Selasa, 05 April 2016

[MIMPI SADAR] Yana

Kutipan dari barang bukti nomor 1a, kasus suami-istri Sumardja:
Buku catatan harian Anna, putri sulung.


---------

Kamis, 2 Juni,
Sudah tiga malam aku kebangun, selalu jam 2:38 pagi. Kayaknya aku mimpi... tapi gak terlalu ingat mimpi apa, yang pasti pas kebangun baju dan sprei aku basah kena keringat, dan perasaan aku gak enak banget. Baca-baca dari internet katanya nulis buku harian mimpi bisa membantu meringankan mimpi buruk, sukur-sukur malah bisa ngendaliin mimpi sendiri. Salam kenal buku harian, namaku Anna, bantuin aku ya.

Jumat 3 Juni,
Kebangun lagi. Kali ini aku ingat mimpinya, ada nenek-nenek megangin anak kecil yang meronta-ronta sambil melambai ke arahku. Kejadiannya kayaknya di kantin sekolah, atau di rumah sakit ya? Banyak furnitur besi, kursi alas kayu. Mungkin sekolah, aku gak lihat ada tempat tidur tadi. Sekolahku bukan ya? Kayaknya bukan, walaupun mirip. Segitu dulu yang aku ingat, coba tidur lagi ah. Sampai ketemu besok! Eh, nanti pagi! :)

lanjutan--, 

Lanjutin catatannya, mimpi aku semalem berwarna. Kata Santi si klenik itu kalau berwarna artinya mimpinya ada maknanya, apa ya kira-kira? Yang aku ingat muka anak itu aja yang kayaknya pengen banget lepas dari nenek-nenek itu. Mungkin itu kenapa aku bete terus waktu bangun. Mana muka si nenek itu serem lagi.. hih..


Sabtu 4 Juni,
Tumben hari ini aku tidur lelap. Gak mimpi sama sekali. Mungkin karena kamu ya buku harianku? Tiga hari aja langsung beres. Syukurlaah..


Rabu 8 Juni,
Mulai lagi deh. Semalem aku mimpi itu lagi.. sama seperti sebelumnya aku kebangun, jam 2:38. Apa karena aku kecapekan ya? Mungkin gara-gara aku nyobain ikutan ekskul gitar di sekolah kemarin, sekalian ngecengin si Ben anak exchange student itu :3. Biarin instrukturnya galak juga.. Duh, ujung jariku sakit semua gini. Lain kali aku coba pake plester aja deh.

Kamis 9 Juni, 
Nyesel aku cerita mimpi aku ke si Anton, jadi adik bukannya ngertiin kakaknya, malah nakut-nakutin aku. Semalem seperti biasa aku kebangun jam 2:38 lagi, kali ini pake ketindihan segala, eh ada si Anton berdiri diem aja di depan kamarku, ngeliatin lamaa banget, terus ngeloyor pergi. Waktu akhirnya aku bisa gerak, aku kejar ke kamarnya... eh dia pake gak ngaku segala dong, bilangnya tidur dari tadi. NYEBELIN!

Jumat 10 Juni,
Ketindihan lagi, kali ini yang berdiri di depan kamarku si nenek-nenek itu. Gak boleh dibiarin nih, aku mulai ngerasa kurang tidur. Nanti malam aku mau cobain sekalian aja masuk ke tahap lucid dreaming. Kalo dari yang aku baca, memang sebelum bisa lucid dreaming ada tahap ketindihan dulu.

Sabtu 11 Juni,
Tiap aku ngerasa mulai sadar itu mimpi, makin banyak sosok yang datang, bukan cuma nontonin aku dari depan pintu kamar, tapi juga di sekeliling tempat tidurku. Nenek dan anak kecil itu ada lagi, si anak kecil masih meronta-ronta, tapi kali ini aku bisa dengar suaranya. Dia panggil namaku. Walaupun megangin anak kecil itu, mata nenek itu gak lepas dari mukaku. Mulutnya bergerak-gerak tapi gak ada suaranya. Merinding aku kalau inget mukanya.

Selasa 14 Juni,
Setelah beberapa hari kurang tidur, akhirnya aku berhasil! Aku bisa sadar aku lagi mimpi, tapi belum bisa ngendaliin mimpinya sih.. pelan-pelan lah.

Rabu 15 Juni,
Anak itu ada lagi di mimpi aku tadi malam. Si nenek gak keliatan, syukur deh, aku agak takut sama nenek itu, lagian kan kasian si anak itu dipegangin terus. (Iya aku tau ini cuma mimpi, tapi tetep aja). Dia panggil aku 'dek Anna'. Aneh ya? Anak kecil sok gede hehehe. Tadi malam di mimpi aku beliin dia  es krim dan teh manis. Kebetulan juga ada tukang balon jadi aku beliin deh. Dia bilang namanya Yana. Anak yang lucu, kami janjian nanti malam ketemu lagi di mimpi aku. Oke deh, mandi dulu, terus berangkat sekolah. Bye buku harian!

Kamis 16 Juni,
Yana nungguin aku di ayunan tadi malam, tempatnya di taman entah yang mana. Dia banyak tanya tentang aku, jadi aku ceritain aja. Mungkin ini cara otak aku istirahat ya. Aku curhat sama Yana tentang macem-macem, tentang sekolah, tentang Ben, tentang Pak Sanusi guru Fisika yang nyebelin itu. Yana keliatannya paling tertarik sama cerita aku tentang Papa dan Mama, entah kenapa mata Yana berkaca-kaca waktu aku cerita tentang mereka. Karena takut dia nangis aku gak cerita banyak tentang mereka.

Jumat 17 Juni,
Nenek sialan itu datang lagi! Aku dan Yana lagi ngobrol di taman yang sama dengan yang kemarin waktu dia datang. Dan langsung dia angkat Yana dan bawa dia pergi! Yana teriak-teriak manggil aku, "dek Anna! dek Anna!" sampe sekarang aku masih terngiang-ngiang suaranya. Aku berusaha ngejar mereka, tapi badanku gak bisa bergerak, kayak ada yang megangin. Semoga nanti malam Yana ada lagi, kalau gak ada aku harus bebasin dia dari nenek-nenek seram itu.

Sabtu 18 Juni,
Tadi malam mimpiku beda tempat, bukan di taman itu lagi. Aku berdiri di depan rumah tua, di depannya ada plang, aku gak bisa baca jelas teks di plang itu, huruf-hurufnya kabur dan goyang-goyang. Cuma ada dua kata yang bisa aku di situ, 'Bidan' dan 'Siti'. Abis itu ada perempuan, kelihatannya satu dua tahun lebih tua dari aku ngedatengin aku, terus dia nyapa aku, "dek Anna.." katanya sambil senyum. Ini emang aneh, tapi aku yakin dia Yana. Walaupun penampilan dan suaranya berbeda dari sebelumnya. Dia cuma berdiri di situ sambil nunjuk plang tadi. Habis itu mukanya berubah sedih, terus aku bangun.

Minggu 19 Juni,
Tadi malam di tempat yang sama dengan kemarin, di depan rumah Bidan itu. Kali ini Yana (yang sekarang berubah jadi bener-bener kayak kakakku) nunggu aku di sana. Ada yang aneh sama mukanya. Entah apa. Kayak sedih dan marah bercampur jadi satu. Yana gak banyak ngobrol tadi malam, dia ngajak aku keliling-keliling kota naik sepedanya. Aku ikut aja. Lucu juga kota kita ini kalau gak ada orang ya. Oya, ada yang aneh, semua jam di kota ini menunjukkan jam 2:38. Aku liat jam tangan di lenganku, jari detiknya bergerak, tapi anehnya tetap di sana. Waktu aku tanya soal itu, Yana cuma ngelirik aku, terus ngomong "tanya aja sama Papa Mama kamu." Aku bakal tanyain mereka hari ini.

lanjutan--,

Ada yang aneh. Aku coba tanya tentang Yana dan '2:38' ke Papa, mukanya itu loh. Kayak ngeliat hantu, tapi cuma sebentar, abis itu dia baca koran lagi. Aku yakin pura-pura. Mama lebih aneh lagi, waktu aku tanya eh dia malah marah. Katanya "jangan aneh-aneh kamu! Nanti malah kesurupan!" Ada apa sebenernya? Nanti malem aku mau tanya ke Yana.

Senin 20 Juni,
Tadi malam aku di depan rumah bidan itu lagi. Yana juga di sana, aku cerita juga aku udah tanya Papa Mama, juga tentang reaksi mereka. Yana gak ngomong apa-apa, tapi tiba-tiba dia nangis. Aku peluk dia, dia peluk aku erat banget. Untuk ngehibur Yana iseng2 aku ajak dia nonton, dia setuju. Sekejap kami udah di ruang bioskop, filmnya sudah di tengah jalan. Kami cuma berdua di dalam ruangan. Di layar tampil sepasang laki-laki dan perempuan di dalam sebuah mobil.. aku langsung tahu itu Papa dan Mama. Papa dan Mama ketika mereka masih muda. Wajah mereka kelihatan kalut, seperti banyak pikiran. Mereka ngobrol, tapi gak ada suara yang kedengaran. Aku teriak-teriak minta suaranya dimainkan ke arah ruangan operator proyektor tapi gak ada respon. Mobil pasangan di layar berhenti, mereka sudah sampai. Mereka berhenti di depan rumah bidan yang beberapa hari ini aku mimpiin. Perut Mama kelihatan sedikit membuncit, mereka masuk ke dalam ruangan praktek, layar menunjukkan ruang tunggu, jam di dinding menunjukkan waktu 2:38. Setelah beberapa saat mereka keluar, Mama tertatih-tatih bertumpu sama Papa, perutnya gak buncit lagi.. aku langsung ngerti apa yang terjadi. Refleks aku nengok ke arah Yana, takut dia nangis lagi. Tapi ternyata aku tinggal sendirian di bioskop itu. Aku harus konfirmasi ini sama Mama sama Papa. Harus. Aku gak percaya Papa dan Mama bisa setega ini.

lanjutan--,

Aku gak mau percaya. Tapi reaksi mereka... Mama langsung nangis dan pergi masuk kamar. Papa murka, aku dihukum, harus segera pulang dari sekolah dan gak boleh keluar rumah seminggu. Jangan-jangan mimpi aku bener. Nanti malam aku harus ketemu Yana lagi.


