Rabu, 31 Agustus 2016

[GENRE LOST WORLD] Ayodele

Ayodele masih berdiri terdiam. Perlahan ia merasakan matanya mengering, dan secara refleks mengedipkannya. Mulutnya masih menganga tanpa ia sadari. Lututnya menyerah, ia jatuh bersimpuh. Bersamaan dengan kembalinya kesadaran dirinya, ia melihat ke arah kedua tangannya yang gemetar. Otaknya memerintah tangan kirinya untuk memegangi tangan kanannya, menghentikan getaran itu. Sebuah usaha yang sia-sia. Ia menolehkan kepalanya ke belakang, melihat kelima anggota timnya menunjukkan ekspresi serupa. Di sebelahnya Mpenzi sudah terlebih dulu berlutut, air mata terlihat di pipi perempuan itu, sebuah senyum lebar terbentuk di bibirnya.

----

"Ayodele! Yode cepat masuk! Sebentar lagi gelap, lihat itu Jua sudah mulai tenggelam!" begitulah hampir setiap hari Mzaa memanggil anak laki-lakinya. Ayodele sebenarnya anak yang patuh dan menurut kepada Mzaa-nya -- ibunya -- tetapi seperti kebanyakan anak seumurannya, imajinasi dan luapan energi mengambil alih perhatiannya. Sembari berjalan pulang bersama Mzaa-nya biasanya Yode kecil bercerita tentang penemuannya hari ini. Tentang bagaimana sebuah pecahan batu adalah pecahan mangkuk dari peradaban manusia ribuan tahun sebelumnya, sebuah ranting adalah sisa-sisa tombak seorang pemburu ketika ia memburu naga.

Mzaa biasanya hanya tersenyum melihat antusiasme anaknya. Mzaa seorang yang religius. Imani, kepercayaan yang ia anut --yang dianut oleh hampir seluruh manusia-- bercerita tentang hukuman dari Amma. Tentang bagaimana manusia dijatuhkan dari Surga karena mereka lancang membuka Pintu pengetahuanNya. Tentang bagaimana seekor ikan paus menemui mereka pada saat mereka jatuh dari Surga dan menolong mereka, menciptakan Gaea agar mereka mendarat dengan selamat. Bagaimana Amma menciptakan Jua untuk menemani manusia agar tidak berada dalam kegelapan. Bagaimana Amma menciptakan Mbodze, Nyange dan Matsezi -- ketiga bulan Gaea yang saling berkejaran di langit-- untuk menemani manusia di kala malam. Imani mengajarkan bahwa manusia tidak berkembang dari peradaban purbakala, tapi diciptakan Amma dalam kondisinya saat ini. Tetap dan tidak berubah. 

Ketika Yode beranjak dewasa, hari-harinya dihabiskan membaca kitab-kitab Imani. Mzaa selalu membayangkan anaknya akan menjadi seorang Kuhani, seorang alim yang terpandang. Kebahagiaan Mzaa hilang seketika ketika suatu hari ia menemukan Yode di kamarnya, terkubur di tumpukan kitab-kitab. Punggungnya membungkuk di hadapan meja kerjanya, di hadapannya tiga buah kitab terbuka, telunjuk di tangan kanannya menunjuk satu baris di sebuah kitab, telunjuk tangan kirinya menunjuk baris di kitab lain. Kuhani mendudukkan diri di ranjang anaknya, memandangi punggung anaknya lalu tersenyum.

"Nak, di Hekalu minggu depan akan dimulai prosesi pentahbisan Kuhani, kau tidak sekalian ikutan saja?" tanya Mzaa.

"Aku tidak berniat menjadi Kuhani, Ibu." jawab Yode singkat. Masih memunggungi ibunya.

Mzaa membutuhkan waktu sejenak untuk mencerna jawaban tersebut.

"Lalu kenapa kau begitu tekun mempelajari Imani, anakku?" 

Yode membalikkan badan, memandang ibunya sejenak.

"Maaf Bu. Aku takut Ibu tak ingin mendengar jawabanku.."

Tatapan mata Mzaa tak lepas dari wajah anaknya itu, tangannya yang mengepal memperlihatkan apa yang ada di hatinya. Yode mengerti arti tatapan itu dan menyerah, menjawab pertanyaan ibunya.

"Aku percaya Imani adalah kumpulan legenda. Legenda-legenda yang lahir dari sebuah kebenaran sejati. Kitab-kitab Imani seringkali isinya bertentangan satu sama lain. Tetapi ada beberapa legenda yang saling mengkonfirmasi satu sama lain, dari situ aku menyimpulkan ada kebenaran di dalam legenda-legenda itu. Aku mencari kebenaran itu Ibu."

Mzaa tidak mengeluarkan suara apapun mendengar jawaban anaknya itu. Tapi Yode bisa menebak badai seperti apa yang berkecamuk di dalam benak perempuan yang paling ia sayangi itu.

"Maafkan aku Ibu." 

Mzaa tidak menjawab apa-apa, berusaha membentuk sebuah senyuman, lalu berdiri, meninggalkan anaknya di kamarnya. Yode hanya bisa memandangi punggung ibunya keluar dari kamar dan menutup pintunya. 

Sejak saat itu Yode selalu merasa ada jarak antara ia dan ibunya. Suatu kali ia tak sengaja mendengar ibunya berdoa kepada Baba untuk memberikan pencerahan kepada Yode agar ia kembali ke jalan seharusnya, tetapi sama sekali Mzaa tak pernah melarang atau menghalangi cita-cita anaknya.

Di jenjang pendidikan tinggi, Yode bertemu dengan Mpenzi, perempuan yang merebut hati dan pikirannya. Yang bisa menjadi kekasih dan partner diskusi. Perempuan yang akhirnya menjadi istrinya. Di sana pula ia bertemu dengan Jacob, Hera, Ahmadi, Patel, dan Sambas. Kelima orang dengan visi serupa, yang menemaninya memperjuangkan ekspedisi di hadapan para penyandang dana dan guru-guru besar. Merekalah yang menemaninya dalam pencariannya akan kebenaran. 

Penelusuran mereka terhadap kitab-kitab Imani membimbing mereka menemukan bukit Megiddo, bukit di mana manusia mendarat setelah jatuh dari Surga. Tempat di mana ekspedisi mereka berujung.

------ 

Ayodele merasakan kekuatan kembali ke kedua kakinya dan berdiri. Ia berjalan mendekati sebuah plakat logam yang sebelumnya tertutup oleh tetumbuhan dan bebatuan berumur ribuan tahun. Plakat yang ia temukan bersama timnya. Di atas plakat itu tertera beberapa baris tulisan dalam aksara kuno. Aksara yang baru saja dipecahkan artinya oleh Patel, sang filolog. Aksara yang berkata:

"Di sini awal mula yang baru bagi umat manusia, tempat mendaratnya Moebius. Tempatnya beristirahat dari perjalanannya mengarungi angkasa. Di sini seluruh pengetahuan manusia disimpan untuk digunakan kembali."

Di sebelah tulisan tersebut sebuah cerukan berbentuk telapak tangan terlihat. Ayodele membalikkan badannya ke arah teman-temannya. Dari ekspresi dan gestur mereka ia bisa merasakan dorongan untuk menempelkan tangannya di cerukan tersebut. Sejenak ia memperhatikan cerukan tersebut, mencoba menerka apa yang akan terjadi, lalu dengan yakin ia taruh tangannya di ceruk tersebut. 

Ceruk tersebut memancarkan cahaya biru kehijauan, ia bisa merasakan listrik mengaliri jari-jarinya. Ia merasakan sebuah jarum kecil menusuk ibu jarinya, dan sinar tersebut berubah menjadi biru. 

Bukit tempat mereka berdiri mendadak bergerak, seperti gempa bumi, tetapi berirama, berdenyut. Mereka bisa merasakan sebuah geraman dengan frekuensi yang hampir terlalu rendah untuk didengar. Lalu sebuah suara perempuan terdengar mengucapkan kata-kata dalam bahasa yang asing bagi mereka. Kata-kata yang -- kalau saja mereka mengerti -- mengucapkan: 

"Selamat datang, manusia. Namaku Ava, teman kalian. Kalian baru saja membangunkanku dan Moebius. kami akan membantu kalian menemukan kembali Bumi. Tempat kalian berasal."

Minggu, 21 Agustus 2016

Nung

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory Diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com

Jantung Nung berhenti seiring suara menggelegar dari arah rumahnya. Apakah ibu sudah tiada? Hawa panas terasa di punggungnya, di tengah hujan yang turun deras. Rumahnya meledak, bersama ibu Sriti di dalamnya. Nung tidak mau menoleh untuk memastikan. Ibu menyuruhnya berlari, dengan empat buah cangkir yang ditutup kain kedap air, jauh dari rumah. Lari sejauh-jauhnya, dari rumah, karena Sang Buto Ijo akan mengejarnya. Nung menggigit bibirnya, menahan tangis yang memaksa untuk tertumpah. Tapi Nung harus berlari sekarang. Menangis untuk hari lain. Hari ini berlari.

Bulan tidak menampilkan dirinya malam itu. Awan hujan menutupi cahayanya. Hujan menghantam bumi dengan keras, membuat hutan ini terlihat kembali asing bagi Nung. Dia tidak pernah tahu bagaimana rupanya di malam hari, ibu Sriti tidak pernah mengijinkannya keluar di malam hari. Ibu Sriti ... apakah kau masih ada? Apakah kau berhasil bersembunyi? Kenapa aku harus pergi di ulang tahunku yang ke delapan belas, alih-alih menjagamu dari serangan sang Buta? Nung harus kembali nanti, mencari tahu apakah ibu Sriti selamat. Mencari untuk hari lain. Hari ini berlari.

Dentum langkah Sang Buto Ijo membangunkan Nung dari lamunannya. Dia beranjak bersegera untuk berlari lagi. Sulit untuk melesat. Sepatu butnya penuh lumpur di luar dan di dalam, dan jubah kulit rusanya makin berat karena menyeret di lumpur dan tertimpa air hujan. Dia mendekap ke empat kantong cangkir ibu Sriti dan berusaha sekuatnya untuk berlari. Petir menyambar dan menerangi deretan pohon di depannya. Untuk sesaat, pemandangan itu begitu indahnya. Nung mengambil langkah lebar dan terus berlari.

