maaf Wi,” Iman cengengesan, senyumnya manis.

                Sekarang Aku mengendap-endap ke belakang rumah Pak Toto uaknya Nisa, lalu berjalan tembus sampai ke jalan desa. Iman masih saja membuntutiku membuat langkahku terganggu, jantungku berdetak makin kencang.
               
                Kami berdua bersembunyi dibalik gapura didepan gang samping halaman rumah Reni, kami luput dari pengawasan Dudu.

                “ Rita!! ‘bancak’!!,… Andi!! ‘bancak’!!,… dibelakang pohon mangga ituu tadi kelihatan lari… Hahaha,” Kaki Dudu sudah ada di batu kecil lagi, dua mangsa tertangkap, sepertinya dia berbakat menjadi detektif.

                “Ahh kamu sih Rita ngikutin Aku mulu,” Andi mengeluh, dia masih memakai celana seragam sekolah dan baju hitam bergambar logo Batman andalannya.

                “Ahh kamunya aja larinya lambat,” Rita balik mengomel, baju terusan biru berhias bunga-bunga merah kecil yang dikenakannya sudah mulai kusam. Kakak adik ini selalu bermain bersama tapi tidak pernah akur, selalu saja bertengkar.

Rita mendekat kemudian duduk di dekat Nisa sementara Andi berjalan ke arah jalan, dia tidak sengaja melihat Aku dan iman sedang bersembunyi. Iman menempelkan jari telunjuk ke bibirnya.

                “Muter dong, Du… Jangan diem aja, ‘ngokok’,” Andi pura-pura sewot.

                “Santai, Ndi… sebentar lagi semua akan tertengkap olehku,” Dudu tersenyum lebar, giginya tidak rapi. Dia masih saja berdiri tak jauh dari tumpukan genteng yang harus dijaganya, matanya memeriksa sekitar.

                “Wii …!!,” Deni terengah-engah, tiba-tiba saja dia sudah ada dibelakang Iman.
               
                “Apa sih, Den… Ngagetin,” Aku pukul kepalanya pelan-pelan, kesal.

                “Bagaimana ini Wii, kita harus menyelamatkan Nisa… “ dia terlihat ketakutan, sementara Nisa… Nisa berjalan santai menyebrangi jalan desa lurus menuju warung Bu Ika tanpa melirik kepada kami yang tengah serius bersembunyi, lempeng, dia jajan lagi. Nisa kemudian berjalan lagi seperti tadi kembali ketempat duduknya sambil memegang satu keresek penuh berisi beberapa bungkus kerupuk emping, satu bungkus dia buka kemudian makan bersama Rita, dia jajan terus, Rita senang lalu ikut makan bersama. Andi mendekat berharap ditawari. Dudu tidak tertarik, dia masih asik memantau sekeliling.

                “Gini aja Den, Aku punya rencana besar nih,” Aku berkata pelan, Iman dan Deni mendekat, Aku bisikan rencana besarku kepada mereka, iyaa ini adalah rencana besar yang sangat rahasia jadi hanya Aku, Iman dan Deni yang boleh tahu.

                “Oke, Aku mengerti Wii,” Deni berlari ke belakang rumah Pak Toto menunaikan tugas besar dariku, dia mengikuti perintahku tanpa banyak tanya, dia naksir Nisa.

                “Wii… .” Iman berkata.
               
                “Apa…??.” Aku menjawab sambil membelakangi Iman, Aku harus mengawasi keadaan memastikan rencanaku berjalan dengan lancar.

                “Kalau rencana kamu gagal, Aku yang akan menyelamatkan mu, Wii.” Aku terkejut seketika berbalik ke belakang, Iman duduk di tanah memegang daun kering pohon nangka. Aku terdiam berusaha menebak apa maksud ucapan Iman tadi, bingung.

                “Deni… ‘Bancak’!!. Hahahaha,” Dudu berteriak kencang, rencanaku gagal. Gara-gara Iman Aku jadi lupa dengan rencanaku bersama Deni, urgh. Saatnya rencana cadangan.

                “Kamu diam disini, Man. Jalankan rencana ke-tiga kalau Aku tidak berhasil,” pesanku singkat, Iman mengangguk paham.

                Aku berlari mengambil jalan memutar kembali ke samping rumah Pak Nano, lalu berjalan menyusuri gang. Dudu menghadap ke arah jalan desa, Aku kemudian menyelinap ke belakang pohon mangga tempat tadi Andi dan Rita bersembunyi.

Deni pun memulai rencana kedua. Deni memandang ke arah jalan lalu mengibas-ngibas tangannya seolah sedang berkomuikasi dengan seseorang. Dudu melihat sekejap, Deni pun pura-pura diam, Dudu pun mulai curiga, rencana berjalan sesuai dengan rencana.

Dudu berjalan mendekati gapura perlahan-lahan, dia tidak mau gegabah terlalu jauh berjalan bisa berakibat fatal. Selangkah demi selangkah, matanya mencari-cari dengan seksama.
               
                Dudu semakin menjauh, ini kesempatan untukku. Aku pegang sendal jepitku, iya sendal jepit bergambar Hello Kitty warna pink hadiah dari Mamihku. Aku berlari sekuat tenaga menuju tumpukan genteng, Dudu menyadari kehadiranku, dia pun berlari berusaha menyelamatkan bentengnya.
               
Pandanganku lurus kedepan, tumpukan genteng berdiri 5 langkah didepanku nafasku memburu, sendal jepit masih Aku genggam erat, perlahan ku ayunkan tanganku, tiba-tiba ucapan Iman terngiang lagi di kepalaku…

Aku yang akan menyelamatkan mu, Wii…

Konsentrasiku buyar. Segera kulempar sekuat tenaga, sandal jepit ku memelesat tajam, dan… PLUUKK… Sandalku mendarat 2 jengkal didepan tumpukan genteng lalu memantul…

“Dwi… ‘Bancak’… !!,” Aku tertangkap, Dudu tersenyum lebar, Aku tidak beruntung.

“Wah, tinggal Si Iman nih. Hahahaha,”Kemenangan didepan mata.

“Selamatkan Aku, Man… Selamatkan Nisa, biar ga jadi jaga… .” Harapku lirih dalam hati, diikuti bermacam do’a dan permintaan.

Aku ikut bergabung dengan Nisa dan Rita, Aku ikut memakan kerupuk emping  bersama mereka. Andi maskin mendekat tapi tak berani ikut makan, Deni masih saja memperhatikan Nisa, tapi Nisa tidak menghiraukannya, makanan membuat dia lupa segalanya.

“Imaaannn,… Imaaaannnn…,” Dudu tampak bersemangat, dia tahu Iman pasti kalah cepat dibanding dirinya. Dudu mulai berani berkeliling jauh dari bentengnya, Iman target yang empuk.

Kilauan oranye mulai terlihat dilangit, hari semakin sore semakin dingin, Aku mulai lelah menunggu, sebenarnya Iman kemana sih?, Kenapa rencana ketigaku tidak juga dia laksanakan?.

“Andiii,… Rita… Ayo pulang, sudah sore, bentar lagi Maghrib!!,” Wanita bertubuh gemuk menggunakan baju tidur bunga-bunga warna putih tiba-tiba datang.

“Hmmm… Aku pulang dulu, yaa… .“ Andi pamit, lesu tak berhasil ikut makan,

“Aku juga pulang, sampai besok yaaa Kak Uwii … .” Adiknya pun pamit, dia sudah kenyang.

Dudu pun tak sanggup bertahan, akhirnya kami memutuskan bubar mengakhiri permainan dan meninggalkan tumpukan genteng dihalaman Reni, Iman dimanakah kamu, Aku khawatir.