Selasa 21 Juni,
Kak Yana ceritain aku semuanya. Dia ceritain tentang kesulitan Papa dan Mama di awal pernikahan mereka. Waktu Papa masih bingung cari pekerjaan. Uang belum ada, mereka masih kos, mereka takut gak bisa merawat Kakak, gak bisa menghidupi dengan baik. Belum lagi hutang mereka yang masih menumpuk.. Kakak bilang jangan salahin mereka, mereka terjepit keadaan. Mereka mengambil keputusan yang tidak mudah... Kakak juga cerita tentang bidan Siti yang membantu Papa dan Mama. Lalu Kak Yana mengatakan sesuatu yang aku gak tau harus gimana. Kakak mau pinjam badan aku, dia pengen ngobrol sama Papa Mama, pengen bilang dia maafin mereka. Biar mereka gak ngerasa terbebani seumur hidup. Dia juga bilang aku harus maafin mereka, jangan marah, gimanapun juga mereka udah ngerawat aku dan Anton. Aku bingung. Aku takut juga. Gimana kalau aku gak bisa balik lagi ke badan ini?

Rabu 22 Juni,
Nenek itu lagi, dia berdiri lagi di depan pintu kamarku. Mulutnya berusaha ngomong sesuatu, tapi gak ada suaranya. Dia berusaha lari ke arah ranjangku, dan berhenti dekat sekali. Dia julurin lehernya, mukanya deket banget sama mukaku. Aku bahkan bisa ngerasain rambutnya yang putih dan panjang kena pipi aku. Matanya mendelik-delik, dan mulutnya masih bergerak-gerak tanpa suara. Aku takut sekali, aku gak bisa gerak. Tiba-tiba ada tangan dari belakangnya yang narik dia dan ngelempar dia ke luar kamar, pintu kamar dikunci. Tangan yang ternyata tangan Kak Yana. Bibir Kak Yana mengecup keningku. Habis itu aku bangun.

Papa dan Mama masih aneh sama aku. Mereka gak mau ngomong sama sekali, menghindar terus. Anton kebingungan, kasian dia gak tau apa-apa.

Kamis 23 Juni,
Aku udah mikir panjang. Aku mutusin ngasih kesempatan untuk Kakak ngobrol sama Papa dan Mama. Nanti malam aku akan pinjemin badan aku untuk sehari aja. Aku juga akan minta Kak Yana nulis pesan di buku ini untuk aku supaya aku tau ini gak cuma mimpi.. hehehe. Semoga setelah itu semua keadaan kembali ke normal. Semoga gak ada kejadian apa-apa.

Jumat 24 Juni, 2:45 pagi.
Adikku yang lugu, seperti janji Kakak, ini pesan untukmu. Sudah lama kakak ingin bicara dengan kamu, kakak selalu ada di sampingmu sejak kamu kecil. Memperhatikanmu tumbuh, belajar di sampingmu. Hari itu ka --noda darah-- kan. Sebenarnya beberap --noda darah-- anmu. Untungnya Nek Sit--noda darah--  tak sempat bicara denganmu. Kamu sekarang tau sakitnya kakak, dibuang, dimusnahkan, dihapus dari kenangan. Sekarang Papa dan Mama juga rasakan apa yang kakak rasakan. Mereka rasakan tusukan-tusukan logam menembus badan mereka. Mereka rasakan tersedak darah mereka sendiri. Mereka rasakan bagaimana rasanya nyawa lepas dari tubuh mereka. Mereka yang mel --noda darah-- am itu harus mem --noda darah--.  Hari ini hari terakhir hidup mereka.

Kamis, 31 Maret 2016

[MIMPI SADAR] Tenggelam

Pelabuhan sudah sepi saat aku tiba. Aku berlari ke arah dermaga. Di sana kau berdiri, di dalam kabut malam, di samping tangga menuju kapal yang akan membawamu pergi. Pakaianmu berkibar tertiup angin. Butir-butir air mulai berjatuhan. Kau membuka payung, mencoba berlindung dari gerimis.

“Maya!” Aku berteriak memanggil namamu. Kau menoleh.
Kau tersenyum saat membalas panggilanku. “Danan…,” ujarmu pelan.

Aku kini berdiri tepat di depanmu. Kuraih dan kugenggam tangan-tangan halus itu.

“Maya, jangan pergi.”
“Danan,…”
“Maafkan aku, Maya. Maafkan aku yang begitu bodoh selama ini, tak menyadari bahwa kamulah yang paling berharga dalam hidupku.”
“Sayangku, Danan. Apakah kamu yakin, aku yang kamu inginkan?”
“Ya, Maya. Tentu!” Aku setengah memekik, berusaha agar suaraku tak tertelan tiupan angin laut dan deru mesin kapal.

Dapat kurasakan bulir-bulir air mata menetes. Mengingat satu-satunya hal terbaik dalam hidupku yang tak berarti ini adalah dirimu.  Mengingat bahwa aku sempat berpikir untuk melepaskanmu. Kau adalah bagian terbesar jiwa ini, Maya.

“Tapi kamu akan meninggalkan semua yang kamu miliki. Aku tak mau merenggut semua itu darimu, Danan,” kau meremas tanganku, seolah tak ingin pernah kulepas lagi.
“Semua yang kumiliki saat ini tiada artinya. Aku mengerti itu sekarang. Hidupku, duniaku, semuanya. Tiada artinya tanpamu, May.”

Aku berlutut di depanmu. Kukeluarkan sebuah kotak kecil dari balik jaket. Kau tutup wajahmu dengan tangan. Air matamu mulai menetes. Lalu kuucapkan kalimat yang seharusnya kuucapkan bertahun-tahun lalu.

“Maya, aku tak ingin menghabiskan hari-hari tanpa dirimu di dalamnya. Saat aku tua nanti, aku hanya ingin kamu yang menemaniku. Maya, jadikanlah aku suamimu.”

Kabut malam semakin tebal. Udara tiba-tiba menjadi begitu dingin. Aku merasakan tanganmu perlahan terlepas. Sosokmu menghilang di balik kabut. Lampu-lampu dermaga satu-persatu mati.

“Maya!” aku berteriak-teriak dalam kegelapan. “Maya! Jangan pergi!”

Aku bersimpuh di pelataran yang mulai basah oleh gerimis. Kegelapan dan dingin menyelimuti. Aku tak dapat melihatmu, aku tak mendengar suaramu, aku tiada lagi mencium aroma tubuhmu.

“Maya!” Aku berteriak berkali-kali hingga kerongkonganku pedih. Nafasku sesak. Lalu semua kelam.

§


“AAAAH!” Aku terbangun tiba-tiba, terduduk. Selang infus di tangan sampai tercabut dari jarumnya. Udara ruangan ini begitu dingin tetapi tak menghalangi peluh membasahi sekujur tubuhku.
“Hey, bung! Apa yang kau lakukan? Kenapa kau mencoba mengubah alur? Kau bisa gila!” seorang pria menghardik sembari melepas alat di kepalaku.

Aku berusaha mengatur nafas. Jantungku masih berdebar. Aku melihat sekeliling. Ini bukan dermaga. Sebuah ruangan gelap yang penuh sesak oleh monitor digital. Peralatan medis bekas tergeletak di mana-mana.

Maya... hatiku begitu perih.

“Nyalakan lagi! Aku belum selesai!” Aku membentak.
“Bung, prosedur pembangkitan memori ini tidak boleh dilakukan lebih dari satu kali per 48 jam. Kau juga sudah tahu itu,” ia terus membereskan peralatannya. “Kurasa kau terlalu sering mengunjungi masa lalu, otakmu jadi tidak beres.”

Tidak. Aku harus kembali. Ingatan itu semakin memudar. Aku dapat merasakannya. Aku harus memutar baliknya sekarang juga.

“Nyalakan lagi kataku!” Aku mencoba merebut alat itu dari genggamannya.
“Tidak! Kau masih berhutang untuk lima sesi terakhir! Bayar dulu baru kau bisa mengunjungi pelacurmu itu lagi.”

Aku terbelalak. Aku dapat melihat senyum mengejek di wajahnya. Bajingan itu meretas otakku. Membongkar isi kepalaku. Membajak kenanganku.

Aku mengambil pena di atas meja. Serta merta kutancapkan di tengkuknya. Ia roboh seketika.

Kutarik alat itu dari tangannya yang menggelepar dan kupasang kembali di kepala. Kutanamkan infus. Sekaligus kumasukkan lima buah ampul ke dalam alat pengatur pelepasan. Tak kuhiraukan dering peringatan. Tak kuhiraukan pria itu meregang nyawa di lantai. Aku merebahkan diri di dipan dan kutekan saklar.

Maya. Tunggu aku. Kali ini aku tak akan melepaskanmu.