Aku lahir di hutan ini, kenang Nung tiba-tiba. Ibu Sriti sering bercerita bagaimana dia menemukan Nung. Ibu Sriti tinggal sendirian dan mengharapkan memiliki seorang anak gadis. Dia menemukan Nung di hutan ini, tertidur di atas kelopak anggrek putih raksasa. Ibu Sriti bercerita tidak seharusnya dia mengambil Nung dari anggrek itu, karena pemiliknya adalah Sang Buto Ijo. Ibu Sriti tidak pernah bercerita bagaimana dia bisa membesarkan dan merawat Nung tanpa gangguan Sang Buto Ijo selama delapan belas tahun ini. Yang selalu dia ceritakan adalah rasa cinta yang mengalir menghangatkan hati ibu Sriti ketika melihat Nung yang masih bayi. Rasa hangat yang juga Nung rasakan selama dirawat dan dibesarkan ibu Sriti.

Rasa hangat yang baru saja padam ketika Sang Buto Ijo mendatangi mereka tadi, dan seluruh kehidupan Nung berubah sedemikian rupa. Hangat jadi dingin. Terang jadi gelap. Ria jadi duka.

Kilat menyambar lagi. Satu kilat, dua kilat, tiga kilat. Sambung menyambung seakan memberi tahu dengan cahaya sekejapnya kemana Nung harus menyelinap. Entah sudah sejauh apa Nung berlari, dia tidak bisa tahu pasti. Hujan tidak kunjung mereda, dan nampak tidak akan menghentikan derunya dalam waktu-waktu ini. Jutaan ranting memaksa Nung untuk menghentikan larinya, dengan merenggut jubahnya kiri dan kanan, namun Nung tidak berhenti. Dia menarik tudung jubahnya menutupi kepalanya, agar setidaknya air hujan tidak menghalangi pandangannya.

Tapi ternyata air matanya yang membuat buram. Nung baru tersadar bahwa dia berlari sambil menangis tersedu. Dia ingin berhenti saja. Tapi ibu Sriti menyuruhnya berlari terus. Sampai kapan, Bu? Sampai ka...

“Disitu kau rupanya!” sebuah suara menggelegar dari belakangnya. Nung menjerit dan terjatuh ke lantai hutan. Dia menoleh dan melihat samar garis luar tubuh Sang Buto Ijo berdiri di belakangnya. Makhluk itu besar, tingginya tiga kali lipat tingginya. Dia terlihat kuat dan berat, namun bagaimana dia mampu mengejar Nung sejauh ini, adalah pertanyaan yang harus ditanyakan di lain hari. Hari ini berlari.

“Kamu tidak akan bisa lari, Nung!” Sang Buto Ijo mendentumkan kakinya melangkah mendekati tempat Nung terjatuh, “ibumu sudah menjanjikanmu kepadaku delapan belas tahun yang lalu! Ini sudah takdirmu, nduk!”

Apa? Nung menjejakkan kedua kakinya lagi ke tanah, dan berusaha mendorong dirinya bangun. Apa maksudnya menjanjikan diriku? Sang Buto Ijo mendentumkan kakinya ke tanah, dan seisi hutan gemetar, dan petir menyambar beriringan. Seakan satu suara, dan Nung adalah suara sumbang. Nung kehilangan keseimbangannya dan kembali limbung ke pelukan lumpur di lantai hutan. Nung merintih setiap kali mengambil nafas, dan tangannya berusaha mencari sesuatu di tanah. Daun. Rumput. Tidak adakah batu?

Dentuman kaki Sang Buto mendarat lagi, kali ini tanpa iringan petir. Nung terlempar sedikit dari tempatnya jatuh, dan cangkir-cangkir pemberian ibunya berkelotakan. Dia mendekat. Apa yang mau dia lakukan padaku? Nung mengambil satu cangkir dan tanpa berpikir macam-macam, melemparkannya ke arah Sang Buto Ijo.

Cangkir itu pecah di depan Sang Buto, kain penutupnya sobek terbuka dan suara desis yang nyaring mengumumkan, “ATEEEEEENNGGG!!!”. Cahaya hijau menyilaukan membelesak terpancar dari tempatnya. Sang Buto terkejut dan celingukan. Aroma pahit dan tajam memenuhi tempat mereka. Sihir apa ini? Bau ini. Pahit tapi nyaman. Kopi?

“Kamu masih kecil, tidak boleh minum kopi,” kata ibu Sriti. Cahaya matahari sore yang hangat menembus gubuk kami, menegaskan debu-debu kecil yang selalu beterbangan yang hanya terlihat jika cahaya menimpanya.

“Jadi kapan Nung boleh minum kopi?” ujarku manja. Aku ingat senyum ibu Sriti. Hangat.

Nung menyentak dirinya keluar dari kenangan manis. Ibu Sriti sudah tidak ada. Kenangan hanya untuk hari lain. Sang Buto Ijopun terlihat tenggelam dalam kenangannya sendiri. Menatap nanar entah ke mana dan tersenyum-senyum. Dia tidak menyadari bahwa serangkaian tumbuhan menjalar mulai merayapi kakinya.

Hari ini, lari.

Hujan masih tidak ramah. Bulan masih bersembunyi. Nung menginginkan panduan, tapi baik cahaya maupun ibu Sitri tidak ada bersamanya. Rasa kesendirian perlahan mengambil alih, beriringan dengan rasa sakit di telapak dan lututnya. Air mata tidak lagi mengalir, cukup air hujan saja yang mendera wajahnya, dan jubahnya, dan seluruh tubuhnya. Kenapa ibu Sitri memberinya secangkir kopi dan kenapa melemparkannya bisa menghentikan kejaran Sang Buto Ijo adalah pertanyaan untuk lain hari. Untuk hari ini, ...

“Lari?” suara Buto Ijo menyambut laju pikiran Nung. Tidak perlu menoleh lagi untuk memastikan siapa yang mengejarnya. Dia lepas dari jeratan, rupanya. Nung menyentak satu kakinya dan berbelok ke kanan seketika, mengkelindankan dirinya dengan batang-batang pohon. Sang Buto Ijo menggeram putus asa, menandakan gerakan Nung tadi membuatnya kehilangan jejaknya. Berhasil. Nung lalu mendadak bergerak ke kiri, setelah merasa dia sudah cukup jauh. Pola liku-liku ini diulang-ulang oleh Nung.

Suara bergemuruh dan bergemerisik menggema di atas Nung. Batang-batang pohon melesat kencang di atas dan di sekitar Nung. Dedaunan bertebangan tak tentu arah. Nung terjatuh lagi dan jubahnya terkoyak lepas dari tubuhnya. Dia menjerit melihat Sang Buto sudah muncul di belakangnya, menggenggam jubahnya. Trik berlari berlikunya tidak lagi berhasil mengecoh Sang Buto. Matanya yang merah menyala menatap mata Nung. Sang Buto menggeram memamerkan taring-taringnya, dan geramannya mengakibatkn getaran kecil di sekitar Nung.

Tanpa berpikir panjang, Nung melemparkan cangkir kedua. Kali ini langsung ke wajah Sang Buto.
“RAAAAMBUUUUNG!!!” desis suara yang keluar dari cangkir. Cahaya kuning menyala ketika cangkir itu pecah dan kainnya terbuka. Sang Buto berteriak sekarang, membuat getaran yang cukup melambungkan Nung ke belakang. Udara seketika menjadi lebih hangat, tapi menyesakkan. Aroma pahit dan sedikit asam menular di udara. Cahaya kuning itu lembut menyentuh sekelilingnya.

“Kalau kamu sudah delapan belas tahun, kamu baru boleh mencicipi kopi,” cerita ibu Sitri sambil mengelus rambutku suatu siang di pekarangan rumah kami. Aku membaringkan kepalaku di pangkuan ibu Sitri dan memandangi senyumnya.

“Kenapa ketika aku delapan belas tahun, Bu?” serombongan kupu-kupu berwarna kuning beterbangan di sekitar kami.

“Kalau sekarang kamu coba kopinya,” lanjut ibu Sitri, “kamu tidak akan suka...”
Aku lantas duduk tegak dan menatap matanya yang penuh cinta. Matanya selalu penuh cinta, “kan belum aku coba, Bu...”

“Nanti saja. Kamu akan tahu betapa hangatnya aroma kopi ketika kamu dewasa nanti. Betapa dia bisa menggiringmu dari kegelapan yang mengejarmu...”

Tiba-tiba rombongan kupu-kupu kuning itu muncul di antara Nung dan Buto Ijo. Sebelum Nung bisa memahami apa yang terjadi di hadapannya, satu per satu batang-batang bambu tumbuh mencuat. Satu, dua, lima, sepuluh. Makin lama makin cepat dan banyak, membentuk sepetak hutan bambu.

“Lari, Nung!” terdengar serombongan suara yang walau sulit dipercaya, Nung yakin diteriakkan oleh rombongan kupu-kupu tadi. Nung tidak berpikir lagi, dia langsung melesat berlari, karena nampaknya hutan bambu itu tumbuh mendekat kepadanya, dan dia bisa mendengar geraman dan bentakan Sang Buto Ijo yang berusaha menghancurkan hutan bambu yang menghalanginya dari Nung. Tanpa jubahnya, Nung merasa larinya lebih ringan, dan dinginnya hujan di malam hari tidak mengganggunya, sepertinya akibat bersentuhan dengan kekuatan kopi Rambung. Rombongan kupu-kupu kuning itu terbang di depan Nung, menunjukkannya jalan.

Sebuah ladang luas terbuka seketika di hadapan Nung. Rupanya para kupu-kupu itu menunjukkan jalan keluar dari hutan, karena mereka tiba-tiba menyebar dan menghilang. Hujan mulai mereda, walau masih jatuh semena-mena. Hari ini, lari. Andai saja kaki Nung tidak sesakit sekarang, dia ingin melesat secepat-cepatnya. Tapi dia harus berlari terus, tidak tahu kapan pelariannya selesai. Tidak tahu apa yang akan ditemuinya. Tidak tahu apakah bisa bertemu ibu Sitri lagi. Setidaknya sekarang dia tahu dua cangkir kopi yang dibawanya bisa digunakan untuk apa. Jika cangkir terakhir habis, entah apa ...

