Rabu, 27 April 2016

[FANTASI] Adikara

Soundtrack opsional: https://open.spotify.com/track/4RE18MdjehpJJH2uShw6rz
atau: https://www.youtube.com/watch?v=2t2yArIzEKU


Bintang gemintang mengalah malam itu, cahayanya tak terlihat terselimuti bara dan asap yang membubung. Kedua laki-laki itu duduk di atas kuda-kuda mereka di sebuah bukit di kaki gunung Ngliman. Sungai Brantas mengalir depan mereka, di bawah sana. Keris-keris mereka sudah tersarung, tombak-tombak di tangan kanan mereka. Kedua jenis senjata tersebut berlumur darah dan tanah, pun sekujur tubuh mereka. Jauh di bawah mereka kobaran api menari-nari di atas reruntuhan Kadiri. Kerajaan yang umurnya sependek umur rajanya.

"Gayatri sudah aman, Wijaya. Aku tak mengerti jalan pikiranmu, kau hancurkan Kadiri untuk menyelamatkan istrimu tapi kemudian mau kau serahkan ke bangsa Tartar," salah satu membuka percakapan. Yang diajak bicara tidak menengok, hanya tersenyum kecil. Pandangan matanya lekat ke reruntuhan di bawahnya yang perlahan menjadi abu.

"Semua ada waktunya, Adikara sahabatku," Sanggramawijaya akhirnya bersuara. " Semua ada waktunya, " ia mengulangi, tanpa menunggu tanggapan ia menghela tali kekang kudanya, berbalik arah menuruni bukit. Arya Adikara  mengikuti sahabatnya.

Mereka menemui Shi-Bi komandan pasukan Tartar berdiri di depan kobaran api yang memangsa istana. Dalam siluet zirah nya terlihat seperti sesosok iblis dari neraka. Di satu sisi terlihat siluet yang jauh terlihat lebih bersahabat, lebih terdidik, sang penerjemah. Di sisi lain satu sosok terlihat meringkuk dalam ikatan. Jayakatwang, tawanan perang.

Mulut Shi-Bi mengeluarkan suara, kata-kata dalam lidah asing. Dari intonasinya terdengar jelas ia masih dalam efek adrenalin dari pertempuran sebelumnya, terdengar jelas pula ia menganggap lawan bicaranya lebih rendah darinya. Adikara hampir melompat untuk meninju wajah Shi-Bi, satu gerakan kecil tangan Wijaya menghentikannya.

"Shi-Bi yang terhormat ingin mengatakan bahwa ia sudah memenuhi tanggung jawabnya dalam perjanjian ini. Ia menyerahkan tawanan ini kepada yang mulia Wijaya, dan menagih Gayatri sebagai bagian dari janji yang mulia," sang penerjemah berkata, nadanya mendayu-dayu, sama sekali berbeda dengan nada yang ia terjemahkan.

"Terimakasih atas bantuan Shi-Bi yang terhormat dan tentara Tartar yang perkasa kita meraih kemenangan dan menangkap sang raja. Kami akan menepati janji kami. Silakan datang sepuluh hari lagi ke Tarik, ke desa kami Majapahit untuk menjemput Gayatri dan beberapa upeti sebagai tanda tunduknya kami kepada Khan yang mulia," Wijaya membalas, kata dan nada diucapkan dengan penuh hormat.

Penerjemah mengucapkan beberapa kata dalam bahasa Tartar, Shi-Bi mengangguk dan membalas dalam bahasa yang sama. "Yang terhormat Shi-Bi mengucapkan terima kasih, kami akan memenuhi undangan Anda."

***

Sejak hari pertama kedatangan mereka di Majapahit, Adikara tak henti-hentinya mempertanyakan kebijakan Wijaya. Menyerah tunduk kepada Tartar sama saja  menyatakan kesiapan Majapahit untuk dijajah katanya. Sekali waktu seakan bercanda dia bertanya pada Wijaya apakah dia siap untuk menjadi budak. Di kesempatan lain ia menggunakan sindiran, sengaja tidak mengucapkan gelar Dyah di depan nama Wijaya di acara resmi pemerintahan. Di kali lain bahkan kata-kata 'lemah' dan 'pengecut' sempat dilontarkannya, tentu tidak langsung, tapi lewat cerita dan perumpamaan yang jelas dimaksudkan untuk menyinggung Wijaya. Semua sindiran itu dibalas dengan kata-kata yang sama; semua ada waktunya.

Di hari kesepuluh pasukan Tartar mulai berkumpul di perbatasan desa. Mereka mendirikan yurt-yurt, tenda mereka. Pasukan dari Majapahit menyambut mereka, dipimpin oleh Wijaya sendiri. Dengan akrab ia menepuk bahu Shi-Bi. Wajah Shi-Bi sedikit terkejut, kemudian memerah marah, tapi beberapa detik kemudian ia terbahak-bahak. Tak ada orang selain Adikara yang melihat bibir Wijaya bergerak-gerak, merapal. 

Suara Wijaya membahana, "Tabik! Kami menyambut pasukan Tartar yang perkasa ke desa sederhana kami. Kami tidak akan bisa mengalahkan pasukan Kadiri tanpa bantuan Shi-Bi dan para pendekarnya. Untuk itu kami sudah menyiapkan sajian istimewa di dalam desa untuk yang terhormat Shi-Bi dan 200 orang yang terhebat di pasukannya. Silakan ikuti kami, tapi mohon maaf, mengingat kejadian yang baru dialami Putri Gayatri, tentu yang terhormat Shi-Bi mengerti apabila kami meminta semua senjata ditinggalkan di sini sebelum memasuki desa."

Sang penerjemah melongo mendengar sambutan barusan. Meninggalkan senjata? Dia harus menerjemahkan kata-kata gila ini? Bisa-bisa dia yang diamuk oleh tuannya. Tapi disiplin dan latihan bertahun-tahun mengambil alih, ia menerjemahkan sambutan tersebut dengan sempurna. Di luar dugaannya, tuannya menyanggupi dengan semangat. Tertawa bahkan.

Perlahan Adikara mulai mengerti apa yang dilakukan sahabatnya. Gendam.

Shi-Bi dan dua ratus pasukan terbaiknya mengikuti Wijaya dan Adikara memasuki desa. Dalam perjalanan, di sana-sini Adikara melihat wajah-wajah yang ia kenali. "Pasukan telik sandi?" ia menengok ke arah perkemahan pasukan Tartar, dan ia melihat kedua penjaga perkemahan tersebut tertidur di tempatnya, bersandar pada tombak mereka. Suasana perkemahan yang tadinya terdengar riuh, bahkan dari jarak sejauh ini, kini senyap. Adikara paham kini: sirep, keseluruhan sekitar dua puluh ribu orang di sana bisa dipastikan perlahan terlelap tidur. Tanpa sadar di bibirnya terbentuk senyuman. Ia teringat kembali betapa cerdasnya sahabatnya itu.

Di ujung jalan terlihat istana, balai desa mungkin lebih tepatnya, karena ukurannya tidak terlalu besar. Pada baris paling depan terlihat seluruh perempuan penghuni keputren yang sudah berdandan ayu. Hampir tak terlihat, di baris kedua pasukan Bhayangkara berpakaian seperti bangsawan, dengan tangan siap di atas senjata-senjata mereka. Di baris paling belakang terlihat kaum yang dituakan, termasuk Ki Ajar Pelandongan, mertua Adikara, yang sudah dikenal kesaktiannya. Semakin mereka mendekat, awan semakin gelap, berkumpul menggelayut di atas mereka seperti dikomando, membentuk sosok garuda raksasa. Angin semakin kencang, bahkan mulai membuat suara-suara. Kilat mulai menyambar di sana-sini. Kuda-kuda tunggangan mereka terlihat mulai gelisah. Wajah para pasukan Tartar mulai berubah, beberapa terlihat curiga tapi tak berani mengganggu komandan mereka yang senyumnya tak hilang sejak dari perbatasan desa.

Dua puluh depa, sepuluh, sembilan, delapan depa, enam, lima.. Wijaya menengok ke arah Adikara. "Semua ada waktunya Lawe sahabatku.. ," menyebut Adikara dengan nama panggilannya, wajahnya tersenyum, ".. dan waktunya adalah sekarang," katanya sambil mengangkat tangan kanannya, membuat aba-aba.


Selasa, 26 April 2016

[FANTASI] Tidak Boleh Keluar Rumah


"Harusnya kamu itu banyak-banyak menghafal, kamu kan sudah masuk SMP, bukan anak SD lagi, kurangi maen-maennya!!."

"Ini bukan cuman maen ko,Mbaaa..."

“Ga ada alasan, Pokoknya ga boleh main di luar !!. TITIK.”

“Ayolah Mbaa….”

“Kamu kan sedang dihukum … Ingat??!!.”

“Sebentar saja kok….”

“Heh!! Siapa suruh mecahin vas kesayangan Mba!!. Rasain !!

“Ayolah …. Bentaaarrr saja.”

“Ga!!!.”

Orang bilang Ibu tiri itu jahat, menyeramkan seperti iblis yang suka makan daging manusia. Iya … Kevin menyetujui hal itu, sangat setuju.

“Ah Kal, sorry yaa… kita ga bisa main di lapangan nih, biasaaa nenek sihir bikin ulah,” Kevin menyuguhi Saya segelas air putih, kami duduk di ruang tamu.

“Ga apa-apa ko Vin, besok juga bisa,” jawabku sambil meneguk air yang sudah dihidangkan untuk Saya, haus.

“Pokoknya, kamu jangan main ke luar rumah, Si Bibi ga masuk kerja hari ini,” Mba Nadin merapikan rambutnya.

“Iya..iya…,” Kevin cemberut.

