Rabu, 17 Februari 2016

[GAGANG PINTU] Ulir Ganda Biner

“Mas Dhani?”
“Betul, Pak. Silakan naik.”
“Terima kasih.”

Pengemudi Uber ini masih muda. Mungkin tidak terlalu jauh jarak usianya dengan anakku yang sulung. Aku cukup beruntung bisa segera mendapatkan kendaraan. Akhir-akhir ini layanan Uber sudah mulai susah didapatkan.

“Kebetulan tadi saya baru pulang mengantarkan anak ke sekolah. Lokasinya di dekat mobil bapak tadi mogok.” Pemuda itu meneruskan percakapan. Pembawaannya yang bersemangat membuat kepenatanku sedikit menguap.

“Iya. Saya tadi sudah khawatir bakal menunggu lama.”
“Ada masalah apa, Pak? Piranti lunak atau keras?” tanyanya, masih bersemangat.
“Sepertinya lunak. Saya sedang membaca berita pagi ini saat tiba-tiba sistem mengeluarkan peringatan dan meminggirkan mobil ke sisi jalan.”
“Ah, mobil-mobil baru. Ada saja masalahnya,” tambahnya sambil tersenyum lebar. Aku hanya bisa tersenyum kecut.

“Bapak tadi hendak menuju ke mana?” pemuda itu kembali membuka percakapan. Aku tidak keberatan. Walaupun sering kali aku lebih senang hanyut dalam lamunan.
“Rencananya saya akan ke perpustakaan pusat di balai kota,” jawabku.

Sekitar 15 menit kemudian mobil yang kutumpangi memasuki sebuah pelataran rumah di kawasan Gedebage. Aku memutuskan untuk menunggu di rumah anakku, sambil menunggu tim mekanik memperbaikinya.

“Di sini saja, Pak?”
“Ya, dik Dhani. Di sini saja cukup. Terima kasih.”
“Sama-sama, Pak!”

Pelataran rumah tampak lenggang. Nampaknya tidak ada siapa-siapa. Cucu-cucuku tentu sedang ada di sekolah. Menantuku juga pasti sudah berangkat ke kantor. Aku berharap anakku ada di rumah. Walaupun firmanya memiliki kantor sendiri, dia lebih sering bekerja di studio pribadinya di rumah. Kenapa aku tadi tidak menelepon terlebih dahulu.

“Halo, Yah. Ayah, sedang di rumah?” anakku langsung mengenali rumahnya di panggilan video.
“Iya. Ayah kira kamu tidak kemana-mana. Mobil Ayah mogok dekat dari sini. Jadi tadinya hendak menunggu di rumah kamu.”
“Langsung masuk saja, Yah. Nanti aku bukakan pintunya dari sini.”
“Oke. Terima kasih, nak.”
“No problem, Yah.”
“Kamu ini di mana?”
“Di Kertajati, Yah. Sebentar lagi akan boarding. Ada urusan kantor di Taipei.”
“Oke. Hati-hati di jalan.”

Aku berjalan ke arah pintu utama. Aku segera menyadari sesuatu yang janggal. Pintu ini tidak memiliki gagang pintu. Hanya sebuah plat logam di tempat gagang pintu seharusnya berada. Bukan sesuatu yang aneh memang. Aku pernah melihat pintu-pintu seperti ini di beberapa gedung perkantoran, rumah sakit, dan di balai kota. Juga di perpustakaan yang biasa kudatangi.

Aku menekan tombol kecil bertuliskan Sistem di sudut kiri plat logam tersebut. Antarmuka hologram pintu menyala dan menampilkan video anakku, istrinya, serta kedua cucu-cucuku.

“Selamat datang, Tuan Damar Parasatya. Maaf, data genom anda belum tercatat di basis data rumah. Harap daftarkan data genom anda terlebih dahulu untuk membuka pintu dan mengakses sistem operasi rumah ini.” ujar suara dari sistem operasi rumah anakku. “Silahkan login dengan akun Facebook anda terlebih dahulu untuk memasukkan informasi DNA. Atau Anda dapat menghubungi Tuan Rangga Parasatya untuk penambahan data oleh admin. Selamat pagi, semoga hari anda menyenangkan,” sambungnya lagi.

Tadi mobilku, sekarang pintu rumah anakku. Jangan-jangan hari ini kompor atau mesin cuci juga akan berulah dan membuatku kesal.