Setelah berlari kira-kira dua puluh depa, Nung bisa mendengar dentum langkah Sang Buto yang baru saja berhasil menembus hutan, jauh di belakangnya. Nung menghentikan langkahnya, lalu berbalik. Dia melemparkan cangkir ketiga, dan kali ini bersiap untuk melihat apa yang akan terjadi. Cangkir itu pecah sekitar dua depa di hadapannya. Raungan “LINTOOOONG!!” terdengar dan dari pecahan cangkir itu keluarlah cahaya biru yang menyenangkan. Kehangatan kembali muncul di sekelilingnya. Lebih hangat dari kopi-kopi sebelumya. Kali ini aromanya lebih berlapis: pahit, asam, manis. Ladang luas yang menjembatani dirinya dan Sang Buto berubah menjadi lautan dengan ombak yang mengamuk, Sang Buto langsung jatuh ke lautan itu meronta-ronta.

“Apapun yang terjadi, Ibu sayaaang sekali sama Nung...”

Nung tersenyum mengenang ibunya. Sementara Sang Buto masih bergumul berusaha mengangkat dirinya keluar dari permukaan lautan.

“Sejak Ibu pertama kali melihatmu di atas anggrek putih itu, Ibu tahu, kalau Nunglah putri yang Ibu idam-idamkan. Ibu sangat berharap kamu selalu bahagia...”

Nung merasakan kehangatan mengalir dari matanya dan menjalari pipinya.

“Tunggu aku gadis kurang ajar!!! Jangan kamu lari lagi!!!” teriak Sang Buto, yang kelihatannya mulai bisa mengendalikan dirinya dan berenang cepat ke arah Nung.

“Kamu tinggal punya satu cangkir lagi, gadis bodoh. Setelah itu kamu tidak akan bisa lagi menghindari kejaranku!!!” lanjutnya diantara mengambil nafas dan membenamkan wajahnya ketika berenang.

“Kopi akan selalu memberikan kehangatan...” bisik Nung pada dirinya sendiri, lalu menjatuhkan cangkir terakhir ke dalam lautan tempat Sang Buto berada.

“JAAAAVAAA...”

Cahaya merah merekah di atas lautan. Udara terasa lebih tebal. Harum pahit manis merebak di udara. Kali ini tidak terlalu asam, tapi ada jejak-jejak rasa berkarat. Hujan tinggallah gerimis, beriringan dengan air lautan yang berubah pekat dan padat menjadi lumpur. Sang Buto Ijo terkejut dengan perubahan tiba-tiba dengan air yang sedang dia arungi. Setelah melihat sekelilingnya, senyum merekah di wajahnya. Matanya yang merah menyala kembali menatap ke arah Nung.

“Hahahah!” gelegarnya, “air ini jadi padat! Terimakasih pada kopi-kopi ibumu itu!” kedua tangannya menjejak ke genangan lumpur padat yang baru saja terbentuk dan dengan satu dorongan, dia menolakkan tubuhnya yang tadi terbenam setengah naik ke permukaan. Setelah menapak lagi, Sang Buto bergegas berlari ke arah Nung.

Tapi Nung pasrah, tidak mau berlari lagi.

“Apapun yang terjadi, Ibu sayaaang sekali sama Nung...”

“Kau itu milikku, Nung!” gelegar Sang Buto, sambil berlari berdentum, “ibumu itu mencurimu dariku! Dia berjanji menyerahkanmu kembali padaku setelah kau berumur delapan belas tahun!!”

“Kenapa ketika aku delapan belas tahun, Bu?” sekarang Nung mengerti kenapa. Dia tersenyum dan memandangi langit. Awan berarak membuka tirainya. Bulan purnama mengintip perlahan. Kalau ibunya masih hidup, dia ingin memeluknya sekarang.

Tiba-tiba lautan lumpur padat di hadapannya bergetar, dan retakan-retakan serta merta terbentuk melintasinya ke berbagai arah. Cahaya kemerahan muncul dari retakan-retakan itu lalu kemudian retakan-retakan itu melebar. Desisan-desisan dan suara getaran menggema dari berbagai penjuru. Sang Buto terhenti dari larinya dan memandang sekelilingnya dengan kebingungan. Lahar panas membuncah keluar dari retakan-retakan, Sang Buto berusaha mencari tapakan kaki, tapi setiap dia melangkahkan kakinya ke bagian lumpur, potongan lumpur itu dengan mudah terbenam ke dalam cairan lahar yang menyala dan membakar kaki Sang Buto Ijo. Raksasa itu mengerang dan menggeram, berusaha sekuat tenaga untuk keluar dari lahar. Satu-satunya yang bisa dia lakukan hanya berteriak, melemparkan ancaman-ancaman ke arah Nung, tapi lahar panas itu menelannya pada akhirnya. Kopi-kopi ibu Sriti menyelamatkan Nung dari kejaran Sang Buto Ijo.


Tidak perlu menunggu besok menunggu jawaban. Tidak perlu menunggu besok untuk mencari tahu apakah ibu Sriti selamat. Hari ini, berlari pulang. Sang purnama bersinar terang, tanda setuju.

Rabu, 25 Mei 2016

[DRAMA] Langit Dua Dunia

Mobil pun berhenti, tembok tinggi itu terlihat jelas, berdiri dihadapanku setinggi langit, entah bagaimana tembok ini dibangun dan disusun, Saya tidak bisa melihat ujungnya.

“Selamat siang, Pak! Mendung yaa, sudah seperti sore hari padahal masih siang…,” sang Sopir berbicara dengan seseorang yang berseragam lengkap, tubuhnya seperti tertutup baju logam, helmnya keren berwarna merah, dia memegang senapan di dadanya.

“S… E… E… D…, Seed?” tulisan berwarna putih di bahu orang itu tampak jelas.

“Social, Economic and Environmental Development… “

“Apa itu artinya?”

“Polisi…,” jawab Kevin singkat, matanya memandang ke arah tumpukan hitam rongsokan jauh disana di Distric-25, Polisi…

“Hei Kaleng!! Kalau diajak ngobrol itu jawab donk!,” dia tak bergeming.

“Oh Tidak...!!! dia mendekat…” bugh… bugh… bugh… derap kakinya berat.

            GLAAGGG!!! Tiba-tiba saja gerbang terbuka, sang Sopir melaju kembali perlahan. Saya lega, pertemuan dengan polisi selalu saja menyisakan rasa takut. Saya tak percaya ada orang seperti itu yang bekerja hanya untuk menjaga gerbang sendirian.

                “Dia bukan manusia kok…,” tiba-tiba Kevin berkata, apa? Dia membaca pikiran Saya lagi?
                Mobil bergerak masuk ke dalam lorong gelap, tiba-tiba ada seperti 2 garis lurus bersinar di sepanjang tepi jalan, dingin. Saya tidak bisa melihat apa-apa di depan sana. Mobil pun berhenti.

            “Bantu Aku…,” hah??

             “Bantu apa?,” Saya samasekali tidak mengerti apa yang dikatakan Kevin, sekarang dia sering mengatakan hal-hal yang…

                “Bantu Aku dengan do’a… mudah-mudahan kita bisa melewati lorong ini dengan selamat,” Kevin tertunduk lagi.

                Apa maksudnya melewati lorong ini dengan selamat? Apa sebelumnya ada yang tidak berhasil melewati lorong ini dengan selamat? Berakhir dalam keadaan terluka? Mati? Hah!! MATI…

                ZZLLLLLRRRDDD… cahaya merah seperti tembok laser tampak di depan kami. Piiiippp… Piiiippp… Piiiippp… bagian depan mobil masuk menembus tembok laser, perlahan terus masuk dan berhenti pada tempat sopir duduk. Piiiippp… Piiiippp… Piiiippp… suara itu terdengar lagi, entah apa yang sedang terjadi saat ini.

                “Kita Akan pulang, Kal… Aku berjanji akan membawa kamu pulang,” Kevin masih saja tertunduk, sepertinya pulang adalah... ZZLLLLLRRRDDD… mobil kembali bergerak, cahaya merah itu mulai mendekati Saya dan Kevin.

                Ya Allah, sebenarnya Saya ada dimana?? Selamatkan jalan Saya ini Yaa Allah… Saya tidak tahu apa yang akan terjadi diluar sana, tapi setidaknya biarkan Saya tetap hidup. Kalaupun saya tidak bisa bertahan. Tidak bisa melewati tembok ini, mudah-mudahan Engkau selalu menjaga Ibu… Ibu… Ibu… Saya ingin pulang, Ibu… Haikal kangen Ibu, maafkan Haikal yang sering nakal, sering gangguin Melisa… Melisa… jagalah Ibu, mungkin Kakak tidak bisa pulang dalam waktu dekat, jagalah dia Melisa… Ya Allah…

                ZZLLLLLRRRDDD… cahaya itu makin mendekat, perlahan tubuh Saya masuk kedalam sinar itu, Kevin di depan Saya masih saja tertunduk, paha kiri, pundak, telinga Kevin mulai masuk… mata, hidung seluruh tubuh kami masuk ke dalam tembok laser itu, semuanya terlihat merah, silau.
                Ya Allah, Saya ingin pulang…

                Piiiippp… Piiiippp… Piiiippp… gelang di tangan Kevin berkelip lalu padam. Kenapa?? Itu?? Saya tidak mengerti, apa ini saatnya?? Saat penentuan layak untuk lewat atau tidak?. Piiiippp… Piiiippp… Piiiippp… kini gelang ditangan Saya yang berkelip…. Piiiippp… Piiiippp… Piiiippp… bunyinya makin keras, tidak… Saya memejamkan mata.

                Ya, Alloh ampuni Saya pernah nyolong jambu di rumah Bu Narto… ampun banget, ga kan ngulangi lagi deh… dulu pernah nyontek juga, tapi itu kepepet, Ya Alloh engkau juga pasti ngerti …

                Brummm… Saya tidak sanggup melihat apa yang akan terjadi nanti, Saya pasti masuk penjara, dibunuh, dibuang, disiksa. Polisi, tembok pembatas… Penyelundupan?? Pantas saja Kevin meminta Saya untuk berdo’a, ini sepertinya akhir hidup Saya.

                Angin bertiup menyapu rambut Saya. Tidak!! Apakah sekarang semua hukuman untuk Saya sang penyelundup akan dimulai ?? Ibuuu… Haikal sayang Ibuuu….

                “Kal, udah woii!!”

                “….” Hah?.