Aku pun menyebrangi jalan lalu masuk ke gang buntu samping Warung Bu Ika, lesu karena terlalu lama menunggu. Sampailah Aku di rumah anak laki-laki itu, bocah aneh yang selalu bisa membuatku tersenyum. Pintu belakang rumahnya terbuka, Aku bisa melihat jelas, Aku bisa melihat dengan sangat jelas, dia ada disana, dia _Iman_ sedang duduk dikursi sambil makan tempe depan televisi, dia tertawa.



Aku ingin pulang.
Bandung, 15 Maret 2016

Jumat, 11 Maret 2016

[SENDAL JEPIT] Tahta

Hari semakin gelap, suara jangkrik dan berbagai binatang malam terdengar. Suara kodok bangkong beradu harmoni dengan suara kucing birahi, lolongan anjing liar menjadi aksen, tokek di seksi perkusi.

Saat sudah tepat baginya untuk keluar mencari makan, proses prokreasi menghabiskan banyak energi, dan ia harus menggantinya. Malam ini dia harus mencari makan di tempat tinggal para raksasa. Tempat di mana makanan berlimpah, tapi bahaya kematian juga mengancam di setiap saat keberadaannya di sana. Secara insting ia tahu bagaimana para raksasa itu membenci kaumnya.
Raksasa-raksasa itu membangun rumah-rumah yang kokoh dari batu. Akan tetapi karena ukuran mereka, kadang celah-celah kecil tersisa lewat mana ia dan kaumnya bisa masuk. Ia melata memasuki salah satu dari celah tersebut, kaki-kakinya mendorong tubuhnya dengan kecepatan luar biasa.

Kosong dan gelap.

Sepertinya para raksasa itu sudah tidur. Ia mulai bergerak dengan lebih berani. Dari celah-celah dinding, ke bawah lemari, menyeberang ruang terbuka, ke tempat di mana para raksasa tersebut biasanya menyimpan makanan. Misi berhasil! Untuk beberapa saat lamanya ia memenuhi hasratnya. Mengisi penuh perutnya. Ia makan dengan rakus, semua makanan yang tidak diamankan dengan baik dijamahnya. Setelah beberapa saat, otaknya mengirimkan isyarat asupan energi telah tercukupi.

Ia merayap kembali ke luar dari tempat penyimpanan makanan tersebut. Sesampainya ia di tengah perjalanan, otaknya mengirimkan isyarat lain: ia butuh air. Inderanya merasakan kelembaban di udara, kelembaban yang berasal dari satu titik di bangunan itu. Ia berhenti sejenak, dan berbelok ke arah kelembaban itu berasal. Sebuah garis terang horizontal terbentuk di atas lantai, menunjukkan celah yang bisa ia masuki. Di sebelah sana ada sumber cahaya, nalurinya meningkatkan kewaspadaan, cahaya adalah bahaya. 

Kaumnya bisa bertahan beberapa minggu tanpa air, tapi di tanah para raksasa ini, semua sumber air dikuasai oleh mereka, ia sudah di dalam, kenapa tidak sekalian saja? Dengan lincah ia menyelipkan dirinya di bawah celah itu. Dia berhasil melalui penghalang itu. 

Cahaya menyilaukan membutakan matanya sejenak, ketika pandangannya kembali, ia menemukan salah satu dari raksasa itu sedang bertahta, matanya menatap langsung ke arah dirinya.

"KECOAAAAAAKKKK!!!" bu Karti berteriak. Tangannya dengan sigap mengambil sendal jepitnya, yang kanan, dan melemparnya ke arah kecoak tersebut. Otak si kecoak masih belum bisa memproses apa yang terjadi, tapi sistem di ganglia syarafnya sudah menembakkan instruksi-instruksi yang menyebabkan kakinya bergerak menghindarkannya dari bahaya. Sendal jepit itu meleset. Tapi arah lari kecoak tersebut menyebabkan ia tersudut. Sekarang satu-satunya cara untuk menghindar adalah berlari tepat ke arah bu Karti.

Bu Karti sudah setengah berdiri, tangan memegangi ujung dasternya agar tidak basah, perasaan takut bercampur dengan benci kepada makhluk sialan itu. Untuk orang seusianya waktu buang air adalah waktu sendirian yang mirip dengan kemewahan. Apalagi ia sudah hampir sampai ke bagian akhir novel yang dibacanya, Poirot baru saja membeberkan deduksinya kepada para tersangka ketika kecoak itu masuk.

Berusaha untuk tidak bergerak sama sekali, tangan kiri bu Karti mengambil sandal jepitnya, sebelah kiri. Masih dengan gerakan seminimal mungkin, seperti petinju yang menyembunyikan pukulannya, ia mengambil ancang-ancang. Kecoak sialan itu masih memandang tepat ke arahnya. Sepasang antenanya bergerak ke segala arah.

Bu Karti mengambil napas panjang, membidik, dan melemparkan sendal tersebut dengan kecepatan tinggi.

PLAAAKK!!!

Rabu, 09 Maret 2016

[SENDAL JEPIT] Merah

“Bune, sendal jepit yang baru kubeli di pasar ada di mana?”
“Sebentar pak’e. Bune pinjam dulu buat ke sumur.”
“Pak’e mau ke surau. Sebentar lagi lohor.”

Setiap menjelang tengah hari suamiku selalu menanyakan sendal jepit merahnya yang baru ia beli di pasar inpres. Selain bertani ke ladang, mendatangi surau adalah kegiatan rutinnya. Tak pernah terlewat olehnya shalat berjamaah di surau desa.

Kami baru saja pindah ke desa ini. Semua warganya adalah transmigran, sama seperti aku dan suamiku. Sebenarnya tempat ini tidak jauh berbeda dengan kampung halaman kami di Jawa. Tanahnya keras, irigasi seadanya, sumber pupuk dan bibit susah dicari. Tapi setidaknya di sini kami memiliki lahan sendiri. Hujan & sinar matahari pun masih berlimpah. Aku dan suamiku telah bertekad untuk menjadikan desa ini rumah yang nyaman bagi anak-anak kami kelak.

“Bune, aku nanti sore sekembalinya dari ladang, bada magrib akan langsung ke tempat Pak Wadi. Ada pertemuan dengan muspida.”
“Muspida itu apa tho, pak’e?”
“Aku juga kurang tahu, bune. Kata pak RT itu bapak-bapak dari pemerintah. Mungkin hendak membahas kekeringan musim panen lalu.”
“Oh. Bune siapkan makanan dulu buat bekal pak’e ya?”
“Sudah tidak perlu. Pak’e nanti makan sepulangnya dari Pak Wadi saja. Bune mendingan istirahat. Kandunganmu sudah mulai besar, aku tidak mau kamu terlalu capek,” ujar suamiku sambil mengusap-usap perutku. “Nak, kamu jangan nakal ya,” suamiku membisikkan kata-kata ke jabang bayi di perutku.

Azan isya berkumandang bersamaan dengan kegelapan malam yang mulai menyelimuti. Hanya ada suara jangkring bersahut-sahutan dalam kesunyian desa kami. Tidak seperti beberapa desa lain yang lebih dekat ke kota kecamatan, di desa kami belum ada listrik. Aku menyalakan pelita untuk diletakkan di teras rumah.

Aku baru saja selesai melipat mukena saat kudengar suara tetanggaku Bude Narsih menyampaikan salam. Beliau sudah lama tinggal di desa ini. Anak-anaknya kini merantau di kota. Ia pernah berkata padaku kalau ia telah menganggapku bagai anaknya sendiri.