Rabu, 30 Maret 2016

[API] Siulan Pemanggil Gina

“Di suatu masa, ketika Bumi sudah berusia lebih tua dari umurnya yang sekarang… Ada sebuah kisah tentang seorang gadis bernama Gina…”

“Apa itu artinya di masa depan, nek?” Tanya seorang bocah yang tengah duduk rapih bersama beberapa temannya yang ikut mengerubungi sang Nenek pengemis berjubah lusuh. Nenek itu hanya tersenyum tipis sambil mengangguk. Ketika Nenek itu hendak melanjutkan ceritanya, salah satu anak lelaki tiba-tiba bersiul tanpa sebab.

“Kamu tuh katanya mau dengerin ceritanya Nenek, lanjut nggak?” Nenek itu melambaikan tangannya ke depan anak lelaki tersebut hingga anak itu tersadar dari lamunannya.

“Waa… maap ya, Nek!”
“Aah elu mah kebiasaan, ga jelas!”
“Mimpi siang bolong yee??”

“Ya udah, Nenek lanjutkan ya. Yang anteng semua,” ujar Nenek yang dikenal banyak orang karena mengemis sambil mendongeng berbagai cerita misteri di masa depan itu. “Oh iya, kalian jangan sekali-kali bersiul tengah malam ya, pamali! Apa lagi sambil nyebut-nyebut nama Gina…”

Nenek itu menarik nafas pelan-pelan, “Begini ceritanya…”

***

Selasa, 29 Maret 2016

[API] Lilin

Minah memerhatikan lilin yang ada di hadapannya. Apinya tegak lurus tak bergeming walaupun lilin tersebut bergerak mengayun-ayun karena piring alasnya diombang-ambing air di dalam baskom. Cantik sekali, seperti almarhum ibunya yang gemar sekali menari. Minah selalu ingin menjadi seperti ibunya yang selalu anggun, sesulit apapun hidup mereka. Ibu yang membantu ayahnya bekerja siang malam untuk menafkahi keluarganya. Ibu yang direnggut tiba-tiba dari hidupnya oleh pengemudi bus ugal-ugalan. Minah baru berusia enam tahun ketika itu, tapi ia sedikit paham bahwa kepergian ibunya lebih berat dirasakan oleh ayahnya yang akhirnya harus berhenti dari pekerjaannya menyupiri sebuah keluarga. Kehidupan mereka yang tadinya pas-pasan sedikit bertambah sulit.

Keputusan untuk kembali ke desa kelahiran ayah Minah diambil dua bulan setelah kejadian itu, desa yang sekali-dua kali pernah dikunjungi Minah sebelumnya. Minah selalu senang setiap kali ia berkunjung. Banyak teman, dan saat malam walaupun gelap tanpa listrik, ia bisa mendengarkan orkestra binatang-binatang malam, menonton pertunjukan kembang api kunang-kunang sambil menemani ayahnya minum kopi di depan rumahnya. Kebiasaan yang diteruskan selepas kepergian ibunya. Kebiasaan yang kini diwarnai cerita-cerita ayah tentang ibunya.

Buat ayahnya, Minah lebih berharga dari apapun yang ia pernah, sedang, dan akan ia miliki. Ia tahu, sejak pertama kalinya bidan mengangkat tubuh kecil itu keluar dari rahim istrinya, bahwa hidupnya yang lama sudah berakhir. 

Kehidupannya yang lama sudah selesai, hidupnya sekarang bukan lagi miliknya dan itu tidak apa-apa. 

Ia bekerja berkali lipat lebih giat, tubuhnya terasa berkali lipat lebih lelah di ujung hari, tapi satu panggilan "Ayah" dari Minah, dan semua itu terbayarkan.

Ayah Minah kemudian bekerja sebagai buruh di sebuah perkebunan di dekat kampungnya, tugasnya membawa hasil panen ke pasar di kota yang jaraknya beberapa puluh kilometer, kemudian membawa hasil penjualannya kembali ke Pak Sabeni sang tuan tanah. Ini ia lakukan beberapa kali dalam seminggu, biasanya ia berangkat pagi-pagi buta, dan kembali ke rumah larut malam. 

Penghasilannya sebagai buruh tidak seberapa. Uang yang didapatkan sebagian besar dipakai untuk membeli makanan, sisanya ditabung. Tabungan yang biasanya habis di akhir bulan untuk merawat rumah kecil dan membeli pakaian setahun sekali. Di masa mudanya ia pernah hidup berkecukupan, berlebihan malah. Kehidupan lalu di mana ia tidak pernah memikirkan hari esok, dimana ia berfoya-foya tanpa tahu kemana ia melangkah. Uang yang ada ia habiskan di meja perjudian, mabuk-mabukan, dan di rumah pelacuran. Uang yang didapatkannya juga dengan cara tak terpuji, berbekal nekat dan ilmu hitam. Pertemuannya dengan ibunda Minah selalu ia anggap uluran tangan dari yang Maha Kuasa. Pertemuan sederhana di pasar malam yang akhirnya merubah jalan hidupnya.

Ia selalu berusaha untuk membawakan buah tangan untuk buah hatinya, terkadang coklat, permen, atau kalau penjualan sedang bagus, mainan seperti kapal-kapalan yang menjadi kesayangan Minah. Warnanya yang merah cerah dan bunyi tuk-tuk-tuk yang keras ketika berjalan membuat tawa Minah selalu pecah setiap kali ayahnya menyalakan mainan tersebut dan membuatnya berlayar di dalam baskom.

Pertamakalinya ia menyalakan mainan kapal-kapalan yang ia bawakan, ia bisa melihat kekaguman di mata putrinya itu. Matanya yang berbinar-binar, tangan kiri menggenggam tangan kanan, saling menahan. Antusiasme. 

"Minah mau ambil kapalnya ya?" Ia bertanya pada putri kesayangannya, dan dijawab dengan anggukan dan senyuman yang melebar. Setelah api sumbu di kapal tersebut mati, ia ambilkan kapal tersebut. "Hati-hati, masih panas ya Nak.., " katanya sambil memberikan kapal itu pada Minah. Tangan-tangan kecil menyambutnya dengan semangat, membolak-balikkan mainan itu, mengeluarkan sumbu dari tempatnya, mengintip ke dalam lubang tempat air dimasukkan ke bilik pembakaran. Di saat itu ia sadar, anaknya cerdas, penuh keingintahuan, dan berhak untuk mendapatkan jalan hidup yang lebih baik daripada dirinya dan almarhum istrinya. 

Minah harus bisa sekolah.

Di hari ulang tahun Minah yang ke-tujuh, ia membulatkan tekadnya untuk menyekolahkan putrinya itu. Ia tahu tabungannya tidak ada, bahkan dengan menggadaikan semua yang ia punya uangnya masih belum cukup untuk uang pangkal Sekolah Dasar. Belum lagi uang iuran bulanannya. Malam itu ia duduk di depan rumahnya lebih lama dari biasanya. Minah tertidur di pangkuannya, tangannya membelai rambut anak perempuan itu. Orkes makhluk malam sudah selesai, hanya suara jangkrik dan lolongan anjing yang beberapa kali terdengar. Suara sumbu petromak terbakar dan bau minyak tanah menemaninya. Ia menyeruput sisa kopi dari gelasnya, dan mengeluarkan selembar foto kusam dari dompetnya. Foto mereka bertiga yang diambil lima bulan yang lalu. Foto yang saat ini terlihat seperti foto keluarga lain, di kehidupan yang lain. Keluarga yang sangat bahagia dengan masa depan yang terlihat cerah. Di bawah hembusan napasnya ia meminta maaf kepada almarhum istrinya, dengan suara yang cukup halus agar putrinya tidak terbangun.

Minah bermain dengan anak-anak lain hari itu, seperti biasanya. Saat senja tanpa perlu dipanggil ia pulang ke rumah, menyalakan lampu petromak dan  menunggu ayahnya pulang sambil menyiapkan makan malam yang sudah dimasak oleh ayahnya sebelum ia berangkat pagi tadi. Setelah makanan ditata, terakhir ia menyeduhkan kopi kesukaan ayahnya, dan menaruhnya di atas meja makan. Setelah itu biasanya ia membaca buku-buku dan komik-komik yang dibawakan oleh ayahnya dari perjalanan-perjalanannya. Malam ini ada yang sedikit berbeda dari raut muka ayahnya, ia bicara lebih sedikit dibandingkan biasanya, menundukkan kepala seperti enggan beradu pandang dengan putrinya itu. Minah sudah tertidur ketika ia merasa tubuhnya diguncang-guncang.

"Nah, Minah, bangun sebentar, ayah mau minta tolong." Suara ayahnya terdengar sedikit tergesa-gesa. Minah membuka mata, megusap-usapnya dengan punggung tangannya, kemudian duduk di dipan. "Ada apa Ayah?" mata kanannya terbuka setengah, mata kirinya masih tertutup, rambut masih menutupi sebagian wajahnya. "Ayah mau pergi sebentar, kamu bisa bantu ayah jaga lilin ini?" Ayahnya menunjuk ke arah baskom tempat ia biasa bermain kapal-kapalan, di dalamnya ada air, sebuah piring berisi lilin yang menyala mengapung di atasnya. "Kita mau main kapal-kapalan ayah?" Minah kembali memandang ayahnya. Ia melihat ayahnya tersenyum sedikit. "Bukan sayang. Ini permainan yang lain lagi, cara mainnya, kamu harus jaga api lilin ini selama ayah pergi, jangan sampai lepas dari pandangan ya.. kalau api lilinnya mulai bergerak gerak, kamu harus tiup lilin tersebut sampai apinya mati. Bisa?" Minah memandangi lilin tersebut beberapa saat, lalu menengok ke arah ayahnya dan mengangguk.