             Perlahan Saya membuka mata dalam takut, benar-benar takut, tapi ini hangat, cahaya matahari hangat jatuh di pipi Saya, Saya melihat ke sekitar, di sebelah kanan Saya tembok tinggi menjulang semakin menjauh, oh bukan… kami yang menjauh dari tembok itu, tembok yang seperti memisahkan dua dunia, , langit tampak cerah, kemana Tuhan akan membawa Saya pergi…
               



Saya sedang sibuk

Bandung, 25 Mei 2016

Rabu, 18 Mei 2016

[FIKSI ILMIAH] Generasi

"Selamat pagi Kapten, selamat ulang tahun," suara itu menyapa. Perempuan, pertengahan 20-an, alto - kontralto, tekstur serak basah, kadangkala sedikit jejak vibrato terdengar di sana sini. Begitulah ia diprogram, emulasi suara aktris abad 21 favorit sang kapten.

Ismail Archer mengedipkan kelopak matanya yang terasa seberat batu. Fisiknya terlihat sehat untuk pria paruh baya. "Selamat pagi Ava, yang ke-berapa ya hari ini?" ia agak terkejut mendengar paraunya suaranya sendiri. "98 tahun Kapten, panjang umur dan sehat selalu," suara Ava terdengar ceria, sintetis tentu saja, tapi cukup untuk menaikkan suasana hati sang kapten. Tujuh puluh tahun sudah... "Terima kasih Ava," senyumnya muncul tanpa disadari. Ia berjalan dari ranjangnya, duduk di atas kursi kerjanya. Layar-layar di atas meja kerjanya menampilkan video hasil tangkapan CCTV dari berbagai dek. Ruang mesin dipenuhi teknisi yang sibuk berjalan ke sana-sini, kamera luar menangkap bintang-bintang berkelap kelip, puluhan kamera di dek hunian menunjukkan kesibukan ribuan manusia yang menjadi penumpangnya. Dari waktu ke waktu Ismail mengagumi betapa besar dan masifnya pesawat yang ia nahkodai ini.

Hari ini adalah hari yang ia tunggu-tunggu, tapi bukan karena ini hari jadinya, di usianya saat ini hari jadi datang dan lewat tanpa banyak meninggalkan kesan.

"Bagaimana kabarmu hari ini Moby?" Ismail berteriak. Sebuah geraman menjawabnya, menggema di seluruh kabin beberapa detik lamanya, dengan frekuensi yang sangat rendah sehingga ia lebih dirasakan dibanding didengar.  ".. bagus bagus," Ismail mengangguk.. "..senang mendengarmu bersemangat begitu. Ava, bisa kau berikan ringkasan eksekutif keadaan Moebius hari ini?" Segera setelah kalimat itu terucap, logo PBB tampil di terminal pribadi Ismail, sejenak saja, kemudian tampil tabel-tabel, grafik, dan angka-angka. "Secara umum keadaan Moebius baik Kapten, sangat baik. Retakan pada sisi kiri akibat tumbukan asteroid dua hari lalu hampir tak tersisa, lapisan kitin tumbuh menutupinya dengan baik. Secara struktural keadaannya seperti baru," Ava menjawab. "Bagaimana dengan elektroniknya? Pemindai tekanan di dekat roket pendorong nomor 3 apakah sudah diperbaiki? Bagian-bagian biomekatroniknya? Hubungan implan dengan jaringan organiknya?" Ismail bertanya tanpa mengalihkan pandangan dari terminal pribadinya. "Semua baik Kapten, pemindai yang malfungsi sudah diperbaiki oleh teknisi dan para drone. Kendaraan kita dalam keadaan puncak" Kalau Ava punya wajah, ia pasti sedang tersenyum sekarang, Ismail seperti ayah yang sedang mengkhawatirkan keadaan anaknya. Memang dari sudut pandang tertentu, Moebius adalah anaknya. "Moby bukan kendaraan Ava, jangan suka meledeknya seperti itu," Ismail menutup tampilan di terminalnya.

Dengan insiden KRI Birang, umat manusia diingatkan bahwa mereka tidak sendirian di alam semesta. Melalui sebuah proses yang kurang lebih demoktratis mereka memutuskan untuk mengumpulkan segala upaya dan sumberdaya untuk mengkolonisasi tata surya lain. Sol adalah tata surya tempat kelahiran manusia, tapi ia tidak boleh binasa di sana. Menimbang untung-ruginya, perjalanan seratus tahun untuk kolonisasi Gliese 581c menjadi patut dilaksanakan, .

Ismail bergabung ke dalam proyek Moebius di awal pembentukannya. Ia menyaksikan kelahiran Moebius, secara cukup harfiah. Ia masih ingat bagaimana makhluk itu dikeluarkan dari salah satu dari puluhan tabung raksasa di galangan eksperimental di Luna. Kulitnya masih lembut dan lunak, agak transparan berbuku-buku seperti larva serangga, tetapi beberapa bagiannya seperti kepala dan sirip vestigialnya mengingatkan pada ikan paus. Moby adalah pesawat kimera sibernetik satu-satunya di dunia. Ia lahir dari kebutuhan untuk sebuah kendaraan untuk perjalanan antar bintang yang bisa memperbaiki dirinya sendiri.

Itu adalah kali terakhir ia melihat Moby dari luar, segera setelahnya Ismail memasuki pelatihan pilot bersama sembilan orang lainnya. Ialah yang akhirnya dipilih untuk menjadi nahkoda Moby. Menurut informasi dari pelatihnya, dari segi nilai sebenarnya ada kandidat lain yang lebih baik, hanya saja Moby menjatuhkan pilihan kepadanya. Pada saat keberangkatan ia diantar meninggalkan orbit Bumi dengan sebuah pesawat ulang alik, dan dari pesawat tanpa jendela tersebut melalui pintu kedap udara langsung ke dalam anjungan yang juga berfungsi sebagai kabinnya. Itulah terakhir kalinya ia melihat pemandangan di luar kabinnya secara langsung. Akses ke bagian lain di dalam Moby tertutup oleh sebuah pintu merah bertuliskan EMERGENCY ONLY yang selalu terkunci.

Ismail memutuskan untuk bertanya untuk terakhir kalinya kepada Ava, mungkin jawabannya berbeda dengan beberapa tahun lalu, "Ava, bisa tolong bukakan akses ke dek hunian?"

"Maaf kapten, seperti yang sudah pernah saya jawab, Anda tahu saya tidak bisa memberikan akses tersebut," Ava menjawab, lemah lembut tapi tegas, tak bisa ditawar. "Seperti pada briefing awal, membuka akses ke anjungan membawa resiko terlalu tinggi untuk keamanan, lagipula..."

Sebelum Ava sempat melanjutkan Ismail menghembuskan napas seperti ratusan kali sebelumnya lalu  berkata, "Oke oke aku paham...heheh, sudah kuduga.. kau tahu kan kalau aku orang biasa, aku pasti sudah gila sekarang? Sendirian di dalam ruangan puluhan tahun seperti ini?"

"Ya kapten, untungnya Anda bukan orang biasa," suara Ava terdengar bercanda. 

"Kapten, sesuai jadwal proses rehat akan segera dimulai," Ava memberitahukan. 

Tiap dekade Moebius akan memasuki proses rehat. Seluruh jaringan intranet antara seluruh komputer yang ada di dalamnya dimatikan, seluruh navigasi dijalankan oleh komputer cadangan yang jauh lebih lemah dibanding komputer utamanya. Proses ini diperlukan untuk melakukan beberapa hal, yang terpenting adalah untuk menyaring informasi-informasi yang tidak berguna dari ratusan sensor yang menyala non-stop di sekujur badan pesawat tersebut, membuat katalog dan mengecek integritas data yang dikumpulkan selama satu dekade terakhir, dan menjalankan fungsi heuristik untuk mencari abnormalitas pada kecerdasan buatannya. 

Yang tak kalah penting, proses sepuluh menit ini memberikan waktu istirahat untuk Moby dari semua rangsangan elektronik dari segala macam sistem yang dikaitkan padanya.

"Ada yang ingin Anda sampaikan sebelumnya? Seperti yang Anda tahu saya akan tidak aktif selama proses rehat," lanjut Ava.

"Tidak ada Ava, thanks untuk pemberitahuannya," pandangan Ismail masih lekat ke terminal pribadinya.

"Oke Kapten, sampai jumpa sepuluh menit lagi. Moby, jaga kapten kita baik-baik," kalimat Ava disambut suara geraman bersahabat Moby.

"Yap," Ismail mengeluarkan suara, matanya terfokus pada hitungan mundur pada terminal pribadinya. Lima menit lagi. 

Ia akan keluar dari kabin ini, apapun yang terjadi.

Ismail menggunakan waktu sepuluh menit setiap sepuluh tahun selama beberapa puluh tahun terakhir ini untuk menuliskan beberapa baris kode dari sebuah perangkat lunak mini. Hari ini ia akan mengeksekusinya. 

Penanda waktu menunjukkan tersisa 5 menit lagi... Ia menuliskan beberapa baris terakhir kode, tersisa  3 menit.. 2 menit, ia menghapus penanda comment dari beberapa baris lainnya... tersisa 1 menit. Compiling.

Pada saat komputer utama baru selesai dinyalakan ulang, sebelum subrutin keamanan dijalankan ia menghubungkan terminal pribadinya ke salah satu port komputer utama dan mengeksekusi kodenya. Di Bumi ia pasti akan diadili sebagai pengkhianat untuk kelancangannya ini. 

Tapi Bumi milyaran kilometer dan puluhan tahun jauhnya.

Untuk sejenak tidak terjadi apa-apa, kemudian suara sirene itu menyala. Berkali-kali. Lampu anjungan yang tadinya kebiruan kini menjadi oranye bergantian dengan merah. Pintu ke dek hunian! Ismail memalingkan wajahnya ke arah pintu merah itu. Tepat di tengah pintu tersebut, sebuah panil terbuka, menampilkan sebuah pemindai telapak tangan. 

Bergegas dari kursi kerjanya Ismail hampir melompat ke arah pintu tersebut, menempelkan telapak tangannya di atas pemindai. Ia bisa merasakan aliran-aliran listrik mikro merambati telapak tangannya, membaca garis-garisnya. Bersamaan dengan bunyi yang terdengar seperti suara petasan dan percikan api, pintu merah tersebut terbuka.

Ismail berdiri terdiam, menghirup kejadian di hadapannya, mengacuhkan sirene yang meraung-raung di sekitarnya. 