“Kamu Haikal, jagain Kevin jangan sampai main ke luar rumah yaa!!,”Mba Nadin membuka pintu, Saya hanya bisa mengangguk.

“KEVIN!!, jaga rumah!!.”

“IYA!!.”

Mba Nadin menutup pintu depan lalu meluncur ke halaman, dia menutup pintu gerbang dan memasuki mobil sedan warna merah yang telah diparkirkan disana. Saya dan Kevin mengamati dari balik jendela.

“Okay sipp, suasana sudah terkendali,” Kevin tersenyum lebar, dia berjalan ke ruang tengah, Saya mengikuti dari belakang.

Rumah Kevin luas sekali, 4 kali ukuran rumahku, kamarnya pun gede-gede. Di dalamnya dipenuhi berbagai pernak-pernik pajangan yang kelihatannya mahal, Saya tidak berani memegang.

“Maen game yukk, aku punya game baru, pasti kamu belum pernah nyoba,” Kevin menyalakan Laptop milik Ayahnya, Aku dan Kevin duduk di kursi warna putih yang disusun membentuk huruf U didepan TV.

“Liat nih Kal…,” Kevin memperlihatkan bungkus kaset DVD game kepada Saya. Robo Rider: Dimension Adventure Team, ternyata Kevin sudah punya game terbaru ini.

“Ini beneran kan, Vin ?? …,” Saya tidak percaya.

“Iya beneran dong, asli." Jawabnya bangga.
Halaman login Windows berwarna oranye terlihat di layar laptop, foto Papihnya Kevin terlihat disana. Kevin mengetikkan kata kunci, layar laptop mulai berubah...

Ting tong... Ting tong...

"Heuuhh!!! Siapa sih, ganggu banget," Kevin menyimpan laptop di atas meja, dan bergegas menuju pintu di ruang tamu.

Tidak!!, jangan pergi, Saya pengen maen game ini. Saya pandangi layar laptop, ingin coba klik sana-sini tapi takut rusak, mending tunggu Kevin datang.

"Liat nih , Kal. Aku dapat ginian," Kevin melempar sebuah kotak, Saya menagkapnya dengan cepat. Sebuah kotak yang dibungkus kertas warna biru dengan motif balon udara warna-warni. Kado?.

"Dapat dari mana ??."

"Entahlah, tidak ada alamat pengirimnya, tukang kirim barangnya sih bilang buat Aku,  Ahh paling Si Nadin iseng beli barang-barang aneh buat koleksi barang antiknya lagi."

"Isinya apa yaa ??,"tanyaku sambil menggoyang-goyangkan kotak kado milik Kevin, klotak-klotak-klotak, isinya lumayan berat. Kevin terdiam.

" Buka saja."

Antara penasaran dan takut, saya mulai membuka kertas kado itu perlahan, Saya tidak ingin kalo sam...

"Ahh Lama!!," Kevin merebut kado yang sedang Saya pegang, dia robek dengan cepat. Apa sebenernya isinya?.

"Ini...," sebuah benda setinggi 15 cm dia ambil dari dalam kotak, bentuknya mirip...

"Kunci ??," iya, Saya meraih kunci yang ada di gengaman Kevin, ini kunci apa yaa??, pada ujung gagangnya ada sebuah bulatan berdiameter sekitar 4 cm dengan ukiran aneh. Saya terdiam sesaat, Kevin kembali memeriksa isi kado.

"Lihat ini, Kal," Kevin menyerahkan sesuatu kepadaku.

Ini sebuah buku, sebuah buku kecil berukuran 10cm dengan simbol-simbol aneh yang tertulis didalamnya. Ada yang dicetak tebal, miring, dan ada juga simbol-simbol yang ditulis dengan Tinta berwarna merah.

"Ini apa, Vin??."

"Sudah kubilang kan, ini pasti kerjaan Si Nadin," jawab Kevin sambil kembali memperhatikan layar laptop, " dia itu senang ngerjain Aku, Kal. Ini juga pasti salah satu trik dia agar Aku dimarahin Papih lagi," tambahnya,"Udah... Mending maen game yukk!!," Kevin mengklik dua kali icon Robo Rider pada layar laptop.

Permainan pun dimulai, logo Robo Rider berwarna kuning tampak di depan layar, judul tambahan Dimension Adventure Team berwarna hitam tampak jelas. Ok Saya sudah tak tahan, ayo maen game!!.

"Terus kita ngapain nih, Vin?."

"Ga tau."

"Lah, ko ga tau?."

"Aku baru dapet game ini tadi malam, Kal. Aku belum nyoba," Kevin menekan tombol klik kiri dan kanan mouse berkali-kali tapi tidak terjadi apa-apa.

Sial...

ZREEEYYNGG... Suara aneh terdengar dari laptop, ada dua binatang menari di layar laptop, Harimau berwarna putih dan Naga berwarna hitam saling berkejaran, mereka berlari melingkar membentuk simbol Yin dan Yang, sebuah lubang kunci terlihat di tengahnya.

"Vin...," tangan Saya gemetar.

"Apa??," Kevin menoleh ke arah Saya, tangan nya berhenti memainkan mouse.

"Lihat ini," Saya perlihatkan ujung pegangan kunci kepada Kevin, ini...

"Hah!!, sama!!, iya Kal, sama dengan simbol di game," telunjuk Kevin menekan layar laptop berkali-kali, lalu kami pun terdiam.

Ini...

Saya memberanikan diri untuk lebih mendekat ke arah laptop, perlahan ujung kunci Saya dekatkan ke arah gambar lubang kunci yang ada di layar laptop, Saya menghembuskan nafas panjang, Kevin masih terdiam.

Ujung kunci sudah melekat pada layar laptop, kemudian Saya putar kunci searah jarum jam lalu...

Ceklek ...



Menunggu pergantian hari
26 April 2016

Minggu, 17 April 2016

[ORANG ACAK] Cafe Musim Semi

Merah, oranye, dan kuning. Bunga-bunga plastik di sana sini. Di niche, di meja-meja, bahkan bergelantungan dari langit-langit. Lihat langit-langitnya. Biru tua dan biru muda. Sungguh? Biru dan merah. Desainer interior cafe ini harus ditampar dengan buku teori warna. Tunggu. Aku rasa tidak pernah ada desainer interior. Sang pemilik pasti tidak mau mengeluarkan dananya untuk desainer interior, dan hanya percaya pada rasa ‘estetika’nya sendiri. Bencana besar-besaran. Kapankah para pemilik modal ini belajar? Sempurna. Kencan pertama dan aku sudah kesal dengan tempat ini. Lisa terlambat lima belas menit. Hebat.

“Selamat datang di cafe Musim Semi,” penunggu meja reservasi menyapa seorang tamu yang baru saja masuk di belakangku. Musim Semi. Menjelaskan bunga-bunga palsu itu. Aku memutar badanku untuk melihat siapa tamu itu. Bukan Lisa. Brengsek. Laki-laki ternyata. Kemana dia? Dia cantik, tapi kalau dia selalu terlambat begini aku tidak akan jadi mendekati dia. Aku punya aturan, dan wanita yang doyan terlambat otomatis akan kucoret. Sebaiknya aku memesan sekarang. Aku lapar.

“Mas, sori. Kok nasi goreng kambingnya gak ada kambingnya? Malah pake kismis,” sebuah suara datang dari dua meja di kiriku. Sungguh? Mereka mengacaukan makanannya juga? Ini makin lama makin baik. Tidak akan pesan nasi goreng kambing kalau begitu. Aku akan menyarankan Lisa nanti untuk memesannya.

******

Aku mengaduk-aduk nasi goreng kambingku. Sejak tadi aku tidak merasakan sedikitpun rasa kambing. Oke, ada nanas di sini, telur yang hancur, kacang polong. Piringnya memakai vignette bunga-bunga. Ah mungkin yang hitam-hitam ini. Kusendok satu potong untuk kucicipi. Aku hampir tertawa. KISMIS! Siapa yang menaruh kismis ke dalam nasi goreng? Sungguh berani. Kokinya eksperimental. Untuk itu aku kagum. Aku mengambil potongan kismis kedua dan sekarang kugabungkan dengan nasi gorengnya. Siapa tahu ada citra rasa unik yang diciptakan.

Tidak ada. Terlalu terpisah. Rasanya tidak bertemu. Rasa nasi gorengnya dan rasa kismisnya bertarung berebut perhatian. Kalau nasi gorengnya diolah secara Asia Timur mungkin ini bisa berhasil. Asam dan manis. Nanas ini akan menolong andaikan nasi gorengnya tidak terlalu gurih. Perutku menutup, tidak mau menerima lagi omong kosong ini. Apa pesananku salah?

Rombongan laki-laki di meja depanku tertawa terbahak-bahak, seakan menanggapi keadaanku. Ada lima orang laki-laki dengan botol-botol bir.

“Selamat datang di cafe Musim Semi,” penunggu meja reservasi menyapa seorang pria yang baru saja masuk. Pria yang tampan. Agak gemuk dengan kemeja yang digulung lengannya. Putih dan garis-garis biru. Kalau saja matanya tidak bermata panda begitu, dia akan sangat menarik dengan jenggotnya. Rambutnya terlalu berantakan. Dia seperti belum tidur. Menarik.

Ah, ada waiter, “Mas, sori,” kataku sambil mengangkat tanganku. Dia melihatku dan menghampiri sambil agak membungkuk. Wajahnya gabungan antara panik dan senyum keramahan yang masih dilatih.

“Boleh kerasin musiknya sedikit, Mbak?” suara pria tampan tadi terdengar di belakangku.

“Ya, mas?” waiter tadi sudah berdiri di samping mejaku.

“Kok nasi goreng kambingnya gak ada kambingnya? Malah pake kismis,” tanyaku, “apa salah ya pesanannya ya?”