“Halo, Yah. Sudah di dalam rumah?” Pertanyaan retorik. Tentu dia bisa melihatku masih berdiri di beranda seperti orang tua ketinggalan zaman yang kebingungan tidak tahu cara membuka pintu.
“Pintu kamu minta gen Ayah.”
“Ah, maaf. Aku lupa, Yah. Aku baru mengganti pintu utama minggu lalu. Sistem yang baru mengharuskan tersedia data genom untuk mendapat akses ke sistem operasi rumah. Nanti Ayah tinggal menempelkan telapak tangan ke plat di pintu, maka sistem akan membukakan. Ayah sudah mengunggah informasi DNA Ayah ke Facebook?”
“Apakah itu tidak terlalu pribadi untuk disimpan daring?” Aku tidak terlalu yakin dengan permintaan dalam pertanyaan anakku barusan.
“Iya sih. Tapi semua pengguna Facebook juga melakukannya kok, Yah. Dan aku percaya datanya bakal tersimpan aman. Lagipula piranti sekarang rata-rata mulai membutuhkan autentikasi genom, Yah.”

Aku masih ragu. Apakah kenyamanan dan kecepatan seberharga itu hingga orang-orang rela menyerahkan data-data pribadi mereka? Bahkan informasi sepribadi DNA, esensi utama pembentuk sebuah individu, sebuah makhluk hidup.

“Yah, aku harus segera masuk ke dalam pesawat. Ayah sudah tahu cara mengunggah informasi DNA di gawai ayah?”
“Ya, Ayah sudah pernah melakukannya di tempat praktek dokter keluarga kita. Kamu berangkat saja.”
“Oke, Yah. Nanti aku telepon lagi sesampainya di Taipei. Assalamualaikum.”
“Wa’alaikumsalam.”

Matahari meninggi. Butir-butir keringat mulai mengalir di kening. Kerongkonganku kering. Aku masih terkunci di luar oleh kecurigaanku pada teknologi. Apakah aku yang bersikap terlalu waswas ataukah teknologi yang semakin intrusif?

Masa bodoh. Informasi DNA yang kuunggah ke sistem di kantor dokter tempo hari saat ini pasti sudah tersalin di server perusahaan-perusahaan farmasi. Lalu berpindah tangan lagi ke perusahaan-perusahaan lain yang segmen pasarnya adalah orang-orang dengan profil genomikku. Mungkin perusahaan makanan yang mengincar konsumen dengan saluran pencernaan yang intoleran terhadap laktosa. Atau perusahaan-perusahaan kosmetik yang ingin menawarkan produk tonik rambut untuk melawan kebotakan. Apa salahnya jika aku membagikannya dengan satu pihak lagi?

Kudorong pintu tanpa gagang pintu tersebut. Sistem langsung mengenali keberadaanku. Penyejuk udara menyala, pada temperatur yang sama dengan yang biasa kuatur di rumah. Pemutar musik melantunkan lagu-lagu dari masa muda beberapa dasawarsa lalu. “Under The Bridge” yang dibawakan ulang oleh All Saints. Pilihan yang cukup bagus.

“Selamat datang, Tuan Damar Parasatya. Anda memiliki dua email di inbox. Anda memiliki satu pesan dari penerbit di Whatsapp anda. Informasi GPS menunjukkan kendaraan anda saat ini berada di bengkel Tesla Bandung Selatan. Perkiraan penyelesaian pemutakhiran piranti lunak dan penyesuaian perangkat keras, pukul 3 sore.”  Masih beberapa jam lagi aku harus menunggu di sini.

“Sistem, tolong buatkan satu teko Chai Masala dingin di dapur.”
“Dengan susu bebas laktosa?”
“Ya. Tambahkan sedikit taburan kayu manis. Dan tolong siapkan daftar putar film-film David Fincher di Netflix.”
“Tentu, Tuan Damar Parasatya.”

Ya, terkadang ada hal-hal yang sepadan dengan pengorbanannya.

Selasa, 16 Februari 2016

[GAGANG PINTU] Kucing dan tikus

“Man, kalau sudah makannya, cepet ganti baju, Kamu tidak akan pergi ngaji ??, lihat tuh sudah jam satu... .”

“ .... .”

“MAANN !!!, kalau Mamah sedang ngajak ngomong itu dijawab !!!”, Mamah sewot, tangannya tengah asyik memasang puluhan paku kecil di kerudung.

“Hakit ghighi Maaahhh ... “, jawab ku sambil menarik bibirku memperlihatkan gigi taring sebelah kanan atas yang sudah sejak tiga hari yang lalu goyang, gusinya mulai bengkak tidak enak rasanya.

Setiap hari sepulang sekolah dari senin sampai sabtu aku harus berangkat sekolah agama, ke Madrasah Ibtidaiyah Al-Ikhlas yang terletak di desa sebelah, masuk setengah dua siang pulang pulang jam tiga sore. Pulang pergi jalan kaki melewati rumah-rumah dan pesawahan, tiga puluh menit perjalanan. Entah berapa kilometer jauhnya, tidak pernah sempat ngitung, sepulang ngaji Aku selalu bergegas pulang karena pukul empat sore Aku harus nonton serial favoritku, Robo rider , jangan sampai kelewat.