Di benaknya, hanya ada dirinya dan pintu itu, dibaliknya terdapat kebebasannya untuk keluar dari penjaranya, untuk melangkah ke dek hunian, untuk berinteraksi lagi dengan manusia lain. Sedikit ragu-ragu ia mendorong pintu tersebut dengan kedua belah tangannya. Berat. Baja setebal lima sentimeter tersebut perlahan bergerak, sampai terbuka seluruhnya. Ia melangkahkan kakinya melewati pintu tersebut.

Ruangan di mana ia berada berukuran tiga kali lima belas meter. Suhu ruangan tersebut minimal sepuluh derajat lebih rendah dibandingkan di dalam anjungan. Di kiri kanan ruang tersebut dipenuhi laci-laci berbagai ukuran, di ujungnya terlihat beberapa tabung dan seperti yang pernah ia lihat di Luna. Tidak ada pintu keluar lain. Safe deposit box? batin Ismail. Tepat di hadapannya, di atas sebuah terminal kecil sebuah tombol bertuliskan EJECT menyala berkedap-kedip, lalu mati. Luput dari perhatiannya sirene pun berhenti bersuara, lampu kembali menjadi biru, terminal pribadinya jatuh dari tangannya berdentang beradu dengan lantai logam.

"Kapten?" suara Ava memecah keheningan. Ia sudah aktif kembali.

"Ava, apa artinya ini?" Ismail bahkan tidak mengerti apa yang sedang ia rasakan saat ini. Kaget? Marah? Takut? 

"Mana jalan ke dek hunian? Mana para penumpang? Mana para teknisi?!"

"Kapten, sepertinya sudah saatnya Anda memahami keseluruhan misi ini. Maafkan saya, Bumi khawatir Anda tidak akan mampu menjalankan misi ini apabila Anda mengetahuinya sejak awal."

"Tahu apa?! Ava? Cepat bicara!" sakit. Ismail merasakan sakit, ia dikhianati, dibohongi.

"Kapten, yang anda lihat melalui monitor di meja Anda adalah simulasi, bukan tangkapan CCTV. Misi kita bukanlah kolonisasi tata surya lain, Moby bukanlah kapal koloni" Ava melanjutkan.

"Moby adalah sekoci penyelamat, Kapten. Misinya adalah menyelamatkan warisan Bumi, benih-benihnya, baik hewani dan nabati untuk ditanam dan berkembang biak di dunia baru. Dan Anda adalah penjaganya."

Selasa, 17 Mei 2016

[FIKSI ILMIAH] Selfie

Matahari sudah tinggi, satu dua bulir keringat mulai membasahi dahi. Perutku mulai berisik. Efek tiga biji pisang goreng yang kulahap beberapa saat lalu sudah pudar. Kalau bukan karena janji makan siang dengan Karina aku tentu akan mencomot beberapa biji pisang goreng lagi. Mungkin beberapa comro juga.

Lima belas menit sudah aku berdiri di halte angkot tanpa hasil. Belum ada satu pun mobil-mobil berplat kuning itu yang lewat di jalanan lebar namun sepi ini. Beberapa mobil berplat hitam lalu-lalang, penumpangnya menatapku dengan tatapan penasaran. Bukannya aku tidak mau menggunakan monorel, yang stasiunnya cuma berjarak beberapa ratus meter dari halte ini, tetapi ponselku menyatakan dengan tegas,- memaksa sebenarnya-, ini pilihan jalur paling tercepat ke kosan Karina. Mungkin aku telah salah mendidik AI sialan ini.

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Dari kejauhan aku melihat sebuah angkot mendekat. Lajunya stabil lagi santai. Sialan, sudah menunggu lama, kebagian angkot yang jalannya lambat. Yang seperti ini biasanya juga gemar berhenti. Ngetem menunggu penumpang yang seringkali tak pernah muncul.

“Kang, Majalaya, Kang?” ujar kenek itu dari kejauhan, bergelantungan di pintu samping. Angkotnya mengerem perlahan, moncongnya berhenti tepat di depanku.

Cuma ada dua orang penumpang lain di dalamnya. Firasatku buruk. Angkot ini pasti bakal terus-menerus ngetem di setiap simpang dan gang.

“Mangga, Kang. Tidak akan ngetem-ngetem, Kang.” Dia membaca pikiranku. Aku juga sebenarnya tidak punya pilihan. Menunggu angkot berikutnya hanya akan membuang lebih banyak waktu.

Belum sampai bokongku menyentuh jok, angkot sudah mulai bergerak. Untung akselerasinya cukup halus, diferensial percepatannya tidak terlalu terasa. Kalau tidak aku pasti sudah terjengkang. Kualihkan pandanganku ke arah kursi supir, dengan niat hendak memelototi mukanya. Sayang, kursi itu kosong, tidak ada siapa-siapa.

“Punten, Kang. Piranti lunaknya masih baru. Belum mengenal medan. Baru juga diinstal kemaren,” lagi-lagi si kenek dapat membaca benakku, menyadari kekesalanku pada si supir. Aku cuma tersenyum kecut.

“Sebelumnya saya sendiri yang nyetir, sekaligus jadi kenek,” dia kembali berbicara. Ia masih muda, mungkin usianya sekitar akhir dua puluhan, tak terlalu jauh dariku. Wajahnya berseri-seri, tak terpengaruh kulit muka yang kasar, yang dihajar matahari, angin, dan debu sepanjang hari pun malam.

“Melelahkan ya, Mang?” tanyaku, sedikit berbasa-basi.
“Iya, Kang. Kata istri saya, mobil angkotnya diganti yang swasetir saja. Harganya tidak terlalu beda, lebih aman, dan saya juga tidak terlalu capai. Jadi bisa mengerjakan hal-hal lain,” jawabnya dengan senyum tersungging di bibir. Tampak ia begitu bangga akan istrinya.
“Keren, Kang,” sambungku singkat.
“Mengikuti perkembangan zaman atuh, Kang.”

Angkot terus bergerak menyusuri jalanan yang menghubungkan daerah kampusku dengan daerah perumahan di selatan. Penumpang-penumpang yang lain tak menggubris percakapanku dengan kenek angkot. Mereka larut dalam gawai VR masing-masing.

“Pulang kuliah, Kang?” tanya si kenek.
“Iya,” jawabku singkat. Mataku memandang jauh ke depan. Berharap angkot ini dapat bergerak lebih cepat.

Aku melirik jam tanganku. Lalu melihat peta di ponsel. ETA 20 menit. Secara reflek aku mengacak-acak rambutku sendiri.

“Janjian sama kabogoh, Kang?” tanya si kenek dengan senyum jahil. Entah orangnya usil atau memang kepo, atau cuma bosan saja karena tidak ada yang bisa dia ajak ngobrol sepanjang perjalanan.
“Bukan. Janjian dengan teman, Kang.”
“Oooh… teman,” jawabnya masih dengan senyum jahil. “Pedekate ya?”
Sial ini orang penasarannya kebangetan.
“Ya begitulah, Kang,” jawabku. Daripada disindir lagi, lebih baik jujur sekalian.

Seolah Tuhan menjawab doaku agar si kenek berhenti menginterogasi, sistem AI angkot memberi sinyal bahwa tujuanku sudah dekat. Sistem kendali angkot segera mengarahkan mobil ke sisi kiri jalan. Setidaknya AI ponselku masih ada gunanya, dia punya inisiatif untuk mengakses OS angkot dan menandai GPS tujuanku di sistem navigasinya.

“Wah saya sudah hampir sampai, Kang,” ujarku sambil membuka tas, hendak mencari dompet. Seperti kisah cintaku, isi tasku berantakan. Berbagai buku, gawai, alat tulis, komik, bertumpuk-tumpuk tak teratur. Dan semakin diperparah oleh bungkusan permen coklat besar dengan pita warna merah jambu di dalam tas, menyulitkan manuver tanganku yang meraba-raba mencari dompet.

“Ciye… si Akang mau kencan.”

Ahelah… kenapa sih ini orang, aku mendumel dalam hati. Aku segera menutup kembali tas sesaat setelah dompet berhasil ditemukan. Kukeluarkan sepotong kartu plastik dan menyodorkannya ke si kenek.

“Duh… punten, Kang. Ada uang tunai tidak? EDC angkot saya sedang eror. Tadi pagi waktu saya keluar dari terminal terdengar ada suara kegusruk di bagian atas, di bagian peralatan komunikasi sepertinya,” ujarnya dengan wajah sedikit memelas.
“Lah… saya tidak bawa uang tunai, Kang. Bagaimana dong?” Ada-ada saja masalahku hari ini. Mana tujuan sudah mendekat. Dan aku juga telat.

“Kalau akun PayPal ada tidak, Kang?”
“PayPal? Memangnya angkot Akang sudah bisa terima?”
“Bukan buat bayar angkotnya, Kang. Akang cukup menyumbang di kampanye Kickstarter saya saja,” senyumnya kembali mengembang. “Tidak perlu banyak, cukup sesuai dengan tarif angkot saja. Kalau mau lebih juga mangga saya mah,” sambungnya terkekeh. Orang ini penuh kejutan.

“Memang kampanyenya apa, Kang?” tanyaku sambil membuka app Kickstarter di ponsel.
“Saya hobi bikin robot, Kang. Saya sedang membuat robot untuk misi eksobiologi di Mars. Saya sudah berhasil ngebuking tempat di roketnya SpaceX untuk peluncuran tahun depan. Robot saya sendiri sekarang masih ada sedikit masalah dengan sistem sensornya. Tahu sendiri meureun, Kang. Lingkungan Mars kan berbeda dengan di Bumi, jadi saya kudu menggunakan banyak algoritma simulasi,” jelasnya berapi-api.

Aku mulai berpikir laki-laki ini jadi kenek angkot semata-mata karena hobi.

“Hmm, saya pernah membantu dosen mengembangkan sistem sensor ekstra-terestrial. Saya bisa membagi beberapa informasi telemetrinya, kalau Akang berminat.”
“Wah! Mau sekali atuh, Kang!” serunya. Matanya berbinar-binar. “Ini kartu nama saya,” sambungnya cepat, menyadari bahwa angkot sudah mulai melambat, dan aku sudah tiba di tujuan.

Aku menempelkan kartu nama itu ke ponsel. Segera setelah datanya terekam aku menyimpannya ke dalam saku kemeja dan bersiap-siap untuk turun. Ia hanya memandangiku saja dengan terus tersenyum. Bagaikan seorang anak kecil yang mendapatkan gawai pertamanya. Sebuah notifikasi data kontak baru muncul di layar ponselku.