“Assalamualaikum, Dayu…,” kudengar lagi suara itu memanggil tergesa-gesa. Tidak biasanya.
“Wa’alaikumsalaam,” kubuka pintu depan. Bude Narsih telah berdiri tepat di depanku. “Maaf, bude. Dayu tadi baru selesai shalat. Silakan masuk, bude.”
“Dayu, bude dan pakde hendak mengajakmu ke kota.”
“Ke kota? Ada apa tho, bude? Kangmas belum pulang. Masih ada pertemuan di rumah Pak Wadi.”
“Pakde sudah bertemu dengan kangmasmu tadi. Dia juga yang meminta pakde dan bude membawamu ke kota malam ini,” kulihat Pakde Darmin berdiri tak jauh dari pagar rumahku. Kendaraan bak terbuka mereka yang biasa dipakai membawa hasil bumi ke pasar sudah terparkir di sana. Aku tak dapat melihat jelas dalam malam pekat yang hanya disinari purnama ini, tapi beliau terlihat gelisah.

“Tolong dengarkanlah budemu ini, Dayu,” wajah bude tampak cemas sekaligus sedih. Aku tak tega mengatakan tidak pada orang yang sudah kuanggap orang tua sendiri ini.
“Baiklah bude. Dayu ambil pakaian dan bekal dulu.”
“Tidak usah, Dayu. Kita harus segera berangkat,” kulihat matanya berkaca-kaca. Ada apa sebenarnya ini?

Aku hanya sempat meraih kain selendang yang kugantungkan di kursi depan. Kukunci pintu depan dengan tergesa-gesa. Bude Narsih menggengam tanganku erat. Tangannya pun terasa begitu dingin.

Pakde Darmin memacu kendaraannya melalui jalanan berdebu yang menghubungkan desaku dengan jalan aspal yang mengarah ke kota kecamatan. Aku tidak mengerti kenapa beliau tidak menyalakan lampu kendaraannya. Mungkin karena dia sudah hapal jalur ini yang telah ia lewati bertahun-tahun, pikirku. Aku enggan bertanya. Aku hanya terdiam. Bude pun tidak berkata-kata. Ia hanya menggenggam tanganku sepanjang perjalanan.

Berkali-kali kulihat Pak Darmin menatap ke kaca spion. Seolah-olah ia hendak melihat apakah ada yang mengejar kami. Kucoba menengok ke belakang.

“Jangan, Dayu,” ucap bude Narsih lirih sambil mencoba mengalihkan pandanganku ke depan. Aku sempat melihat ke belakang sebentar. Aku tak mengerti dengan apa yang kulihat. Desa kami begitu terang bagai diterangi ribuan lampu.

Bukan. Itu bukan lampu. Itu api.

Pak’e…

§


Saat mataku terbuka, kicauan burung dan harum teh manis menyambutku.

“Nak, kamu sudah bangun. Ayo minum dulu,” ucap bude Narsih sambil menyodorkan teh manis hangat. Mataku masih silau oleh sinar mentari yang menyusup dari balik tirai.
“Aku ada di mana, bude?” tanyaku.
“Kita ada di kota kabupaten, nak. Di rumah anak bude,” kulihat seorang perempuan duduk di sebelah bude. Wajahnya mirip bude Narsih tetapi usianya mungkin tidak terlalu jauh dariku.
“Kangmas…?”
“Istirahat lah dulu, nak. Ingat kandunganmu,” suaranya tercekat seolah menahan tangis.

Aku mencoba untuk bangkit. Aku tahu bude dan pakde sangat sayang padaku dan suamiku. Mereka tidak akan menyakiti kami. Tetapi semua ini terasa terlalu aneh. Kepergianku yang tiba-tiba tanpa berpamitan pada suami. Pakde Darmin dan bude Narsih yang begitu gelisah sejak kemarin malam. Dan desa kami. Ada apa dengan desa kami. Aku harus tahu.

“Ada apa ini sebenarnya, bude?”
“Dayu, kamu tidak boleh terlalu lelah dan banyak pikiran. Bude ambilkan sarapan ya?” perempuan tua itu beranjak dari kursinya dan berjalan keluar.

“Eyang, lihat! Desa eyang masuk tivi!” kudengar suara seorang anak berseru dari luar kamar. Aku dapat melihat dari pantulan cermin di lemari pakaian di kamar ini. Sekilas, tapi begitu jelas. Desa kami terbakar hangus.

Lalu segalanya gelap gulita.

Koran mengatakan bahwa desa kami sarang pemberontak. Bahwa aparat sudah melakukan hal yang benar dan sesuai prosedur. Dan bahwa mereka tidak sanggup menghentikan warga pribumi yang kemudian beringas membakar desa kami, para pendatang.

Bude dan pakde berkata bahwa belum aman untuk kembali ke desa kami. Bahwa nanti kangmasku akan menyusul kami ke kota. Aku tahu mereka orang baik, tetapi aku tahu mereka berbohong padaku.

Dan beberapa hari kemudian kekhawatiranku seolah mendapat jawaban. Siang itu aku mampir sejenak di warung di sebelah terminal saat berjalan pulang dari pasar. Kandunganku sudah memasuki bulan ke-tujuh. Aku hendak memesan segelas teh hangat saat kudengar dua orang pengunjung warung bercakap-cakap.

“Para pendatang itu berpikir mereka bisa seenaknya saja menjual dagangan mereka ke sini. Tahu rasa mereka sekarang,” ujar seorang laki-laki bertubuh kurus kering. “Sejak ada mereka para pedagang pasar selalu menawar sangat rendah. Akibatnya untungku berkurang jauh. Untung saja kepala desa kami punya rencana untuk menyingkirkan mereka.”
“Maksudmu?” tanya temannya yang menggantungkan handuk kecil di tengkuknya.
“Dia bilang, tentara paling takut sama yang namanya dengan laten.”
“Laten?”
“Ya pokoknya itu yang kudengar dari kepala desa. Dia punya kemenakan tentara di koramil. Dia melaporkan bahwa banyak orang-orang laten di desa transmigran tersebut. Kau lihat sendiri kan akibatnya? Para tentara langsung menyerbu. Para laki-laki desa tersebut diciduk. Hahaha…”
“Itu sebabnya desa-desa sebelah langsung menyerbu saat para tentara ini pulang ke markas?”
“Tentu saja! Yang tersisa hanya sekelompok perempuan dan anak-anak pendatang. Pekerjaan mudah membakar habis desa mereka!”
“Hush! Jangan keras-keras…”
“Ah biar saja. Aparat tidak akan peduli pada sekelompok orang-orang laten dan keluarganya. Dan para pemimpinnya pun…,” laki-laki itu menoleh ke kiri dan ke kanan, “sudah dihabisi.”
“Kamu tahu dari mana?”
“Beberapa malam lalu aku dan si Brewok melihat beberapa orang keluar dari truk lalu membuang beberapa mayat ke sungai. Waktu itu kami sedang bersiap-siap mengeruk pasir. Di bawah jembatan dekat perbatasan kabupaten.”
“Maksudmu…?”
“Mayat-mayat dilempar begitu saja dari atas jembatan, jatuh ke bantaran. Waktu itu air sedang surut. Tangan-tangan mereka masih terikat tali. Aku yakin mereka disiksa. Ada yang masih menggunakan pakaian lengkap berlumuran darah, tampaknya pemuka agama atau sesuatu. Ada yang cuma menggunakan celana dalam dengan badan penuh bekas sundutan rokok,” laki-laki itu menyeruput kopinya dan menghisap rokoknya dalam-dalam.

“Dan oh ya, aku ingat ada yang mukanya begitu hancur. Bajingan itu sepertinya disiksa berjam-jam. Laki-laki itu cuma menggunakan sarung dengan sendal jepit masih menempel di kaki. Sendal jepit merah, seperti warna orang-orang laten.”