“Ah, oya mas? Harusnya ada kambingnya,” tidak usah sepanik itu, anak muda. Dia masih sangat baru sepertinya, “biar saya tanya ke kitchen dulu ya, mas.”

Cara menghindar paling by the book. Harusnya restoran sudah melangkah jauh dari alasan-alasan seperti ini. Tapi ini cafe biasa. Bukan fine dining di Jakarta seperti yang aku kelola. Aku harus berpikiran terbuka, “Oke.”

Aku menyeruput es teh manisku. Ya tuhan, Wari Sangi. Merk murah. Terlalu manis. Apa yang aku pikirkan ketika aku pikir cafe ini akan berbeda? Desain interior dan facade nya bagus, bunga-bunga yang mendukung nama cafenya. Penampilan bisa sangat menipu. Seharusnya aku belajar. Musik terdengar lebih keras.

“Hey! Hati-hati!” salah satu pria dari rombongan pemesan bir di seberangku berdiri dan menunjuk ke arah ... arahku?

******

Brengsek! Sialan! Perempuan sialan! Cafe baru ya rupanya? Musim Semi. Sialan. Cafe macam apa yang lampunya terang begini? Semuanya berputar-putar. Banyak sekali bunganya ...

“... Musim Semi! Sendiri atau berapa orang, Mas?” sebuah suara dari kananku. Silau sekali, aku tidak bisa melihat wajahnya. Petugas reservasi rupanya. Lama-lama wajahnya menjadi jelas. Cantik. Senyum seperti itu... aku harus hati-hati pada senyum seperti itu. Senyum wanita mengantarkan aku ke keadaan seperti ini. Selalu. SELALU!

“Mas? Selamat datang. Apa anda menunggu teman?” tanyanya lagi. Mengganggu sekali.

“Sa ... saya mencari teman saya ...”

“Baik, mas ... silakan ...”

Aku melangkah pelan ke depan, sambil mencari pegangan yang tak kunjung aku temukan. Sialan! Musiknya terlalu pelan. Aku berputar kembali mencari Mbak yang senyumnya menarik tadi. Isi cafe berputar mengikuti putaranku. Itu dia, “Mbak ... Boleh kerasin musiknya sedikit, Mbak?” Kalau musiknya pelan, pria sialan itu tidak akan menyadari kehadiranku. Mana dia?

Lisa selingkuh. Aku tidak bisa percaya ini. Apa yang tidak aku berikan padanya? Kenapa dia lakukan ini padaku? Musik terdengar mengeras. Lucu sekali. Ini lagu kesukaan Lisa. Sepertinya ini memang pertanda. Aku akan tunjukkan dia tidak akan bisa macam-macam sebagai kekasihku. Dia kekasihku. Tidak boleh ada yang mengambilnya. Andai Lisa tidak salah kirim Whatsapp semalam, aku tidak akan pernah tahu. Lihat Lisa? Tuhan masih berpihak pada kita! Pada hubungan kita ...

“Oke,” aku mendengar suara dari beberapa meja di hadapanku. Pria itu ... dia berbincang dengan waiter. Daerah tempat dia duduk bercahaya lembut. Cocok untuk kencan pasangan yang berselingkuh. Di bawah bunga-bunga bergelantungan dari langit-langit. Pria itu berpakaian rapi. Pakai jas, berlebihan sekali. Bandung sedang panas belakangan ini, dasar laki-laki kebanyakan gaya! Pasti dia ... Ini pasti laki-laki yang akan ditemui Lisa.

Akan kuhajar dia.

Denyut jantungku berdetak keras dari dalam telingaku. Ruangan ini tidak lagi berputar-putar. Aku jadi fokus. Bagus. Waktu terasa melambat, rasanya pria itu jauh sekali. Tiba-tiba aku sudah di belakangnya. Aku mengangkat tinjuku, yang baru kusadari kukepalkan dari tadi.

“Hey! Hati-hati!” suara dari depanku terdengar tepat sebelum aku meninju kepala pria sialan ini. Dia jatuh ke samping, bersama gelas es tehnya yang langsung pecah di lantai. Aku menendangnya, menendangnya lagi, dan lagi, lalu naik ke atas tubuh sialannya dan meninju wajah tampannya. Akan kurusak wajah ini, supaya Lisa tidak lagi meliriknya. Aku merasakan tubuhku hangat, lalu memanas. Aku tidak bisa berhenti. Mampus kau, anjing!

******

“Sebentar, Mbak. Masih loading,” kata supir Uberku, “daerah sini susah sinyal.”

Gawat. Aku sudah setengah jam terlambat. Bram akan marah besar. Aku merogoh dompetku cepat-cepat dan mengeluarkan selembar seratus ribuan dan kuserahkan pada pak supir, “Pak, ini ambil saja. Saya buru-buru,” Bram mudah-mudahan memberiku uang malam ini. Aku harap gaun merahku dan rambut yang kucatok keriting ini menginspirasinya.

“Aduh, punten, Mbak. Makasih”

Aku cepat-cepat turun dari Avanza itu, dan melangkah cepat-cepat ke dalam cafe. Suara ribut apa itu? Petugas keamanan meraih tanganku, “Mbak, maaf. Ada keributan di dalam, lebih baik mbak tunggu di sini.”

“Saya mau cari teman saya dulu, Pak.”

“Tunggu di sini saja, Mbak. Bahaya. Teman Mbak pasti akan keluar.”

“Lisa!” suara Bram. Aku menengok dan melihat dia berlari ke luar cafe.

“Bram, maaf. Aku ...”

“Lupakan. Lebih baik kita pergi dari sini. Ada orang gila di dalam memukuli orang. Sepertinya dia mabuk. Kejadian yang cocok untuk cafe yang tacky seperti ini.”

“Oya? Wow ... aku ...” Bram menarik tanganku dan membawaku berjalan cepat ke mobilnya.

“Sepertinya orang gila itu Johan, kekasihmu ...” katanya sambil mencengkeram dan menarik tanganku. Jantungku seakan berhenti beberapa saat. Blunder Whatsapp semalam ternyata jadi begini. Seharusnya aku mengundur janjiku dengan Bram. Tadi malam Johan menanyakan isi pesan yang seharusnya kukirimkan ke Bram. Gawat. Ini gawat. Aku pikir alasan yang kuberi ke Johan sudah cukup canggih ... sialan!

“Kamu tahu dari mana itu Johan?” aku tak sadar tenggorokanku telah kering. Suaraku jadi berantakan.

Bram melepas tanganku lalu berdiri berkacak pinggang menghadap aku, “Sambil memukul orang itu, dia bilang ‘kamu mau ketemu Lisa? Kamu mau ketemu Lisa?’ ” Bram dan Johan sama-sama tidak saling mengenal, dan Bram menghajar orang lain. Ini tidak keruan, “sepertinya aku tidak mau lagi melanjutkan hubungan ini, Lisa. Pacar kamu gila, dan kamu suka terlambat!”

Kurang ajar.

“Aku akan antarkan kamu sampai rumah, tapi sesudah itu kita harus memutuskan hubungan.”


Aku kelu dan berdiam diri sambil melangkah ke mobil Johan. Bram terkenal tidak akan mengubah pendiriannya, tak peduli warna gaunku apa. Sial. Gagal lagi usahaku mendapatkan pria kaya. Aku harus menajamkan skillku lagi dan lebih bermain cantik. Mungkin lain kali akan kucoba Alex.  