“Hmmh ,, Ya udah ,, Mamah mau ngaji, pengajian rutin ibu-ibu hari kamis di mesjid, nanti setegah tiga Bapak pulang, kamu hati-hati jaga rumah,” tambahnya sambil memakai sandal selop kulit coklat kesukaannya. Aku diam saja sambil menghayati rasa sakit.

“Mamah pergi dulu,, Assalamu’alaikum.” Mamah menutup pintu, kerudung hitamnya berkibar-kibar.

"Wa'alaikumsalam." Jawabku dalam hati.

“YESSS !!!!.”

Ingin rasanya aku meloncat lalu joged-joged, bisa bolos ngaji itu kesempatan langka, tapi apa daya, gigiku masih sakit, akhirnya hanya bisa duduk lemas depan TV sambil menghabiskan makan siangku tempe bacem yang belum habis, enek. Apa gunanya tidak masuk ngaji kalau harus memelihara sakit ini.

* * * *

TOK .. TOK .. TOK ..

Seseorang mengetuk pintu rumah, lebih tepatnya menggedor. Gigiku ikut bergetar, ngilu.

“Assalamu’alaikuummm,,.” Suara tak asing terdengar dari balik pintu.

“Wa’alaikumsalaaammm,, masuk aja pintunya tidak dikunci !!,” malas rasanya membuka pintu.

“Imaaannn ... ,” Si Dwi tersenyum, Aku berusaha tidak menatap wajahnya lama-lama, masih ngeri rasanya.

“Lihat Aku bawa sesuatu buat Kamu... ,” sebuah kresek ukuran sedang Dwi simpan diatas meja, Dia mulai mengeluarkan isinya, susu kotak, apel hijau, roti keju, dan lima buah permen kaki, sepertinya Dia ngerampok rumah neneknya, makanan seperti itu tidak mungkin ada di rumahnya, mustahil ada.

“Mau yang mana dulu ?? Aku bukain, “ Dwi tersenyum lagi, urghh.

“Emm,, yang itu,” jawabku malas sambil menjentikkan jari telunjuk kearah susu kotak bak seorang raja. Dwi segera pergi ke dapur dengan berlari-lari kecil.

Akhir-akhir ini Dwi suka sok baik kalau sedang tidak ada siapa-siap, tapi tetap saja kasar kalau sedang ada teman-teman yang lain, bikin bingung, entah apa maunya, dasar cewek.

“Ini nh buat kamu,” segelas penuh susu disuguhkan untukku.

“Sluuurrpp... ,” segera ku habiskan sebelum Si Dwi hilang baiknya. Tak sengaja ujung gelas menyenggol gigiku yang sakit, uurghh.

“Udah mendingan sakit giginya ?, udah minum obat ?, kenapa ga ke PUSKESMAS sih ?,” Dwi memberikan pertanyaan bertubi-tubi tanpa memberikan kesempatan untuk Aku menjawab, bikin kesel,  gigiku makin sakit rasanya, Aku cemberut. “Siapa tau kalau sudah berobat sakitnya bisa hilang..., entar kita bisa main..., Tau gak kemaren sore Aku dapat lagi satu toples kelereng..., harusnya kamu ikutan..., makanya cepet sembuh dong,“ Dwi nyerocos.

“Aku juga kepengen cepat sembuh tapi PUSKEMAS jauh, kalau saja Aku bisa, udah aku cabut sendiri gi... .”

Aku terdiam.

“... Kenapa Man ?.”

“... .”

Entah Iblis atau malaikat yang berbisik di pikiranku, tiba-tiba saja ide itu muncul. Aku berlari menuju teras belakang tempat mesin jahit Mamah berada, sambil menahan sakit. Aku obrak-abrik keranjang benang Mamah, berbagai macam warna isinya, dan akhirnya Aku pilih benang yang helainya paling tebal, warna hitam.

Aku segera ke ruang tengah, Dwi memandangiku keheranan.

“Kamu kenapa sih, Man ??“, Dwi bertanya tak kuhiraukan.

Aku berlari menuju kamar utama, Aku gunting beberapa helai benang, Aku tumpuk dan disatukan menjadi helai benang yang lebih tebal, lebih mirip seutas tali. Di depan cermin perlahan Aku ikat gigi taringku dengan salah satu ujung benang, sakit rasanya tapi Aku tahan, mataku berkaca-kaca. Setelah itu Aku hampiri Dwi, benang menjuntai di mulutku.

“Ikuti Aku,“ jawabku singkat, Dwi bergegas. Kami berdua menuju ruang tamu. Aku ikatkan sisi lain benang ke gagang pintu, erat.

“Kamu mau ngapain sih?,” Dwi masih penasaran.

“Kamu tau Tom ??, Tom and Jerry??”, Dwi mengangguk. “Aku pernah lihat Tom mencabut gigi dengan cara seperti ini.”