Senin, 07 Maret 2016

[LANGUT] Rindu

Halo para pembaca yang baik, apa kabar? Perkenalkan, nama saya Mahesa, biasa dipanggil Maha. Sebelum saya mulai cerita, izinkan saya untuk bertanya sejenak. Siapa di antara Anda yang belum pernah jatuh cinta? Ada? Kasihan amat. Oke, cerita ini adalah cerita cinta, jadi tak perlu berharap plot yang rumit atau karakter yang luar biasa, ini cerita tentang betapa sialannya hidup.. Lebih tepatnya cerita ini adalah cerita dua orang biasa: saya dan Rindu. Ya, Rindu.

Kata orang, nama adalah doa. Untuk kasus Rindu, ini benar-benar terbukti. Namanya adalah doa bagi saya, seperti doa emak untuk Malin Kundang.

Anda yang sudah pernah terlibat hubungan cinta tentu paham kurang lebih anatominya seperti apa. Untuk yang tadi jawab belum pernah, kurang lebih seperti ini:

Sabtu, 05 Maret 2016

[LANGUT] Kotamu

Aroma petrikor menggelitik nostalgia menyambut kedatanganku. Jalanan masih basah oleh hujan muson, orang-orang berlalu lalang dengan payung di tangan. Matahari berselimut awan. Sedikit sinarnya menyelusup, tetapi tidak cukup banyak untuk menghangatkan sore yang dingin ini. Seolah tak ada yang pernah berubah. Ya, sama seperti dulu. Sama seperti ingatan pertamaku akan kota ini.

Lebih dari dua puluh tahun lalu aku bertemu dia di sini. Umurku baru dua puluh dua saat itu. Baru saja diterima bekerja dan langsung menjadi tim konsultan untuk menyambangi klien-klien kantor kami di berbagai kota. Salah satunya Bengaluru. Aku tak tahu apa yang membuat kota ini begitu istimewa dalam ingatan. Apakah karena kota kebun nan asri ini memang sangat indah dan nyaman. Atau karenanya, Chita.

…


“Indonesia?” seorang gadis tiba-tiba menyapaku. Aku cuma tersenyum dan mengangguk.
“Saya dapat melihat dari tulisan di map yang kamu bawa,” ia menunjuk pada tumpukan dokumen di mejaku.
PT. IBM Indonesia. Tentu saja.
“Iya, betul,” jawabku. Mulanya aku ingin menjawab panjang lebar. Tetapi senyumnya seolah membekukan waktu; mengunci nalar.
“Eh, maaf. Semoga aku tidak mengganggu.”
“Oh tidak. Sepertinya aku juga perlu jeda,” jawabku singkat sambil meraih cangkir kopi keduaku.
“Tadi siang beberapa orang di divisiku menceritakan pertemuan mereka dengan tim kantormu.” Betapa bodohnya aku. Begitu terpesona hingga tak memerhatikan tanda pengenal Infosys yang ia kenakan.
“Oh ya? Berarti kamu dari divisi solusi analisa bisnis yang baru?”
“Ya. Sebelumnya aku di bagian basis data, baru beberapa bulan dipindahkan ke sana.”
“Aku bahkan baru beberapa bulan diterima. Betapa beruntungnya aku langsung dikirimkan ke Bengaluru yang penuh keindahan ini,” jawabku, menatap matanya yang bagai almond.
“Hey, apakah kamu merayuku? Aku bahkan belum tahu namamu, laki-laki misterius dari timur” balasnya sambil tertawa kecil.

§


Kendaraan yang membawaku ke hotel melewati Dr Ambedkar Road. Cubbon Park terlihat dari sisi jendela sebelah kanan. Aku membukanya lebih lebar untuk merasakan belaian senja di kulit. Matahari bersiap untuk berpamitan ke peraduan. Lampu-lampu jalan mulai dinyalakan satu persatu. Suara burung-burung yang hendak beristirahat di pepohonan taman terdengar bersahut-sahutan. Di kejauhan, samar-samar aku melihat sebuah gedung merah besar bergaya akhir abad sembilan belas.

…


“Pada saat perpustakaan ini dibangun, penguasa Kerajaan Mysore, kerajaan di mana Bangalore bernaung saat itu, adalah salah satu orang terkaya di dunia. Nilai kekayaannya kurang lebih sama dengan nilai kekayaan Bill Gates bila menggunakan kurs saat ini.”

Chita menceritakan padaku sejarah kotanya. Kami berjalan menyusuri lemari-lemari penuh buku yang membentuk lorong melengkung di bawah gedung besar ini. Jari-jarinya mengusap buku-buku tua itu. Seolah menyampaikan kerinduan pada masa yang lebih indah.

“Tetapi kekayaannya tidak membawa banyak kebaikan kepada bangsa kami di masa itu. Imperialisme adalah monster keji yang meninggalkan bekasnya selama berabad-abad,” sambungnya sambil melirik ke arahku.
“Ya, aku mengerti. Imperialisme berabad-abad juga menghisap kering bangsaku. Bahkan hingga saat ini,” aku mencoba memberi persetujuan atas ucapannya. “Tetapi setidaknya kita memiliki banyak peninggalan infrastruktur dari masa kolonial.”
“Ah, Rahman. Memang bangunan tua seperti ini indah. Dan ya, masih berguna hingga sekarang. Tetapi ada juga peninggalan mereka yang membuat semua gedung, benteng, dan jembatan dari masa kolonial tidak ada artinya,” mata Chita menatap jendela-jendela besar yang meneruskan sinar matahari senja ke dalam. “Selama ratusan tahun, para imperialis ini berkuasa dengan hanya satu tujuan: keuntungan bagi negara asal mereka. Sedikit sekali perhatian pada perkembangan rakyat jajahan. Bahkan seringkali tidak ada. Akibatnya masyarakat kami masih memiliki budaya masyarakat ratusan tahun lalu, sebelum para penjajah ini datang. Tertinggal. Tidak siap dan terbata-bata memasuki zaman industri. Lebih parah lagi, sikap pemerintah imperial yang ekstraktif pun menular ke para pemimpin pribumi saat ini,” Chita menghentikan langkahnya dan berbalik menatapku.
“Ya, aku mengerti. Kini kita justru dijajah oleh bangsa sendiri.” Aku dapat merasakan tatapan matanya semakin dalam. Mungkin ia merasakan kedekatan denganku karena kesamaan nasib bangsa kami. Mungkin juga karena selama ini cuma aku yang mau mendengarkan keluhannya akan masa lalu dan sejarah bangsanya.
“Sudahlah, kita ke sini kan bukan untuk membahas politik,” ucapnya memecah lamunanku. “Nah, kita menemukannya. Buku yang aku ceritakan tadi, Mohanatarangini.”

Senja itu sesuatu dalam hatiku berkata bahwa aku menemukan seseorang yang istimewa.

§


Aku memutuskan untuk sejenak menikmati suasana malam Bengaluru. Bahan pertemuan untuk besok bisa menungguku di kamar hotel. Aku berjalan menyusuri VV Puram Food Street. Tempat ini tidak pernah lenggang. Setiap malam, ratusan, mungkin ribuan orang memenuhi area yang terkenal dengan makanan jalanannya ini. Harum ghee, rose gulkand, dan jagung bakar semerbak memenuhi malam yang diterangi purnama. Aku terus berjalan mengarungi lautan manusia di hadapanku dengan satu tujuan. Sekeping kenangan dari masa lalu. Masala Dosa yang pedas dan penuh rempah.

…


Desir angin berhembus melalui tirai. Kaca-kaca jendela berembun oleh nafas kami berdua. Tangannya meremas rambutku sementara tangannya yang lain menggenggam erat pinggir ranjang. Sinar bulan memantul dari matanya. Kukecup bibir itu. Ia membalasnya penuh nafsu.