[Orang Acak] Bergoyang




“Iman lama banget yaa, Wii…”
Itulah pernyataan Nisa setelah 10 menit menunggu Iman di pinggir jalan tepat di samping Gang Buntu, gang masuk menuju rumahku, iya rumah Iman juga lewat situ.
“Bentar lagi paling,” Aku memandang ke atas langit.
PRAKK!!!.. PRAKK!!! PRAKKK!!! … Aku pukulkan bilah bambu yang Aku pungut dari pinggir jalan ketika habis menjemput Nisa di rumahnya, Nisa tidak akan bisa main keluar rumah tanpa Aku, kasian dia. Kasian karena tidak bisa main di luar rumah, tapi kalau sudah bisa main diluar, keadaanku juetru lebih menyedihkan dari Nisa.
“Mau Wi..?,” Nisa menyodorkan teh dalam kemasan kotak padaku.
“Makasih Nis,” Aku menolak dengan halus, malu rasanya selalu ditraktir makanan atau minuman oleh Nisa, tapi apa daya Aku kehausan, teh dalam kemasan kotak itu pun aku terima.
Sluuurrpppp… Ahhh… cairan dingin itu melaju cepat ditenggorokanku, segar rasanya. Nisa duduk di samping kananku sambil juga menikmati kemasan teh miliknya. Entah berapa uang jajan yang dia dapat setiap harinya, di sekolah saja setiap istirahat dia tidak pernah berhenti makan, kalau sedang main di luar rumah pun tangannya tidak pernah kosong dari makanan, Nisa anak semata wayang yang selalu dimanja, dia beruntung.
Sementara Aku, keluargaku sebenarnya bukan keluarga miskin, terbukti kami masih bisa makan meskipun pekerjaan papih setiap harinya cuman tidur-tiduran di ruang tamu tapi kami masih bisa makan, Mamih bisa bayar arisan, Aku masih bisa sekolah, Kak Ridwan yang pengangguran juga masih bisa hidup meskipun tinggal di Bandung kota.
Tapi entah kalau urusan uang jajan mamih pelit sekali, selalu saja itungan. Akhirnya Aku belajar hidup mandiri, Aku selalu mencari cara untuk mencari uang jajan tambahan, yaa misalkan mengambil uang receh yang Mamih simpan di gelas pajangan di lemari kayu yang ada di ruamg tengah rumah, atau merengek-rengek di depan Papih agar tidur siangnya terganggu dan dia akan segera memberiku uang supaya aku lekas pergi, yaa itulah contoh usaha yang Aku lakukan.
“Itu Iman bukan, Wii?,” Teh di kemasan kotak milikku telah habis.
Aku memicingkan mata,”Iya, itu Iman…,” peci hitam miring di kepalanya,  baju koko ungu dan celana panjang hitam itu sering dia pakai, dari kejauhan Aku bisa melihat Iman tersenyum.
Aku buang kemasan kosong teh ke tong sampah yang ada di sebelah kanan warung Bu Ika tidak jauh dari tempat Aku dan Nisa duduk. Sementara teh milik Nisa sudah habis lebih dulu, dia sedang asyik menikmati wafer coklat, dasar rakus.
“Udah lama yaa??,” Iman tersenyum kepada Nisa, Nisa masih asyik dengan wafer coklatnya.
“Ayo sana ganti baju!!, keburu terlalu sore!!,” Aku pasang tanganku di pinggang.
“Oke siap, Nek!!, tunggu sebentar,” Iman berbalik lalu berlari masuk ke Gang Buntu menuju rumahnya.
Aku masih selalu merasa jantungku berdegup kencang ketika melihat Iman,dan dengan ada Nisa di dekatku detak jantungku malah makin tidak karuan. Senang? Cemburu? Benci? Entahlah, Aku bingung bagaimana menjelaskannya.
“Emang sebenarnya kita mau kemana sih, Wii??,” bungkus wafer coklat ketiga sedang dia nikmati, Aku tidak dibagi.
“Mau ke kebun Pak Asyid, nyari tongeret,” Aku duduk kembali di dekat Nisa dan memainkan bilah bambu lagi, PRAKK!!!.. PRAKK!!! PRAKKK!!! …
“Tonggeret…,” iya, serangga hijau yang bunyinya nyaring, biasanya hinggap di pohon,”Buat apa Tonggeret?,” tanya Nisa lagi.
“Entah, buat dimasak katanya,” Aku pun bingung dengan pemikiran Iman, emang Tonggeret enak dimakan gitu?.
“Ohh…,” secepat itu Nisa bisa menerima jawabanku, bugkus wafer ke empat sudah dia habiskan, iya wafernya sudah habis tidak tidak tersisa dan Aku tidak dibagi, tidak satupun.
BRUUMMMM BUTBUTBUT BRUUUMMMMM… mobil angkutan kota warna kuning muncul dari arah kanan kami, suaranya kencang tapi kecepatannya tidak sekencang suaranya, ini jalan desa tidak banyak kendaraan yang lewat sini.
“Yuk…,” Iman sudah ada dibelakangku.
“Bentar…,” Aku penasaran dengan mobil angkot kuning itu. Akhirnya kami bertiga memandangi angkot yang melaju pelan itu.
 BRUUMMMM BRUUMMMM BRUUUUUUUUMMMM… angkot mengaum kencang, seluruh bagiannya bergetar seolah sedang menari, asap putih kebiru-biruan keluar dari knalpotnya, lalu …
…
Angkot itu berhenti sekitar 50 meter dari tempat Aku duduk. PRAKK… pintu angkot dibanting keras Pak sopir keluar, wajahnya tidak Aku kenal, sebagian rambutnya sudah mulai memutih, dia melirik ke kiri dan ke kanan, mencurigakan. Dia berlari tergesa-gesa ke pinggir, dia berdiri disana dibalik pohon nangka, Aku masih bisa melihat punggungnya. Dia berdiri disana beberapa menit, lalu tiba-tiba badannya bergetar sebentar, seperti bergoyang, lalu dia kembali ke angkutan kota yang dia parkir dengan santai.
BRUUUUUUUUMMMM … Angkot itu melaju pergi lewat dihadapanku.


Ingin main game.
17 April 2016

[Orang Acak] Indomie dan Kopi Pegunungan Si Acak

"Sukaca Dinata, panggil aja Kaca" kata orang itu sambil menjabat tangan Fadly,
"Haha, anjir, apaan sok resmi, udah panggil dia Acak aja Dly," terdengar celetukan Doni, yang dikatain hanya nyengir,
"Haha, oke, Fadly," jawab Fadly sembari balik mengenalkan diri.

Fadly tidak bertanya lebih lanjut, apakah Si Acak mendapatkan nama itu karena dia memang acak, atau karena dia dipanggil dengan nama kebalikan namanya itulah baru kemudian dia jadi orang yang acak, sesuai ungkapan "nama adalah doa". Setidaknya, yang dia perhatikan di kemudian waktu, Si Acak memang sering mengucapkan kalimat-kalimat tidak ada hubungannya dengan apapun yang sedang dibicarakan, kadang terceletuk begitu saja setelah selesai berbicara tentang sesuatu hal, atau setelah tiba-tiba terdiam dengan mata menerawang dengan dahi berkernyit seperti sedang memikirkan masalah negara. 

Si Acak pernah tiba-tiba ngomong "Cap kaki tiga itu andaikan jadi cap kaki empat bakal dikira lambang Nazi juga ya" setelah meneguk larutan cap badak, minuman favorit keduanya setelah kopi. Atau pernah juga ketawa ngakak-ngakak waktu membicarakan salah satu acara semalam di TV kemudian langsung menunduk terdiam, setelah ditanya kenapa cuma menjawab "sedang terpikir sesuatu". Ada juga hal-hal destruktif yang mungkin hanya bisa terjadi pada dia, seperti membuang hampir setengah isi dari Aqua galonan karena dia membiarkan dispenser mengucurkan air mengisi cangkirnya, tapi kemudian dia tinggalkan begitu saja karena tiba-tiba mencari kunci motornya yang sudah hilang semenjak 2 minggu sebelumnya.

Sayangnya, jumlah pertemuan Fadly dengan Acak tidak sebanyak itu, dan kabar terakhir tentang Si Acak dari Doni cukup membuat dia mengernyitkan dahi. Doni bercerita bahwa Si Acak tiba-tiba tidak bisa dikontak begitu saja, dia pun sudah resign dari tempat kerjanya ketika hal itu ditanyakan kepada teman sekantornya. Ditanya lebih lanjut, Si Doni juga tidak bisa memberi jawaban memuaskan, tapi si Fadly maklum, Si Acak walaupun suka banyak omong tapi hampir tidak pernah membicarakan tentang dirinya sendiri, apalagi tentang hal yang pribadi. Dan tidak lama kemudian Fadly pun tidak sesering itu juga bertemu dengan Doni, status barunya sebagai seorang pengantin baru tidak pelak membuatnya lebih banyak senang menghabiskan waktu senggang di rumah.

Itu adalah masa-masa 1 tahun yang lalu, sekarang Fadly sedang ada di sebuah tempat wisata di Jogjakarta, mukanya tampak berkilat karena keringat dan kaos dri fit-nya basah kuyup sehabis perjalanan turun dari Puncak Suroloyo. Jarum pendek jam tangannya menunjukkan sekitaran angka 7. Sudah sekitar 30 detik Fadly berdiri terdiam memandang tulisan yang tertera di spanduk sebuah kedai -yang sebenarnya lebih mirip gubug- itu:

"Indomie dan Kopi Pegunungan Si Acak"

Masih ada beberapa belas detik lagi sebelum akhirnya dia memutuskan untuk melangkahkan kakinya masuk ke dalam kedai yang dari kaca depannya nampaknya memang hanya menjual Indomie dan kopi sachet-an. Bukan Indomie atau Kopi Pegunungan yang menarik buat dia, tapi tulisan "Si Acak" di spanduk tadi. Seumur hidupnya, hanya 1 orang dengan nama panggilan Acak yang dia pernah tahu, jadi besar harapannya untuk bertemu dengan orang bernama Acak yang sama dengan yang pernah dia kenal. 

"Hei Fadly!"

Gembira hati Fadly melihat sosok dia harapkan untuk bertemu ada di depannya, sesosok manusia bernama asli Sukaca Dinata, yang tampak tidak ada bedanya dengan apa yang dia ingat dari pertemuan terakhir, kalaupun ada yang berbeda, mungkin cuma nyengirnya yang lebih lebar dan pakaiannya yang lebih santai dan gelang di tangannya yang semakin banyak.

Tidak tertahankan lagi oleh Fadly, berbagai pertanyaan yang selama ini dia pendam dia cerocoskan semua. Tentu saja pertanyaan pamungkasnya adalah apa yang terjadi dan mengapa Si Acak sekarang bisa ada di sini.

"Haha, kenapa ya, paling karena aku pikir aku tidak cocok sama dunia yang begitu penuh rutinitas yang kompleks dan yang terlalu banyak informasi bersliweran," jawab Si Acak, Fadly cuma bisa tertawa ngakak, kalau yang mengungkapkan itu adalah orang selain Si Acak, pastilah dia akan mengeluarkan argumen yang berbau solusi dan nasehat dan mungkin akan berujung pada debat. Namun dia memilih untuk melanjutkan obrolan yang mulai ngalor ngidul membicarakan banyak hal: kabar dari Si Doni, bagaimana kehidupan Si Acak di tempat yang baru ini, perihal kenapa indomie kalau dimasak menjadi lembek sedangkan telur kalau dimasak malah menjadi keras, dan banyak hal lainya.

"Tapi kamu percaya tidak, aku sudah menemukan cara terbaik untuk memasak Indomie dan menyeduh kopi sachet paling enak sedunia," kata si Acak beberapa saat kemudian keluar dari tempat kerjanya yang baru -dapur kedai kecil itu- sambil membawa semangkuk indomie rebus telur dan secangkir kopi sachet yang dia sebut kopi pegunungan itu. 

Pernyataan itu kemudian berlanjut dengan pertanyaan-pertanyaan layaknya interogasi yang dilakukan oleh Fadly yang begitu penasaran dengan bagaimana sebuah Indomie dapat dimasak selain begitu saja direbus selama 3 menit. Sayangnya interogasi itu tidak berakhir sesuai dengan harapannya, hingga akhir pertemuannya hari itu, dia tetap tidak mendapatkan jawabannya.