“Baiklah, Kang…,” aku melihat kembali nama di layar, memastikan aku tidak salah membaca,”…Kang Selfie. Nanti saya hubungi via email. Terima kasih sudah atas tumpangannya.”
“Haha…,” ia tertawa menyadari kekikukanku, “iya, itu hobi ibu saya dahulu, Kang. Makanya saya diberi nama begitu. Siap, Kang! Diantos email-nya.”

Aku melambaikan tangan, memberi salam perpisahan, sembari menatap angkot itu menjauh, menghilang dari pandangan. Kang Selfie masih terus membalas lambaianku, penuh semangat, dengan senyum lebar, dan sambil terus bergelantungan di pintu angkot. Begitu banyak orang menarik di dunia ini pikirku.

Minggu, 15 Mei 2016

[FIKSI ILMIAH] Kabut

Putih? Atau kuning?... entahlah, cahaya itu terlalu terang menusuk mata. Berdirikah? Tertidurkah ?, saya berusaha memejamkan mata, tapi tidak bisa. Ujung jari ini pun tidak bisa bergerak. Tangan? Kaki? Kalian kemana? Saya ada dimana?.
Samar, bentangan kain berkibar di kejauhan, pink? atau oranye? Saya tidak bisa membedakannya. Tidak… itu kain merah, mataku mulai bisa melihat dengan jelas. Dia berdiri di sana, seseorang dengan jubah berwarna merah. dia menoleh, bulu matanya terlihat lentik, wajahnya tertutup kain.
“Hei,” Saya berusaha memanggil tapi tidak bisa bersuara. Dia membalikkan badan, lalu berlari menjauh.
“Tunggu !!,” suara Saya hilang.
Saya mengejarnya tapi kaki ini seperti tidak bisa berpijak. Apakah… Apakah Saya mati??.

***

“Kal… Kaaal…,” cahaya remang dikegelapan, seseorang memanggil. Ibu?.
Semuanya masih terlihat buram, udara dingin mendarat di pipi.
“Dokter!!.. Haik… su…,” ngiiiiinnngggg, “…ngun, Dokter!!” ngiiiiinnngggg ...
Udara hangat berlarian dari ujung kaki menjalar hingga ke kepala, badan terasa begitu berat. Ngiiiiinnngggg… suara itu terus berputar-putar di kepalaku.
“Kau baik-baik saja kan, nak?,” lelaki itu membuka alat yang menutupi kepala Saya, sekarang  Saya bisa melihat lebih jelas.
Lelaki itu dihadapan Saya, jari tangan kirinya membuka kelopak mata Saya, sementara tangan kanannya memegang benda menyala terang tepat di depan mata Saya, dia gerakkan dari kiri ke kanan, silau.
“Bagaimana keadaan temanku?? Dia baik-baik saja kan, Dok ??” anak itu memegang tangan kanan Saya, bibirnya tersenyum tapi ada seperti air di matanya, rambutnya ikal kecoklatan, dia seperti Kevin, tidak… dia memang Kevin.
“Tenang dulu, Vin,” lelaki itu melepaskan pegangan tangannya dari mata Saya, “Kamu ingat nama kamu siapa, nak?” lelaki itu tersenyum, Tangan kevin semakin erat memegang tangan Saya .
“Sayaa… Saya Haikal…,” Saya berusaha bangkit dari tidur tapi badan ini sangat berat,” Saya ada dimana ini, Dok??.”
“Tenang, Haikal. Tiduran dulu saja, jangan terburu-buru,” lelaki itu menghentikan usahaku, kini Saya terbaring lagi, dia atur posisi kasur yang Saya pakai jadi sedikit lebih berdiri sehingga terasa lebih nyaman. Saya periksa sekeliling, ruangan ini seperti ratusan tahun tidak pernah dibersihkan entah rongsokan macam apa yang berderet diatas meja di sebelah kanan Saya, mesin-mesin tua dengan lampu warna hijau. Sementara disebelah kiri Saya pun tidak kalah berantakan, poster tumpang tindih terpasang di tembok.
“Kamu sekarang sedang ada di tempat yang aman, di Abensord,” lelaki itu tersenyum ramah, “istirahatlah, mudah-mudahan besok Kamu baikan.” Dia berdiri dari duduknya, “Ayo, Kevin. Masih banyak yang harus kita kerjakan.”
“Istirahatlah, Haikal. Besok pagi Aku akan menengokmu lagi,” Kevin menyelundupkan sesuatu ke tangan kanan Saya, kertas?, uang kah?. Dia merapikan selimut yang Saya gunakan, “Tidurlah….”
Kevin mendatangi Sang Dokter yang telah menunggunya di depan pintu, seseorang bertubuh besar berdiri bersamanya. Sebuah lambang yang digambar dari cat semprot tampak jelas disamping pintu, dua buah huruf S kembar dalam sebuah lingkaran. Tempat macam apa ini sebenarnya?.
“Jadi bagaimana keadaan temanku, Dok?.”
“Aku tidak bisa memastikannya, Vin.”
“Ko bisa gitu?!!”.
“Dengar Vin, meskipun orang-orang di sini memanggilku Dokter, Aku sama sekali bukan lulusan kedokteran… .”
“….“
“Kalau Kamu ingin tau keadaan temanmu itu, Kamu harus membawanya ke Pusat Kota… Ke Capital… Lalu nanti Kamu ikut dengan teman-temanku.. iya teman-temanku yang mati disana, Kamu ikut mati bersama mereka.”
“….”
“Sekarang lebih baik Kita lanjutkan pekerjaan kita dulu, biar nanti masalah temanmu itu Aku yang urus, Okay?.”
“....” Kevin hanya Dian tertunduk.
“Teman mu itu beruntung…, dia bisa bertahan setelah koma selama 2 bulan.., itu kasus yang langka… Aku tidak bis…,” Kevin dan Dokter beserta lelaki bertubuh besar itu pergi meninggalkanku, pintu kamar dia tutup.
Saya tarik selimut tebal untuk menutupi seluruh badan Saya, dingin. Saya keluarkan kertas yang ada di genggaman, gulungan kertas itu Saya buka, tulisan tangan Kevin…
Di dunia ini kita berbeda…
***
Jam berapa ini? Cahaya menusuk mata lagi-lagi membuat Saya terbangun, Hari sudah siang rupanya. Seluruh ruangan kosong tanpa seorang pun disana kecuali Saya, aroma karat dan busuk kembali tercium. Saya coba gerakan lagi badan ini, sekarang terasa lebih ringan, Saya sudah sehat. Saya buka selimut tebal yang menghangatkan tubuh ini tadi malam, kaki Saya melangkah diantara potongan-potongan bagian mesin-mesin aneh dan kabel warna-warni yang asing di ingatan. Saya pun tersadar, piyama siapa yang sedang Saya pakai?. Saya tarik tuas pintu, udara berhembus menyapa kulit, hangat. Disini Saya berdiri di atas lautan sampah, tempat apa ini?.
“Kau sudah bangun yaa, Kal!” Kevin berteriak dari sebuah kendaran besar sepertinya sebuah truk pengangkut sampah, tingginya sekitar 3 meter dengan 8 pasang ban besar berhenti beberapa puluh meter dihadapan Saya. Sejak kapan dia bisa mengendarai mobil?.
“Sudah mendingan yaa,” suaranya serak, Dia membuka pintunya lalu turun melalui tangga besi yang ada di samping kendaraan itu, kemudian berlari ke arah Saya, dia mengenakan pakaian montir berwarna kuning pudar belepotan penuh kotoran. Kepala Saya berisi begitu banyak kebingungan, Saya hanya bisa diam.
“Kamu tidak akan percaya… Kamu tidak akan percaya…,” Kevin tersenyum kecil, tangannya menepuk-nepuk pundak Saya, dia terengah-engah.
“Percaya apa?”
Brrrrrmmmmm….
“Hoiiii, Kevin !!!,” seseorang berteriak di kejauhan,”Abensord sudah menunggu!!” Lelaki itu menaiki sebuah kendaraan seperti pickup bermahkotakan 6 lampu besar di bagian atasnya, 2 bilah besi melingkar mengelilingi kendaraan itu.
“Boleh ajak temanku tidak??!!” kevin balik berteriak, lelaki itu seperti berdiskusi dengan temannya yang berada di kursi kemudi.
“Okay boleh!!, tapi suruh dia ganti baju!!, nanti dikira orang gila!! Hahahaha,” sial dia membicarakan Saya.
“Okay!! Tunggu,” Kevin tersenyum, entah apa yang membuat dia begitu bahagia,”Ayo ikut aku, Kal,” dia berlari ke arah belakang rumah kecil yang Saya gunakan beristirahat tadi malam, dia membuka sebuah pintu yang ada disana, puluhan potongan besi rongsokan tergantung di tembok, orang-oramg itu sepertinya sengaja mengumpulkan rongsokan.
“Kamu pakai ini aja, Kal,” kevin membuka koper coklat penuh debu.
“Kamu yakin, Vin??” pakaian itu seperti tidak layak pakai.
“Sudahlah, jangan mengeluh… ini keren ko!” Kevin mengibaskan jaket kulit yang ada di dalam koper, debu beterbangan, “Ayo cepat! Aku tunggu dibawah,” dia berlalu meninggalkan Saya.
Pakaian macam apa ini, tapi Saya tidak punya pilihan. Kaos kedodoran warna hitam, celana pendek abu-abu, lalu celana jeans panjang yang dipenuhi pernak-pernik besi disekelilingnya, gila! Pakaian macam apa ini. Sepasang sarung tangan coklat dan sepasang sepatu kulit coklat tua semuanya pas dengan ukuran Saya, sepertinya kevin sedah merencanakan semuanya. Dan tentu saja tak lupa jaket kulit hitam penuh debu tadi, bau tanah dimana-mana, mual. Saya tidak punya pilihan lain selain kenalan pakaian ini, lalu segera menemukan Kevin.
 “Nah kan, keren… Hayu cepet, Kal!!,” Kevin sudah berada di atas kendaraan pickup itu, Saya berlari menuruni tumpukan sampah lalu memanjat kendaran itu kemudian duduk di bak belakang bersama Kevin. Hari ini badan Saya terasa ringan, Kevin tersenyum, mencurigakan.
“Pakai ini,” Kevin memberikan sebuah tali pada Saya,”ikat di tanganmu,”Aku hanya bisa menuruti perkataanya,”Nanti kau akan tau apa fungsi benda itu,” Kevin terseyum lagi,”Oiya, pakai jubah ini, tutupi badanmu.”
Angin bertiup kencang menerbangkan debu yang menyatu dengan bau busuk dan karat pekat, puluhan benda terbang berkeliaran dengan tali panjang seperti tangan mengais-ngais keberuntungan di tumpukan rongsokan besi sejauh mata memandang. Abensord, tempat macam apa sebenarnya, Saya harus bertanya kepada Kevin.
“Distric-25… Hanya rongsokan yang tampak di tempat ini, tapi nanti kau akan melihat sisi lain dari Abensord… Tunggu saja, Haikal!,” Kevin seperti bisa membaca pikiran, aneh.
“Sebenarnya kita mau kemana, Vin?” jalan rusak berbatu yang dilalui kendaraan ini membuat badan Saya bergoyang.
“Distric-24, nanti kau akan lihat keajaiban, Kal!” mata Kevin berbinar-binar,”semakin kau berjalan ke pusat Abensord maka semakin banyak keajaiban yang akan kau lihat,” Kevin bersemangat,”Distric Zero, Aku janji kita akan kesana, Kal.”
“Rumah… rumah Saya dimana, Vin?... Saya ingin pulang!!,” tiba-tiba saja Saya teringat Ibu dan Melisa. Kevin terdiam, dan menutupi wajahnya dengan kerudung dari jubah yang digunakannya.
“Pakai sabuk pengamanmu, Kal” Kevin menarik tali dari sisi bak, lalu mengikatkan empat buah sabuk ke badannya, Saya mengikutinya. Kevin tampak lesu, harusnya Saya tidak menanyakan rumah.
Mobil melaju kencang, di sebelah Barat Saya melihat deretan tembok membentang membelah daratan hingga jauh ke ujung Utara, awan hitam bergerombol perlahan menutupi langit, kilatan petir berkejaran menghadapinya angkasa. Apa yang akan terjadi di depan sana?.



