Kamis, 31 Maret 2016

[MIMPI SADAR] Tenggelam

Pelabuhan sudah sepi saat aku tiba. Aku berlari ke arah dermaga. Di sana kau berdiri, di dalam kabut malam, di samping tangga menuju kapal yang akan membawamu pergi. Pakaianmu berkibar tertiup angin. Butir-butir air mulai berjatuhan. Kau membuka payung, mencoba berlindung dari gerimis.

“Maya!” Aku berteriak memanggil namamu. Kau menoleh.
Kau tersenyum saat membalas panggilanku. “Danan…,” ujarmu pelan.

Aku kini berdiri tepat di depanmu. Kuraih dan kugenggam tangan-tangan halus itu.

“Maya, jangan pergi.”
“Danan,…”
“Maafkan aku, Maya. Maafkan aku yang begitu bodoh selama ini, tak menyadari bahwa kamulah yang paling berharga dalam hidupku.”
“Sayangku, Danan. Apakah kamu yakin, aku yang kamu inginkan?”
“Ya, Maya. Tentu!” Aku setengah memekik, berusaha agar suaraku tak tertelan tiupan angin laut dan deru mesin kapal.

Dapat kurasakan bulir-bulir air mata menetes. Mengingat satu-satunya hal terbaik dalam hidupku yang tak berarti ini adalah dirimu.  Mengingat bahwa aku sempat berpikir untuk melepaskanmu. Kau adalah bagian terbesar jiwa ini, Maya.

“Tapi kamu akan meninggalkan semua yang kamu miliki. Aku tak mau merenggut semua itu darimu, Danan,” kau meremas tanganku, seolah tak ingin pernah kulepas lagi.
“Semua yang kumiliki saat ini tiada artinya. Aku mengerti itu sekarang. Hidupku, duniaku, semuanya. Tiada artinya tanpamu, May.”

Aku berlutut di depanmu. Kukeluarkan sebuah kotak kecil dari balik jaket. Kau tutup wajahmu dengan tangan. Air matamu mulai menetes. Lalu kuucapkan kalimat yang seharusnya kuucapkan bertahun-tahun lalu.

“Maya, aku tak ingin menghabiskan hari-hari tanpa dirimu di dalamnya. Saat aku tua nanti, aku hanya ingin kamu yang menemaniku. Maya, jadikanlah aku suamimu.”

Kabut malam semakin tebal. Udara tiba-tiba menjadi begitu dingin. Aku merasakan tanganmu perlahan terlepas. Sosokmu menghilang di balik kabut. Lampu-lampu dermaga satu-persatu mati.

“Maya!” aku berteriak-teriak dalam kegelapan. “Maya! Jangan pergi!”

Aku bersimpuh di pelataran yang mulai basah oleh gerimis. Kegelapan dan dingin menyelimuti. Aku tak dapat melihatmu, aku tak mendengar suaramu, aku tiada lagi mencium aroma tubuhmu.

“Maya!” Aku berteriak berkali-kali hingga kerongkonganku pedih. Nafasku sesak. Lalu semua kelam.

§


“AAAAH!” Aku terbangun tiba-tiba, terduduk. Selang infus di tangan sampai tercabut dari jarumnya. Udara ruangan ini begitu dingin tetapi tak menghalangi peluh membasahi sekujur tubuhku.
“Hey, bung! Apa yang kau lakukan? Kenapa kau mencoba mengubah alur? Kau bisa gila!” seorang pria menghardik sembari melepas alat di kepalaku.

Aku berusaha mengatur nafas. Jantungku masih berdebar. Aku melihat sekeliling. Ini bukan dermaga. Sebuah ruangan gelap yang penuh sesak oleh monitor digital. Peralatan medis bekas tergeletak di mana-mana.

Maya... hatiku begitu perih.

“Nyalakan lagi! Aku belum selesai!” Aku membentak.
“Bung, prosedur pembangkitan memori ini tidak boleh dilakukan lebih dari satu kali per 48 jam. Kau juga sudah tahu itu,” ia terus membereskan peralatannya. “Kurasa kau terlalu sering mengunjungi masa lalu, otakmu jadi tidak beres.”

Tidak. Aku harus kembali. Ingatan itu semakin memudar. Aku dapat merasakannya. Aku harus memutar baliknya sekarang juga.

“Nyalakan lagi kataku!” Aku mencoba merebut alat itu dari genggamannya.
“Tidak! Kau masih berhutang untuk lima sesi terakhir! Bayar dulu baru kau bisa mengunjungi pelacurmu itu lagi.”

Aku terbelalak. Aku dapat melihat senyum mengejek di wajahnya. Bajingan itu meretas otakku. Membongkar isi kepalaku. Membajak kenanganku.

Aku mengambil pena di atas meja. Serta merta kutancapkan di tengkuknya. Ia roboh seketika.

Kutarik alat itu dari tangannya yang menggelepar dan kupasang kembali di kepala. Kutanamkan infus. Sekaligus kumasukkan lima buah ampul ke dalam alat pengatur pelepasan. Tak kuhiraukan dering peringatan. Tak kuhiraukan pria itu meregang nyawa di lantai. Aku merebahkan diri di dipan dan kutekan saklar.

Maya. Tunggu aku. Kali ini aku tak akan melepaskanmu.

Rabu, 30 Maret 2016

[API] Siulan Pemanggil Gina

“Di suatu masa, ketika Bumi sudah berusia lebih tua dari umurnya yang sekarang… Ada sebuah kisah tentang seorang gadis bernama Gina…”

“Apa itu artinya di masa depan, nek?” Tanya seorang bocah yang tengah duduk rapih bersama beberapa temannya yang ikut mengerubungi sang Nenek pengemis berjubah lusuh. Nenek itu hanya tersenyum tipis sambil mengangguk. Ketika Nenek itu hendak melanjutkan ceritanya, salah satu anak lelaki tiba-tiba bersiul tanpa sebab.

“Kamu tuh katanya mau dengerin ceritanya Nenek, lanjut nggak?” Nenek itu melambaikan tangannya ke depan anak lelaki tersebut hingga anak itu tersadar dari lamunannya.

“Waa… maap ya, Nek!”
“Aah elu mah kebiasaan, ga jelas!”
“Mimpi siang bolong yee??”

“Ya udah, Nenek lanjutkan ya. Yang anteng semua,” ujar Nenek yang dikenal banyak orang karena mengemis sambil mendongeng berbagai cerita misteri di masa depan itu. “Oh iya, kalian jangan sekali-kali bersiul tengah malam ya, pamali! Apa lagi sambil nyebut-nyebut nama Gina…”

Nenek itu menarik nafas pelan-pelan, “Begini ceritanya…”

***

Selasa, 29 Maret 2016

[API] Lilin

Minah memerhatikan lilin yang ada di hadapannya. Apinya tegak lurus tak bergeming walaupun lilin tersebut bergerak mengayun-ayun karena piring alasnya diombang-ambing air di dalam baskom. Cantik sekali, seperti almarhum ibunya yang gemar sekali menari. Minah selalu ingin menjadi seperti ibunya yang selalu anggun, sesulit apapun hidup mereka. Ibu yang membantu ayahnya bekerja siang malam untuk menafkahi keluarganya. Ibu yang direnggut tiba-tiba dari hidupnya oleh pengemudi bus ugal-ugalan. Minah baru berusia enam tahun ketika itu, tapi ia sedikit paham bahwa kepergian ibunya lebih berat dirasakan oleh ayahnya yang akhirnya harus berhenti dari pekerjaannya menyupiri sebuah keluarga. Kehidupan mereka yang tadinya pas-pasan sedikit bertambah sulit.

Keputusan untuk kembali ke desa kelahiran ayah Minah diambil dua bulan setelah kejadian itu, desa yang sekali-dua kali pernah dikunjungi Minah sebelumnya. Minah selalu senang setiap kali ia berkunjung. Banyak teman, dan saat malam walaupun gelap tanpa listrik, ia bisa mendengarkan orkestra binatang-binatang malam, menonton pertunjukan kembang api kunang-kunang sambil menemani ayahnya minum kopi di depan rumahnya. Kebiasaan yang diteruskan selepas kepergian ibunya. Kebiasaan yang kini diwarnai cerita-cerita ayah tentang ibunya.

Buat ayahnya, Minah lebih berharga dari apapun yang ia pernah, sedang, dan akan ia miliki. Ia tahu, sejak pertama kalinya bidan mengangkat tubuh kecil itu keluar dari rahim istrinya, bahwa hidupnya yang lama sudah berakhir. 

Kehidupannya yang lama sudah selesai, hidupnya sekarang bukan lagi miliknya dan itu tidak apa-apa. 

Ia bekerja berkali lipat lebih giat, tubuhnya terasa berkali lipat lebih lelah di ujung hari, tapi satu panggilan "Ayah" dari Minah, dan semua itu terbayarkan.