"Ayah berangkat dulu ya," ayahnya berdiri, sekecup ciuman menghampiri kening Minah. Tangannya menyelipkan foto ke tangan anaknya. Sambil memakai sebuah ponco hitam ia membuka pintu, melepaskan pandangan beberapa saat ke arah putrinya sambil tersenyum. "Ayah sayang Minah," katanya. "Aku juga sayang Ayah," senyumnya, kedua mata Minah yang kini terbuka sepenuhnya melihat ayahnya menutup pintu dan sosoknya menghilang di kegelapan.

***

Minah memerhatikan foto yang diselipkan ayahnya tadi di bawah cahaya lilin. Bayangan dari permukaan foto yang lecek dan tak lagi rata membuat gambar dalam foto tersebut bergerak-gerak. Ia masih ingat saat foto itu diambil. Ayahnya baru mendapatkan kenaikan gaji dan mereka merayakannya dengan berjalan-jalan ke sebuah pusat perbelanjaan. Ia merasakan air berkumpul di sudut-sudut matanya dan mengusapnya dengan punggung tangannya.

Suara letupan senapan menyadarkannya dari lamunan. Bergema. Kemudian suara orang berteriak-teriak, langkah-langkah kaki berderap, berlari di luar rumahnya. Minah berlari ke arah jendela, mengintip. Tak ingin ketinggalan untuk mengetahui hiruk-pikuk apa yang sedang terjadi.

"Celeng! Celeng masuk rumah Pak Sabeni! Besar sekali!" Pak Warso, tetangga dan sobat ayahnya berteriak-teriak. Sarungnya dililitkan di bahunya, tangannya memukul-mukul kentongan bambu. Sekelompok penduduk kampung berkelebat melintas di depan rumahnya, Minah tak bisa melihat siapa mereka, tangan-tangan mereka memegang golok, celurit. Minah menyaksikan semuanya dengan seksama, jantungnya berdebar-debar tapi bukan karena ketakutan. Matanya melihat ke sana kemari, berharap ia bisa melihat celeng itu, sekelebat saja. Ia ingin melihat makhluk yang berhasil membuat seluruh desa geger malam ini.

Di belakang Minah, api lilin meliuk-liuk.. bergetar. Terang, gelap, terang, gelap, dengan irama yang awalnya teratur, semakin cepat, semakin acak. Setelah sejenak ia menyala terang, jauh lebih terang daripada seharusnya sebuah lilin menyala. 

Lalu lilin itu mati.

Kericuhan malam itu perlahan padam. Suara-suara teriakan para penduduk kampung sudah tak lagi terdengar. Minah kembali ke arah baskom sedikit kecewa, ia tidak sempat melihat celeng itu.. di dalam baskom itu sebuah lilin tanpa api mengapung. Di sekelilingnya ia melihat beberapa benda yang sebelumnya tak ada di sana. 

Minah mengulurkan tangannya, meraih dan mengangkat sebuah kalung dan beberapa gelang emas. Cantik sekali.

Minggu, 27 Maret 2016

[Api] Nurani

Laut Kidul, 1406

Langit memerah. Lidah api raksasa melalap kapal-kapal Keraton Timur. Bara menari-nari di malam tanpa rembulan. Jasad para bangsawan dan pengawalnya yang telah terkoyak-koyak keris dan cetbang terombang-ambing di antara ombak. Pasukan kecil itu jelas bukan tandingan para pengawal perairan ini, armada selatan Majapahit.

Tak lama setelah pasukan darat Keraton Barat menembus pertahanan Lumajang, Bhre Wirabumi beserta keluarga besarnya melarikan diri ke arah pesisir selatan. Mereka berencana berlayar ke pulau Bali. Desas-desus menyebutkan bahwasanya kerajaan kecil itu bersiap untuk melepaskan diri dari genggaman kekaisaran. Bagi mereka, musuh Trowulan adalah teman dan sekutu.

Akan tetapi rencana pelarian ini sempat terendus telik sandi Majapahit. Mereka pun menyiapkan jebakan. Kapal-kapal pelarian Keraton Timur bergerak dari balik rawa-rawa kala mentari tenggelam. Sontak belasan kapal cepat armada selatan yang bersembunyi di balik Nusa Barung mengibarkan layar. Sebelum tengah malam, flotila pelarian luluh lantak.

Larang dan Nadim berenang perlahan mendekati salah satu kapal besar yang mulai terbakar. Dengan buluh perumpung di mulut masing-masing, mereka menyelam bergerak tanpa mengeluarkan riak. Mereka tak ingin terdeteksi pasukan Majapahit yang berada tak jauh dari kapal-kapal Keraton Timur.

Mereka memanjat sisi kiri lambung dan mendarat di geladak tanpa terlihat. Api yang melalap tiang layar utama semakin membesar. Dengan tubuh tertutup jelaga keduanya bergerak menyatu dengan bayangan. Di tangga menurun ke dalam lambung kapal yang terletak di buritan Nadim berbisik pada Larang, “naskah-naskah yang kita cari memiliki cap Sang Hyang Baruna. Ambil semua yang kau temukan.”

Nadim berbadan kekar dengan parut luka di sekujur tubuh. Rambut dan cambangnya putih, suaranya berat dan parau. Ia berbicara dengan logat orang-orang selat. Sementara Larang adalah seorang pemuda dari pantai di barat laut pulau Jawa. Rambutnya yang masih basah oleh air laut menyapu pundaknya yang kecoklatan oleh matahari. Ia menganggukkan kepala pada perintah Nadim. Mereka bergegas ke arah yang berlawanan.

Larang menyusuri salah satu lorong di dalam lambung. Semakin ke dalam semakin sulit baginya untuk bernafas. Suhu udara pun semakin panas. Bau anyir menyeruak dari mayat-mayat yang tergeletak di lantai kapal. Tanpa membuang waktu ia mengumpulkan dan memilah naskah-naskah di sana. Sesuai perintah yang diterima beberapa hari lalu: naskah dengan cap Sang Hyang Baruna. Naskah peninggalan Rakryan Tumenggung Mpu Nala yang masih tersisa.

Dari balik pecahan kayu di lambung kapal ia dapat melihat umbul-umbul Pataka Gula Kelapa berkibar di luar sana. Kapal-kapal armada selatan masih berjaga-jaga. Satu dua cetbang menyalak menembaki orang-orang Keraton Timur yang kedapatan masih hidup dan mencoba melarikan diri bersama ombak di dalam kegelapan malam. Perintah Bhra Narapati jelas, tidak ada musuh yang boleh dibiarkan hidup.

Larang berlari ke arah tangga yang menuju buritan. Saat ia menapakkan kaki di anak tangga, dari balik dinding kayu ia mendengar suara tangisan. Larang tertegun. Tangisan seorang anak kecil. Ia mencoba mendekati arah suara.

“Apa yang kau lakukan, Larang. Kita harus segera keluar dari kapal celaka ini,” tiba-tiba Nadim telah aada di belakangnya.
“Kau mendengarnya juga kan? Ada seorang anak di sini. Kita harus menolongnya,” seru Larang setengah berbisik.
“Tugas kita hanya menyelematkan naskah! Kita tidak menyimpang dari tugas dan kita tidak masuk ke dalam pertikaian mereka. Aku tahu kamu baru bergabung, jadi akan kuingatkan sekali lagi: Para Penjaga tidak ikut campur,” jawab Nadim yang telah berdiri di ujung atas tangga. “Putuskan sekarang juga.”

Larang terdiam di tempatnya berdiri. Ia masih dapat mendengar isakan tangis itu. Sayup-sayup masih mendengar letusan cetbang dan sorak sorai prajurit Majapahit. Udara semakin hangat oleh api yang membesar membakar tiang-tiang utama. Sewaktu-waktu tiang-tiang tersebut dapat runtuh, menyebarkan api ke lambung kapal dan membakarnya habis.

§


Di rawa-rawa beberapa ratus tombak dari lokasi flotila Keraton Timur, Nadim muncul dari dalam air. Ia menyelinap di antara akar-akar hutan bakau menuju salah satu semak-semak di tepian. Tetapi ternyata itu bukan semak sesungguhnya. Lebih menyerupai selimut yang berbentuk semak-semak. Ia membukanya dan di balik selimut itu tersembunyi sebuah sampan.

Tiba-tiba sebuah kantung dilemparkan ke dalam sampan. Nadim berbalik ke arah lemparan, seketika tangannya telah menggenggam sebilah kerambit.

Itu adalah Larang. Ia telah berdiri di belakang Nadim. Dadanya kembang kempis.

“Itu naskah yang aku kumpulkan di kapal. Aku telah menyelesaikan perintah. Apa yang akan kulakukan sekarang adalah pilihanku sendiri. Tidak ada sangkut pautnya dengan Para Penjaga,” Larang berbalik memunggungi Nadim, bersiap kembali menuju laut.

“Hey, pemuda bodoh!” Nadim berseru. Larang membalikkan badannya. Dengan reflek tangannya menangkap benda yang dilemparkan oleh Nadim. Sebuah bungkusan kain berisi busur silang kecil dengan lima buah anak panah besi.

“Jangan kau mati malam ini,” ujar Nadim datar.

Larang menganggukan kepalanya. Ia pun segera berlari ke arah laut. Dalam sekejap tubuhnya menghilang bersama ombak muara yang kelam. Malam semakin larut, di kejauhan api masih menari. Menari-nari bagaikan mengiringi nyanyian lirih sang ratu penguasa lautan ini.