Tapi memang si, Indomie rebus telur dan kopi hitam bikinan Si Acak itulah yang terenak yang pernah dirasakan oleh Fadly, yang mungkin tidak pernah ada tandingannya lagi seumur hidupnya. 

Sabtu, 16 April 2016

[Orang Acak] Pak Tua

"Orang gila! Orang gilaa!!" gerombolan anak-anak itu mengikuti Pak tua Somad sambil meneriakkan kata-kata tersebut. Sesekali teriakan mereka dipecahkan suara tawa ketika lelaki tua itu menengok ke arah mereka sambil memasang muka kocak. Hampir setiap hari kejadian itu berulang di kampung kami ini, tapi tak sekalipun aku lihat pak tua itu marah. Waktu pertama kali ia datang ke kampung ini, di dalam teriakan anak-anak itu terdengar nada ejekan, tapi karena yang diejek tidak menunjukkan ketidaksukaan, perlahan-lahan nada tersebut berubah, kini teriakan-teriakan tersebut lebih terdengar seperti panggilan bermain dari anak-anak tersebut untuk Pak tua Somad.

Akulah yang pertamakali menemukannya beberapa bulan lalu di Selatan kampung ini, Aku dan A Siong temanku satu daidan di Kyōdo Bōei Giyūgun. Kami menemukannya tanpa pakaian, berputar - putar sambil mengucapkan kata-kata acak. Seperti orang linglung. Pertamakali kami sapa, pertanyaan pertama yang ia lakukan adalah di mana dia berada. Pertanyaan berikutnya makin menegaskan ada yang tak beres dengan ingatannya, "tahun berapa sekarang?"

Kami memutuskan untuk membawanya ke kampung kami untuk mengamankannya dari serdadu Nippon yang belakangan ini rasanya semakin mudah saja terpancing. Mungkin karena mereka sedang perang melawan Amerika Serikat. Aku tak begitu paham, sebelum jadi tentara aku cuma petani biasa. Sampai sekarang pun tak minat mengikuti kejadian-kejadian yang menurutku tak akan berpengaruh pada hidupku.

Ada satu gumaman yang membuatku dan A Siong sepakat untuk segera menyembunyikan orang tua itu, ia berulang ulang mengatakan "Jepang hampir kalah, Jepang hampir kalah.." Ucapan yang mungkin bisa membuatnya dibunuh di tempat oleh tentara Nippon. Atau mungkin lebih buruk lagi. Tak kusangka di bulan-bulan berikutnya kami akan mendengar igauan yang lebih luar biasa lagi.

"Kation, anion,.... Kwark,... hadron, masa kritikal, gravitasi, reaksi fusi atau fisi. Fusi atau fisi," kalimat itu diulang-ulangnya sepanjang perjalanan menuju kampung. Bunyi-bunyi acak tanpa makna.

Kami membuatkan pak tua sebuah gubuk di pinggir desa, sekedar cukup untuk tempatnya tidur. Ibu-ibu kampung secara bergiliran membuatkannya makan. Kelakuannya yang linglung dan ucapannya yang tak jelas membuatnya diolok-olok anak-anak. Tapi seperti yang aku bilang tadi, perlahan-lahan anak-anak tersebut akrab dengan pak tua Somad, karena tak disangka ia pandai berdongeng.

Hampir tiap hari ia menceritakan kisah-kisah fantastis. Mengenai alat yang bisa membantu manusia berpikir, televisi berwarna sebesar genggaman, katanya di masa depan nanti, semua rumah akan seterang siang hari, pesawat telepon tidak perlu lagi melewati operator, bahkan tak perlu kabel. Mobil akan lebih cepat dibanding kereta saat ini. Jalanan akan bertingkat-tingkat. Orang tak perlu menunggu lama untuk melihat hasil foto. Manusia mendarat di Bulan! Kadang aku dan A Siong ikut duduk  dan bertepuk tangan bersama anak-anak itu mendengarkan kisah pak tua.

Kadang pak tua Somad tidak terlihat di desa kami, biasanya ia pergi sehari penuh. Ketika aku tanya, katanya ia pergi untuk mengunjungi kerabatnya di dusun tetangga. Kenapa ia tak tinggal bersama mereka aku tak tahu.

Suatu ketika di akhir bulan Juni, pak tua Somad memintaku dan A Siong untuk duduk lebih lama, ia ingin berbicara dengan kami setelah anak-anak pulang. Kami pun menunggu dengan penasaran. Tak pernah pak tua meminta kami mendengarkannya.

"Sebentar lagi aku akan pergi, " katanya memulai pembicaraan, setelah anak terakhir pulang.

"Pergi ke mana Pak tua?" aku bertanya-tanya.

"Pulang.. Aku harap, " katanya, senyumnya terlihat.

"Pulang ke mana Pak?" giliran A Siong bertanya.

"Jauh dari sini, jauh dan lama," jawabnya singkat.

"Aku ingin titip sesuatu kepada kalian.. Sebentar lagi akan ada kabar mengejutkan dari Jepang, dari Nippon... Ada dua buah bom yang akan dijatuhkan Amerika. Bom-bom yang begitu kuatnya, masing-masing dapat meluluhlantakkan sebuah kota ketika dijatuhkan," matanya bergantian menatapku dan A Siong, menahan pandangannya sejenak seakan menegaskan ia tidak bercanda. Kami diam saja bertukar pandangan, tak tahu harus bereaksi apa.

"Bom itu menandai akhir perang yang dikobarkan Jepang dan segala ambisi imperialismenya, dan itulah juga tandanya aku pulang. Pada saat itu terjadi, aku takkan ada di sini lagi," sambungnya. Beruntung pak tua bercerita kepada kami, bukan ke tentara yang daidan nya masih loyal kepada Nippon. Lidahnya mungkin bisa dipotong di tempat karena kata-katanya barusan.

"Di awal Agustus, seorang shodancho bernama Singgih akan meminta kerelaan salah satu tentara untuk rumahnya dijadikan tempat menginap beberapa pemuda. A Siong, aku minta kau yang menyanggupi permintaan tersebut. Para pemuda tersebut akan mulai menginap di rumahmu pada tanggal 14," mata pak tua lekat menatap sobatku itu.

"Pada tanggal 16 bulan Agustus, dini hari, mereka akan membawa dua orang yang namanya sudah sering kita dengar. Tugasmu sebagai tuan rumah adalah menjaga agar diskusi yang terjadi tidak pecah menjadi pertengkaran. Paham? " aku melihat sobatku mengangguk.

"Tugasmu,.. " kali ini dia melihat ke arahku,".. adalah menunggu di jalan utama kampung malam itu. Dua orang serdadu Nippon akan berjalan dari arah selatan. Ajak mereka ngobrol dan minum di warung, jaga emosi mereka, dan yang terpenting, jangan sampai mereka mendengar diskusi yang terjadi di rumah A Siong. Paham?" tanpa sadar sepertinya aku mengangguk.

"Selain itu aku minta tolong kepada kalian, beberapa jam setelah bom-bom dijatuhkan di atas daerah Nippon, berita mengenai jatuhnya bom-bom tersebut akan mencapai Nusantara, dan akan terjadi kekacauan di beberapa tempat oleh tentara Nippon. Salah satu tempat tersebut adalah di sebuah dusun, lima kilometer ke selatan dari sini, " wajahnya terlihat sedih, tapi selain itu seperti ada pertarungan di batinnya.

"Pada tanggal 8 Agustus, aku minta tolong kalian berdua menuju dusun tersebut, akan ada seorang anak yang selamat dari kekacauan tersebut, tapi ia kehilangan seluruh keluarganya sehari sebelumnya. Tolong angkat anak itu dan rawat dia sebagaimana ia anakmu sendiri, " matanya kembali menatapku, dan aku sepertinya kembali mengangguk.

"Pada saat kau menunggu pasukan Nippon di dini hari tanggal 16 Agustus tersebut, anak itu akan mengikutimu diam-diam. Jangan kau marah terlalu keras kepadanya," pak tua tersenyum.

"Siapa nama anak itu Pak tua? " aku bertanya. Supaya lebih mudah aku mencarinya.

"Somad."

Selasa, 12 April 2016

[SAHABAT] Surat Cinta

Kerajaan Kutai adalah kerajaan Hindu tertua di Indonesia. Kerajaan ini berdiri pada tahun 400 Masehi. Raja pertamanya adalah Kudungga, kemudian digantikan Aswarman. Raja terkenal dari Kutai adalah Mulawarman. Mulawarman memuja Dewa Syiwa, maka ia beragama Hindu. Peninggalan Kerajaan Kutai adalah Prasasti Kutai yang terpahat pada tiang batu yang disebut Yupa yang ditemukan pada aliran Sungai Mahakam, Kalimantan Timur. Prasasti tersebut ditulis dengan huruf Pallawa dan berbahasa Sansekerta. Prasasti tersebut bercerita tentang Raja Mulawarman yang baik budi. Pada masa pemerintahannya rakyat hidup dengan sejahtera dan makmur. Prasasti ini dibuat untuk memperingati Raja Mulawarman yang telah menghadiahkan 20.000 ekor sapi pada Brahmana. Selain itu, peninggalan sejarah dari Kutai yang lain adalah arca-arca yang terbuat dari perunggu dan emas.