Ayah Minah kemudian bekerja sebagai buruh di sebuah perkebunan di dekat kampungnya, tugasnya membawa hasil panen ke pasar di kota yang jaraknya beberapa puluh kilometer, kemudian membawa hasil penjualannya kembali ke Pak Sabeni sang tuan tanah. Ini ia lakukan beberapa kali dalam seminggu, biasanya ia berangkat pagi-pagi buta, dan kembali ke rumah larut malam. 

Penghasilannya sebagai buruh tidak seberapa. Uang yang didapatkan sebagian besar dipakai untuk membeli makanan, sisanya ditabung. Tabungan yang biasanya habis di akhir bulan untuk merawat rumah kecil dan membeli pakaian setahun sekali. Di masa mudanya ia pernah hidup berkecukupan, berlebihan malah. Kehidupan lalu di mana ia tidak pernah memikirkan hari esok, dimana ia berfoya-foya tanpa tahu kemana ia melangkah. Uang yang ada ia habiskan di meja perjudian, mabuk-mabukan, dan di rumah pelacuran. Uang yang didapatkannya juga dengan cara tak terpuji, berbekal nekat dan ilmu hitam. Pertemuannya dengan ibunda Minah selalu ia anggap uluran tangan dari yang Maha Kuasa. Pertemuan sederhana di pasar malam yang akhirnya merubah jalan hidupnya.

Ia selalu berusaha untuk membawakan buah tangan untuk buah hatinya, terkadang coklat, permen, atau kalau penjualan sedang bagus, mainan seperti kapal-kapalan yang menjadi kesayangan Minah. Warnanya yang merah cerah dan bunyi tuk-tuk-tuk yang keras ketika berjalan membuat tawa Minah selalu pecah setiap kali ayahnya menyalakan mainan tersebut dan membuatnya berlayar di dalam baskom.

Pertamakalinya ia menyalakan mainan kapal-kapalan yang ia bawakan, ia bisa melihat kekaguman di mata putrinya itu. Matanya yang berbinar-binar, tangan kiri menggenggam tangan kanan, saling menahan. Antusiasme. 

"Minah mau ambil kapalnya ya?" Ia bertanya pada putri kesayangannya, dan dijawab dengan anggukan dan senyuman yang melebar. Setelah api sumbu di kapal tersebut mati, ia ambilkan kapal tersebut. "Hati-hati, masih panas ya Nak.., " katanya sambil memberikan kapal itu pada Minah. Tangan-tangan kecil menyambutnya dengan semangat, membolak-balikkan mainan itu, mengeluarkan sumbu dari tempatnya, mengintip ke dalam lubang tempat air dimasukkan ke bilik pembakaran. Di saat itu ia sadar, anaknya cerdas, penuh keingintahuan, dan berhak untuk mendapatkan jalan hidup yang lebih baik daripada dirinya dan almarhum istrinya. 

Minah harus bisa sekolah.

Di hari ulang tahun Minah yang ke-tujuh, ia membulatkan tekadnya untuk menyekolahkan putrinya itu. Ia tahu tabungannya tidak ada, bahkan dengan menggadaikan semua yang ia punya uangnya masih belum cukup untuk uang pangkal Sekolah Dasar. Belum lagi uang iuran bulanannya. Malam itu ia duduk di depan rumahnya lebih lama dari biasanya. Minah tertidur di pangkuannya, tangannya membelai rambut anak perempuan itu. Orkes makhluk malam sudah selesai, hanya suara jangkrik dan lolongan anjing yang beberapa kali terdengar. Suara sumbu petromak terbakar dan bau minyak tanah menemaninya. Ia menyeruput sisa kopi dari gelasnya, dan mengeluarkan selembar foto kusam dari dompetnya. Foto mereka bertiga yang diambil lima bulan yang lalu. Foto yang saat ini terlihat seperti foto keluarga lain, di kehidupan yang lain. Keluarga yang sangat bahagia dengan masa depan yang terlihat cerah. Di bawah hembusan napasnya ia meminta maaf kepada almarhum istrinya, dengan suara yang cukup halus agar putrinya tidak terbangun.

Minah bermain dengan anak-anak lain hari itu, seperti biasanya. Saat senja tanpa perlu dipanggil ia pulang ke rumah, menyalakan lampu petromak dan  menunggu ayahnya pulang sambil menyiapkan makan malam yang sudah dimasak oleh ayahnya sebelum ia berangkat pagi tadi. Setelah makanan ditata, terakhir ia menyeduhkan kopi kesukaan ayahnya, dan menaruhnya di atas meja makan. Setelah itu biasanya ia membaca buku-buku dan komik-komik yang dibawakan oleh ayahnya dari perjalanan-perjalanannya. Malam ini ada yang sedikit berbeda dari raut muka ayahnya, ia bicara lebih sedikit dibandingkan biasanya, menundukkan kepala seperti enggan beradu pandang dengan putrinya itu. Minah sudah tertidur ketika ia merasa tubuhnya diguncang-guncang.

"Nah, Minah, bangun sebentar, ayah mau minta tolong." Suara ayahnya terdengar sedikit tergesa-gesa. Minah membuka mata, megusap-usapnya dengan punggung tangannya, kemudian duduk di dipan. "Ada apa Ayah?" mata kanannya terbuka setengah, mata kirinya masih tertutup, rambut masih menutupi sebagian wajahnya. "Ayah mau pergi sebentar, kamu bisa bantu ayah jaga lilin ini?" Ayahnya menunjuk ke arah baskom tempat ia biasa bermain kapal-kapalan, di dalamnya ada air, sebuah piring berisi lilin yang menyala mengapung di atasnya. "Kita mau main kapal-kapalan ayah?" Minah kembali memandang ayahnya. Ia melihat ayahnya tersenyum sedikit. "Bukan sayang. Ini permainan yang lain lagi, cara mainnya, kamu harus jaga api lilin ini selama ayah pergi, jangan sampai lepas dari pandangan ya.. kalau api lilinnya mulai bergerak gerak, kamu harus tiup lilin tersebut sampai apinya mati. Bisa?" Minah memandangi lilin tersebut beberapa saat, lalu menengok ke arah ayahnya dan mengangguk.

"Ayah berangkat dulu ya," ayahnya berdiri, sekecup ciuman menghampiri kening Minah. Tangannya menyelipkan foto ke tangan anaknya. Sambil memakai sebuah ponco hitam ia membuka pintu, melepaskan pandangan beberapa saat ke arah putrinya sambil tersenyum. "Ayah sayang Minah," katanya. "Aku juga sayang Ayah," senyumnya, kedua mata Minah yang kini terbuka sepenuhnya melihat ayahnya menutup pintu dan sosoknya menghilang di kegelapan.

***

Minah memerhatikan foto yang diselipkan ayahnya tadi di bawah cahaya lilin. Bayangan dari permukaan foto yang lecek dan tak lagi rata membuat gambar dalam foto tersebut bergerak-gerak. Ia masih ingat saat foto itu diambil. Ayahnya baru mendapatkan kenaikan gaji dan mereka merayakannya dengan berjalan-jalan ke sebuah pusat perbelanjaan. Ia merasakan air berkumpul di sudut-sudut matanya dan mengusapnya dengan punggung tangannya.

Suara letupan senapan menyadarkannya dari lamunan. Bergema. Kemudian suara orang berteriak-teriak, langkah-langkah kaki berderap, berlari di luar rumahnya. Minah berlari ke arah jendela, mengintip. Tak ingin ketinggalan untuk mengetahui hiruk-pikuk apa yang sedang terjadi.

"Celeng! Celeng masuk rumah Pak Sabeni! Besar sekali!" Pak Warso, tetangga dan sobat ayahnya berteriak-teriak. Sarungnya dililitkan di bahunya, tangannya memukul-mukul kentongan bambu. Sekelompok penduduk kampung berkelebat melintas di depan rumahnya, Minah tak bisa melihat siapa mereka, tangan-tangan mereka memegang golok, celurit. Minah menyaksikan semuanya dengan seksama, jantungnya berdebar-debar tapi bukan karena ketakutan. Matanya melihat ke sana kemari, berharap ia bisa melihat celeng itu, sekelebat saja. Ia ingin melihat makhluk yang berhasil membuat seluruh desa geger malam ini.

Di belakang Minah, api lilin meliuk-liuk.. bergetar. Terang, gelap, terang, gelap, dengan irama yang awalnya teratur, semakin cepat, semakin acak. Setelah sejenak ia menyala terang, jauh lebih terang daripada seharusnya sebuah lilin menyala. 

Lalu lilin itu mati.

Kericuhan malam itu perlahan padam. Suara-suara teriakan para penduduk kampung sudah tak lagi terdengar. Minah kembali ke arah baskom sedikit kecewa, ia tidak sempat melihat celeng itu.. di dalam baskom itu sebuah lilin tanpa api mengapung. Di sekelilingnya ia melihat beberapa benda yang sebelumnya tak ada di sana. 