Sabtu, 26 Maret 2016

[API] Parade Air Mata


Teduh dan sejuk, rimbun daun pohon jambu air memayungiku dari sengatan matahari. Aroma mawar terbawa angin merebak kesegala arah, tegel warna putih bersih yang dipadukan dengan tembok berwarna biru langit serasa makin membuat hawa sejuk makin ketara. Rumah ini rumah sahabatku, letaknya tidak jauh dari jalan raya, agak bising memang.
            “Dwi juga ikutan ?.”
            “Iya Bu Uban, sudah dibolehin sama Mamih ko,” jawabku padanya, Ibu Uban itu bukan nama sebenarnya, rambutnya hitam legam lurus terurai, tak berbeda dengan rambut Nisa. Yang beruban itu sebenarnya suaminya, Pak Uban nama panggilannya.
            “Cuman sampai jam 9 kan acaranya?,” Bu Uban meoleh kearah sahabatku, Nisa namanya.
            “Iya Bu…, euu… nanti kalau acaranya sudah selesai Nisa akan Saya antar pulang ke rumah ko,” Aku memberanikan diri berjanji, Nisa tertunduk.
            “Kasih ijin aja Bu, lagipula Nisa kan sudah gede, sudah kelas 5 SD, jangan terlalu dilarang-larang.” Tiba-tiba suara Pak Uban terdengar, rupanya dia sedang tiduran di sofa depan TV, gak kelihatan.
            “Ya sudah, hati-hati yaaa…,” Bu Uban menyelundupkan lembaran kertas berwarna hijau ke tangan Nisa, Pak Uban masih asyik menukar-nukar saluran TV, Nisa tersenyum, manis.
            Aku pun pamit pulang, Nisa ikut bersamaku, dia dalam tanggungjawabku hari ini. Nisa menggenggam erat tangan kananku, uang ditangannya sudah berpindah ke saku rok warna Abu yang dikenakannya, ini pertama kalinya aku melihat dia pakai baju atasan pink itu, baru sepertinya.
            “Nisa, Dwi…, jangan lupa jam 9 harus sudah pulang yaaa.”

* * * *

            “Dapat ijin yaa?, “ Iman memotong bambu dengan santainya. Sreekkk… kosreeekkk… kosreeekkk… Bilah bambu berdiameter 5 sentimeter dia potong menjadi 2 bagian.
            “Iya dong, kan ada Aku…,”  Aku tersenyum ke arah Nisa, dia membalas senyumanku lalu kembali menikmati es kacang ditangan kanannya, esnya enak, tadi dia mengijinkan Aku mencicipinya sedikit, pengen lagi.
            “Yaaa sudah, bambu ini mau Aku bawa ke Kak Ajat… Nanti setelah Isya kita kumpul depan Mesjid Baeturrosyid,” Iman tampak serius, kulitnya sekarang agak gelap, tapi masih terlihat tampan. Melihat dia sedang berkeringat seperti itu saja sudah bisa membuat Aku tersenyum, dia lucu.
            “Nih Wi…, makasih…” Aku tersadar dari lamunanku, Iman menyerahkan gergaji ditangannya padaku.
            “Eh, euu… iya Man… sama-sama,” Aku kikuk.
            Langit sore pun berangsur menyergap, garis oranye terlihat jelas lalu perlahan padam menghitam. Rintik gerimis sejenak membasahi bumi menghilangkan panas seharian.

* * * *

Adzan Isya sudah lama berkumandang, barisan shaf sholat sudah mulai terurai, sebagian makmum sudah pulang. Seharusnya Aku ada disana, ikut berjamaa’ah.
“Ini buat kalian berdua,” Iman memberikan satu bilah bambu yang dia potong tadi sore kepada kami, aku menggenggamnya dengan erat. Bilah bambu ini bukan bilah bambu biasa, pada ujungnya ada sebuah botol berisi minyak tanah, yang terikat kencang, seutas sumbu terlihat menjuntai didalamnya.
“Wii, Aku takut nyasar …,” Nisa mulai merengek.
“Tena…”
“Tenaaanngg, ada Aku…, kalau terjadi apa-apa, Aku yang akan menyelamatkan kalian.” Iman memotong perkataanku cepat, dia sok jagoan, tengil sekali, huh!!.
“Santai aja Nis, acaranya seru kok, harusnya tahun kemarin Kamu ikut,” Aku tersenyum coba menenangkan Nisa.
“Tapi jauh ga sih, Wii?.”
“Deket kok,” Aku coba menjelaskan, “kalau sudah jalan mah ga kan kerasa ko, Nis,” Iman menambahkan. Nisa terlihat lega, raut khawatir di wajahnya mulai lenyap.
Orang-orang mulai berdatangan, dari mulai anak kecil sampai orang dewasa ikut bergabung, depan mesjid menjadi ramai.
“Ayoo Anak-anak yang sudah punya bambu kumpul dulu sini!!,” suara Kak Ajat terdengar kencang, anak-anak mulai berkumpul mendekat. Aku, Nisa dan Iman ikut mendekat.
“Ayo semuanya kumpul-kumpul,” Kakak panitia yang lain ikut bersuara, Nisa mengenggam tanganku erat. Iman berdiri tidak jauh dari kami.
 “Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokaaatuh…,” Kak Ajat membuka acara dengan lantang.
“Wa’alaikumsalam… warohmatullohi… wabarokaaaatuh…,”anak-anak menjawab dengan kompak seperti sudah dilatih sebelumnya.
“Baiklah anak-anak yang Kakak cintaiii…, agar acara ini berjalan dengan lancar kalian harus patuh sama Kakak-kakak panitia yaaa…. Itu demi keamanan dan keselamatan kaliiii….”
“Yaann….,” benar-benar kompak kan.
“Oke, kalian harus ingat yaaa, rute nya dari sini kita jalan luruuuusss sampai kuburan,” tangan Kak Ajat meliuk-liuk menjelaskan arah jalan.
“Hiiiiiiii…”
            “Wii, di kuburannya Aku takut, Wii.” Gengaman tangan Nisa semakin kuat, sakit.
            “Ga kan apa-apa kok Nis, kita banyakan kesananya.” Aku berbisik di telinga Nisa.
            “Nah,, dari kuburan kita belok kanan, jalan terus sampai SD. BHAKTIWINAYA,” Kak Ajat melanjutkan penjelasan, “Di SD. Kita kumpul sebentar lalu pulang lagi kesini, acara ditutup disini, PAHAM???.”
            “Pahaaaammm,” serentak anak-anak menjawab, sementara para pemuda dan bapak-bapak diam memperhatikan, sebagian asyik menghisap rokok.
            “Pokoknya kalian jangan lupa…. Dari sini…, ke Kuburan…, lalu SD…., lalu kembali ke Sini…”
            “Okey DORA…, “ seserorang nyeletuk dari belakang, kami tak kuasa menahan tawa.
            “Yaa sudah kita mulai saja yukk,” Kak ajat tersenyum.
            Acara pun dimulai, panitia mulai bekerja, sumbu diujung bilah bambu mulai dinyalakan, kami mulai berjalan kaki, Pawai Obor ini namanya.
Dua buah motor sudah lebih dulu berjalan didepan kami, anak-anak mengikuti dari belakang, sebagian memegang obor, sebagian membunyikan kentongan, Kakak panitia mengamankan jalur perjalanan kami, lagu ‘17 Agustus’ pun berkumandang.

Besok adalah HUT RI, iya Hari Ulang Tahun Republik Indonesia, pawai obor ini adalah salah satu bagian dari rangkaian acaranya, katanya sih sudah lama tradisi ini dilaksanakan, Aku tidak kaget.
Puluhan anak mengikuti pawai ini, aroma minyak tanah tercium jelas, asap hitam meliuk-liuk dari ujung api menari tertiup angin. Aku dan Dwi ada ditengah-tengah, Iman berjalan dibelakang, janjinya untuk menjaga kami bukan sekedar candaan. Si sebelah Barat Aku melihat titik api meliuk berarak dikejauh, sepertinya desa lain juga mengadakan pawai obor.
Anak-anak berjalan beriringan, tak lama kami sudah melewati kuburan, genggaman tangan Nisa semakin erat, dia tertunduk tak bicara, Aku santai saja sambil ikut bernyanyi, kali ini ‘Halo-halo Bandung’ yang bergema.
Dalam waktu lima belas menit kami sudah sampai di SD. BHAKTIWINAYA, titik-titik api lain sudah ada disana, sepertinya itu pawai obor desa sebelah yang kulihat tadi.
“Stoooppp, semuanya stoooppp, berhentiii …,” kakak panitia memberikan perintah, anak-anak mengikuti, mereka tak memiliki pilihan lain.
“Itu anak-anak dari Desa Astaraja,” Iman mengagetkanku, napasnya terengah, jalanan menuju SD. memang menajak.
“Mereka mau apa?,” Aku penasaran, Kak ajat terlihat sedang berbicara dengan pemuda lain didepan disana.
“Yaa pawai obor juga lah,” Iman menjawab culas. Hmmh.
“Pulang yuk Wii, sudah jam setengah sembilan, Aku bisa kena marah Ibu kalau tidak cepat-cepat pulang,” Nisa memandangi jam ditangannya, aduh… Aku jadi bingung. Acaranya belum selesai, kalau pulang berdua pun apa dibolehkan oleh panitia?, lagipula ini sudah malam, apa yang harus Aku laku…
“Ayo semuanya jalan lagi, Ayooo…,” kakak panitia memberikan aba-aba. Para peserta berjalan maju.
“Loh bukannya seharusnya kita pulang?.”
“Wiii…,” Nisa semakin erat memegang tanganku, pipinya mulai memerah, matanya berkaca-kaca.
“Tunggu sebentar,” Iman berlari menuju Kakak Panitia yang ada di depan, anak-anak melanjutkan perjalanan, peserta pawai dari dua desa pun mulai bersatu, Aku tidak kenal siapa orang yang ada di kanan dan kiri ku.
Aku menoleh kebelakang, puluhan orang menyusul, siapa mereka? peserta pawai obor semakin banyak dalam waktu singkat.
Aku melambatkan langkah kakiku, tapi orang dibelakangku mendesak mendorong badanku, tangan Nisa yang ku genggam pun akhirnya ..
“Nisaa….!!,” terlepas.
“Dwiii…!!,” titik air mata jatuh di pipi Nisa.
Siapa mereka? Siapa orang itu, aku tidak mengenal mereka, api obor yang meliuk sama sekali tidak membuat wajah mereka jelas dimataku, asing. Aku lempar obor ditanganku jatuh ke selokan, Aku memisahkan diri dari rombongan. Ratusan orang tidak kukenal lewat dihadapan, yang kucari adalah Nisa… Nisa dimana??, pipiku mulai hangat, Iman… kamu dimana? air mata meleleh.
Rombongan obor pun berlalu, titik api itu mulai menjauh, kuputuskan pulang sendiri. Entah apa yang harus Aku katakan pada Bu Uban, Aku terlanjur berjanji menjaga Nisa, dan ternyata Aku tak bisa memegang janjiku itu.
Lemas, Aku berjalan menyusuri jalan, lampu-lampu redup sama sekali tidak bisa menghiburku. Jalan setapak ini biasanya Aku pakai ketika pulang sekolah bersama Nisa dan Iman, jalur yang lebih cepat untuk pulang tapi pasti licin, tadi sore hujan.
Di kejauhan Aku melihat satu titik api bergerak menjauh, seperti pulang ke arah kuburan. Nisa? Apakah itu Nisa?… Aku tidak pikir panjang, Aku berlari masuk ke jalan setapak pesawahan yang gelap, bermodal sinar lampu samar dari kejauhan Aku nekad menyusuri jalan licin itu demi Nisa, Aku tidak ingin Nisa sampai terluka.
Aku telah keluar dari jalan pesawahan, meluncur ke jalan desa, dan belok menuju kuburan, kali ini nyaliku diatas angin seolah rasa takut ini dicabut hilang. Kedinginan, kakiku basah.
Didepan sana terlihat jelas seorang anak berambut panjang sedang berjalan, Nisa, iya itu adalah Nisa. Tangan kanannya menggengam erat tangan anak laki-laki itu, anak laki-laki yang membawa obor, iya anak laki-laki yang ku kenal, anak laki-laki itu adalah Iman.