“Kalau Aku bilang dorong, maka Kamu harus mendorong pintu ini sekeras-kerasnya!!”, tambahku.

“Emang bakal berhasil?”, Dwi heran.

“... ,” Aku terdiam sebenarnya tidak yakin yang Aku lihat itu Si Tom atau bukan.

Tapi Aku sudah bosan dengan sakit ini, makan apapun jadi tidak enak, susah tidur, suara keras membuatnya makin terasa sakit. Semua serba salah, banyak gerak terasa sakit, diam pun tetap saja sakit, uurghh, CUKUP !!!. Aku harus melakukannya sekarang, mungkin ini satu-satunya cara agar sembuh, menunggu mamah atau Bapa membawaku PUSKESMAS bukan pilihan tepat, entah kapan. Aku harus melakukannya sekarang, nekad.

Waktu seakan lambat berjalan, Aku bisa merasakan detik jarum jam berputar. Seekor lalat terbang memutar dan hinggap di kursi. Debu-debu bertebaran. Aku menahan nafas, gusiku berdeyut seirama dengan detak jantung, DUGG-DUGG,,, DUGG-DUGG,,, DUGG-DUGG,,, . Aku memandang tajam kearah Dwi, Aku mengangguk perlahan. Dwi pun mengangguk pelan.


“DORONG !!!!.





Bandung, 16 Februari 2016

[WARUNG] KIRANA (Part 3)

Tidak ada yang tau kalau di atas gedung kampus ada sudut tersembunyi di balik tower penampungan air. Setidaknya mahasiswa sini sih. Ini jadi pojokan pribadi aku kalo mau sendiri. Capek setelah mendengarkan dosen yang mengoceh tentang analisa pasar.

Angin bergemuruh bergemuruh kencang dan menulikan suara-suara bising orang-orang yang bergosip, membahas mata kuliah, atau bahkan pikiran mesum yang kadang terlalu lantang hingga aku bisa mendengarnya. Aku duduk bersila sambil terpejam berusaha menikmati alunan angin, aku bisa seharian seperti ini. 

Suara derak pintu akses mengejutkanku ketika aku sedang berada di tahap trans, atau mungkin juga setengah tertidur, entahlah, yang pasti aku terkejut mengetahui bahwa sebenarnya tempat ini tidak rahasia-rahasia amat.

Aku mendengar dengan seksama, menunggu suara-suara lain. Siapa tahu itu hanya Pak Mamat, tukang bersih-bersih yang sering kali mengabaikanku dan membiarkanku sendirian disini. Lalu setelah aku pergi, dia akan membersihkan puntung rokok yang aku buang sembarangan. Sedikit aku menjulurkan kepala untuk mengintip ketika ada satu pasang mata lagi yang ikut mengintip di hadapanku. 

"ANJING!" aku memaki keras karena jantungku jatuh ke dasar lantai. Kudengar dia juga memaki sama sepertiku.

"Lo ngapain di sini?" dia bertanya, padahal harusnya aku yang bertanya begitu. Setidaknya aku yang lebih sering kesini kan? 

"Lah emang Lo ngapain ke sini?" 

"Ngeroko." Aku berkerut mendengar jawabannya. Tapi ada benarnya sih, di dalam gedung kampus di larang merokok. Tapi, normalnya orang pergi ke kantin untuk merokok dan mengobrol bersama teman-temannya bukan malah pergi ke tempat terpencil seperti ini. Eh tapi, itu yang aku lakukan ya?

Aku masih tidak terima bahwa tempat yang aku kira hanya milikku diketahui orang lain juga, dan mengapa aku tidak pernah bertemu dengan orang ini sebelumnya? Meski wajahnya tidak asing, sih. Mungkin aku pernah bertemu dengannya di kelas.

Aku memperhatikan dia yang rikuh dan masih dalam posisi merunduk. Aku membetulkan posisi dudukku. "Duduk aja. Tapi jangan berisik. Gw jorokin ke bawah kalo berisik."

Lalu lelaki itu duduk, Menyalakan rokoknya lalu menikmati nikotin yang dia sesap. Wajahku sepertinya memerah ketika dia mendapatiku memperhatikan aku memperhatikannya. 

Sial, runtukku dalam hati ketika sulit menyulut rokokku sendiri. Ah ayolaaah.. aku mengguncang korekku dan menutupinya dengan tangan kiriku agar apinya tak terhembus angin. Lalu lelaki itu menyodorkan rokoknya yang tersulut.

Tanpa mengucap terima kasih aku mengambilnya dan menyulut rokokku sendiri.

"Dari mana Lo tau tempat ini?" aku bertanya.

Hening.

Dia tidak menjawabku sama sekali, tapi aku tahu dia mendengarku karena kepalanya berpaling.

"Eh kok ga jawab sih?"

Tanpa menoleh, dia hanya menjawab, "Gue belom mau dijorokin dari sini. Jadi mending gw diem."