Minah mengulurkan tangannya, meraih dan mengangkat sebuah kalung dan beberapa gelang emas. Cantik sekali.

Minggu, 27 Maret 2016

[Api] Nurani

Laut Kidul, 1406

Langit memerah. Lidah api raksasa melalap kapal-kapal Keraton Timur. Bara menari-nari di malam tanpa rembulan. Jasad para bangsawan dan pengawalnya yang telah terkoyak-koyak keris dan cetbang terombang-ambing di antara ombak. Pasukan kecil itu jelas bukan tandingan para pengawal perairan ini, armada selatan Majapahit.

Tak lama setelah pasukan darat Keraton Barat menembus pertahanan Lumajang, Bhre Wirabumi beserta keluarga besarnya melarikan diri ke arah pesisir selatan. Mereka berencana berlayar ke pulau Bali. Desas-desus menyebutkan bahwasanya kerajaan kecil itu bersiap untuk melepaskan diri dari genggaman kekaisaran. Bagi mereka, musuh Trowulan adalah teman dan sekutu.

Akan tetapi rencana pelarian ini sempat terendus telik sandi Majapahit. Mereka pun menyiapkan jebakan. Kapal-kapal pelarian Keraton Timur bergerak dari balik rawa-rawa kala mentari tenggelam. Sontak belasan kapal cepat armada selatan yang bersembunyi di balik Nusa Barung mengibarkan layar. Sebelum tengah malam, flotila pelarian luluh lantak.

Larang dan Nadim berenang perlahan mendekati salah satu kapal besar yang mulai terbakar. Dengan buluh perumpung di mulut masing-masing, mereka menyelam bergerak tanpa mengeluarkan riak. Mereka tak ingin terdeteksi pasukan Majapahit yang berada tak jauh dari kapal-kapal Keraton Timur.

Mereka memanjat sisi kiri lambung dan mendarat di geladak tanpa terlihat. Api yang melalap tiang layar utama semakin membesar. Dengan tubuh tertutup jelaga keduanya bergerak menyatu dengan bayangan. Di tangga menurun ke dalam lambung kapal yang terletak di buritan Nadim berbisik pada Larang, “naskah-naskah yang kita cari memiliki cap Sang Hyang Baruna. Ambil semua yang kau temukan.”

Nadim berbadan kekar dengan parut luka di sekujur tubuh. Rambut dan cambangnya putih, suaranya berat dan parau. Ia berbicara dengan logat orang-orang selat. Sementara Larang adalah seorang pemuda dari pantai di barat laut pulau Jawa. Rambutnya yang masih basah oleh air laut menyapu pundaknya yang kecoklatan oleh matahari. Ia menganggukkan kepala pada perintah Nadim. Mereka bergegas ke arah yang berlawanan.

Larang menyusuri salah satu lorong di dalam lambung. Semakin ke dalam semakin sulit baginya untuk bernafas. Suhu udara pun semakin panas. Bau anyir menyeruak dari mayat-mayat yang tergeletak di lantai kapal. Tanpa membuang waktu ia mengumpulkan dan memilah naskah-naskah di sana. Sesuai perintah yang diterima beberapa hari lalu: naskah dengan cap Sang Hyang Baruna. Naskah peninggalan Rakryan Tumenggung Mpu Nala yang masih tersisa.

Dari balik pecahan kayu di lambung kapal ia dapat melihat umbul-umbul Pataka Gula Kelapa berkibar di luar sana. Kapal-kapal armada selatan masih berjaga-jaga. Satu dua cetbang menyalak menembaki orang-orang Keraton Timur yang kedapatan masih hidup dan mencoba melarikan diri bersama ombak di dalam kegelapan malam. Perintah Bhra Narapati jelas, tidak ada musuh yang boleh dibiarkan hidup.

Larang berlari ke arah tangga yang menuju buritan. Saat ia menapakkan kaki di anak tangga, dari balik dinding kayu ia mendengar suara tangisan. Larang tertegun. Tangisan seorang anak kecil. Ia mencoba mendekati arah suara.

“Apa yang kau lakukan, Larang. Kita harus segera keluar dari kapal celaka ini,” tiba-tiba Nadim telah aada di belakangnya.
“Kau mendengarnya juga kan? Ada seorang anak di sini. Kita harus menolongnya,” seru Larang setengah berbisik.
“Tugas kita hanya menyelematkan naskah! Kita tidak menyimpang dari tugas dan kita tidak masuk ke dalam pertikaian mereka. Aku tahu kamu baru bergabung, jadi akan kuingatkan sekali lagi: Para Penjaga tidak ikut campur,” jawab Nadim yang telah berdiri di ujung atas tangga. “Putuskan sekarang juga.”

Larang terdiam di tempatnya berdiri. Ia masih dapat mendengar isakan tangis itu. Sayup-sayup masih mendengar letusan cetbang dan sorak sorai prajurit Majapahit. Udara semakin hangat oleh api yang membesar membakar tiang-tiang utama. Sewaktu-waktu tiang-tiang tersebut dapat runtuh, menyebarkan api ke lambung kapal dan membakarnya habis.

§


Di rawa-rawa beberapa ratus tombak dari lokasi flotila Keraton Timur, Nadim muncul dari dalam air. Ia menyelinap di antara akar-akar hutan bakau menuju salah satu semak-semak di tepian. Tetapi ternyata itu bukan semak sesungguhnya. Lebih menyerupai selimut yang berbentuk semak-semak. Ia membukanya dan di balik selimut itu tersembunyi sebuah sampan.

Tiba-tiba sebuah kantung dilemparkan ke dalam sampan. Nadim berbalik ke arah lemparan, seketika tangannya telah menggenggam sebilah kerambit.

Itu adalah Larang. Ia telah berdiri di belakang Nadim. Dadanya kembang kempis.

“Itu naskah yang aku kumpulkan di kapal. Aku telah menyelesaikan perintah. Apa yang akan kulakukan sekarang adalah pilihanku sendiri. Tidak ada sangkut pautnya dengan Para Penjaga,” Larang berbalik memunggungi Nadim, bersiap kembali menuju laut.

“Hey, pemuda bodoh!” Nadim berseru. Larang membalikkan badannya. Dengan reflek tangannya menangkap benda yang dilemparkan oleh Nadim. Sebuah bungkusan kain berisi busur silang kecil dengan lima buah anak panah besi.

“Jangan kau mati malam ini,” ujar Nadim datar.

Larang menganggukan kepalanya. Ia pun segera berlari ke arah laut. Dalam sekejap tubuhnya menghilang bersama ombak muara yang kelam. Malam semakin larut, di kejauhan api masih menari. Menari-nari bagaikan mengiringi nyanyian lirih sang ratu penguasa lautan ini.

Sabtu, 26 Maret 2016

[API] Parade Air Mata


Teduh dan sejuk, rimbun daun pohon jambu air memayungiku dari sengatan matahari. Aroma mawar terbawa angin merebak kesegala arah, tegel warna putih bersih yang dipadukan dengan tembok berwarna biru langit serasa makin membuat hawa sejuk makin ketara. Rumah ini rumah sahabatku, letaknya tidak jauh dari jalan raya, agak bising memang.
            “Dwi juga ikutan ?.”
            “Iya Bu Uban, sudah dibolehin sama Mamih ko,” jawabku padanya, Ibu Uban itu bukan nama sebenarnya, rambutnya hitam legam lurus terurai, tak berbeda dengan rambut Nisa. Yang beruban itu sebenarnya suaminya, Pak Uban nama panggilannya.
            “Cuman sampai jam 9 kan acaranya?,” Bu Uban meoleh kearah sahabatku, Nisa namanya.
            “Iya Bu…, euu… nanti kalau acaranya sudah selesai Nisa akan Saya antar pulang ke rumah ko,” Aku memberanikan diri berjanji, Nisa tertunduk.
            “Kasih ijin aja Bu, lagipula Nisa kan sudah gede, sudah kelas 5 SD, jangan terlalu dilarang-larang.” Tiba-tiba suara Pak Uban terdengar, rupanya dia sedang tiduran di sofa depan TV, gak kelihatan.
            “Ya sudah, hati-hati yaaa…,” Bu Uban menyelundupkan lembaran kertas berwarna hijau ke tangan Nisa, Pak Uban masih asyik menukar-nukar saluran TV, Nisa tersenyum, manis.
            Aku pun pamit pulang, Nisa ikut bersamaku, dia dalam tanggungjawabku hari ini. Nisa menggenggam erat tangan kananku, uang ditangannya sudah berpindah ke saku rok warna Abu yang dikenakannya, ini pertama kalinya aku melihat dia pakai baju atasan pink itu, baru sepertinya.
            “Nisa, Dwi…, jangan lupa jam 9 harus sudah pulang yaaa.”