“Chita…”

Setiap jengkal kulitku, setiap jengkal kulitnya, kami berkelindan bagai sulur-sulur beringin. Kadang kami berlari seperti angin, kadang kami mendebur bagai ombak samudera. Kureguk semua cinta yang ia limpahkan saat itu. Aku tahu waktu kami tidak banyak.

“Oh, Rahman…”

Ia melingkarkan kedua tangannya ke leherku. Kakinya semakin erat mencengkeram panggulku. Kulitnya yang coklat berbalur keringat membuat nafasku semakin memburu. Ciumannya yang bertubi-tubi menemaniku mencapai puncak hasrat.


§


Resepsionis memberitahukan kedatangan kendaraan jemputanku di lobi. Aku berdiri dan bersiap untuk keluar dari kamar. Semuanya sudah tersimpan rapi di dalam koper. Kubuka pintu kamar. Aku berhenti sejenak dan berbalik. Kutatap gedung-gedung dan taman-taman Bengaluru dari jendela kamar. Aku sudah siap untuk berpisah. Dengan kota ini dan kenangannya. Yang lalu biarlah berlalu.

…


“Apakah anda hendak memesan sarapan?” tanya pramugari membuyarkan lamunanku.
“English breakfast, terima kasih.”
“Baik, kami akan mengantarkannya segera setelah pesawat lepas landas.”
Aku menatap keluar jendela pesawat. Kukeluarkan secarik kertas dari dalam saku.

Dear Rahman,

Maaf aku harus pergi tanpa memberi kabar. Hanya secarik surat di meja tulismu. Semoga kamu tidak salah paham.

Rahman, aku tidak pernah bertemu laki-laki sepertimu. Saat kita pertama bertemu, seolah-olah aku telah mengenalmu seumur hidupku. Seolah aku dapat menceritakan semuanya kepadamu. Seolah aku dapat memilih pergi dan selamanya bersamamu.

Rahman, seorang wanita memiliki banyak rahasia. Dan kepergianku pagi ini, tanpa berpamitan, juga ada alasannya. Saat ini aku tidak dapat menceritakannya padamu. Mungkin nanti, sepuluh atau dua puluh tahun lagi, aku akhirnya bisa. Berjanjilah, bila nanti ada kesempatan, engkau mau mencariku lagi.

Rahman, kamu akan selamanya ada di hatiku. Aku ingin kamu tahu itu. Malam-malam yang kita habiskan berdua akan selalu menjadi milik kita bersama. Semoga nanti jalan kita akan bertemu lagi. Mungkin akhirnya kita bertemu sebagai kekasih atau sekedar sebagai dua orang teman, tetapi aku akan tetap menunggu saat-saat itu.

Yours, Chita

Seiring pesawat memasuki landasan pacu, kulemparkan pandangan pada terminal bandara. Mereka bilang, bandara adalah tempat di mana kita dapat merasakan emosi dalam bentuknya yang murni. Saat keluarga, kekasih, teman, bertemu dan berpisah. Di sana kita dapat melihat kebahagiaan, kesedihan, rasa haru, dan kerinduan terungkap jujur.

Aku cuma merasakannya di hati, tapi aku tahu Chita ada di sana.

Rabu, 02 Maret 2016

[AYAH] Aku memanggilnya Bapak

Ramai kumbang dan serangga sejenisnya berbunyi, ngiiiiiiiiiiiingg, di siang hari. Jujur. Aku nggak tahu itu beneran suara kumbang atau bukan, kurang lebih itu lah.

Kayaknya musim kemarau mulai tiba. Hujan mulai jarang, serangga-serangga mulai beradu suara. Angin datang sesekali membunyikan Genta, lonceng angin yang terbuat dari bambu. Kantuk mulai menyerang ku,

Tuk... tuluk tuuk tuluk... Suara Genta menari-nari bersama angin di udara.

....pi ...pii ...piii, hmm suara burung sayup-sayup terdengar. Merdunya menggiring ku ke dimensin lain di bawah alam sadar,

...pii ...Pi ...pa... PI,
 
hm??

"P A P I!!" Bak cacing yang di hujani butiran garam, diriku tersentak dari gerbang mimpi. Terkadang burung bersuara merdu dapat mengagetkan aku, istri ku. Ia hampir berteriak di kuping jika aku tidak segera bangun.
 
"Maaf Pi, tapi kamu ga boleh tidur dulu... kan kita mau ke rumah Ayah," dengan tubuh separuh tertidur aku menatap malas ke dirinya, "heii, Papi kan bangunnya siang banget tadi, masi belum cukup?" katanya lagi memotong kehendak ku untuk protes.

"...iya", jawab ku serya merangkak menuju kamar mandi, sebelum diseret olehnya.

Aku merapihkan diri, mencukur jenggot dan mandi bersih agar tidak dipanggil "kambing" oleh Ibu ku nanti. Kurang dari satu jam aku sudah siap untuk berangkat. Sambil memastikan sisiran rambut ku rapih, aku berjalan keluar kamar dengan gagahnya. Inilah lelaki. Tapi Istri ku lebih macho, ia bisa lebih dulu siap ketibang aku... jurus apa yang dia pakai hingga tetap cantik walau hanya sekejap?! Ia tersenyum bangga, sudah rapih menunggu ku di ruang depan. Ini mustahil...

"Kamu yakin, ngga langsung beliin Ayah kado?" ucap wanita yang baru ku nikahi delapan bulan lalu sembari membuka pintu kiri depan mobil.

"Mhm, biar Bapak sendiri yang ngasi tau mau apa nanti..." Aku menyalakan mesin mobil, berdoa sebentar, kami hendak menempuh jarak kilo dari Bandung untuk ke rumah orang tua ku di Jakarta. Bapak ku berulang tahun hari ini.

***

Dua jam perjalanan lewat tol jika tidak macet, akhirnya kami sampai ke tempat tujuan. Dengan hati menggebu-gebu, aku menuntun istri ku turun dari mobil. Kami berjalan menuju pintu depan rumah yang tepat berada disebelah halaman samping tempat mobil ku parkir tadi. Rumah khas Betawi ini mengingatkan aku dengan film si Doel di masa kecil ku. Walau sebenarnya keluarga kedua orang tua ku berasal dari Solo, saat itu aku begitu bangga menonton film tersebut karena rumah kami tak jauh dari yang ada di film tersebut. Hanya saja bangunan ini sudah mengalami sedikit perombakan dibagian atap depan dan banyak perubahan dibagian belakang karena akhirnya dibangun lantai-lantai tambahan di atasnya. Ku ketuk pintu dan ku ucapkan salam, tak lama pintu depan terbuka.

Ibu membukakan pintu. Tanpa basa-basi ku cium tangannya dan ku peluk beliau dengan penuh kerinduan. Di ikuti oleh istri ku, “Maaf Mah, baru bisa berkunjung lagi, kebetulan mas Tito baru bisa ambil cuti sekarang…” katanya, memberi tahu prihal diriku yang mengambil cuti kantor.

“Ga papa, Ida, Ibu mah asal dapet kabar kalian dari sms atau bbm sudah cukup senang”, ucap Ibu ku sambil menepuk-nepuk pundak istri ku, “Hayuk-hayuk, masuk dulu… Ibu minta teh Ijah bikinin minuman dulu buat kalian ya, pasti haus… Itu Bapak mu lagi di kebun belakang samperin aja ya Dul”, lanjut Ibu sambil memberi isyarat ke istri ku untuk mengikuti beliau. Aku pun bergegas ke halaman belakang untuk mencari Bapak.