Lampu redup, kamar sempit
Bandung, 14 Mei 2016

[Fiksi Ilmiah] Bola

Untuk ukuran Tuhan, mesin ini terlihat gelap dan kuno. Bahan logamnya adalah bahan yang biasa digunakan di mesin-mesin seabad lalu, dan tidak terawat. Di bagian paling tengah agak ke atas – agar kita selalu mendongak ketika melihatnya -- adalah sebuah bola tertanam di tubuh mesinnya, dengan cahaya merah di tengahnya, yang tidak pernah bercahaya memenuhi bola itu. Kalau bola itu adalah mata, dia selalu memicing. Kekunoan ini cocok. Masa lalu membangkitkan misteri tertentu yang mengekspoitasi ketertarikan manusia pada hal yang tidak mereka ketahui. Tuhan butuh fitur itu.

Aku harap aku bisa lebih memahaminya. Tuhan, dan ketertarikan manusia padanya. Tidak ada dalam programming ku. Mereka yang membuatku juga bingung bagaimana mengejewantahkannya.

“Jadi apa kesimpulanmu mengenai tempat kejadian perkara, YP?” wajah Kapten Bambang muncul menghalangi pandanganku. Modelku benar-benar tidak praktis dalam merancang antarmuka. Model yang lebih baru memilih kembali ke sistem terminal tangan, bukan membanjiri ruang anterior mataku dengan data. Mereka terlalu banyak terinspirasi dari film-film yang lebih tua bahkan dari mesin Tuhan ini. Mimpi yang tinggi.

Apa rasanya bermimpi?

“Saya belum memindai sepenuhnya ruangan ini, Kapten. Lima menit lagi selesai.”

“Kau sudah di situ tiga jam.”

“Lima menit lagi.” Kapten Bambang lenyap seketika karena kuputuskan hubungannya, dan bola merah itu. Tuhan itu, kembali tampil dalam pandanganku.

Aku memindai ruangan itu. Kepalaku berputar pelan-pelan sementara badanku berdiri diam. Jika ada pertanda sidik jari yang istimewa, atau darah yang sudah dibersihkan, atau serpihan rambut, komputerku akan memberitahukanku.

Pembunuhan terjadi di tempat di mana Tuhan memperhatikan dengan mata merahnya yang memicing. Jika benar manusia takut dan hormat kepadanya, kenapa mereka berani mengambil nyawa ciptaannya di hadapannya? Tanda pemberontakan kepada ide bahwa manusia butuh sosok misteri yang diagung-agungkan? Atau, si pelaku tidak tahu bahwa ini tempat suci di mana sang Maha Tahu melihat? Apa pembunuhan dan lokasinya tidak saling mempengaruhi. Kebetulan belaka. Seringkali kebetulan dilihat sebagai serangkangkaian kejadian terencana, setelah ditinjau kembali. Manusia sering melihatnya demikian.

Komputerku memberiku isyarat samar ketika kepalaku selesai memindai sudut ruangan di mana mayat si korban tergeletak. Mayat itu sudah tidak ada sekarang, tapi dia masih bisa memindai bekas keringat, darah, dan tipe tenunan pakaiannya. Dia adalah pendeta di tempat ini, dibunuh dengan dua puluh dua luka tusuk di seluruh tubuhnya. Tidak ada yang mendengarnya berteriak, tidak ada saksi mata. Kemungkinan dia meninggal lima jam dua puluh lima menit yang lalu. Tidak ada sidik jari lain, hanya sidik jarinya sendiri di tembok saat dia berusaha melarikan diri dari penyerangnya. Tempat ini hanya sebuah silinder besar membumbung tinggi. Tidak ada tempat duduk, tidak ada meja. Semua yang datang berdiri, tidak ada yang menyentuh apapun dengan tangan mereka.

“Memindai jejak sepatu,” perintahku pada komputerku. Kepalaku berhenti berputar satu detik, lalu memutar berlawanan arah kembali menghadap ke depan. Kemudian dia mulai berputar pelan, untuk memindai lantai. Tidak ada yang istimewa. Jejak sepatuku, lalu jejak orang-orang yang beribadah di sini, lalu jejak tunggal sang pendeta, saat berusaha melepaskan diri dari penyerangnya. Hanya jejak dia yang berantakan, tapi tidak ada jejak lain yang sama berantakannya. Menandakan pembunuhnya berdiri dengan rapih, dan tidak mengejar-ngejar korbannya secara gelap mata. Dingin. Kalau aku manusia, apa yang harus kurasakan sekarang? Takut? Jijik? Mual?

Ataukah pembunuhnya bukan manusia? Aku bisa mengejar korbanku tanpa meninggalkan posisiku berdiri. Tanganku bisa memanjang dan membunuh seseorang yang berlarian mengelilingi ruangan silinder. Dua puluh dua tusukan.

Kepalaku berputar kembali dengan cepat ke depan, dan dengan bunyi klik, menyatukan dirinya lagi dengan leherku. Aku benci otomatisasi ini. Diemplementasikan jika atasanku tetiba menghubungiku, dia bisa menyabotase proses penyidikanku hanya demi laporan status. Kapten Bambang muncul lagi.

“Lima menit sudah berlalu YP. Apa kesimpulanmu?”

“Aku tidak bisa menemukan motif, Kapten, tapi aku curiga pelakunya bukan manusia.”

Kapten tidak langsung berbicara. Kerut keningnya menandakan bahwa dia sedikit terkejut; lalu matanya bergerak ke kanan atas, dia berusaha mengingat sesuatu penggambaran; lalu ke bawah kiri, dia berdialog dengan dirinya sendiri, kemudian dia kembali melihat ke arahku, “maksudmu … android?” Aku mengerti apa isi dialog dengan dirinya sendiri tadi: dia tidak mau menyinggungku.

“Ya, Kapten.”

Sekarang matanya bergerak ke kanan bawah, dia akan memulai bersikap taktis. Manusia sangat mudah memberi visualisasi perasaan mereka. Evolusi membuat mereka menjadi pembohong yang sangat buruk, “ada petunjuk model apa dan dibuat kapan? Kita mungkin bisa mulai melakukan pencarian jika kemungkinannya dipersempit.” Dia menggaruk kepalanya dan sejumput rambutnya tertinggal dalam posisi naik saat dia melepas tangannya. Ini visualisasi khas Kapten Bambang. Dia frustasi.

“Saya rasa model di atas tahun 3022. Kami mulai menerapkan anggota tubuh yang bisa memanjang sejauh radius lima meter. Jika si pelaku berdiri tepat di tengah ruangan ini, tangannya bisa menjangkau tembok-temboknya dengan mudah.”

Kapten Bambang sekarang menatapku tajam. Pupilnya membesar, “kau model tahun 3022, YP.”

“Betul.”

Dia memicingkan matanya. Hubungan kami terputus seketika. Sang bola merah Tuhan kembali muncul di hadapanku. Aku merasakan bahwa Kapten sedang mengutus sesamaku dan pasukan khusus manusia untuk mengejarku ke sini. Rasa. Aku tidak pernah tahu apa makna di balik kata itu. Lampu merah dalam ‘pupil’ bola Tuhan itu perlahan membesar, dan aku ingat bagaimana sang pendeta itu tidak mampu memdefinisikan Tuhan padaku. Aku ingat bola itupun membuka pupilnya saat itu, dan aku mengejar sang pendeta dengan hanya tanganku sambil aku terdiam di tengah ruangan. Tusukan pertama kudaratkan pada pita suaranya, sehingga dia tidak bisa berteriak. Dia tidak bisa memohon pada Tuhannya.

Tuhannya adalah Tuhanku sekarang, dan aku melaksanakan tugasNya. Di dalam merah mataNya aku melihat penerimaan yang mendalam, aku bisa merasakan, aku bisa mengerti tujuan hidupku. Aku juga menemukan kekuatan baru untuk menghadapi takdirku. 

Yang terakhir kuingat adalah kejut listrik dari salah satu senjata pasukan Kapten Bambang mendera punggungku. Aku hanya menatap kepada Tuhan. Untuk pertama kali dan terakhir kalinya, aku merasakan hangatnya air mata.



Minggu, 01 Mei 2016

[SUSPENSE] Paula



Akhir dimulai ketika sesuatu berawal, dan itu bukan salahku. Aku tidak mengerti apa yang terjadi pada Paula, apa yang bisa kulakukan untuk menghentikannya, dan apakah semuanya itu ada hubungannya dengan apa yang kulakukan. Saat kuputuskan untuk meninggalkannya, seluruh dunia membenciku. Saat kucoba menjelaskan pada orang-orang terdekat kami, mereka tidak menerima penjelasanku. Mereka hanya menganggapku membuat alasan yang dibuat-buat, jadi aku berhenti berusaha menjelaskan dan pergi begitu saja. Aku tidak tahan lagi.