Anjing! Dia membalikan omongan aku barusan.

"Lo sendiri kenapa bisa tau tempat ini?" tanyanya.

"Terus kenapa sekarang lo nanya? Kan katanya takut dijorokin." 

"Karena setelah tadi gw jawab,  lo masih belom jorokin gw. Jadi gw tau lo gal bakalan jorokin gw."

Aku menyerah dan hanya mengangkat bahuku. Aku mengeluarkan botol minumku dan menyesap sedikit. "Mau?" tawarku. Dia mengambil dan menyesapnya juga, sebelum melotot dan mengembalikan botol itu kepadaku.

"Bir? Lo sinting?"

"Lah memang gw anak SD?  Ke sekolah bekel es teh?"

Hening kembali lantang, lalu dia membuka pembicaraan. "Lo pernah merasa kalau lo gak ada?"

"Sering kali." aku menjawab tanpa berfikir. Karena memang itulah yang setiap hari aku rasakan. Tidak berguna.

"Gw heran, kenapa gw ga pernah bisa ngajak ngobrol cewe yang gw sukain, padahal umur gw udah segini."

"Eh?" lalu aku terbahak. Masih ada ya lelaki lugu seperti itu? 

"Ini serius, anjir." katanya sambil berpura-pura marah.

"Oke, anggap cewe itu kayak warung, dan lo kehausan. Ketika lo mau minum, kalo lo cuma berdiri di depan warung itu, lo bakalan dapet minum?"

Dia menggeleng. "Nah itu dia. Kalau memang lo pengen sesuatu, ya lo musti berani ngomong. Terserah hasilnya kalo warung itu jual minuman atau enggak, yang pasti lo harus ngomong supaya dia tau lo maunya apa."

"Iya sih. Gw tau, tapi rasanya gw gak berani aja."

"Anggap gw cewe yang lo suka, lo mau ngomong apa?" aku menggeser posisi dudukku menjadi ke hadapannya.

Dia kembali salah tinggah, dan semburat pembuluh darah memrah di balik pipinya. "Er, Hi, Gw Rico. bisa kenalan?"

"Ya ampuuuun. Lo ini bukan sales kartu kredit. Mending lo bilang kalo kalian satu kelas atau kalian pernah ketemu di mana gitu. biar dia tau kalo lo emang bukan orang aneh yang tiba-tiba nyamperin dia."

"Hmm gitu ya?" 

"Pokoknya lo perlu latihan lagi. Kalo gw cewe itu, gw pasti udah langsung pergi." Aku mematikan rokokku dan beranjak pergi.

"Latihan lagi ya anak muda?" aku tepuk bahunya dan berlalu meninggalkannya.

Siapa nama dia tadi? Rico? Sepertinya aku pernah melihatnya, tapi aku lupa. Mungkin kami pernah satu kelas. Tapi entahlah.


***

Ini hari pertama aku berbicara dengan Kirana, eh tidak. Kedua jika kalian hitung pada saat hujan. Tanpa aku kira aku bisa lancar berbicara dengannya. 

Mungkin aku harus lebih sering mengunjungi atap gedung kampusku. Siapa tahu Kirana ada di sana lagi.

Senin, 15 Februari 2016

[WARUNG] Sudut Kota



Sudut Kota


Teriknya sinar matahari mulai membakar kulit gadis bertubuh mungil yang berdiri lemah di depan sebuah toko di pasar. Barang-barang belanjaan miliknya tergeletak di samping kakinya, sementara ia sibuk mengipas-ngipaskan sebuah potongan kardus ke badannya. Setelah setengah jam ia menunggu akhirnya yang ditunggu pun datang.
“Maaf menunggu lama Seruni, kamu kepanasan ya? Ini ibu belikan minuman buat kamu”, Kata si Ibu sambil menyodorkan minuman botol.
“Terima kasih bu”, ujar Seruni dengan senang hati mengambil minuman dari tangan ibunya.
Wanita yang dipanggil ibu ini sebenarnya bukan ibu kandung Seruni. Wanita berumur sekitar awal 50-an ini adalah ibu angkatnya. Sejak kedatangan Seruni ke kota ini, ia tidak punya sanak-saudara. Teman dari kampung ada tapi belum pernah bertemu. Sampai pada suatu hari ia mengalami musibah yang masih melekat diingatannya.