Belum sempat ku buka pintu yang menuju ke tempat Bapak, tiba-tiba pintu itu sudah terbuka sendiri, Bapak tentunya yang membuka dari luar. “Eeee, putra bungsu Bapak sudah sampai… Nanti mas dan mbak yu mu baru bisa datang sore…” sambut beliau, ku kecup telapak tangan Bapak di sambut dengan usapan di kepala ku.”Bapak, sehat selalu ya Pak… Semoga senantiasa diberikan kebahagiaan dunia akhirat, amin”, doa ku menyalami beliau yang sudah bertambah usia.

“Amin, amin, amiiin!” , ”Kamu gimana di sana? Lancar-lancar saja?” Tanya Bapak, tidak seperti Ibu, beliau kurang mahir menggunakan smartphone karena jemarinya yang besar-besar itu sulit menggunakan keyboard di layar sentuh.

“Baik Pak, Tito dan Ida dalam keadaan baik”, jawab ku, sambil menuntun Bapak ke ruang tengah dimana istri ku dan Ibu ku berada. Dengan aba-aba tidak sabar, Ibu meminta Bapak untuk segera duduk disebelahnya,

“Pak sini-sini coba, ada berita menarik dari Ida…” Bapak pun duduk di sebelah Ibu.

“Tunggu sebentar lah, Mah, biar Ayah minum dulu, kan capek habis dari kebun belakang…” ucap istri ku malu-malu sambil bersalam ke Bapak. Namun Bapak diam saja tidak bergeming. Aku dan Ibu saling menatap,

“Psst! Da… panggil Ba-pak, panggil B a p ak”, bisik ku ke arah istri ku, dia gelagapan…

“Aduuh maap, Ida teh suka lupa…” Gummam istri ku sambil sedikit mengeraskan suaranya kemudian, “Bapak, minum dulu ya, nanti Ida ceritain sesuatu…”

“O… Hoo? Okee, ada yang seru apa nih? Sebentar ya, Bapak minum dulu…” Balas Bapak sambil tertawa lepas, beliau mengambil gelas teh untuknya di meja.

Beberapa waktu yang lalu tiba-tiba Ibu memberi kabar kalo Bapak mulai tidak merespon panggilan lain selain panggilan “Bapak” atau “Pak”. Jika Bapak mendapatkan panggilan yang lain, Ayah misalnya, walau beliau diberi tau bahwa dirinya sedang diajak berbicara, beliau tidak akan merasa bahwa dirinya lah yang sedang di ajak berbicara. Entah mungkin karena penurunan daya dengar dan daya ingat, Beliau suka ling-lung.

“Gini Yah, eh Pak…, Ida mulai isi dari tiga bulan kemarin…” ucap Ida perlahan-lahan, ia agak kesulitan memanggi Bapak selain menggunakan panggilan “Ayah”. Menurutnya tidak berbeda jika memanggil orang asing.

Mendengar kabar itu raut muka Bapak berubah begitu senang, “Waah! Bapak punya cucu baru lagi doong”, ucap Bapak kegirangan, syukurlah... “Terus-terus, motor sport Bapak gimana?” Tanya Bapak tiba-tiba,

“….”

“EEEH!?” kami serentak melongo. Motor… SPORT!?

“Kalian mau ngasi bapak motor sport kan, ulang tahun ini?” Kumis putih Bapak merenggang bersama senyumnya yang mengembang,

“Bu, ini Bapak abis nonton apa? Pak, Bapak ngantuk ya?” Tanya ku bergantian saking bingungnya. Ibu menceritakan bahwa sudah semingguan ini Bapak nonton acara balap motor… Macam apa pula seorang kakek-kakek meminta motor sport di usianya yang ke 80 tahun itu? Bapak masih meracau seputar motor keinginannya kemudian merambat ke masa lalu dan jaman penjajahan. Lalu kabar gembira dari kami bagai butiran debu ketika Ibu menggiring Bapak menuju kamar untuk beristirahat.

Selasa, 01 Maret 2016

[LANGUT] Bulat Sempurna

­
TTTTTEEEEEEEEEETTTTTTTTTT...
TTTEEEEEEEEEETTTTTTTT...
TTTTTTTTTTEEEEEEEEEEEEEEEEEEETTTTTTTTTTTTTTTT...

Nada sumbang terdengar di seantero Sekolah Dasar BHAKTIWINAYA 2, nada tak merdu yang selalu dinanti dan kadang dibenci. Pintu-pintu mulai terbuka, bocah-bocah berlarian kesegala arah, langit tampak ceria menyertai mereka bermain di Lapangan. Sedangkan Aku, Aku sudah sejak sepuluh menit yang lalu keluar kelas, Bu Rita menghadiahkan kepada kami jam istirahat lebih cepat.

“Ga ada Dwi, ga ketemu, mungkin ga datang lagi ...”, lapor anak laki-laki itu.

“Jangan bercanda!!, Sekarang sudah hari sabtu, mana mungkin 5 hari tidak datang!!.”

“Aku sudah nunggu dari tadi, ga ada ... .“ raut wajahnya berubah layu.

Dia adalah anak laki-laki yang rumahnya bersebelahan dengan rumahku, dia adalah sahaba... Eh bukan, dia adalah bocah aneh yang selalu membuat Aku selalu tersenyum dengan tingkahnya, Iman Syafa’at. Anak laki-laki yang hampir tiap hari aku marahi lalu diam-diam ku rindukan.

“Kenapa ga beli batagor saja ??.” Tiba-tiba Nisa memecahkan lamunanku dengan celetukannya, sebungkus batagor sedang dia nikmati.

 “Enek Nis makan batagor sama gorengan terus tiap istirahat, Aku kan tidak seperti kamu.”

“Betuuull.” Iman menyepakati.

“Ke warung Bu Haji aja beli ketan goreng, gimana??.”

“Tutup ... “ Iman menyanggah, singkat.

“Ke kantin aja, gimana ??,” tawar Nisa.

“Tadi kita sudah kesana kan, ga ada yang menarik.” Jawab Iman.

“Betuuull.” Giliran Aku yang menyepakati.

“Yaa beli apa kek, daripada membusuk di teras, bosen... .”

“... .”

Aku tidak bisa menjawab, kekurangan nutrisi membuat otakku sedikit lambat berpikir, apalagi bocah kelas 4 dari tadi asyik bermain lompat tali didepanku membuat aku pusing, ditambah lagi anak kelas 3 sedang bermain kucing-kucingan mereka berlarian kesana kemari membuat aku semakin pening. Urgh.

“Kita kedepan aja yukk, siapa tau Mang Alit datang,” celetuk Iman.

“Yuukk!!.” Aku mengamini, senyum manisku untuk ide brilianmu itu Man.

Iman memalingkan wajah, lalu berlari ke arah gerbang sekolah. Apa senyumanku tidak indah??.

“Tunggu Maaaannn!!!.” Aku mengejar dia dari belakang.

“Eh Dwi, tunggu Aku ikuutt... Dwiiiiiii !!!!.”

“Ayo cepet Nis!!.”

“Bentar... .” Nisa meraih tanganku, kami berlari beriringan.

Dia adalah Annisa Azkiyah Nur sahabatku dari kecil, kami sering bermain bersama sejak bayi katanya, kami terpisah ketika keluargaku pindah rumah, namun Bhaktiwinaya mempertemukan kami kembali, sejak itu kami selalu duduk sebangku. Tubuh kami sama-sama kurus namun badan Nisa lebih tinggi dari Aku, kulitnya putih bersih berbeda dengan aku yang kecoklatan gara-gara sering main layangan, rambut dia hitam panjang cantik bagaikan model  shampo di TV kontras dengan rambutku yang bergelombang pirang tersengat matahari. Dia itu sangat pendiam, sedikit berbicara banyak makan, hampir sempurna.