Mendung sebelum hujan.

Bandung, 26 Maret 2016

Rabu, 23 Maret 2016

[TUJUAN] Pulang

"piou... pi... pi" "PIIIIIIII!!!!" Fizzie terbang ke angkasa, sang makhluk berbentuk gumpalan rambut bundar sempurna membentangkan sayap-sayap mekaniknya lebar-lebar. Daratan merah dan lautan darah menjadi terang seketika dengan Amazing Vitality dari Fizzie, kemampuan meningkatkan stamina dan semangat orang-orang yang ia support di sekelilingnya. Luka-luka yang menganga di pipi dan lengan kiri ku terasa lebih kebal, efek kemampuan Fizzie benar-benar seperti obat bius...! Walau hanya sementara tapi itu cukup untuk menambah lama bertahan kami. "aaa...hhh..." Sesosok manusia dengan tubuh separuh mutan berjalan perlahan menyeret gada besi besar miliknya ke arah ku. Ia tak bersuara. "...hhhhhh" Desah ku mengambil nafas dalam-dalam. Aku merendahkan posisi tubuh, melebarkan kaki, mencondongkan badan kedepan dan mengangkat ke dua tangan ku ke depan badan. Aku memejamkan mata, bersiap. "...." Ku tahan nafas di dada. Ke dua telapak tangan mengepal keras, mata terbuka mengunci target besar yang bergerak lamban. Kaki ku hentakkan hingga melontarkan aku ke udara dan bersiap menghajar mutan dari atas. Belum sempat mutan itu mengangkat gada besinya, aku mendaratkan tendangan tumit diatas kepalanya diiringi teriakan ku keras-keras, "AKU MAU PULAAAANGGG!!!" Tubuhnya terhempas ke tanah, ku habisi ia dengan Amazing Punch. Kemampuan khusus ku di dunia ini. Dunia yang mulai mati. Salju kemerahan disekitar ku. Hhhh... Entah sudah berapa lama aku tidak menghiraukan salju yang dulu indah. Aku berdiri sejenak ditengah berpeperangan yang sedang berkobar. Awalnya aku tidak perduli jika hidupku berakhir di dunia yang runtuh perlahan-lahan. Dunia yang secara ajaib tercipta dari imajinasi manusia. Kini telah hancur karena ke egoisan penciptanya. Ketika sang Imajinasi menjadi hidup dan berusaha menutup dirinya, manusia mengamuk dan berupaya mengambil alihnya lagi. Namun dunia itu kini harus tertidur selamanya. Jika tidak, entah berapa banyak manusia terjebak dan tidak dapat kembali ke tempat asalnya. Dunia nyata dimana jika kau tak sanggup untuk meneruskannya, pilihanmu adalah... mati. Aku tidak membenci dunia imajinasi ini, namun aku sudah tidak lagi menyukainya. Dengan menjebakku, Ia mengajarkan tentang pentingnya memperjuangkan hidup ku. Aku harus pulang... jika tidak, aku tidak dapat melangkah maju lagi.

Senin, 21 Maret 2016

[TUJUAN] raison d'ĂȘtre

"Detektif, kau tahu kenapa kita bisa sampai di dalam keadaan sebusuk ini?" lelaki paruh baya itu bertanya , tangannya tersilang, jari-jarinya diketukkan di atas meja. Sebuah irama dari sebuah lagu yang ia sendiri sudah lupa melodinya. Detektif Hasibuan memandangi lelaki itu sesaat, mengukur ke mana arah pembicaraan ini. "Silakan beri pencerahan kepada kami-kami ini Pak," akhirnya ia berkata, nada suaranya sedikit mengejek. 

Lelaki paruh baya itu tersenyum, memahami bahwa sang detektif membutuhkan antagonisme itu untuk menunjukkan ia yang berkuasa di sini. Seperti gorilla yang memukul-mukul dadanya. 

"Kalau Anda mengikuti pelajaran sejarah dengan baik di sekolah, Anda tentu tahu apa yang terjadi di paruh keempat abad 21," lelaki itu melanjutkan. "Krisis empat blok," kata sang detektif. "Tepat," kata lelaki itu,"bumi hampir musnah saat itu, saya tidak melebih-lebihkan, saya mengatakan itu secara literal. Bumi hampir musnah," ia berkata, masih sambil tersenyum. Detektif Hasibuan mulai merasa ia ingin meninju wajah laki-laki itu. Tekanan untuk menangkap teroris sialan ini dan pemindahtugasan beberapa rekannya tanpa alasan yang jelas membuatnya lebih gampang naik pitam dibanding biasanya.

"Bermacam krisis dihadapi umat manusia; ekosistem di berbagai penjuru porak-poranda. Terorisme, perang berkecamuk di titik-titik panas. Harga minyak jatuh bebas, tetapi secara kontradiktif, ia makin sulit didapat. Lahan-lahan pangan berganti fungsi untuk memenuhi kehausan dunia akan energi. Kelaparan melanda, puncaknya: tatanan ekonomi kolaps."

"Kita sudah sedekat ini dengan kepunahan," kata lelaki itu sambil mencubit udara dengan jari telunjuk dan ibu jarinya. "NATO pecah, Amerika Serikat, Kanada, Meksiko, Kuba dan Inggris membentuk blok Pan-Amerika. Negara-negara Uni-Eropa di bawah pimpinan Jerman dan Russia membentuk Pan-Eropa, yang tidak hanya berkoalisi secara ekonomi, tetapi juga militer dan hukum. RRC, negara-negara Asia Timur dan ASEAN membentuk Pan-Pasifik, negara-negara Afrika dan Timur Tengah dengan Pan-Afrika, dan semua blok itu menodongkan arsenal nuklir ke arah satu sama lain," ia berhenti sejenak. Memandangi sang Detektif Hasibuan dan rekannya yang berdiri di belakangnya. "Kalian tahu apa yang akhirnya mencegah pecahnya perang besar?"  

"Cerewet kau Pak Tua, cepatlah, to the point saja!" Detektif Matthew Sarjito, rekan Hasibuan tiba-tiba membentak. Yang dibentak melirik sebentar ke arah Sarjito, lalu melanjutkan seakan tidak ada apa-apa. "Aku, Tuan-tuan. Aku yang mencegah perang besar terjadi," lelaki paruh baya itu menunjuk dadanya dengan ibu jari. Suaranya hampir berbisik.

Detektif Hasibuan menghembuskan napas, memakai kacamatanya dan membuka map yang ada di hadapannya. "Abraham Hamaguchi, 162 tahun," ia melirik ke arah Hamaguchi, "162 tahun, sel punca dan uang.. memang menyenangkan jadi orang sekaya Anda... Anda pernah menjadi kepala konglomerasi Hamaguchi-Schubert, pernah menjadi orang terkaya di dunia, pernah mendapatkan Nobel di bidang fisika.. pernah..pernah..pernah.." Hasibuan melempar kembali map tersebut ke atas meja. "Kami sudah tahu siapa Anda Pak. Kata kunci yang perlu dicatat adalah 'pernah'. Pernah, dan bukan lagi," Hasibuan menancapkan pisau kata-kata itu dengan pandangan ke mata Hamaguchi. Ia menangkap sekelebat reaksi lewat sepasang mata tersebut. "Yang kami ingin tahu adalah kenapa. Kenapa orang dengan kredensial seperti Anda berakhir seperti ini, meledakkan beberapa koloni di Luna, dan duduk di kursi pesakitan karena aksi terorisme." Hasibuan berhenti sejenak, berusaha menangkap reaksi dari raut muka Hamaguchi. Tidak ada. Tidak ada sedih, gembira, tidak ada penyesalan di wajah orang itu.