***

“Kamu tidak apa-apa? Kepala kamu terbentur keras sekali”, tanya seorang laki-laki yang baru saja membantunya bangkit berdiri.
“Ti..tidak apa-apa koh, saya baik-baik saja, terima kasih sudah menolong saya”, ujar Seruni sambil memegangi kepalanya yang berdenyut.
Pertama kali sampai di kota, Seruni hanya punya nomor telepon salah satu teman sekampungnya yang mengajaknya untuk merantau ke kota. Temannya yang bernama Weni, mengajak dengan mengiming-imingkan kesenangan dan uang yang bisa didapat di kota besar dari pada di kampungnya yang udik itu. Karena keinginan Seruni untuk mengenyam bangku kuliah dan untuk menghindari tawaran serta paksaan menikah dari orang tua serta saudaranya, ia pun memutuskan untuk merantau. Tidak banyak yang ia bawa, hanya pakaian dan sedikit uang. Namun ketika sampai di kota dan baru saja sampai di sebuah halte, tas nya malah dijambret dan ia pun terbanting telentang sebelum seseorang pemuda bermata kecil itu datang menolongnya.
                Semenjak kejadian itu, Seruni belum berhasil menghubungi Weni. Tas dan dompetnya raib. Hp butut pemberian ayahnya serta nomor yang bisa ia hubungi pun tidak ada lagi. Beruntung ia berjumpa pemuda berwajah oriental itu. Pemuda itu menawarkan Seruni untuk tinggal bersama ia dan ibunya. Seruni kemudian mengetahui jika ibunya itu adalah janda dari seorang lelaki tionghoa. Hidup berdua dengan anak laki-laki satu-satunya yang bekerja di salah satu gedung perkantoran di kota itu. Keseharian ibunya adalah berjualan seorang diri ketika si pemuda itu bekerja. Seruni pun setuju untuk tinggal dan membantu, karena pada saat itu tidak banyak yang bisa ia lakukan kecuali menunggu untuk berjumpa dengan Weni. Sejak ia tinggal bersama mereka, Seruni sudah dianggap seperti keluarga. Seruni pun bekerja membantu ibu angkatnya yang baik hati itu di warung. Bukan warung yang besar, hanya satu kios kecil di salah satu sudut kota yang menjual aneka sembako dan kue-kue kecil. Namun begitupun Seruni bersyukur. Kalau tidak berjumpa dengan Kakak angkatnya itu mungkin dia sudah luntang-lantung dan menjadi gembel. Keluarga di kampung sudah diberitahu tentang keadaan Seruni. Namun saat ini ia masih terus berharap jika suatu saat bertemu dengan Weni yang sebenarnya sudah berhasil dihubungi namun tidak kunjung datang menemuinya.

***         

Hari semakin siang, Seruni dan ibu angkatnya turun dari angkutan kota. Warung mereka di pinggir jalan itu belum buka. Tapi sudah ada seseorang yang menunggu di depannya
“Jalanan macet sekali ya? Hari libur ini aku mau bantu kalian jualan”, ujar kakak angkatnya sambil tersenyum.
Seruni tidak tahu apa yang ia rasakan, salah atau tidak. Tapi pemuda ini yang sudah mengisi hari-harinya di kota ini. Pemuda yang sangat menyayangi ibunya. Pemuda yang berbakti dan bercita-cita membahagiakan ibu yang sudah berjuang membesarkan anaknya seorang diri. Pemuda yang sudah baik sekali dengan Seruni. Kakaknya yang satu ini memang selalu menguasai pikirannya. Bahkan Seruni pun seringkali tidak bisa mengontrol ekpresi dan gerak-geriknya ketika berhadapan dengan kakak angkatnya ini.
                “Oh, ada apa dengan pikiranku! Aku tidak pantas berpikiran begitu. Aku sudah dianggap sebagai keluarga!”, jerit Seruni dalam hati berusaha melepaskan pikiran dan perasaan yang sedang tumbuh di dalam dirinya. Seruni berharap kalau suatu saat dia bertemu jodohnya, dia mau yang seperti kakaknya ini, tapi itu nanti-nanti saja. Seperti tujuan awalnya, datang ke kota untuk mencari uang dan kalau ada rezeki ia ingin sekolah lagi. Dia sadar betul kalau perjalanannya di kota ini masih panjang. Jadi lebih baik jangan banyak bertingkah dan berjuang saja.

[WARUNG] Depan Sekolah

“Riri!” panggil seorang anak perempuan yang duduk di bangku sebelah ku sejak kelas 3 sampai kelas 5 SD, Mila. Tergopoh-gopoh ia lari ke arah ku dari kantin dilorong sekolah yang berada dibelakang ku saat ini. Anak itu ukuran badannya lebih gede dua kali badan ku. Ia hanya mengenakan jepitan berwarna merah muda pada bagian poni di rambutnya yang sepundak dan berwarna sedikit merah kering karena terbakar matahari itu. Kulitnya pun sedikit lebih gelap dari kulit ku yang jarang sekali bermain diluar rumah.