Hmmhhh…

Satu jam sudah Irma menulis di papan tulis, dua buah papan besar di depan kelas sudah penuh dengan tulisan, itu pun sudah beberapa kali dihapus dan diganti dengan paragraf baru,  tangannya sudah pegal berlumur debu kapur, Ibu Rita tidak ada di kelas, ada rapat dengan kepala sekolah, katanya.  Irma melepas nafas panjang, matanya melirik ke arah Reni, saatnya pergantian pemain. Reni sekarang yang menjadi pejabat sementara bagian tulis menulis materi pelajaran di papan tulis, dua paragraf sebelumnya yang sudah Irma tulis dia hapus, tangannya meliuk dengan cepat di papan tulis, irma kembali ke kursinya dengan lesu. Sementara teman-teman lain sibuk menyalin tulisan di papan ke buku tulis mereka masing-masing, termasuk Aku.

Hari ini Aku begitu semangat menulis, entahlah. Sudah tiga hari Aku tidak berani mengajak Nisa yang duduk sebangku denganku untuk berbicara. Aku merasa begitu bersalah karena tidak mengantarkan dia pulang tepat waktu ketika mengikuti pawai obor, Aku bersalah, Aku ingkar janji.

Ini sebenarnya bukan kali pertama Aku melakukan kesalahan kepada Nisa, tapi kali ini terasa begitu berat. Seharusnya Aku bisa meminta maaf dengan mudah, biasanya Nisa pun memaafkan dengan mudah, tapi kali ni,,,  tapi … tangan Nisa … tangan Iman … Hmmh.

Cemburu??. Tidak, buat apa cemburu?, Iman itu sahabatku, iya dia hanya sahabat kok, Nisa juga sama, tapi kali ini terasa berat untuk bisa menganggap semuanya biasa saja, seperti ada teka-teki di kepalaku yang tak bisa Aku pecahkan, jalanku seakan tertahan tanpa petunjuk. Nisa… Iman…
             
“Yang ini sudah belum??,” telunjuk Reni mengarah ke papan di sebalah kanan, rok merah yang dikenakannya mulai terkena debu kapur.

“Sudah hapus saja,” seseorang menjawab dari belakang, Si Yana sepertinya.

“Dwi..??,” Reni melirik ke arahku, meminta persetujuan.

“Hapus aja, Aku udah kok,” jawabku santai.

“Tumben…,” tiba-tiba saja Iman melirik ke belakang, ke arahku, menatap penuh heran, Aku memang duduk dibelakang dia, deret ke empat baris ke tiga.

“…,” Aku hanya bisa menjawab lewat senyuman, mulutku seperti terkunci, entah. Aku takut mengeluarkan kata.

“Kamu sariawan yaa Wi??, atau lupa nyikat gigi?,” tangan kanan Iman pindah ke atas mejaku, jarinya memegang tepian meja.

“…,” seyuman kecil lagi untuk Iman, Aku tak sanggup berkata.

“Huh, dasar gila!!!, Iman kembali menghadap ke depan, tangannya kembali menyalin tulisan di papan tulis, tangannya …

SREEEKKK… Nisa menyobek satu halaman kertas dari bukunya lalu menuliskan sesuatu, perlahan sobekan kertas itu dia geser kepadaku.

Maaf.

Tulisan tangan Nisa begitu rapi, singkat. Jantungku seakan ditekan kuat berkali-kali.

Maaf tuk apa?.

Aku geser kertas di mejaku kembali ke Nisa. Dia mengambil dan membacanya, lalu menuliskan balasan untukku.

Harusnya Aq ga ninggalin Kmu sendirian malam2 waktu pawai obor kemaren Minggu.

Ga Nis… Aku yang salah.

???

Harusny Aq cepat2 nganterin Kmu. Maaf Aq ga nepatin janji. Harusnya Aq cepat2 minta maaf.

Aq jg salah wii, pulang duluan, harusnya g ninggalin Kmu.

Tetep z Nis, maafin Aq ya…

Wi, Aq pasti akan maafin Kmu ko, tanpa harus diminta…

Mataku mulai berair, segera ku usap, Aku tak ingin Nisa melihat Aku menangis.

“… Dwiiiiii…,“ tiba-tiba Nisa bersuara, seluruh kelas memandang ke arah kami. Aku menatap Nisa, air mata meluncur deras di pipi Nisa.

“Nisaaaa…,” segera ku peluk Nisa erat-erat, dia pun mendekapku kuat, air mataku melelah tak tertahan… Sudah lama Aku tidak menangis bersama Nisa, ingusku ikut mengalir.

 “Ehhhh, ada apa ini ??? ko malah pada nangis bareng gitu,” Tiba-tiba Bu Rita masuk ke dalam kelas. Aku tidak peduli, suara tangisan Nisa malah semakin kencang.

Seluruh kelas kebingungan, mereka tidak pernah melihatku menangis sebelumnya, dan yang paling merasa bingung adalah Iman.

“Iman!!!, pasti ini ulah kamu kan??, Kamu apakan Dwi dan Nisa??!!.”

“Lah! Ko jadi Saya yang disalahin sih, Bu?.”



Bandung yang terkadang membuat bingung
10 April 2016
             

*) http://www.slideshare.net/andriantofg/materi-ips-sd-kelas-5-sd

Senin, 11 April 2016

[SAHABAT] Godel


Boni datang paling pagi. Dia memang begitu, hampir tidak pernah terlambat, kalaupun terlambat dia akan berusaha mengabari sebelumnya. Dulu aku pernah tanya kenapa dia begitu konsisten datang duluan, dia cuma jawab, "Cara paling mudah mengatakan waktu gua lebih berharga dibanding waktu elo, adalah dengan datang terlambat. Dan itu sombong sekali." Semua yang kenal dia tahu, Boni paling kesal kalau dia harus menunggu, buat sebagian orang ini kontradiktif dengan konsistensinya datang paling awal, tapi aku paham: kalau dia datang terlambat, lain kali orang akan datang lebih terlambat lagi, dia ingin mengubah kebiasaan ini dengan caranya sendiri. Profesinya sebagai dosen terlihat di caranya berpakaian.

Yanto datang kedua, sejak masa sekolah dulu potongan anak ini tidak berubah. Kacamata bingkai tebal, gerak-gerik yang menunjukkan pikirannya yang sulit berhenti berputar. Tidak banyak yang mengerti kenapa kami dekat dengan anak ini. Anak yang terlihat antagonistik dengan segala sesuatu. Tak jarang ia terjebak situasi tidak menyenangkan karena sikapnya. Tak banyak yang mengerti, bahwa yang Yanto lakukan bukanlah menunjukkan ketidaksetujuan atau penghinaan. Yanto hanya ingin mempertanyakan segala hal, karena katanya, hanya dengan demikian kita bisa maju, bisa belajar. Yanto juga pemain gitar yang handal, kini mengelola perusahaan asuransi milik sepupunya.

Hotma datang berikutnya. Dari posturnya dapat dilihat kehidupannya sekarang sangat baik. Tidak seperti Yano yang ceking abadi, berat badan Hotma sepertinya bertambah berbanding lurus dengan umurnya. Setiap kali disindir, jawabannya hanya "Maklumlah bos, tiap kali aku meeting, harus makan pula lah aku, hahaha!" Seorang extrovert sejati, Hotma kadang terlihat sombong. Di antara kami semua, Hotmalah yang paling supel, paling mudah bergaul. Kami tidak pernah bicara ini di hadapannya, tapi dialah perekat kelompok kecil kami ini. Hanya kamilah mungkin yang tahu cerita hidupnya yang tidak seindah dan semudah yang dia tampilkan di depan semua orang.

Yunus datang paling akhir. Besar di Amerika Serikat, dialah yang biasanya yang dulu membawa ide-ide "kontroversial". Pada saat guru sejarah kami bercerita tentang konflik Israel-Palestina, Yunus yang satu-satunya berani memberikan argumen berseberangan dengannya. Dia juga pernah menolak ikut pelajaran agama karena menurutnya waktu itu, dia adalah seorang agnostik. Vokalnya ia menyuarakan pendapatnya membuat dia dijauhi, atau paling tidak dipandang dengan curiga oleh sebagian besar orang di sekolah kami, siswa, guru, maupun penjaga sekolah. Sepertinya di antara kami semua, dialah yang hidupnya paling banyak berubah. Kini Yunus hampir selalu memakai gamis, berkopiah, dan memelihara janggut lebat. Setiap kali ditanya alasan perubahannya, ia hanya tersenyum. (Diam-diam kami menyimpulkan perubahan ini karena istrinya).

Waktu jaman sekolah dulu kami memanggil satu sama lain dengan 'godel', anak sapi. Entah siapa yang memulai, tapi kami ingat panggilan ini dimulai sejak kami study tour ke Bali. Panggilan mesra ini kemudian menyebar ke seluruh sekolah, dan dengan nama itulah kelompok kecil kami ini dikenal, para godel. Dalam ekosistem siswa sekolah kami, kami berada di tengah-tengah. Tidak diidolakan para wanita seperti kelompoknya Soni yang jago olahraga atau anak-anak ekskul musik. Tidak ditakuti seperti kelompoknya Arno dan begundal-begundalnya. Tapi juga lebih sering berbaur dengan yang lain dibanding kelompok bodat yang kuper, atau grup Eka yang kutubuku itu. Sekedar catatan, demi status sosial kami pernah berusaha membentuk band musik, tapi tidak bertahan lama karena selera yang berbeda (Aku dan Yanto lebih suka brit pop, Hotma punk, Yunus metal, dan Boni lagu-lagu Benyamin S). Apa boleh buat.