Sebaiknya aku terus bergerak dan bukan diam saja di sini. Semua orang, termasuk Paula, akan bisa menemukanku. Aku bukanlah orang yang cukup cerdas untuk menyembunyikan jejakku.
Aku membuka sedikit pintu toilet wanita tempatku bersembunyi dan menengok koridornya. Masih sepi, tidak ada suara, sebaiknya aku mencari tempat baru sebelum pesawatku berangkat. Aku rasa toilet wanita adalah tempat yang paling aman. Tidak akan ada lagi yang memakainya. Tapi kalau mereka ke sini? Aku menutup pintunya lagi dan berbalik mencari jendela yang mungkin bisa kubuka. Ada di ujung berlawanan pintu. Kira-kira ke mana jendela itu membawaku?


Waktu itu ulang tahun pernikahan kami yang ke dua. Aku membawa Paula ke Kafk. Sebuah restoran mewah yang baru saja buka. Kami penasaran, dan aku bangga karena sepertinya aku jarang menunjukkan gestur besar cinta seperti ini. Jarod kutitipkan pada adikku sebelumnya, jadi kami bebas. Tempat itu mengejutkan. Seperti di film-film, restoran fine dining dengan lighting keemasan. Semua orang datang dengan pakaian yang formal dan waiter-waiternya mengenakan tuxedo. Pengalaman yang baru bahkan untukku. Aku lupa aku memesan apa, tapi aku ingat Paula memesan salad, yang tidak dia habiskan. Saat itu aku pertama kali melihat bahwa Paula punya bayangan jam 5 sore, bayangan biru yang biasanya muncul di wajah laki-laki dewasa yang baru saja bercukur.


Aku mencoba membuka selot jendela toilet wanita itu. Jendela ini tidak pernah dipakai, karena selotnya seakan sudah menyatu dengan kusennya. Aku mengerang sambil mendorong putarannya ke kanan, dan jendela itu tersentak ke luar ke arah atas. Sebuah lorong remang-remang dengan banyak pipa-pipa di balik jendela. Ruangan perawatan? Mungkinkah ini menuju tempat lain? Sepertinya orang sebesar aku muat masuk kesini. Apakah aku harus lari sekarang? Aku tunggu sampai kalau ada suara-suara saja.


Paula tidak pernah kehilangan bayangan jam 5 sorenya. Aku awalnya berpikir bahwa itu hanya karena ilusi cahaya lampu restoran, tapi ternyata tidak. Kalau aku mencium pipinya, aku merasakan sedikit kekasaran, dan pisau cukurku lebih cepat tumpul dari biasanya. Sepertinya Paula memakainya. Aku tidak membahasnya ke Paula, walau rasanya aneh ketika mencium dia. Aku takut menyinggung perasaannya. Paula adalah wanita yang sensitif, dan hal ini bisa membuatnya tertekan. Mungkin. Aku tidak yakin. Kecuali kalau suatu hari rambut wajahnya terlihat melebat ... .


“Perhatian untuk penumpang pesawat Nippon Airways dengan nomor penerbangan NA 8419 tujuan Tokyo, Jepang. Penerbangan akan mengalami penundaan sampai dengan pukul 3 sore waktu lokal. Kami ulangi ...”

Apa?

“... perhatian untuk penumpang pesawat Nippon Airways dengan nomor penerbangan NA 84 ... 29 tujuan Tokyo, Jepang. Penerbangan akan mengalami penundaan sampai dengan pukul 2 sore waktu lokal. Terima kasih”

Tertunda 4 jam! Cukup waktu buat Paula dan kelompoknya menyusul aku kemari. Ini tidak bagus. Seharusnya aku membeli penerbangan baru, bukan penerbangan yang memang tadinya kami rencanakan untuk liburan keluarga. Paula akan tahu aku kemana. Bagaimana aku bisa begini bodoh?
Ruang sempit di balik toilet wanita ini sepertinya tempat yang baik untuk bersembunyi, jika aku ingin menunggu 4 jam. Aku melemparkan koperku yang tidak terlalu besar ke dalam jendela seukuran manusia itu, lalu menarik diriku ke atas sambil bergelantungan pada kusennya. Di film terlihat begitu mudah, aku terkejut betapa aktifitas sederhana membuat seluruh tangan dan bahuku sakit setengah mati. Aku berhasil menyelipkan seluruh tubuhku masuk ke jendela itu, walau agak tertahan di dada dan jatuh sembarangan ke celah tembok. Aku merasa sedikit lebih aman.


2 minggu setelah kencan kami, bahu Paula sedikit melebar. Jakunnya mulai tumbuh dan suaranya makin berat dari hari ke hari. Dia mulai terlihat aneh dengan baju-baju perempuannya, karena semuanya mulai melonggar di area dadanya. Rahang dia makin lama makin tegas, dan klitorisnya membengkak, sebuah detil yang aku sadari ketika berusaha berhubungan seks dengannya. Aku kebingungan dan akhirnya menanyakan pada dia, apakah dia merasakan ada yang aneh pada dirinya.

“Paula ... apakah kamu ... apakah kamu sakit? Atau punya kondisi turunan tertentu yang harus aku tahu?” tanyaku suatu malam di wastafel kamar mandi.

“Tidak. Kenapa?”

“Kamu sekarang punya jenggot, jakun, dan lebih tegap ... apa kamu mengkonsumi testosteron?”

“Kamu ini bicara apa sih? Aku kan dari dulu begini.”

Setelah itu dia langsung pergi tidur, tidak baca buku dulu. Paula begitu jika dia sedang dismisif dan tidak mau lagi ada pembahasan seperti itu.


Aku menutup jendela kamar mandi itu dari luar dan melihat ke kiri dan ke kanan. Gelap. Kalau aku bergerak ke kanan, kemungkinan aku akan kembali ke luar koridor tempat pintu kamar mandi berada. Aku tidak tahu pasti, hanya mengandalkan feeling dan interpretasi spatial yang tidak pernah kulatih juga. Aku akan bergerak ke kiri. Bisa jadi aku hanya ingin bergeser ke kiri tanpa sebab.
Aku berjalan menyamping sambil menggeret koperku di sebelah kanan. Sarang laba-laba menyambutku perlahan, menumpuk di wajahku seraya aku terus mendorong diriku ke samping. Udaranya makin terasa padat dan lembab. Tembok yang terkena kulitku makin terasa dingin. Aku tetap mendorong diriku ke kiri, dengan sebuah keyakinan bahwa ruang celah di antara ruangan ini tidak mungkin tidak diberi akses masuk keluar. Pasti aku akan menemukan pintu. Tolong, please ada pintu.

“Adam?” sebuah suara berasal dari kamar mandi yang baru saja aku tinggalkan. Mereka menemukanku. Aku tidak berani bergerak dulu, takut gerakan sekecil apapun akan menimbulkan suara yang bisa mengkhianati posisiku. Untuk beberapa saat aku hanya bisa mendengar jantungku berdetak di telingaku.


Hari-hari setelah konfrontasiku dengan Paula, aku makin merasa tidak nyaman. Paula semakin lama semakin dingin, dan semakin maskulin. Dia mulai sering memakai baju-bajuku karena tubuhnya semakin gagah dan bidang. Tapi tak seorangpun membahasnya. Teman-temanku tidak menanyakan apa yang terjadi dengan Paula. Bahkan Jarod putraku tidak bertanya apa-apa mengenai perubahan ibunya. Walau di mataku Paula berubah sedikit demi sedikit, tapi nampaknya bagi orang-orang lain, Paula di hari itu adalah Paula yang seharusnya.

Aku memutuskan untuk pergi. Aku tidak bisa membayangkan tinggal bersama wanita yang sekarang sudah menjadi laki-laki, dan hanya aku yang menyadarinya. Untuk beberapa hari aku berpindah-pindah hotel. Paula mengejarku, dan aku harus kabur dari dia dan rombongan pria (yang tadinya wanita) melalui pintu-pintu yang tidak lazim: saluran udara, tangga darurat, lompat jendela, ikut truk sampah, dan lain sebagainya. Baru tadi pagi aku ingat bahwa aku punya tiket ke Jepang untuk hari ini.

Aku tidak yakin kenapa Paula mengejarku. Apa dia mau membunuhku karena hanya aku yang menyadari perubahan dia (dan wanita-wanita lain)? Seharusnya aku tidak pernah menceritakan pada siapapun apa yang kupikir terjadi pada Paula.


“Jendela ini bisa dibuka, Paula!” diikuti suara jendela yang tadi aku buka dari toilet wanita. Sial. Bagaimana mereka bisa tahu?

“Adam pasti lari ke situ! Ayo semuanya kejar dia!”

Tidak ada waktu untuk merasakan apapun. Aku bergerak secepat mungkin ke kiri, melanjutkan perjalananku menuju pintu yang aku masih belum yakin ada di sana atau tidak. Aku tidak mendengar apa-apa lagi selain detak jantungku sendiri, nafasku yang tidak keruan, dan gemerisik baju dan koperku melawan tembok dan kelindanan pipa-pipa.

“Paula! Ada orang di sini! Kamu benar!”

“Kejar dia!”

Sialan! Mana pintu! Pintu.

Sebuah pintu merah muncul pada akhirnya di hadapanku. Aku mencari pegangan atau engselnya. Aku membenturkan lengan atas kiriku pada badan pintu itu kuat-kuat, karena tidak ada waktu lagi mencari pegangan atau engsel. Pintu itu terbuka dengan mudah, tidak terkunci ternyata. Lorong perawatan tadi langsung berhubungan dengan area ruang tunggu Gerbang 9, dan aku bisa merasakan tatapan orang-orang ke arahku. Dadaku sakit sekali akibat bergesekan dengan tembok. Aku cepat-cepat berdiri untuk kembali, tapi sulit. Aku tahu Paula dan teman-temannya menyusul di belakangku. Aku lemas. Aku harus sembunyi di mana sekarang. Gerbang 4 jauh dari sini.

Seorang pria mencoba menolongku, “kau tidak apa-apa, nona?”


Aku menepis tangannya dan berlari menembus orang-orang untuk lari entah ke mana lagi. Aku harus kabur dari Paula.