“Ntar siang, lu bakalan maen ke rumahnya si Wendy gak?” ucapnya sambil berusaha membuka bungkus chiki yang isinya bulat-bulat rasa keju, snack yang paling males aku makan karena remah-remah dan bumbunya sering bikin jari lengket itu. “Dia mau rujak-an katanya, hmm... si Wika dan Siti juga ikutan”, krius krius... lanjut dia sambil menyebutkan beberapa nama teman sekelas ku yang lain dan mulai memakan chiki itu. Terlihat sedikit bumbu kering yang belum tercampur liur berhamburan keluar terlempar udara dari dalam mulutnya. Aku bergerak agak mundur, pura-pura berfikir. Supaya dia ngga terlalu nyadar kalo sebenarnya aku sedang menghindar dari semburan itu.

“hmh... Gua ga bisa deh kayaknya, Bokap nyuruh gua balik cepet hari ini soalnya...” jawab ku sembari menarik bibir bawah ku ke atas.
“Yaah... elu maah, pulang cepet mulu siiih... Ya udah, ntar gua ajak yang laen aja deh, mayan nambahin duit patungan buat beli cabe”, balas Mila sambil tetap makan chiki cepat-cepat dan berjalan disebelah ku, masuk ke ruang kelas 5A. Jam istirahat baru saja selesai.

“Sori ya, Mil hehe”, cengir aku yang aku jalan ke jalur kiri meja barisan ke dua dari pintu, sedang Mila ke sebelah kanannya.

Minggu, 14 Februari 2016

[GAGANG PINTU] Burung Kecil



Bau basah menghentak  Dami terbangun, dia menarik nafas dalam dan mengerjap-ngerjapkan matanya terbuka. Dinginnya lantai menusuk bagian depan tubuhnya, dan ketika dia berusaha membangkitkan dirinya, otot-ototnya protes. Setelah berhasil bersimpuh, dia melihat sekelilingnya. Perlahan pandangannya terfokus. Satu-satunya lampu bohlam di atas ruangan ini berkedip-kedip untuk akhirnya menyala dengan konsisten. Masih terlalu redup, tapi cukup untuk Dami melihat tekstur dan warna temboknya yang biru keabuan.

Ini gudangku. Tapi kenapa kosong? Kabut tipis menggantung, dan nafasnya mengeluarkan uap putih.

Walau punggung, tangan, dan kakinya sakit, Dami berhasil berdiri tegak. Kepalanya berputar. Aku pingsan? Berapa lama?  Terhuyung-huyung dia mendekati satu-satunya pintu di tengah sisi tembok di hadapannya, meraba-raba letak gagang pintunya. Tidak ada gagang pintunya. Dia mundur beberapa langkah untuk berkonsentrasi melihat ke keseluruhan pintu coklat, berpikir mungkin letak gagangnya bukan di tempat biasanya gagang berada. Dia jarang masuk ke gudang ini, jadi mungkin dia lupa dimana gagang pintunya berada.

Dia sekali lagi berputar, sambil melihat ke atas dan ke bawah, ke kiri dan ke kanan. Kepalanya masih berputar, dan pandangannya berbayang jika dia bergerak terlalu cepat. Ketika dia kembali menghadap pintu, daun pintunya sudah hilang. Lorong rumahnya tampil di balik pintu itu. Ruangan berwarna persik dengan pencahayaan keemasan. Eva yang memilih warna ini. Dami tidak terlalu suka, karena warnanya terlalu jinak. Terlalu ‘dewasa’. Terlalu membosankan. Tidak ‘spontan’.

“Eva?” dia berusaha berteriak, tapi ternyata dia serak. Kenapa aku bangun di sini? Apa Alex dan yang lain mengantarku ke sini? Terlepas dari cahaya hangat lorong rumahnya, dia masih merasa kedinginan. Ada lagu kesukaannya terdengar samar samar: Lalalalala … .



“Eva?” kali ini suaranya lebih jelas. Dia mencium wangi sup kacang merah. Pinggang bagian belakangnya menusuk setiap dia berusaha melangkah. Dami berusaha menopang tubuhnya dengan berpegangan ke tembok, yang dipenuhi dengan gambar-gambar krayon Sandra, putrinya. Dinginnya tembok membuat Dami terkejut sedikit, untuk kemudian kembali menyentuhnya kembali dengan ujung-ujung jarinya. Dia mendengar kegaduhan biasa Eva memasak, tapi Eva tidak menjawab panggilannya. Mungkin Eva tak mendengarnya. Dia akan menghampiri Eva di dapur dan bertanya apa yang terjadi.

Dami menuruni tangga di tengah lorong, diantara kamar Sandra dan adik bayinya, si kecil Bob. Lutut-lututnya perih setiap kali dia menuruni anak-anak tangga. Dia melihat foto-foto yang dipajang di dinding samping tangga. Foto-foto keluarganya. Dia tidak bisa melihat foto-foto di situ dengan baik. Sebagian karena sakit di seluruh tubuhnya, sebagian lagi karena perasaan berputar di kepalanya yang datang dan pergi.