* * * *

            “Dapat ijin yaa?, “ Iman memotong bambu dengan santainya. Sreekkk… kosreeekkk… kosreeekkk… Bilah bambu berdiameter 5 sentimeter dia potong menjadi 2 bagian.
            “Iya dong, kan ada Aku…,”  Aku tersenyum ke arah Nisa, dia membalas senyumanku lalu kembali menikmati es kacang ditangan kanannya, esnya enak, tadi dia mengijinkan Aku mencicipinya sedikit, pengen lagi.
            “Yaaa sudah, bambu ini mau Aku bawa ke Kak Ajat… Nanti setelah Isya kita kumpul depan Mesjid Baeturrosyid,” Iman tampak serius, kulitnya sekarang agak gelap, tapi masih terlihat tampan. Melihat dia sedang berkeringat seperti itu saja sudah bisa membuat Aku tersenyum, dia lucu.
            “Nih Wi…, makasih…” Aku tersadar dari lamunanku, Iman menyerahkan gergaji ditangannya padaku.
            “Eh, euu… iya Man… sama-sama,” Aku kikuk.
            Langit sore pun berangsur menyergap, garis oranye terlihat jelas lalu perlahan padam menghitam. Rintik gerimis sejenak membasahi bumi menghilangkan panas seharian.

* * * *

Adzan Isya sudah lama berkumandang, barisan shaf sholat sudah mulai terurai, sebagian makmum sudah pulang. Seharusnya Aku ada disana, ikut berjamaa’ah.
“Ini buat kalian berdua,” Iman memberikan satu bilah bambu yang dia potong tadi sore kepada kami, aku menggenggamnya dengan erat. Bilah bambu ini bukan bilah bambu biasa, pada ujungnya ada sebuah botol berisi minyak tanah, yang terikat kencang, seutas sumbu terlihat menjuntai didalamnya.
“Wii, Aku takut nyasar …,” Nisa mulai merengek.
“Tena…”
“Tenaaanngg, ada Aku…, kalau terjadi apa-apa, Aku yang akan menyelamatkan kalian.” Iman memotong perkataanku cepat, dia sok jagoan, tengil sekali, huh!!.
“Santai aja Nis, acaranya seru kok, harusnya tahun kemarin Kamu ikut,” Aku tersenyum coba menenangkan Nisa.
“Tapi jauh ga sih, Wii?.”
“Deket kok,” Aku coba menjelaskan, “kalau sudah jalan mah ga kan kerasa ko, Nis,” Iman menambahkan. Nisa terlihat lega, raut khawatir di wajahnya mulai lenyap.
Orang-orang mulai berdatangan, dari mulai anak kecil sampai orang dewasa ikut bergabung, depan mesjid menjadi ramai.
“Ayoo Anak-anak yang sudah punya bambu kumpul dulu sini!!,” suara Kak Ajat terdengar kencang, anak-anak mulai berkumpul mendekat. Aku, Nisa dan Iman ikut mendekat.
“Ayo semuanya kumpul-kumpul,” Kakak panitia yang lain ikut bersuara, Nisa mengenggam tanganku erat. Iman berdiri tidak jauh dari kami.
 “Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokaaatuh…,” Kak Ajat membuka acara dengan lantang.
“Wa’alaikumsalam… warohmatullohi… wabarokaaaatuh…,”anak-anak menjawab dengan kompak seperti sudah dilatih sebelumnya.
“Baiklah anak-anak yang Kakak cintaiii…, agar acara ini berjalan dengan lancar kalian harus patuh sama Kakak-kakak panitia yaaa…. Itu demi keamanan dan keselamatan kaliiii….”
“Yaann….,” benar-benar kompak kan.
“Oke, kalian harus ingat yaaa, rute nya dari sini kita jalan luruuuusss sampai kuburan,” tangan Kak Ajat meliuk-liuk menjelaskan arah jalan.
“Hiiiiiiii…”
            “Wii, di kuburannya Aku takut, Wii.” Gengaman tangan Nisa semakin kuat, sakit.
            “Ga kan apa-apa kok Nis, kita banyakan kesananya.” Aku berbisik di telinga Nisa.
            “Nah,, dari kuburan kita belok kanan, jalan terus sampai SD. BHAKTIWINAYA,” Kak Ajat melanjutkan penjelasan, “Di SD. Kita kumpul sebentar lalu pulang lagi kesini, acara ditutup disini, PAHAM???.”
            “Pahaaaammm,” serentak anak-anak menjawab, sementara para pemuda dan bapak-bapak diam memperhatikan, sebagian asyik menghisap rokok.
            “Pokoknya kalian jangan lupa…. Dari sini…, ke Kuburan…, lalu SD…., lalu kembali ke Sini…”
            “Okey DORA…, “ seserorang nyeletuk dari belakang, kami tak kuasa menahan tawa.
            “Yaa sudah kita mulai saja yukk,” Kak ajat tersenyum.
            Acara pun dimulai, panitia mulai bekerja, sumbu diujung bilah bambu mulai dinyalakan, kami mulai berjalan kaki, Pawai Obor ini namanya.
Dua buah motor sudah lebih dulu berjalan didepan kami, anak-anak mengikuti dari belakang, sebagian memegang obor, sebagian membunyikan kentongan, Kakak panitia mengamankan jalur perjalanan kami, lagu ‘17 Agustus’ pun berkumandang.

Besok adalah HUT RI, iya Hari Ulang Tahun Republik Indonesia, pawai obor ini adalah salah satu bagian dari rangkaian acaranya, katanya sih sudah lama tradisi ini dilaksanakan, Aku tidak kaget.
Puluhan anak mengikuti pawai ini, aroma minyak tanah tercium jelas, asap hitam meliuk-liuk dari ujung api menari tertiup angin. Aku dan Dwi ada ditengah-tengah, Iman berjalan dibelakang, janjinya untuk menjaga kami bukan sekedar candaan. Si sebelah Barat Aku melihat titik api meliuk berarak dikejauh, sepertinya desa lain juga mengadakan pawai obor.
Anak-anak berjalan beriringan, tak lama kami sudah melewati kuburan, genggaman tangan Nisa semakin erat, dia tertunduk tak bicara, Aku santai saja sambil ikut bernyanyi, kali ini ‘Halo-halo Bandung’ yang bergema.
Dalam waktu lima belas menit kami sudah sampai di SD. BHAKTIWINAYA, titik-titik api lain sudah ada disana, sepertinya itu pawai obor desa sebelah yang kulihat tadi.
“Stoooppp, semuanya stoooppp, berhentiii …,” kakak panitia memberikan perintah, anak-anak mengikuti, mereka tak memiliki pilihan lain.
“Itu anak-anak dari Desa Astaraja,” Iman mengagetkanku, napasnya terengah, jalanan menuju SD. memang menajak.
“Mereka mau apa?,” Aku penasaran, Kak ajat terlihat sedang berbicara dengan pemuda lain didepan disana.
“Yaa pawai obor juga lah,” Iman menjawab culas. Hmmh.
“Pulang yuk Wii, sudah jam setengah sembilan, Aku bisa kena marah Ibu kalau tidak cepat-cepat pulang,” Nisa memandangi jam ditangannya, aduh… Aku jadi bingung. Acaranya belum selesai, kalau pulang berdua pun apa dibolehkan oleh panitia?, lagipula ini sudah malam, apa yang harus Aku laku…
“Ayo semuanya jalan lagi, Ayooo…,” kakak panitia memberikan aba-aba. Para peserta berjalan maju.
“Loh bukannya seharusnya kita pulang?.”
“Wiii…,” Nisa semakin erat memegang tanganku, pipinya mulai memerah, matanya berkaca-kaca.
“Tunggu sebentar,” Iman berlari menuju Kakak Panitia yang ada di depan, anak-anak melanjutkan perjalanan, peserta pawai dari dua desa pun mulai bersatu, Aku tidak kenal siapa orang yang ada di kanan dan kiri ku.
Aku menoleh kebelakang, puluhan orang menyusul, siapa mereka? peserta pawai obor semakin banyak dalam waktu singkat.
Aku melambatkan langkah kakiku, tapi orang dibelakangku mendesak mendorong badanku, tangan Nisa yang ku genggam pun akhirnya ..
“Nisaa….!!,” terlepas.
“Dwiii…!!,” titik air mata jatuh di pipi Nisa.
Siapa mereka? Siapa orang itu, aku tidak mengenal mereka, api obor yang meliuk sama sekali tidak membuat wajah mereka jelas dimataku, asing. Aku lempar obor ditanganku jatuh ke selokan, Aku memisahkan diri dari rombongan. Ratusan orang tidak kukenal lewat dihadapan, yang kucari adalah Nisa… Nisa dimana??, pipiku mulai hangat, Iman… kamu dimana? air mata meleleh.
Rombongan obor pun berlalu, titik api itu mulai menjauh, kuputuskan pulang sendiri. Entah apa yang harus Aku katakan pada Bu Uban, Aku terlanjur berjanji menjaga Nisa, dan ternyata Aku tak bisa memegang janjiku itu.
Lemas, Aku berjalan menyusuri jalan, lampu-lampu redup sama sekali tidak bisa menghiburku. Jalan setapak ini biasanya Aku pakai ketika pulang sekolah bersama Nisa dan Iman, jalur yang lebih cepat untuk pulang tapi pasti licin, tadi sore hujan.
Di kejauhan Aku melihat satu titik api bergerak menjauh, seperti pulang ke arah kuburan. Nisa? Apakah itu Nisa?… Aku tidak pikir panjang, Aku berlari masuk ke jalan setapak pesawahan yang gelap, bermodal sinar lampu samar dari kejauhan Aku nekad menyusuri jalan licin itu demi Nisa, Aku tidak ingin Nisa sampai terluka.
Aku telah keluar dari jalan pesawahan, meluncur ke jalan desa, dan belok menuju kuburan, kali ini nyaliku diatas angin seolah rasa takut ini dicabut hilang. Kedinginan, kakiku basah.
Didepan sana terlihat jelas seorang anak berambut panjang sedang berjalan, Nisa, iya itu adalah Nisa. Tangan kanannya menggengam erat tangan anak laki-laki itu, anak laki-laki yang membawa obor, iya anak laki-laki yang ku kenal, anak laki-laki itu adalah Iman.