Hari ini hari istimewa, hari di mana kami memutuskan untuk selalu bertemu setahun sekali, hmm...sebenarnya mereka yang memutuskan, aku hanya ikutan saja. Setelah kami berkumpul, Boni --yang secara de facto pemimpin di kelompok kami ini-- angkat bicara," Halo 'Del, apa kabar semua? Hotma, lu makin keliatan pas sama panggilan kita.. hahaha. Gak kerasa udah setahun lagi lewat ya? " Pertanyaan yang dijawab dengan senyuman dan anggukan kepala. "Jadi gimana rencana kita hari ini? Seperti biasa?" Yanto yang dari tadi tampaknya sudah tidak sabar menjawab cepat "Iya, yuk, naik mobil gua aja ya. Tahun lalu naik mobil Hotma malah mogok melulu." Hotma tertawa mendengar itu "Hahahaha, maklum lah 'Del, mobil Eropa, kalau gak rewel gak afdol lah.. beda lah sama mobil Korea lu". Yunus mendamaikan, "Sudah sudah, yuk kita berangkat, nanti kesiangan, macet kan kalau siang?" Semua sepertinya setuju pendapat Yunus, kami berangkat!

Di dalam mobil seperti biasa kami bertukar cerita, saling mengabarkan apa yang sedang kami lakukan saat ini. Setelah beberapa lama kami akan mengulangi cerita-cerita lama, cerita saat kami berlima masih bersama-sama tiap hari. Sebuah pola yang familiar. Cerita ketika kami bolos dari sekolah dan tak sengaja bertemu dengan pak Edo guru bahasa Inggris di bioskop. Pengalaman bodoh kami saat pertama kali mencoba saké. Ketika Yanto salah memasukkan abu rokok ke mangkuk sop buntut yang belum sempat ia makan. Petualangan kami di Bogor sebelum keberangkatanku. Tentang kentut subsonik Hotma yang seperti blitzkrieg, hanya diketahui setelah terlambat. Tentang aku yang diminta tolong untuk menulis puisi oleh Yunus untuk Nina, dan malah sukses membuat Nina jadi pacarku. "Gue seneng kita bisa ngumpul lagi kayak gini," kataku tanpa menuju siapapun secara spesifik. Satu dua senyum tersungging di pipi sobat-sobatku. Di hari ini kami kembali menjadi lima anak SMA, masa depan terbentang jauh di hadapan kami.

Napak tilas kami seperti biasa dimulai dari restoran Jepang di mana kami pertama kali mencoba saké. Di usia sekarang, kami tidak berani lagi minum saké sepagi ini, jadi biasanya sekarang di tempat pertama ini kami hanya makan beberapa potong sushi. Setelah puas makan dan bercerita, kami melanjutkan perjalanan ke Bogor, berkeliling-keliling menikmati pemandangan (dan kemacetan) sebelum menuju Kebun Raya. Setelah hari agak siang, kami kembali ke Jakarta untuk makan siang di restoran sop buntut pinggir jalan tempat kami dulu sering berkumpul. Tempat Yanto "membumbui" sopnya dengan abu rokok. Kami selalu bercanda tempat ini suatu saat akan memasang tanda dilarang masuk dengan muka-muka kami di atasnya karena berisiknya kami setiap kali berkunjung. 

Semakin kami menuju tujuan terakhir perjalanan kami hari ini, mobil yang kami kendarai terasa makin senyap. Canda dijawab dengan tawa yang makin dihela. Masing-masing larut dengan kenangannya.

Ujung perjalanan kami hari ini adalah sebuah tempat yang kontradiktif, tempat yang menjadi dinding pemisah antara kami, tetapi secara bersamaan menjadi segel yang mengikat kami untuk selalu bersama. 

Ketika mobil berhenti di tujuan, tak ada suara terdengar dari dalam kabin. Senyap. Yang terdengar hanya suara burung malam yang menyambut senjakala.

---

Keempat sahabat itu keluar dari mobil, menyeberangi lahan yang dipenuhi batu nisan. Mereka berhenti di dekat salah satu makam, membersihkan sekelilingnya, kemudian duduk. Salah seorang dari mereka memipin doa, yang apabila didengarkan lebih mirip dengan obrolan yang sangat akrab. Beberapa bagian ia ucapkan dengan tersenyum, beberapa bagian disambut tawa teman-temannya, beberapa bagian dengan suara bergetar, dan beberapa bagian lainnya yang bahkan sepertinya tak sanggup untuk ia ucapkan. Setelah ia selesai, teman-temannya bergantian mengucapkan beberapa kata pendek. Kata-kata singkat yang dalam keringkasannya menyimpan suka duka dalam hampir setengah kehidupan mereka. Kata-kata ringkas yang palung dan puncaknya hanya dimengerti oleh mereka berlima.

Minggu, 10 April 2016

[SAHABAT] Dada Sang Mata Satu



Angin dingin berhembus kencang menggemerisikkan daun-daun kering di tanah dan di pepohonan, semuanya beringin. Langit abu-abu dan gemuruh petir terdengar di kejauhan, tapi hujan tak kunjung datang. Jonas akan suka pemandangan ini. Dia akan suka angin dan gemerisik dedaunan keringnya. Mataku buram kembali, aku menarik nafas dengan harapan air mataku kembali masuk ke kelenjarnya. Pria tidak menangis di sini.

Persephone berdiri gemetar di sisi berlawanan denganku. Di sisi sebelah sana perapian Para Pelaut. Kandungannya entah sudah berapa bulan, tapi sudah terlihat. Dia memakai gaun panjang merah tertutup sampai ujung tangannya. Semua orang memakai merah di pemakaman penghormatan, tidak hitam, karena bisa jadi orang yang bersangkutan masih hidup. Walau entah di mana. Semua orang memakai merah, menegaskan warna daun-daun kering yang bergemerisik, tapi merah Persephone yang paling menyala. Seperti darah, seperti cinta, dan dia bercahaya, makin indah ketika dia menangis.

Apakah anak yang dikandungnya itu anak Jonas?

Semua teman-teman Jonas hadir. Tidak ada orang tua. Hanya sang pendeta, Persephone, dan akulah yang paling tua di sini. Jonas tidak punya orang tua. Sejauh yang dia ingat, dia selalu bagian dari keluarga Rumah Yatim Prax. Aku tidak pernah tahu apakah itu benar. Semakin aku mencoba mengenangnya, semakin kusadari aku tidak pernah tahu sepenuhnya mengenai Jonas. Angin bertiup lagi ke punggungku, dan rasa sakit itu muncul lagi. Bermula dari punggung, dia akan menjalar ke bahuku, lalu dadaku. Aku menepuk kantung pahaku, berharap ada bunyi gemeretak. Tidak ada. Aku lupa membawa obatku.

“Sahabat. Kita berkumpul di sini sekarang untuk mengenang seorang pelaut yang gagah berani,” sang pendeta membuka khotbahnya. Dia mengenakan jubah merah dengan selendang emas yang dikaitkan ke lehernya dan menjuntai ke dadanya, sampai ke tanah. Dia masih cukup muda, untuk seorang pendeta, “dia mengarungi samudera, selalu kembali tanpa kurang suatu apapun, Sang Topi Burung Merak, Jonas Papilaya.”

Topi Burung Merak. Jonas dan topi-topinya. Suatu hari dia turun memakai topi yang dibuat bagai kepala Jerapah. Semua orang tertawa melihatnya. Aku berjalan jauh-jauh, tidak ingin ikut terlihat konyol bersama dia. Sekarang aku ingin ikut terlihat konyol. Andai aku ikut membeli topi-topi itu, dan tampil di pelabuhan bersamanya dalam keadaan itu, kami akan tertawa banyak ... .

“... tapi dia lama tak kembali, “ lanjut sang pendeta, ”mungkin sang Tuhan Laut telah membawanya. Mungkin Tuhan Daratan, mungkin Tuhan Takdir telah memutusan benangnya. Kita di sini sekarang mengenangnya, jika dia tiada, dan juga berdoa agar dia kembali, jika dia masih ada di luar sana. Semoga Tuhan Segala memberinya petunjuk dan segala yang dia butuhkan untuk kembali bersama dengan kita.”

“Semoga Tuhan Segala memberi petunjuk,” ulang semua yang hadir. Aku terbata-bata mengikuti doa ini. Sudah lama aku tak berdoa. Punggungku sakit. Seakan ada dua pedang dingin menusuk vertikal dari pinggangku ke atas, pelan-pelan merayap.

Bawahan sang pendeta, seorang pria muda dengan jubah merah berwarna sama dengan sang pendeta, tanpa selendang emasnya, maju dengan obor. Melangkah pelan-pelan ke perapian yang belum menyala, dengan salah satu topi Jonas di atasnya. Dia lalu meletakkan obornya di kaki perapian, dan api menjalar perlahan ke seluruh perapian. Aku mencoba memandang Persephone yang sekarang terlihat meliuk-liuk karena ilusi dari panasnya api. Dia memandangku. Aku harap itu pandangan cinta yang masih kurindukan, tapi yang kulihat hanyalah kebencian.

Jantungku mulai berdenyut aneh. Lambat, tapi terasa berusaha. Tanda rasa sakitku mulai menjalar ke dadaku. Aku mengepalkan tanganku, berharap rasa sakitnya pergi. Persephone menatapkku tajam, apa dia tahu akulah yang menyarankan Jonas untuk pergi ke Halablar?

Aku tidak pernah ingin kalian berpisah, Jonas dan Persephone. Aku hanya ingin yang terbaik untuk kalian berdua. Detektor itu sudah kuserahkan pada Jonas, agar dia bisa mencari harta karun legendaris itu, supaya kalian bahagia. Supaya kalian bahagia. Kenapa kau menatapku seperti itu Persephone?

Tak sekalipun dalam hidupku, semenjak awal pertemuanku dengan Jonas, ada keinginanku untuk menyakitinya. Walau kau, Persephone, ternyata memilih dia dibanding aku. Mana mungkin aku mengkhianatinya? Dia yang dulu menolongku dari kejaran tentara, saat aku mencuri roti ketika masih kecil dulu. Jonaslah yang membujuk para penangkapku, sehingga aku tak jadi kehilangan kedua mataku. Kenapa kau menatapku seperti itu?