“Halo, Alex?” suara Eva terdengar dari dapur. Alex? Apa urusan Eva dengan Alex?

“Eva?” kali ini Dami sedikit berteriak.

“Alex? Di mana kalian?” Eva tidak menjawab panggilannya, “belum. Sudah sejam yang lalu? Apa ada yang mengantarnya?” Suara Alex tidak terdengar, Eva hanya meneleponnya. Dami mendekat ke pintu dapur, mencoba membukanya, untuk menemukan bahwa gagangnya lenyap lagi. Dami memukul bagian pintu yang seharusnya bergagang, lalu menggedor-gedor bagian lain dari pintu itu.

“Eva!”

“Iya, aku tidak bisa menelepon dia … dari jam sepuluh?”

“EVA!”

Pintu dapur terbuka lebar. Eva tidak ada di sana. Dapurnya juga tidak ada di sana. Dami kembali berdiri di lorong atas, ditemani bunyi detak jam yang semakin lama semakin keras. Jam dinding di ujung lorong menunjukkan angka sepuluh. Lengan detiknya berusaha maju, tapi hanya berdetak di tempat. Tik tok tik tok tik tok. “Eva!!” dia berteriak lagi. Kali ini suaranya terlalu nyaring sehingga gambar-gambar krayon di dinding koridor berjatuhan ke lantai.

“Mama, papa belum pulang?” suara Sandra terdengar dari kamarnya. Dami melawan sakit di sendi-sendinya untuk berlari ke kamar Sandra dan Bob. Di sudut matanya dia melihat gambar-gambar Sandra di lantai bergetar-getar dalam kertas masing-masing.

“Sandra! Papa di sini. Papa sudah pulang!” teriak Dami sambil mendekati pintu kamar Sandra. Suara jam dinding bertambah kencang. Jarumnya tetap diam di angka sepuluh, berusaha berontak maju.

“Mama, papa belum pulang?”

“…dari jam sepuluh?”

“Halo, Alex?”

Lalalalali … Burung kecil … .

“…sudah sejam yang lalu?”

“Mama, papa belum pulang?”

Pintu kamar Sandra tidak punya gagang pintu lagi. Dami berusaha menggedornya sambil memanggil nama putrinya.

“Mama, papa belum pu…”

Pintu kamar Sandra terbuka dan Dami menemukan dirinya di pelataran parkir Bar 56. Daerah itu agak terlalu remang-remang. Hanya ada lampu kuning, merah dan biru di beberapa titik di horizon. Dami merasakan kelegaan setelah di dalam bar tadi dia harus berjibaku dengan asap rokok. Dia malas sekali pulang. Ini malam Sabtu, hak dia untuk berlama-lama minum dengan teman-temannya. Tapi Eva memaksa dia untuk ada di rumah jam sepuluh nanti. Dia berjanji membuatkan sup kacang merah jika sekali saja Dami tidak pulang terlalu malam.

Dia membuka telepon genggamnya. 9:30 PM. Masih terlalu pagi. Eva. Aku sayang kamu dan anak-anak kita. Tapi aku tidak bisa menyangkal bahwa kalian membuat hidupku membosankan. Warna-warni lampu di horizon mengalun dalam pola angka delapan. Dami bersenandung sesuai lagu yang sedang diputar di dalam bar, dia tersenyum ketika liriknya sampai di bagian yang dia sukai: Lalalalala… lalalala lii… burung kecil hinggap di atas Henry Lee… .

“Hey, Dam. Kamu mabuk. Yakin tidak mau tunggu sebentar lagi?” Alex menggenggam tangan Dami ketika Dami mulai melangkah ke mobilnya, “Aku panggilkan Uber, ya. Tinggalkan dulu mobilmu di sini. Aku pastikan nanti mereka akan menjaganya.”

“Tidak usah. Belum semabuk itu.”

“Tunggu, aku ambil jaketku dulu. Biar aku yang antar. Kamu diam di situ!” Alex berlari masuk ke dalam bar.  Dami ingat bahwa dia sebal dengan Alex malam itu. Sikapnya yang sok perhatian pada teman. Aku bisa menghandle keluargaku kok Alex. Lihat saja nanti aku tunjukkan kalau mereka tidak menghentikan kemampuan aku untuk bersenang-senang…

Dami ingat dia dengan kesal berlari ke mobilnya. Dami ingat dia dengan kesal membuka pintu mobilnya, dan menutupnya. Dami ingat dia menyalakan mesinnya…

Tapi dia tidak ingat apa-apa lagi.

Dia tidak ingat siapa yang berkata “papa belum pulang”. Dia tidak ingat siapa yang bilang “dari jam sepuluh.” Dia tidak ingat lagi lorong-lorong bercahaya keemasan dan bau sop kacang merah.

Lalalalala … Lalalalali … Burung kecil hinggap di atas Henry Lee… .