Mendung sebelum hujan.

Bandung, 26 Maret 2016

Rabu, 23 Maret 2016

[TUJUAN] Pulang

"piou... pi... pi" "PIIIIIIII!!!!" Fizzie terbang ke angkasa, sang makhluk berbentuk gumpalan rambut bundar sempurna membentangkan sayap-sayap mekaniknya lebar-lebar. Daratan merah dan lautan darah menjadi terang seketika dengan Amazing Vitality dari Fizzie, kemampuan meningkatkan stamina dan semangat orang-orang yang ia support di sekelilingnya. Luka-luka yang menganga di pipi dan lengan kiri ku terasa lebih kebal, efek kemampuan Fizzie benar-benar seperti obat bius...! Walau hanya sementara tapi itu cukup untuk menambah lama bertahan kami. "aaa...hhh..." Sesosok manusia dengan tubuh separuh mutan berjalan perlahan menyeret gada besi besar miliknya ke arah ku. Ia tak bersuara. "...hhhhhh" Desah ku mengambil nafas dalam-dalam. Aku merendahkan posisi tubuh, melebarkan kaki, mencondongkan badan kedepan dan mengangkat ke dua tangan ku ke depan badan. Aku memejamkan mata, bersiap. "...." Ku tahan nafas di dada. Ke dua telapak tangan mengepal keras, mata terbuka mengunci target besar yang bergerak lamban. Kaki ku hentakkan hingga melontarkan aku ke udara dan bersiap menghajar mutan dari atas. Belum sempat mutan itu mengangkat gada besinya, aku mendaratkan tendangan tumit diatas kepalanya diiringi teriakan ku keras-keras, "AKU MAU PULAAAANGGG!!!" Tubuhnya terhempas ke tanah, ku habisi ia dengan Amazing Punch. Kemampuan khusus ku di dunia ini. Dunia yang mulai mati. Salju kemerahan disekitar ku. Hhhh... Entah sudah berapa lama aku tidak menghiraukan salju yang dulu indah. Aku berdiri sejenak ditengah berpeperangan yang sedang berkobar. Awalnya aku tidak perduli jika hidupku berakhir di dunia yang runtuh perlahan-lahan. Dunia yang secara ajaib tercipta dari imajinasi manusia. Kini telah hancur karena ke egoisan penciptanya. Ketika sang Imajinasi menjadi hidup dan berusaha menutup dirinya, manusia mengamuk dan berupaya mengambil alihnya lagi. Namun dunia itu kini harus tertidur selamanya. Jika tidak, entah berapa banyak manusia terjebak dan tidak dapat kembali ke tempat asalnya. Dunia nyata dimana jika kau tak sanggup untuk meneruskannya, pilihanmu adalah... mati. Aku tidak membenci dunia imajinasi ini, namun aku sudah tidak lagi menyukainya. Dengan menjebakku, Ia mengajarkan tentang pentingnya memperjuangkan hidup ku. Aku harus pulang... jika tidak, aku tidak dapat melangkah maju lagi.

Senin, 21 Maret 2016

[TUJUAN] raison d'être

"Detektif, kau tahu kenapa kita bisa sampai di dalam keadaan sebusuk ini?" lelaki paruh baya itu bertanya , tangannya tersilang, jari-jarinya diketukkan di atas meja. Sebuah irama dari sebuah lagu yang ia sendiri sudah lupa melodinya. Detektif Hasibuan memandangi lelaki itu sesaat, mengukur ke mana arah pembicaraan ini. "Silakan beri pencerahan kepada kami-kami ini Pak," akhirnya ia berkata, nada suaranya sedikit mengejek. 

Lelaki paruh baya itu tersenyum, memahami bahwa sang detektif membutuhkan antagonisme itu untuk menunjukkan ia yang berkuasa di sini. Seperti gorilla yang memukul-mukul dadanya. 

"Kalau Anda mengikuti pelajaran sejarah dengan baik di sekolah, Anda tentu tahu apa yang terjadi di paruh keempat abad 21," lelaki itu melanjutkan. "Krisis empat blok," kata sang detektif. "Tepat," kata lelaki itu,"bumi hampir musnah saat itu, saya tidak melebih-lebihkan, saya mengatakan itu secara literal. Bumi hampir musnah," ia berkata, masih sambil tersenyum. Detektif Hasibuan mulai merasa ia ingin meninju wajah laki-laki itu. Tekanan untuk menangkap teroris sialan ini dan pemindahtugasan beberapa rekannya tanpa alasan yang jelas membuatnya lebih gampang naik pitam dibanding biasanya.

"Bermacam krisis dihadapi umat manusia; ekosistem di berbagai penjuru porak-poranda. Terorisme, perang berkecamuk di titik-titik panas. Harga minyak jatuh bebas, tetapi secara kontradiktif, ia makin sulit didapat. Lahan-lahan pangan berganti fungsi untuk memenuhi kehausan dunia akan energi. Kelaparan melanda, puncaknya: tatanan ekonomi kolaps."

"Kita sudah sedekat ini dengan kepunahan," kata lelaki itu sambil mencubit udara dengan jari telunjuk dan ibu jarinya. "NATO pecah, Amerika Serikat, Kanada, Meksiko, Kuba dan Inggris membentuk blok Pan-Amerika. Negara-negara Uni-Eropa di bawah pimpinan Jerman dan Russia membentuk Pan-Eropa, yang tidak hanya berkoalisi secara ekonomi, tetapi juga militer dan hukum. RRC, negara-negara Asia Timur dan ASEAN membentuk Pan-Pasifik, negara-negara Afrika dan Timur Tengah dengan Pan-Afrika, dan semua blok itu menodongkan arsenal nuklir ke arah satu sama lain," ia berhenti sejenak. Memandangi sang Detektif Hasibuan dan rekannya yang berdiri di belakangnya. "Kalian tahu apa yang akhirnya mencegah pecahnya perang besar?"  

"Cerewet kau Pak Tua, cepatlah, to the point saja!" Detektif Matthew Sarjito, rekan Hasibuan tiba-tiba membentak. Yang dibentak melirik sebentar ke arah Sarjito, lalu melanjutkan seakan tidak ada apa-apa. "Aku, Tuan-tuan. Aku yang mencegah perang besar terjadi," lelaki paruh baya itu menunjuk dadanya dengan ibu jari. Suaranya hampir berbisik.

Detektif Hasibuan menghembuskan napas, memakai kacamatanya dan membuka map yang ada di hadapannya. "Abraham Hamaguchi, 162 tahun," ia melirik ke arah Hamaguchi, "162 tahun, sel punca dan uang.. memang menyenangkan jadi orang sekaya Anda... Anda pernah menjadi kepala konglomerasi Hamaguchi-Schubert, pernah menjadi orang terkaya di dunia, pernah mendapatkan Nobel di bidang fisika.. pernah..pernah..pernah.." Hasibuan melempar kembali map tersebut ke atas meja. "Kami sudah tahu siapa Anda Pak. Kata kunci yang perlu dicatat adalah 'pernah'. Pernah, dan bukan lagi," Hasibuan menancapkan pisau kata-kata itu dengan pandangan ke mata Hamaguchi. Ia menangkap sekelebat reaksi lewat sepasang mata tersebut. "Yang kami ingin tahu adalah kenapa. Kenapa orang dengan kredensial seperti Anda berakhir seperti ini, meledakkan beberapa koloni di Luna, dan duduk di kursi pesakitan karena aksi terorisme." Hasibuan berhenti sejenak, berusaha menangkap reaksi dari raut muka Hamaguchi. Tidak ada. Tidak ada sedih, gembira, tidak ada penyesalan di wajah orang itu.