“Kita tunggu disini saja,” kata Iman sedikit memerintah, kami ikut serta saja.

Kami bertiga duduk di pinggir jalan tiga meter sebelah kanan dari gerbang utama sekolah, di tembok rendah pagar sekolah yang biasa digunakan ibu-ibu murid kelas satu ngerumpi sambil menunggu anak mereka pulang. Didepan sekolah terdapat jalan desa yang tidak terlalu ramai, jarang terlihat mobil yang lewat, paling tukang ojek yang sering lalu lalang mengantarkan penumpang, melaju pelan. Anak-anak bebas keluar masuk sekolah, kami cukup beruntung sekolah memperkenankan kami jajan di luar. Biasanya sepanjang jalan depan sekolah dipenuhi penjaja makanan dan tukang jualan mainan, kini yang tersisa hanya Mang Dadang tukang batagor dan penjual agar-agar yang tidak Aku kenal.

“Biasanya Mang Alit jualan disini.” Iman membuka pembicaraan, wajahnya menoleh ke arah barat seolah sengaja menyembunyikan matanya yang berkaca-kaca.

“Sepertinya Mang Alit Jualan ke Kabupaten deh, kata Bapak disana sedang ada kejuaran bola voli tingkat Kabupaten, besok finalnya.” Lanjut Iman memperpanjang pembahasan.

“... .” Nisa tidak memperhatikan, dia sedang asyik menikmati permen kaki, batagornya sudah habis sejak tadi.

“Iya... ,” jawabku singkat, usaha Iman tidak berhasil.

Betul, disinilah biasanya Mang Alit jualan, di gerobak biru berbalut seng berkarat, Cilok Si Bos sebuah tulisan warna-warni terlukis pada kaca depan gerobak. Entah apa yang membuat cilok jualannya itu begitu enak, mungkin karena bentuknya yang bulat sempurna, bisa jadi. Barangkali dia memasukkan ramuan rahasia pada bumbu kacangnya agar terasa lebih lezat, mungkin. Jangan-jangan dia memasukan campuran khusus sehingga isi cilok begitu gurih dan lumer dimulut ketika dikunyah, Aku tidak mengerti. Atau dia menggunakan kecap spesial yang harganya mahal sehingga ciloknya begitu menggigit di lidah, tidak, tidak mungkin, barang seperti itu tidak mungkin bisa dia beli. Aku penasaran.

Mang Alit tidak tampan, kulitnya legam berkeringat, baju kotak-kotak kusam dibungkus rompi hitam lusuh selalu ia kenakan. Bos, itulah panggilan dia kepada semua pelanggan. Aku, Bos Uwi panggilan sayangnya untukku. Nisa, biasa dipanggil Bos Ratu. Iman, Boss Kancil, hidung Iman selalu kembang kempis kegirangan tiap kali dia dipanggil seperti itu. Semetara dia memanggil dirinya sendiri sebagai Bos Besar padahal badannya kerempeng.

Mang Alit sering bercerita kalau dia ingin punya anak yang berani seperti Aku, cantik seperti Nisa, dan pintar seperti Iman, isterinya tidak kunjung berbadan dua. Tapi sekarang jangankan cerita, beritanya pun tidak ada, lima hari sudah Mang Alit tidak kelihatan.

Jalanan mulai sepi, suara anak-anak yang tadi berkumpul di Gerobak Mang Dadang hilang senyap, motor roda dua melintas dihadapan kami tanpa suara. Sinar matahari menyengat terasa dingin di kulit, langit seakan mendung menghitam teratur. Kerikil melantunkan lagu sunyi langutanku ke angkasa, perlahan hangat mulai terasa di ujung mataku, pandanganku berputar.

“Dwii!!, lihat itu !!,” Aku terperanjat, telunjuknya Nisa mengarah ke Timur sisi lain jalan. Gerobak biru?.

“... .” Iman bangkit dan berlari seketika. Aku masih mengucek-ucek mata memastikan yang kulihat itu nyata atau ilusi.

“Itu gerobaknya kan Wi??,” Nisa mencoba mencari pengesahan.

“... .”

Dia semakin mendekat, Iya tidak salah lagi itu gerobak Mang Alit, dari kejauhan Aku bisa menegaskan bahwa itu memang gerobaknya, yakin. Penantianku terbayarkan, akan kulunasi selera makanku yang sudah berontak dari kemarin lusa, akhirnya... .

TTTTTEEEEEEEEEETTTTTTTTTT...
TTTEEEEEEEEEETTTTTTTT...
TTTTTTTTTTEEEEEEEEEEEEEEEEEEETTTTTTTTTTTTTTTT...



Bandung, 27 Februari 2016





[AYAH] Gagang Pintu

Riuh, mungkin itu kata yang tepat untuk menggambarkan suasana sekarang. Beberapa kepala dengan benak masing-masing, juga pasang-pasang kaki dengan buru-burunya sendiri ada di segala jarak di tempat ini.

Belum genap 90 derajat matahari ada di titik pertama pagi. Terlalu ramai, terlalu pagi. Tetapi mungkin, ini merupakan hal biasa di tempat seperti ini, sebuah bandara kota tujuan terpopuler untuk berwisata di indonesia. Bandara Ngurah Rai, Bali.

Bandara, buat beberapa orang adalah tempat bermuara cerita. Pertemuan dan perpisahan dan segala maknanya banyak terkisahkan di tempat ini, biasanya romantis, tapi sepertinya kali ini buatku tidak. Sebuah pengumuman delay keberangkatan ke kota asalku baru saja dikumandangkan. Penerbangan ditunda sampai 2 jam ke depan karena adanya gangguan yang entah itu apa.

Kekecewaanku mungkin tidak seperti kekecewaan penumpang lain. Karena hari senin, banyak yang selain pulang liburan juga orang-orang pekerja yang akan menuju ke ibu kota untuk bekerja.. seperti lelaki yang di sudut ruang tunggu itu, dengan kemeja rapih dan wajah yang sangat sebal terlihat sekali kekecewaannya. Mungkin dia dikejar meeting di kota Jakarta.

Aku tidak terlalu buru-buru, kota jakarta sangat santai menerima aku kapanpun. Hanya saja dipaksa bangun sepagi ini, dan terlebih lagi meninggalkan seorang wanita yang tadi tertidur tanpa sempat berpamitan sepertinya bisa jadi alasan yang tepat untuk sedikit kesal.

Dari kebingungan harus ngapain dan kemana menunggu sampai dua jam, salah satu pilihan adalah kembali ke tempat tadi pagi, ke tempat wanita yang baru aku temui dan kenal tadi malam. Kania Lestari, seorang wanita yang penuh keceriaan dan antusiasme di matanya.

“Hey, Kania. Maaf tadi ga pamitan, soalnya buru-buru. Ga enak juga ngebanunin, ngeliat kamu tidurnya lelap banget.. hehe”
Aku mulai membuka sebuah chat apps di handphone dan mengirim sebuah pesan ke dia.

Yap, “Don’t contact first after one night stand”, biasanya seperti itu. Tapi perihal Kania ini mungkin sebuah pengecualian, banyak hal yang menyenangkan tentang dia. Juga mungkin, delay-nya pesawat sekarang adalah kesempatan lain dari waktu untuk bisa lebih tau tentang dia, lebih memaknai pertemuan.

“Hey Timur, di mana kamu? udah di Bandara? Kamu keluar kamar tadi gimana? kok pintunya masih terkunci?” Berulang kali aku baca pesan balasan dari Kania. Sesungguhnya, aku tidak banyak berharap dia membalas pesan yang aku kirim, banyak kemungkinan-kemungkinan yang bisa menjadi sebab dia akan tidak membalas pesanku.

“Iya nih, udah di Bandara. Tapi delay dong pesawatnya 2 jam”..