Hamaguchi tersenyum, lebih lebar dari sebelumnya. "Bravo, Anda tahu siapa saya, mungkin Anda juga tahu, bagaimana saya pernah menjadi semua itu?" Pisau kata-kata Hasibuan gagal melukai Hamaguchi. "Saya seorang synesthete," Hamaguchi memandangi dua orang di depannya. 

"Sinest..apa?" Sarjito bereaksi. Hamaguchi memandanginya seperti guru yang sedang menghadapi murid bebal. "Anda pernah dengar tentang synesthesia?" ekspresi wajah Hasibuan jelas menjawab: tidak tahu.

"Synesthesia adalah keadaan di mana rangsangan atas salah satu indera memicu reaksi di indera yang lainnya," Hamaguchi membagi pandangannya ke kedua detektif di hadapannya. "Hanya saja, kalau sebagian synesthete --orang yang mengidap synesthesia-- melihat warna kalau ia melihat angka tertentu, atau bisa mengecap rasa ketika melihat warna tertentu, pada kasus saya, saya bisa mengecap apa yang sedang dirasakan oleh lawan bicara saya dan melihatnya sebagai warna-warna. Seperti saya mengecap keraguan dan amarah Anda saat ini, detektif."  

"Saya bisa membaca lawan bicara saya, secara cukup literal. Itu kenapa saya tidak pernah kalah di meja perundingan, Tuan-tuan. Itu, dan satu hal lagi: saya selalu mengerjakan PR saya. Seperti akupresuris, saya tahu titik-titik mana yang harus ditekan, dan apa akibatnya." Hamaguchi mengambil gelas air di atas meja dan meminumnya beberapa teguk. Diam beberapa saat, ia bisa melihat pengaruh kata-katanya atas Hasibuan mulai berkurang dan membiarkannya, benang harus ditarik-ulur untuk menaikkan layangan.

"Buku-buku sejarah memberikan penghargaan kepada para politisi yang menyelamatkan dunia dari ambang kiamat, padahal mereka sendiri yang menyebabkan itu. Siapa yang mendamaikan mereka? Siapa menurut Anda yang mencomblangi pembicaraan-pembicaraan antara para politisi tersebut? Siapa yang menjadi penghubung, mendorong saat mereka ragu, siapa yang mencucuk hidung, menggiring, dan mengancam mereka jika perlu? Siapa yang membangun ladang panil matahari di Luna yang memecahkan masalah energi yang kita hadapi waktu itu? Bahkan menjadi pondasi koloni tempat kita duduk saat ini! Beberapa puluh tahun kemudian, Anda bisa lihat sendiri, mereka mulai bertengkar lagi seperti anak kecil." 

"Jadi itu alasannya? Dendam?" Hasibuan berkata. "Tidak ada yang mengucapkan terima kasih kepada Anda, sang pahlawan, dan kini seluruh dunia harus membayarnya?"

"Berapa tahun Anda sudah bertugas di Luna, Detektif?" raut muka Hamaguchi berubah, senyumnya menghilang. Ia membuat sedikit gestur dengan jarinya, seperti orang mengusir lalat. "Melihat Bumi dari jauh seperti ini, tidakkah Anda melihat kekonyolan pertengkaran mereka?"

"Aku tahu kau setuju dengan kalimatku barusan, Detektif," Hasibuan melihat Hamaguchi memiringkan kepalanya, memicingkan matanya, menelisik semua rahasianya. 

"Detektif Kepala Ronald Hasibuan, lulusan terbaik jurusan Kriminologi Universitas Indonesia. Pangkat Anda letnan, tapi secara de facto, Andalah kepala kepolisian Luna, bukan si dungu Peters itu. Anda pernah terlibat organisasi anti-pemerintahan sosialis pada saat mahasiswa, tenang atasan-atasan Anda tidak tahu tentang hal itu, mereka tidak perlu tahu. Pernah menikah beberapa tahun dengan Alessandra Agnelli sebelum akhirnya bercerai. Apa kabar Laura anakmu? Anak yang cantik, tahun ini 18 tahun ya? Kelihatannya dia makin mahir bermain piano." 

Hasibuan merasa tengkuknya dingin, jantungnya berdetak lebih kencang, keringat turun di pelipisnya.

"Implan otakmu terhubung ke jaringan ultranet bukan? Coba kau akses ini." Hamaguchi menjentikkan jarinya. Sarjito menyodorkan selembar kertas berisi sederetan angka, sebuah alamat protokol ultranet. Hasibuan memandangi wajah Sarjito yang tersenyum. Perlahan pemahaman terbentuk di benaknya. Ia menerima kertas tersebut dengan tangan bergetar.

Hanya dengan mengingat angka-angka tersebut dan sedikit kehendak, antarmuka di otaknya menunjukkan Laura yang sedang bermain piano, Laura yang sedang tidur, Laura sedang berjalan dengan teman-temannya, di bioskop, di rumahnya, di sekolah.

"Untuk menjawab pertanyaan Anda detektif, tidak, saya tidak berniat balas dendam. Dan saya paham, yang seharusnya menerima ucapan terima kasih bukan saya, tetapi Anda, bukan begitu Detektif Kepala? Ucapan terima kasih atas jasa dan pengabdian Anda selama bertahun-tahun, dan bukannya kenaikan pangkat yang ditunda untuk memberi jalan kepada anak-anak ingusan yang punya koneksi. Ruang kerja yang nyaman, alih-alih ruang kerja pengap tanpa pemandangan seperti yang sekarang Anda punya." Hamaguchi menyenderkan punggungnya ke kursi.

"Politisi-politisi tersebut tidak akan berdamai kecuali mereka punya kepentingan yang sama. Kepentingan dengan dorongan paling kuat adalah kepentingan untuk tidak binasa," nadanya kini seperti seorang dosen yang menjabarkan fakta-fakta. 

"Saya tahu Anda membenci para politisi itu, sama seperti saya, bahkan mungkin lebih.. Anda kehilangan ibu Anda karena jaminan sosialnya dibatalkan, setelah ia membayar preminya dalam bentuk potongan gaji hampir seumur hidupnya."

"Saya ingin menawarkan kepada Anda sebuah posisi yang unik, Detektif," lanjut Hamaguchi. "Saya menawarkan Anda posisi sebagai juru selamat," senyumnya mulai kembali, lawan bicaranya tersudut.  Ini bukan interogasi, ini adalah sebuah wawancara pekerjaan. "Anda akan melepaskan saya sekarang, membiarkan saya menjalani peran saya sebagai teroris, penjahat yang menyandera Bumi dalam ketakutan,  saya akan meninggalkan instruksi-instruksi yang tinggal Anda ikuti sehingga beberapa aksi saya bisa Anda 'gagalkan',"  Hamaguchi membentuk tanda kutip dengan jarinya. "Sebagai imbalannya, saya akan pastikan Anda akan dielu-elukan oleh umat manusia, rasa terima kasih yang Anda inginkan selama ini akan Anda terima berlipat-lipat ganda. Kita akan dipandang sebagai rival, dan Anda akan punya kuasa yang lebih tinggi dari para tikus itu."

Detektif Kepala Ronald Hasibuan terdiam sejenak. "Apa jaminan Anda akan menepati kesepakatan ini?" suara Hasibuan sedikit bergetar. 


"Sama sekali tidak ada," Hamaguchi tersenyum. "Tapi saya tahu, Anda sudah setuju untuk mengikuti rencana saya sejak dua menit yang lalu." 

[API] Aku

Kami terkejut dari diam diri kami selama dua belas jam jalan kaki kami karena mesin detektor si Mata Satu tiba-tiba berbunyi.

“Ternyata alat itu berguna juga,” suara Gerardo gemetar karena dingin. Tempurungnya tidak terlalu membantu ternyata sebagai penghangat tubuh.

“Apa ini berarti kita sudah dekat, Jonas?” ­­­­­suara Anselmo juga gemetar. Susah memang mencari mantel tebal untuk kura-kura. Mereka jarang bepergian ke daerah dingin, jadi pengusaha jaket merasa membuat baju musim dingin untuk kura-kura adalah bukan investasi yang baik.

“Kelihatannya begitu, teman-teman! Bersiaplah untuk harta karun paling legendaris di masa kita!” Semoga dengan bersikap seperti ini, mereka bisa lebih bersemangat. Aku ragu, tapi tidak ada salahnya berusaha. Gerardo tampak seperti selalu akan meledak marah, dan Anselmo tak henti mengedipkan mata kirinya, sejak kejadian dengan para Siren, yang rasanya seperti tahunan yang lalu.

Di depan kami terbentang lautan es bening yang datar, memantulkan aurora yang seluruhnya berwarna kehijauan di langit. Lautan ini dikelilingi oleh siluet hutan dan pegunungan. Tanpa ada cahaya merah di tengah lautan itu, dataran ini akan terlihat seperti tiada akhir. Suara detektor berdenyut pip pip pip menggema ke udara, aku kuatir aku akan mengganggu sesuatu.

Persephone akan suka pemandangan ini. Bagaimana aku bisa kembali?

“Jonas, bagaimana kita bisa kembali?” Anselmo bertanya. Langkah mereka terdengar terseok-seok di belakangku, “percuma seluruh harta ini, kalau kita tidak bisa kembali.”