Hamaguchi tersenyum, lebih lebar dari sebelumnya. "Bravo, Anda tahu siapa saya, mungkin Anda juga tahu, bagaimana saya pernah menjadi semua itu?" Pisau kata-kata Hasibuan gagal melukai Hamaguchi. "Saya seorang synesthete," Hamaguchi memandangi dua orang di depannya. 

"Sinest..apa?" Sarjito bereaksi. Hamaguchi memandanginya seperti guru yang sedang menghadapi murid bebal. "Anda pernah dengar tentang synesthesia?" ekspresi wajah Hasibuan jelas menjawab: tidak tahu.

"Synesthesia adalah keadaan di mana rangsangan atas salah satu indera memicu reaksi di indera yang lainnya," Hamaguchi membagi pandangannya ke kedua detektif di hadapannya. "Hanya saja, kalau sebagian synesthete --orang yang mengidap synesthesia-- melihat warna kalau ia melihat angka tertentu, atau bisa mengecap rasa ketika melihat warna tertentu, pada kasus saya, saya bisa mengecap apa yang sedang dirasakan oleh lawan bicara saya dan melihatnya sebagai warna-warna. Seperti saya mengecap keraguan dan amarah Anda saat ini, detektif."  

"Saya bisa membaca lawan bicara saya, secara cukup literal. Itu kenapa saya tidak pernah kalah di meja perundingan, Tuan-tuan. Itu, dan satu hal lagi: saya selalu mengerjakan PR saya. Seperti akupresuris, saya tahu titik-titik mana yang harus ditekan, dan apa akibatnya." Hamaguchi mengambil gelas air di atas meja dan meminumnya beberapa teguk. Diam beberapa saat, ia bisa melihat pengaruh kata-katanya atas Hasibuan mulai berkurang dan membiarkannya, benang harus ditarik-ulur untuk menaikkan layangan.

"Buku-buku sejarah memberikan penghargaan kepada para politisi yang menyelamatkan dunia dari ambang kiamat, padahal mereka sendiri yang menyebabkan itu. Siapa yang mendamaikan mereka? Siapa menurut Anda yang mencomblangi pembicaraan-pembicaraan antara para politisi tersebut? Siapa yang menjadi penghubung, mendorong saat mereka ragu, siapa yang mencucuk hidung, menggiring, dan mengancam mereka jika perlu? Siapa yang membangun ladang panil matahari di Luna yang memecahkan masalah energi yang kita hadapi waktu itu? Bahkan menjadi pondasi koloni tempat kita duduk saat ini! Beberapa puluh tahun kemudian, Anda bisa lihat sendiri, mereka mulai bertengkar lagi seperti anak kecil." 

"Jadi itu alasannya? Dendam?" Hasibuan berkata. "Tidak ada yang mengucapkan terima kasih kepada Anda, sang pahlawan, dan kini seluruh dunia harus membayarnya?"

"Berapa tahun Anda sudah bertugas di Luna, Detektif?" raut muka Hamaguchi berubah, senyumnya menghilang. Ia membuat sedikit gestur dengan jarinya, seperti orang mengusir lalat. "Melihat Bumi dari jauh seperti ini, tidakkah Anda melihat kekonyolan pertengkaran mereka?"

"Aku tahu kau setuju dengan kalimatku barusan, Detektif," Hasibuan melihat Hamaguchi memiringkan kepalanya, memicingkan matanya, menelisik semua rahasianya. 

"Detektif Kepala Ronald Hasibuan, lulusan terbaik jurusan Kriminologi Universitas Indonesia. Pangkat Anda letnan, tapi secara de facto, Andalah kepala kepolisian Luna, bukan si dungu Peters itu. Anda pernah terlibat organisasi anti-pemerintahan sosialis pada saat mahasiswa, tenang atasan-atasan Anda tidak tahu tentang hal itu, mereka tidak perlu tahu. Pernah menikah beberapa tahun dengan Alessandra Agnelli sebelum akhirnya bercerai. Apa kabar Laura anakmu? Anak yang cantik, tahun ini 18 tahun ya? Kelihatannya dia makin mahir bermain piano." 

Hasibuan merasa tengkuknya dingin, jantungnya berdetak lebih kencang, keringat turun di pelipisnya.

"Implan otakmu terhubung ke jaringan ultranet bukan? Coba kau akses ini." Hamaguchi menjentikkan jarinya. Sarjito menyodorkan selembar kertas berisi sederetan angka, sebuah alamat protokol ultranet. Hasibuan memandangi wajah Sarjito yang tersenyum. Perlahan pemahaman terbentuk di benaknya. Ia menerima kertas tersebut dengan tangan bergetar.

Hanya dengan mengingat angka-angka tersebut dan sedikit kehendak, antarmuka di otaknya menunjukkan Laura yang sedang bermain piano, Laura yang sedang tidur, Laura sedang berjalan dengan teman-temannya, di bioskop, di rumahnya, di sekolah.

"Untuk menjawab pertanyaan Anda detektif, tidak, saya tidak berniat balas dendam. Dan saya paham, yang seharusnya menerima ucapan terima kasih bukan saya, tetapi Anda, bukan begitu Detektif Kepala? Ucapan terima kasih atas jasa dan pengabdian Anda selama bertahun-tahun, dan bukannya kenaikan pangkat yang ditunda untuk memberi jalan kepada anak-anak ingusan yang punya koneksi. Ruang kerja yang nyaman, alih-alih ruang kerja pengap tanpa pemandangan seperti yang sekarang Anda punya." Hamaguchi menyenderkan punggungnya ke kursi.

"Politisi-politisi tersebut tidak akan berdamai kecuali mereka punya kepentingan yang sama. Kepentingan dengan dorongan paling kuat adalah kepentingan untuk tidak binasa," nadanya kini seperti seorang dosen yang menjabarkan fakta-fakta. 

"Saya tahu Anda membenci para politisi itu, sama seperti saya, bahkan mungkin lebih.. Anda kehilangan ibu Anda karena jaminan sosialnya dibatalkan, setelah ia membayar preminya dalam bentuk potongan gaji hampir seumur hidupnya."

"Saya ingin menawarkan kepada Anda sebuah posisi yang unik, Detektif," lanjut Hamaguchi. "Saya menawarkan Anda posisi sebagai juru selamat," senyumnya mulai kembali, lawan bicaranya tersudut.  Ini bukan interogasi, ini adalah sebuah wawancara pekerjaan. "Anda akan melepaskan saya sekarang, membiarkan saya menjalani peran saya sebagai teroris, penjahat yang menyandera Bumi dalam ketakutan,  saya akan meninggalkan instruksi-instruksi yang tinggal Anda ikuti sehingga beberapa aksi saya bisa Anda 'gagalkan',"  Hamaguchi membentuk tanda kutip dengan jarinya. "Sebagai imbalannya, saya akan pastikan Anda akan dielu-elukan oleh umat manusia, rasa terima kasih yang Anda inginkan selama ini akan Anda terima berlipat-lipat ganda. Kita akan dipandang sebagai rival, dan Anda akan punya kuasa yang lebih tinggi dari para tikus itu."

Detektif Kepala Ronald Hasibuan terdiam sejenak. "Apa jaminan Anda akan menepati kesepakatan ini?" suara Hasibuan sedikit bergetar. 


"Sama sekali tidak ada," Hamaguchi tersenyum. "Tapi saya tahu, Anda sudah setuju untuk mengikuti rencana saya sejak dua menit yang lalu." 

[API] Aku

Kami terkejut dari diam diri kami selama dua belas jam jalan kaki kami karena mesin detektor si Mata Satu tiba-tiba berbunyi.

“Ternyata alat itu berguna juga,” suara Gerardo gemetar karena dingin. Tempurungnya tidak terlalu membantu ternyata sebagai penghangat tubuh.

“Apa ini berarti kita sudah dekat, Jonas?” ­­­­­suara Anselmo juga gemetar. Susah memang mencari mantel tebal untuk kura-kura. Mereka jarang bepergian ke daerah dingin, jadi pengusaha jaket merasa membuat baju musim dingin untuk kura-kura adalah bukan investasi yang baik.

“Kelihatannya begitu, teman-teman! Bersiaplah untuk harta karun paling legendaris di masa kita!” Semoga dengan bersikap seperti ini, mereka bisa lebih bersemangat. Aku ragu, tapi tidak ada salahnya berusaha. Gerardo tampak seperti selalu akan meledak marah, dan Anselmo tak henti mengedipkan mata kirinya, sejak kejadian dengan para Siren, yang rasanya seperti tahunan yang lalu.

Di depan kami terbentang lautan es bening yang datar, memantulkan aurora yang seluruhnya berwarna kehijauan di langit. Lautan ini dikelilingi oleh siluet hutan dan pegunungan. Tanpa ada cahaya merah di tengah lautan itu, dataran ini akan terlihat seperti tiada akhir. Suara detektor berdenyut pip pip pip menggema ke udara, aku kuatir aku akan mengganggu sesuatu.