“Yaelah, udah balik ke sini lagi aja. Ngapain juga di Bandara 2 jam. Kita sarapan bareng deket hotel sini, katanya ada nasi pedas yang enak di sini”

Akhirnya kita sepakat untuk bertemu di sebuah tempat yang tidak jauh dari hotel dia, tapi ternyata lumayan jauh dari Bandara.

Bali. Aku suka kota ini, di setiap sudut kota ini adalah kesempatan untuk kenal orang-orang beragam. Selalu menyenangkan untuk mengenal dan mendengar cerita-cerita mereka, tentang asal mereka, negara mereka, dan rencana-rencana mereka. Buatku Kota ini juga tempat paling cocok untuk belajar aneka macam budaya dan bahasa.

Tadi malam, malam terakhir rencana aku di kota ini, dan berakhir terdampar jam 1 pagi pada sebuah club kecil di daerah seminyak. Dan di sanalah aku pertama kali melihat dan bertemu Kania, di antara semua manusia di club itu yang sedang asik dengan musik dan hingar bingar-nya masing-masing, Kania duduk sendirian memakai earphone dan asik menikmati musiknya sendiri.

“Musiknya ga cocok sama aku, paling enak tuh kalo udah lumayan tipsy ngedenger lagu ini” Kania sedikit berteriak dan memberikan sebelah earphonenya kepadaku malam itu, dan lagu spanish sahara dari foals memulai semua obrolan.


“Sudah sampai pak” Suara supir uber menyadarkanku dari semua lamunan tentang Kania tadi malam. Tempat-nya sepi, mungkin karena ini hari senin.

Tempat makan ini tepat di pinggir pantai, birunya lautan terhampar jelas dihiasi buih-buih ombak yang terlihat berkeliaran manja, dan di sana Kania duduk dengan setiap indahnya, segala senyumnya.

“udah pesen?” tanyaku pertama sambil menggeser sebuah kursi tepat di depan dia.

“Baru kopi, mau pesen makan tapi nunggu kamu aja biar sekalian. Kok bisa delay pesawatnya? memang harusnya flight jam berapa? eh by the way, aku belum mandi loh.” Suaranya yang merdu dan tatapannya jauh lebih menenangkan dari desiran suara ombak yang sebelumnya terdengar banyak. Pagi ini Kania mengenakan kaos putih polos dan celana pendek, pakaiannya yang sederhana tidak mengurangi semua pesona dia.

Waktu kalah telak terhadap perbincangan aku dan Kania. Kita mulai mengingat-ngingat apa yang kita perbincangkan tadi malam, dan dengan Kania menanyakan jam berapa aku flight pagi ini, aku yakin dia tidak ingat semua perbicangan tadi malam. Begitupun aku sepertinya. Tidak hanya waktu yang kalah telak, segala rasa makanan yang aku makan bisa terabaikan oleh semua percakapan dan senyuman Kania.

“Oke, jawab jujur ya timur, jangan becanda mulu. Jadi karena apa tadi malem kamu berani mulai nyapa aku? padahalkan aku pakai earphone” Tatapan Kania mulai serius, walau ada terbesit sedikit senyum di wajahnya.

“Kania, siapa yang ga aneh sama cewe yang pake earphone di tempat yang semua orang pada sibuk joged? tapi selain itu, aku penasaran sama tattoo UFO di Bahu kamu. Eh tadi malem aku sempet nanyain itu ga sih?”

“Hmmm.. Sempet ga ya? kayaknya engga deh” Kania mencoba mengingat-ngingat.

“Engga, kamu ga sempet nanya.” Lanjutnya setelah berulang kali mencoba mengingat.

“eh itu UFO kan? Kamu suka UFO? percaya alien?” tanyaku kepada Kania, dan kali ini akupun berharap jawaban dia serius.

“Iya, UFO.. tapi kamu jangan ketawa ya, jadi sebenernya tattoo aku ini tanda lahir, bentuknya seperti gambar piring. Tapi tahun lalu aku tambahin Tattoo, jadi UFO. Biar keren” Dia menjawab sambil tertawa, dan tawanya bertolak belakang dengan larangan dia sendiri untuk melarang aku tertawa.

Aku setengah tidak percaya, sampai dia menunjukan beberapa foto sebelum Tattoo-nya berbentuk UFO, dan memang ada gambar yang menyerupai piring. Kaniapun cerita tentang Ayah dia yang seorang arkeolog dan sering bepergian ke beberapa negara gemar sekali mengoleksi barang kuno, salah satunya piring.

Kania dulu sempat berpikir mungkin itu kutukan karena ayahnya mengoleksi piring-piring kuno. Walaupun Ayahnya pernah bercerita tentang beberapa orang yang memiliki tanda lahir berbentuk Tattoo. Menurut Ayah Kania, orang-orang dengan tanda lahir itu spesial, tapi sampai saat ini Kania belum tau spesialnya di mana dan menganggap ayahnya hanya mengarang cerita.

“Kok kamu penasaran tentang Tattoo UFO aku, emang kamu percaya sama UFO?” Kania membalas dengan pertanyaan yang sama.

“Percaya!” dengan lantang dan penuh keyakinan aku menjawab. Karena memang aku percaya.

“Pas aku kecil, aku pernah ngeliat UFO loh, aku serius ini. terserah kamu percaya apa engga”. Lanjutku.

Ketika itu memang aku melihat dengan mata sendiri, sebongkah cahaya yang lumayan besar melaju pelan dan sedikit jauh di angkasa, tepat di atas pekarangan rumah. Aku tidak ingat persis umur berapa waktu itu, yang aku ingat adalah tanggapan ayahku tentang hal itu.. “Nak, kamu orang-orang terpilih, kamu orang spesial”, dan ketika itu aku sadar aku memiliki seorang Ayah yang hebat.

Sayangnya, itulah hal yang paling aku ingat tentang masa laluku, keluargaku. Sisanya masih berbentuk keping puzzle yang harus aku temukan. Karena itu apapun perihal Alien dan UFO akan sangat menjadi menarik buatku.

“Eh tentang Tattoo ya, kamu juga kan punya Tattoo gambar gagang pintu! ITU APAAN MAKSUDNYA? Dari semua pilihan desain Tattoo, kenapa harus Gagang pintu???” Kania bertanya sambil menahan tertawa, minta maaf, dan kemudian tertawa tanpa ditahan lagi. Sialan.


“Aku suka gagang pintu Kania, buat aku gagang pintu itu keren. Dia, Awal dari semua perjalanan dan akhir dari segala pulang”
Aku menatap mata Kania, dan berusaha menjawab dengan wajah dan nada seserius mungkin, tapi gagal.

Aku terpaksa berbohong kepada Kania, karena kalaupun aku menjawab jujur. Kemungkinan besar dia tidak akan percaya, dan lebih jauh dari itu aku memang tidak ingin ada yang tau.

Tattoo gagang pintu ini sudah ada semenjak aku kembali sadar dari koma beberapa tahun lalu, dan ya mungkin ini adalah tanda lahir, karena setelah koma aku tidak banyak ingat tentang masa lalu dan asal-usulku. Mungkin juga cerita ayah Kania tentang orang-orang yang memiliki tanda lahir berbentuk Tattoo adalah orang-orang spesial itu benar.

Kalo cerita Ayah Kania memang benar, mungkin itu menjawab hal yang membuatku heran tadi pagi. Saat aku terburu-buru pergi dari Kamar Kania dan memutar gagang pintu di kamar mandinya, tiba-tiba aku ada di toilet Bandara.

Mungkin. Tapi, keberadaan Kania di depan mataku sekarang terlalu berharga untuk disia-siakan dengan memikirkan hal seperti itu.