“Semoga harta ini punya kekuatan sihir, karena kita butuh keajaiban.”
Beruntung aku berjalan di depan mereka, jadi mereka tidak bisa melihat keraguanku, jika keraguan itu terpancar, “ahahah, keajaiban selalu datang tiga kali, teman-teman. Pertama, kita bisa lolos dari para Siren...”

“... yang membunuh semua awak kapal kita,” sambar Gerardo.

“... itu karena mereka malah menuruti saran Jack untuk menutup telinga dan bukan menutup sebelah mata. Kedua, kita lolos dari Plaktae ...”

“... karena Anselmo lebih cerdas darimu dan menyarankan kita untuk naik ke menara pengamat. Sehingga kita tidak terjepit batu, tapi kapal kita hancur berkeping dan kita terlempar ...”

“... ke dekat garis pantai Halablar. Lihat? Keajaiban. Kalau apa yang dikatakan orang tua kita benar, kita masih punya satu lagi keajaiban.”

“Sepertinya kita masih hidup di sini adalah keajaiban terakhirnya, Jonas ...” Anselmo menyambar, “...aku kuatir jatah kita sudah habis.”

Pip pip pip pip. Suara detak detektor makin lama makin rapat-rapat semakin dekat kami ke cahaya merah di tengah lautan es. Tidak ada angin dan tidak ada suara binatang. Tidak nyata rasanya. Aku juga kuatir keberuntungan kami habis. Hanya suara sepatu boots kami yang meninggalkan sedikit suara retakan pada permukaan es yang ternyata tipis. Aku masih bisa melihat rumput segar dan tanah di balik permukaannya yang tembus pandang.

Aku tidak tahu lagi bagaimana cara menghibur mereka. Tinggal merekalah kruku, “jangan putus asa kawan...”

“... baru pertama kau memanggil kami ‘kawan’,” Gerardo tidak membantu usahaku.

“... ingatlah betapa seringnya keajaiban menyelamatkan kita. Kalian sekarang punya tanah dan rumah di Eratriet, keajaiban juga yang membuatku mendapatkan Persephone dan Anantham,”

“Anantham mungkin bukan anakmu, Jonas. Sudah kubilang berkali-kali,” Gerardo senang dengan topik ini sepertinya. Tak bisakah dia melihat kaptennya bahagia? “kau mungkin yang pada akhirnya berhasil menikahinya, tapi selama kau dan si Mata Satu sibuk memperebutkan dia, siapa yang tahu ...”

Aku berhenti dan memutar badanku menghadap dia, “Gerardo, kawan. Tolong jangan hipotesa itu lagi. Aku ... energiku sedang tidak cukup untuk tidak menghiraukanmu. Sekarang,” aku memutar badanku kembali dengan gerakan yang kuharapkan bisa mengayunkan bulu-bulu di topiku. Persephone bilang teatrikalitas adalah kunci menjadi kapten. Entah dari mana asal kebijaksanaan itu. Mungkin dari Si Mata Satu?

Gerardo dan Anselmo menggumamkan sesuatu yang tak bisa terlalu kudengar. Detak detektor sudah sangat rapat sampai terdengar seperti satu nada panjang saja. Kami sudah sekitar lima meter dari sumber cahaya merah tadi. Sebuah semak bunga mawar yang terbakar, tapi semaknya tetap utuh. Untuk pertama kalinya kami merasakan desir angin yang berputar mengelilingi semak itu. Detektor yang kucuri dari Si Mata Satu berhenti berdenging dan akhirnya meledak kecil, melompat dari tanganku dan jatuh berantakan.

“Jonaaass....” sebuah suara menggelegar entah dari mana. Kabut putih keluar dari semak terbakar itu dan bergerak pelan mengelilingiku. Aku berputar untuk mencari Gerardo dan Anselmo, yang menghilang di balik kabut.

“Gerardo? Anselmo?”

“Tanggalkan pakaianmu ...” ucap suara itu, “... ini adalah tempat yang suci ...”
Menanggalkan pakaianku? Haruskah aku melepas topiku juga?

“Yaaaa... topimu juga...” dia membaca pikiranku, siapa ini? Dari mana suaranya datang? Apakah ini keajaiban ketiga? Apakah ini harta karunnya? Harta karun macam apa ini?

“Harta yang paling berharga adalah apa yang kau tinggalkan,” jawab suara itu. Api yang membakar semak mawar itu. Siapa ini?


“Aku adalah aku.”

Minggu, 20 Maret 2016

[TUJUAN] Penelope



Gerimis membuat udara terasa lebih tawar dan mendung membuat sore lebih abu. Lebih tawar dan lebih abu dari biasanya. Aku letih memandang ke luar jendela ke pelabuhan, kapal Anantham tak pernah berlabuh. Aku letih, tapi tetap kupandangi juga. Riuh rendah para awak kapal, nelayan maupun ekspedisi, lonceng-lonceng, burung camar, debur ombak, dan suara sepatu-sepatu di atas dermaga kayu.

Suara denting-denting gantungan logam di langit-langit bengkelku yang tertiup angin laut yang berhasil masuk melalui jendela. Suara pintu terbuka dan terbanting tertutup.

“Sore,” sapa Lintal cepat, sebelum membanting keranjang makanan ke meja di ujung ruangan. Dia selalu membanting semuanya: makanan, cucian, benda-benda yang diangkat ketika dia mengelap meja-meja dan lemari. Aku suka pekerjaannya, tapi setiap dia di sini aku harus berhenti bekerja karena bantingan-bantingannya selalu mengejutkanku.

“Masih menunggu Anantham?” semburnya tiba-tiba.

“Hah? Aku ...”

“Lebih baik kau memikirkan bagaimana membayar sewa bengkel ini. Kamu sudah terlambat dua minggu, bukan? Aku sebal melihat muka Tuan Kan setiap aku ke sini.”

“Ya,” buat apa dia mengurusi prioritasku? “Hari ini makannya apa?”

“Lihat saja itu di atas meja,” tukasnya.

Aku mendekati meja cukil di sudut yang berlawanan dari tempatku duduk di mana dia meletakkan makan malamku. Sebuah wadah makanan plastik yang dibungkus kembali dengan serbet kotak-kotak merah putih papan catur. Aku mencium bau ikan, dan air liur terbit dalam mulutku. Aku tiba-tiba merasa lapar, aku lupa membeli makan siang tadi. Seharian ini aku hanya duduk memandangi balok kayu yang sudah kusiapkan dari seminggu lalu tapi tak kusentuh-sentuh. Aku belum tahu harus membuat apa, jadi aku hanya bergantian memandanginya lalu memandang ke luar jendela, siapa tahu Anantham pulang.

“Jangan di makan sekarang, Pene. Masih terlalu sore untuk makan malam.”

“Aku lapar, Lintal.”

Lintal tidak berkomentar lagi. Dia langsung pergi setelah mengambil lap-lap kotor dan baju kotor seminggu ini. Setelah bantingan pintu yang terakhir, dan memastikan sentakan langkah-langkahnya di tanah luar bengkelku tak terdengar lagi, aku membuka serbet makan malamku. Setelah kubuka wadahnya, tampillah potongan kentang dengan wangi merica, dan ikan dori. Bau jeruk lemon naik. Anantham suka ikan dori lemon tepung roti. Mataku buram tiba-tiba, dan nafasku berat. Seiring makanan ini mengisi perut kosongku, fokusku kembali pada perasaan kosong yang lain yang mulai familiar sebulanan ini setelah Anantham pergi.

Mau mencari ayahnya, katanya. Sang Topi Burung Merak, katanya. Bagaimana kalau Anantham tidak kemba ...

Aku duduk kembali ke meja tengah, suara debur ombak dan burung camar dan lonceng di luar menjadi musik lembut setelah aku kenyang. Aku memahat bentuk-bentuk besar di balok yang sedari pagi hanya kupandangi, berharap pancingan motorik akan akhirnya memberi inspirasi. Perlahan bentuk-bentuk kecil muncul, aku bisa melihat kelopak-kelopak mawar. Dengan pahat yang lebih kecil aku meneruskan keinginan balok itu untuk menjadi sekelompok mawar. Mahkota-mahkota bunganya mulai berjarak lebih dalam, dan daun-daunnya terbentuk. Aku tidak pernah membuat objek organik sebelumnya, jadi sambil sesekali menghapus air mata yang bercampur keringatku, aku tersenyum. Apa kata Anantham kalau tahu aku sekarang membuat bunga?

Untuk sebuah hidup yang sesaat, mawar mampu menjadi begitu indahnya. Apakah keindahan dan ketidakabadian adalah dua sahabat yang senang berjalan beriringan? Duri-duri mawar mulai muncul dalam pahatanku, tajam melawan lembutnya kelopak bunga dan daun yang menari-nari, tapi keberadaannya melengkapi. Saat aku menyadari kehadiran benih Anantham mulai menciptakan kehidupan baru dalam kandunganku, duri-duri juga menampilkan dirinya. Anantham memutuskan untuk pergi mencari ayahnya dan tidak tahu kapan kembali. Keindahan, ketidakabadian, lalu kepedihan.

Anak Lintal adalah pelaut juga. Besok aku akan berbincang pada Lintal untuk meminta ijin agar putranya mengantarkanku juga ke Halablar. Aku tidak ingin anakku nanti tidak pernah mengenal ayahnya, seperti Anantham. Rangkaian mawar kayu berdiri indah di mejaku, memandangku balik. Perlahan detilnya lenyap, dan seluruh dunia labur. Jantungku berdebar kencang untuk hari esok. Aku ingin dekat dengan Anantham lagi. Aku sudah lupa wajahnya.