Persephone akan suka pemandangan ini. Bagaimana aku bisa kembali?

“Jonas, bagaimana kita bisa kembali?” Anselmo bertanya. Langkah mereka terdengar terseok-seok di belakangku, “percuma seluruh harta ini, kalau kita tidak bisa kembali.”

“Semoga harta ini punya kekuatan sihir, karena kita butuh keajaiban.”
Beruntung aku berjalan di depan mereka, jadi mereka tidak bisa melihat keraguanku, jika keraguan itu terpancar, “ahahah, keajaiban selalu datang tiga kali, teman-teman. Pertama, kita bisa lolos dari para Siren...”

“... yang membunuh semua awak kapal kita,” sambar Gerardo.

“... itu karena mereka malah menuruti saran Jack untuk menutup telinga dan bukan menutup sebelah mata. Kedua, kita lolos dari Plaktae ...”

“... karena Anselmo lebih cerdas darimu dan menyarankan kita untuk naik ke menara pengamat. Sehingga kita tidak terjepit batu, tapi kapal kita hancur berkeping dan kita terlempar ...”

“... ke dekat garis pantai Halablar. Lihat? Keajaiban. Kalau apa yang dikatakan orang tua kita benar, kita masih punya satu lagi keajaiban.”

“Sepertinya kita masih hidup di sini adalah keajaiban terakhirnya, Jonas ...” Anselmo menyambar, “...aku kuatir jatah kita sudah habis.”

Pip pip pip pip. Suara detak detektor makin lama makin rapat-rapat semakin dekat kami ke cahaya merah di tengah lautan es. Tidak ada angin dan tidak ada suara binatang. Tidak nyata rasanya. Aku juga kuatir keberuntungan kami habis. Hanya suara sepatu boots kami yang meninggalkan sedikit suara retakan pada permukaan es yang ternyata tipis. Aku masih bisa melihat rumput segar dan tanah di balik permukaannya yang tembus pandang.

Aku tidak tahu lagi bagaimana cara menghibur mereka. Tinggal merekalah kruku, “jangan putus asa kawan...”

“... baru pertama kau memanggil kami ‘kawan’,” Gerardo tidak membantu usahaku.

“... ingatlah betapa seringnya keajaiban menyelamatkan kita. Kalian sekarang punya tanah dan rumah di Eratriet, keajaiban juga yang membuatku mendapatkan Persephone dan Anantham,”

“Anantham mungkin bukan anakmu, Jonas. Sudah kubilang berkali-kali,” Gerardo senang dengan topik ini sepertinya. Tak bisakah dia melihat kaptennya bahagia? “kau mungkin yang pada akhirnya berhasil menikahinya, tapi selama kau dan si Mata Satu sibuk memperebutkan dia, siapa yang tahu ...”

Aku berhenti dan memutar badanku menghadap dia, “Gerardo, kawan. Tolong jangan hipotesa itu lagi. Aku ... energiku sedang tidak cukup untuk tidak menghiraukanmu. Sekarang,” aku memutar badanku kembali dengan gerakan yang kuharapkan bisa mengayunkan bulu-bulu di topiku. Persephone bilang teatrikalitas adalah kunci menjadi kapten. Entah dari mana asal kebijaksanaan itu. Mungkin dari Si Mata Satu?

Gerardo dan Anselmo menggumamkan sesuatu yang tak bisa terlalu kudengar. Detak detektor sudah sangat rapat sampai terdengar seperti satu nada panjang saja. Kami sudah sekitar lima meter dari sumber cahaya merah tadi. Sebuah semak bunga mawar yang terbakar, tapi semaknya tetap utuh. Untuk pertama kalinya kami merasakan desir angin yang berputar mengelilingi semak itu. Detektor yang kucuri dari Si Mata Satu berhenti berdenging dan akhirnya meledak kecil, melompat dari tanganku dan jatuh berantakan.

“Jonaaass....” sebuah suara menggelegar entah dari mana. Kabut putih keluar dari semak terbakar itu dan bergerak pelan mengelilingiku. Aku berputar untuk mencari Gerardo dan Anselmo, yang menghilang di balik kabut.

“Gerardo? Anselmo?”

“Tanggalkan pakaianmu ...” ucap suara itu, “... ini adalah tempat yang suci ...”
Menanggalkan pakaianku? Haruskah aku melepas topiku juga?

“Yaaaa... topimu juga...” dia membaca pikiranku, siapa ini? Dari mana suaranya datang? Apakah ini keajaiban ketiga? Apakah ini harta karunnya? Harta karun macam apa ini?

“Harta yang paling berharga adalah apa yang kau tinggalkan,” jawab suara itu. Api yang membakar semak mawar itu. Siapa ini?


“Aku adalah aku.”

Minggu, 20 Maret 2016

[TUJUAN] Penelope



Gerimis membuat udara terasa lebih tawar dan mendung membuat sore lebih abu. Lebih tawar dan lebih abu dari biasanya. Aku letih memandang ke luar jendela ke pelabuhan, kapal Anantham tak pernah berlabuh. Aku letih, tapi tetap kupandangi juga. Riuh rendah para awak kapal, nelayan maupun ekspedisi, lonceng-lonceng, burung camar, debur ombak, dan suara sepatu-sepatu di atas dermaga kayu.

Suara denting-denting gantungan logam di langit-langit bengkelku yang tertiup angin laut yang berhasil masuk melalui jendela. Suara pintu terbuka dan terbanting tertutup.

“Sore,” sapa Lintal cepat, sebelum membanting keranjang makanan ke meja di ujung ruangan. Dia selalu membanting semuanya: makanan, cucian, benda-benda yang diangkat ketika dia mengelap meja-meja dan lemari. Aku suka pekerjaannya, tapi setiap dia di sini aku harus berhenti bekerja karena bantingan-bantingannya selalu mengejutkanku.

“Masih menunggu Anantham?” semburnya tiba-tiba.

“Hah? Aku ...”

“Lebih baik kau memikirkan bagaimana membayar sewa bengkel ini. Kamu sudah terlambat dua minggu, bukan? Aku sebal melihat muka Tuan Kan setiap aku ke sini.”

“Ya,” buat apa dia mengurusi prioritasku? “Hari ini makannya apa?”

“Lihat saja itu di atas meja,” tukasnya.

Aku mendekati meja cukil di sudut yang berlawanan dari tempatku duduk di mana dia meletakkan makan malamku. Sebuah wadah makanan plastik yang dibungkus kembali dengan serbet kotak-kotak merah putih papan catur. Aku mencium bau ikan, dan air liur terbit dalam mulutku. Aku tiba-tiba merasa lapar, aku lupa membeli makan siang tadi. Seharian ini aku hanya duduk memandangi balok kayu yang sudah kusiapkan dari seminggu lalu tapi tak kusentuh-sentuh. Aku belum tahu harus membuat apa, jadi aku hanya bergantian memandanginya lalu memandang ke luar jendela, siapa tahu Anantham pulang.

“Jangan di makan sekarang, Pene. Masih terlalu sore untuk makan malam.”

“Aku lapar, Lintal.”

Lintal tidak berkomentar lagi. Dia langsung pergi setelah mengambil lap-lap kotor dan baju kotor seminggu ini. Setelah bantingan pintu yang terakhir, dan memastikan sentakan langkah-langkahnya di tanah luar bengkelku tak terdengar lagi, aku membuka serbet makan malamku. Setelah kubuka wadahnya, tampillah potongan kentang dengan wangi merica, dan ikan dori. Bau jeruk lemon naik. Anantham suka ikan dori lemon tepung roti. Mataku buram tiba-tiba, dan nafasku berat. Seiring makanan ini mengisi perut kosongku, fokusku kembali pada perasaan kosong yang lain yang mulai familiar sebulanan ini setelah Anantham pergi.

Mau mencari ayahnya, katanya. Sang Topi Burung Merak, katanya. Bagaimana kalau Anantham tidak kemba ...

Aku duduk kembali ke meja tengah, suara debur ombak dan burung camar dan lonceng di luar menjadi musik lembut setelah aku kenyang. Aku memahat bentuk-bentuk besar di balok yang sedari pagi hanya kupandangi, berharap pancingan motorik akan akhirnya memberi inspirasi. Perlahan bentuk-bentuk kecil muncul, aku bisa melihat kelopak-kelopak mawar. Dengan pahat yang lebih kecil aku meneruskan keinginan balok itu untuk menjadi sekelompok mawar. Mahkota-mahkota bunganya mulai berjarak lebih dalam, dan daun-daunnya terbentuk. Aku tidak pernah membuat objek organik sebelumnya, jadi sambil sesekali menghapus air mata yang bercampur keringatku, aku tersenyum. Apa kata Anantham kalau tahu aku sekarang membuat bunga?