Api makin besar di tengah kami. Topi Jonas mulai terbakar habis. Angin yang berhembus membuat apinya makin mudah menyala besar. Wajahku panas, tapi dada dan punggungku dingin. Apakah panas api atau mata Persephone yang mengutukiku, aku tidak tahu. Aku meremas dadaku, dan aku membiarkan diriku menangis sekarang. Dadaku seperti menarik dirinya ke belakang, sedangkan punggungku ke arah sebaliknya. Aku mencoba bernafas normal, tapi aku hanya berhasil bernafas pendek-pendek karena aku menahan sakitku. Obatku. Aku butuh obatku.

Jonas, kau dimana? Dia pasti jika ada di sini akan bergegas berlari mencari obatku. Atau membawaku pergi ke tabib. Jonas, kau dimana? Jantungku seakan terobek pelan-pelan sekarang, dan aku meneriakkan teriakan panjang. Aku menutup rapat-rapat satu mataku. Hangat air mataku mengaliri pipiku. Tangan kananku meraih ke depan, ingin menyentuh Persephone, lalu semuanya gelap.


Jonas, kau di mana?

Kamis, 07 April 2016

[SAHABAT] Sebuah Bab Kehidupan

“Ada masalah dengan mesinnya?”
“Sepertinya, bro.”
“Bisa lu handle kagak?”
“Santai…”

Aku melanjutkan memeriksa mesin. Tampaknya bukan masalah besar. Kucoba membersihkan salah satu busi lalu memasangnya kembali. Kubersihkan tangan yang belepotan dengan oli ke celana jinsku.

“Wah parah…”
“Haha… tenang. Guwa bawa ganti kok.”

Ya, benar. Sekarang mesin sudah bisa dijalankan. Kuputar kunci ke arah off, mematikan mesin kembali. Kuraih rokok dan korek yang ada di dashboard. Aku berjalan ke arah bangku yang berada tak jauh dari tempat mobilku terparkir.

Tempat ini berada di pinggir tebing yang menghadap ke arah lembah. Sebidang tanah yang menjorok keluar dari tikungan, lebarnya sekitar lima meter dari pinggir jalan raya. Dari sana sepanjang mata memandang hanya ada hijau pepohonan. Awan di kejauhan masih menyisakan rona-rona merah sisa fajar yang menyingsing. Aku meregangkan badan di bangku itu, mencoba mengusir pegal-pegal setelah menyetir sejak tengah malam. Kunyalakan sebatang rokok. Kuhirup dalam-dalam asapnya. Wangi cengkeh beradu dengan embun pagi.

“Pas bener sih ngambil lokasi mogoknya mobil lu…”
“Ya, udah sehati guwa ama mobil yang ini,” jawabku sekenanya.
“Halah… kebiasaan nyepik cewe, mobil elu sepik juga.”
“Kan elu yang ngajarin guwa nyepik, men… haha”

“Guwa jadi inget jaman kuliah, pas mobil yang elu setirin terguling masuk jurang. Elu lagi mabok atau begimana sih dulu?”
“Tau tuh, men. Kayaknya sompral sih guwe pas masih di atas gunung. Guwe masih inget kejadiannya. Waktu itu mau belok kiri ke arah jembatan. Entah kenapa guwe ngambil terlalu kiri. Pas guwe nyadar ban belakang terperosok, tau-tau mobil udah keguling-guling,” aku menggelengkan kepala sambil tersenyum getir.
“Ah… elu mikirin cewe paling. Keliatan dari muka elo waktu guwa ama anak-anak ngeluarin elu dari mobil. Hahaha…”
“Geblek…,” suara tawa memecah pagi yang sepi.

Kulepaskan jaket di tubuh. Udara mulai menghangat bersama matahari yang beranjak meninggi.

“Kadang dalam hidup, perubahan besar terjadi begitu cepat. Sepersekian detik, semua pun berubah,” aku menyelipkan rokok yang mulai memendek ke bibir dan menghisapnya dalam-dalam. “Dan terkadang, perubahan tersebut merenggut segala kesempatan. Untuk melakukan yang belum sempat dilakukan. ‘Tuk mengucapkan yang belum terucap. Dan kesempatan untuk melihat apa yang ada di depan sana.”

Aku membuang puntung ke tanah dan menginjaknya. Baranya redup, hingga hanya asap yang tersisa. Asap yang melebur bersama embun.

§


“Oy!”
Aku menoleh ke arah sahabatku, “ape?”
“Ngelamun aja lu. Setel musik kek, daripada ngelamun begono. Perjalanan masih jauh kan?”
“Iye iye…”

Aku menyalakan pemutar musik di mobil.

“Radio coba, radio.”
“Di pegunungan gini mana dapet siaran radio. Ntar kalo udah masuk kota berikut sebelum turunan, baru dapet sinyal.”
“Yowis, mp3 aja lah. Daripada guwa ikut-ikutan bengong ngeliat elu bengong.”
“Kalem…”

Kutekan tombol play. Sebuah lagu dari masa lalu berkumandang di dalam mobil.

“Ah, kita kan dulu pernah ngebawain lagu ini pas manggung di kampus dulu.”
“Yoi! Aksi panggung band kita kan paling ditunggu adek-adek mahasiswi junior,” jawabku antusias.
“Ah banyak gaya lu… jelas-jelas elu dulu kagak berkutik setiap ada si Bianca!” ejek temanku sambil tertawa terbahak-bahak.
“Haha… elu tau sendiri lah,” jawabku dengan tawa lepas. Masa kuliah kita memang menyimpan banyak momen lucu dan menyenangkan, bung.

“Ngemeng-ngemeng, si Bianca kenapa kagak ikut?”

Aku terdiam sejenak, mencoba memikirkan jawaban yang tepat.

“Masih sedih kayaknya, bro,” jawabku datar, mencoba meredam emosi.
“Ah, padahal guwa juga pengen ngobrol-ngobrol ama bini lo,” aku hanya tersenyum mendengarnya.
“Ntar lah, lain waktu. Nanti juga dia bakal main berkunjung,” jawabku.
“Dulu jaman masih kerja di kantor yang lama, guwa suka nyusahin elu ama si Bianca. Ikut nginep di tempat elu.”
“Halah… basa-basi banget sih lo, men,” aku mencoba mencairkan suasana.
“Beneran. Guwa kagak enak aja. Soalnya kalo di mess kantor guwa suka bosen.”
“Ya iya lah. Santai aja lagi. Guwa ama Bianca seneng banget kalo elu nginep di rumah kita. Bisa ngobrol-ngobrol ampe malem, nongkrong di kebun belakang ngebahas masa-masa kuliah,” jawabku dengan senyum mengembang. Sahabatku satu ini memang selalu dapat menghidupkan suasana. Candanya selalu dapat membuat orang-orang di sekitarnya terpingkal-pingkal.

“Guwa ama Bianca bakal kangen banget hangout ama elu lagi, men.”

Mobil terus melaju ditemani lagu-lagu nostalgia. Pengingat akan suatu masa yang telah lewat dan tak mungkin dapat terulang.

§


Senja menyambut kedatanganku. Angin bertiup sunyi. Tanah masih becek oleh hujan yang baru reda. Tempat itu berada di tak jauh dari laut. Debur ombak dan suara burung camar samar-samar terdengar di kejauhan. Aku memasuki gerbang pemakaman.

Beberapa karangan bunga masih tampak berdiri berjajar di sekitar pagar. Dari kejauhan aku melihat timbunan tanah yang masih baru. Tebaran petal mawar dan melati masih tersisa di atasnya. Aku berjalan ke sana. Aku berhenti di depan pusaramu.

“Sejujurnya guwa masih belum bisa percaya. Rasanya bagai mimpi, semua begitu tiba-tiba.”

Aku berlutut untuk menyentuh nisanmu. Kau masih begitu muda.

“Guwa inget, selama hidup, elu selalu bisa membuat orang tertawa. Guwa yakin gak ada orang yang bisa benci ama elu. You are always the light of the party. You’re like this endless stream of happiness, man. Mungkin itu sebabnya elu dipanggil begitu cepat. Bekel elu untuk surga udah cukup.”

Aku mengusap air mata yang mulai deras mengalir.

“Andai elu tahu betapa banyak orang yang kehilangan. Teman-teman lu sayang banget ama elu, men. Guwa bisa lihat, di balik kesedihan anak-anak dan istri elu, mereka bangga betapa banyak orang yang juga menyayangi orang yang selama ini sangat mereka sayangi.”

Langit semburat jingga. Angin senja berhembus menebarkan semerbak bunga-bunga.

“Guwa akan selalu ingat pesan singkat elu di messenger, beberapa hari sebelum elu pergi. Ceria dan penuh perhatian. Kesan yang juga membekas di semua orang yang ditinggalkan.”

Aku menundukkan kepala, memanjatkan doa. Dahulu, begitu banyak tawa yang kau berikan pada orang-orang di sekelilingmu. Begitu banyak waktu yang kau sediakan bagi kami untuk bercerita, berkeluh kesah. Sekarang tinggal doa yang mampu kami panjatkan. Kami berharap, dan percaya, kau akan baik-baik saja di sana.

Hidup menyimpan banyak kisah. Beberapa berakhir terlalu cepat, mengingatkan manusia akan rapuhnya dunia. Tetapi kisah-kisah indah selalu bertahan dalam benak.

“Elu akan selalu menjadi cerita yang kami kenang. Kami semua bangga pernah berteman dengan elu, bangga elu pernah jadi bagian dari kisah hidup kami…

…Terima kasih atas persahabatan kita.”

Mentari tenggelam ke dalam peraduannya. Satu lagi perputaran bumi manusia. Satu lagi bab dalam buku kehidupan ditutup.


*Untuk seorang sahabat (1978-2016), beristirahatlah dengan tenang.