Untuk sebuah hidup yang sesaat, mawar mampu menjadi begitu indahnya. Apakah keindahan dan ketidakabadian adalah dua sahabat yang senang berjalan beriringan? Duri-duri mawar mulai muncul dalam pahatanku, tajam melawan lembutnya kelopak bunga dan daun yang menari-nari, tapi keberadaannya melengkapi. Saat aku menyadari kehadiran benih Anantham mulai menciptakan kehidupan baru dalam kandunganku, duri-duri juga menampilkan dirinya. Anantham memutuskan untuk pergi mencari ayahnya dan tidak tahu kapan kembali. Keindahan, ketidakabadian, lalu kepedihan.

Anak Lintal adalah pelaut juga. Besok aku akan berbincang pada Lintal untuk meminta ijin agar putranya mengantarkanku juga ke Halablar. Aku tidak ingin anakku nanti tidak pernah mengenal ayahnya, seperti Anantham. Rangkaian mawar kayu berdiri indah di mejaku, memandangku balik. Perlahan detilnya lenyap, dan seluruh dunia labur. Jantungku berdebar kencang untuk hari esok. Aku ingin dekat dengan Anantham lagi. Aku sudah lupa wajahnya.


Selasa, 15 Maret 2016

[TUJUAN] Tujuan

Di sebuah restoran yang terletak di pelataran pusat perbelanjaan mewah ibukota, dua orang pria tampak berbincang serius. Yang satu setengah baya, menggunakan kemeja putih digulung selengan. Ia menggunakan jam emas dan sepatu dari kulit buaya. Sesekali ia membolak-balik kertas di hadapannya, menatapnya serius sembari mengusap keringat dengan sapu tangan.

Di seberang meja duduk lawan bicaranya. Berpakaian santai, kemeja lengan pendek berwarna biru pastel, celana khaki, dan sendal kulit buatan Jerman. Rambutnya tersisir ke belakang, klimis oleh pomade. Ia duduk bersandar sambil menyilangkan kaki. Kacamata hitam tak lepas dari wajah, padahal sinar matahari terhalangi oleh gedung-gedung di seberang jalan.

“Saya dengar keputusan Kejaksaan untuk membuka kasus anda sudah final?”
“Ya.”
“Anda tidak khawatir, Bos?”
“Kalau mereka berhasil mendakwaku, setidaknya terancam 15 tahun penjara. Tentu saja aku khawatir.”
“Wah… menyebalkan sekali ya.” Pria setengah baya itu berhenti membaca dan menengadah ke arah lawan bicaranya. Ia berdeham dan matanya menatap sinis.

“Jadi bagaimana? Anda berminat dengan proposal yang saya tawarkan?
“Saya masih belum sreg dengan syarat dan ketentuannya.”
“Ada pasal yang meragukan?”
“Tidak juga. Saya hanya merasa perlu membaca setidaknya satu kali lagi, agar tak ada pasal atau klausul yang luput dari pengamatan.”
“Sepertinya anda termakan rumor yang beredar, Bos. Anda kan tahu, di zaman media sosial seperti sekarang, berita tidak jelas pun menjadi viral. Asal pas bumbunya.” Si pria setengah baya mengacuhkannya. Sebagai seorang politisi senior, ia sudah biasa dengan rumor.

“Saya sudah melakukan bisnis ini lama sekali. Inti dari penawaran saya sederhana saja. Saya punya aset yang saya tahu Bos inginkan. Sementara, Bos memiliki persis apa yang saya butuhkan. Pasal-pasal di sana hanya tetek bengek yang memastikan bahwa lingkup perjanjian kita tidak menjalar kemana-mana,” pria itu memperbaiki posisi kacamata hitamnya. “Sungguh, pasal-pasal itu lebih banyak berisi tentang perlindungan klien. Bisnis kami berbasis kepuasan klien, Bos,” sambungnya, mengongkang-onkang kaki.
“Ya, anda boleh berkata seperti itu. Tetapi anda juga tentu sudah tahu reputasi anda di masyarakat. Saya akan bodoh sekali bila tidak berhati-hati,” jawab si politisi sambil terus meramban baris demi baris kata-kata di kertas.
“Begini, Bos. Saya rasa kita tak perlu terlalu lama bertele-tele,” pria itu membuka kacamatanya. Matanya yang sayu menatap lurus ke mata si politisi. “Anda punya keinginan. Sama juga seperti saya. Saya yakin anda tahu persis isi perjanjian ini,” ujarnya sambil menekankan jarinya ke kertas. “Saya bahkan telah menjabarkan bonusnya. Bonus yang hanya ditawarkan ke orang-orang seperti anda.” Ia lalu mencondongkan badannya ke depan, “jadi saya akan tanya sekali lagi: are you in, or are you out?”

Si politisi menutup map yang mengamplopi kertas-kertas tadi. Ia memandang langit kota yang memerah oleh senja yang merekah. Entah apa yang dicarinya di sana. Bila akan jaminan keabsahan niat si pria berkacamata, jelas dia salah alamat. Tatapannya bergerak ke sana ke mari. Wajahnya berlipat, sesekali tangannya mengusap dagu, sesekali merubah posisi duduk.

Beberapa saat kemudian ia mendapatkan keputusan. Diulurkannya tangan ke depan, yang dengan segera disambut oleh jabatan erat pria di depannya. Satu lagi perjanjian bisnis yang sukses berhasil dikantongi.

Pria berkacamata itu tersenyum lebar sambil meneguk secangkir triple espresso. Aku yakin si politisi mengerti sepenuhnya masalah yang ia telah undang. Tetapi dalam kondisi buah simalakama, keuntungan seperti apa pun tidak boleh dilewatkan.

§


Lima tahun kemudian.

Si politisi tengah bersantai di vila pribadinya. Hari itu udara pegunungan sangat sejuk, nisbiah untuk daerah tropis seperti ini. Aroma yang menyebar dari pepohonan pinus menggelitik hidung. Rumput masih basah oleh kabut yang perlahan menguap diusir mentari tengah hari. Suara burung-burung di pucuk pepohonan bersaing dengan suara musik dari pemutar piringan hitam dan dengan cekikikan gadis-gadis berpakaian minim yang lalu lalang di sisi kolam renang. Vila ini dibangun seorang gubernur jenderal di masa kolonial. Aslinya tidak memiliki kolam renang, tetapi atas permintaan si politisi sebuah kolam dibangun tiga tahun lalu. Agar lebih meriah, ungkapnya. Ya, tentu. Yang jelas sejak kolam ini selesai, aku tak pernah lagi melihat keluarga si politisi berkunjung ke vila.

Seorang gadis berkulit putih bagai pualam yang tubuhnya hanya ditutupi dua lembar kain tipis mendekatinya sambil membawa telepon genggam. Dengan senyuman dan kerlingan ia menyerahkannya pada si politisi. Bak penari ia membalikkan badan dan melenggak-lenggok ke arah kolam. Tempat ini memang penuh dengan keindahan. Pantas saja bisnis temanku tidak pernah seret.

“Halo, Karina.”
“Ya, Pak. Saya masih baru saja turun dari heli, Pak. Sekarang sedang di mobil menuju ke vila.”
“Oke, bagus. Untunglah kamu bisa menyempatkan datang. Saya tahu kamu baru mengambil cuti liburan tiga hari lalu.”
“Tidak masalah, Pak. Bapak kan mengerti saya, tidak bisa tenang selama liburan. Terus menerus memikirkan masa kampanye yang tinggal dua minggu lagi,” jawabnya penuh semangat. Tulus atau tidak, aku tak mampu memastikan.
“Baiklah, saya tunggu di vila.”

Ia merebahkan badan dan memejamkan matanya. Dengan jentikan jari, dua orang gadis yang sedang duduk-duduk di tepi kolam mendekat. Aku bagai menyaksikan penampilan virtuoso kala jari-jari mereka yang lihai mengoleskan losyen, mengusap, membelai, dan melemaskan otot dan urat yang tegang pada tubuh pria tua itu.

Deru mesin dan suara ban mobil yang melindas kerikil membuyarkan lamunannya. Ia meraih kimono putih tebal yang ada di meja dan berjalan masuk ke dalam ruang kerja. Di sana direktur kampanye sudah berdiri menunggu. Nafasnya sedikit terengah-engah tetapi wajahnya sumringah. Sebuah koper besar teronggok di dekat pintu.

“Bagaimana liburannya, Pak?” ujarnya membuka percakapan.
“Lumayan. Bagaimana Rio?”
“Wah ramai sekali, Pak. Penuh dengan turis. Saya lebih banyak menghabiskan waktu di kamar, merancang strategi kampanye dan berkoordinasi dengan pasukan media sosial kita.”
“Bagus, bagus. Bagaimana dengan nyonya besar?”
“Tim saya sudah menanganinya sesuai dengan pesan Bapak. Ibu dan anak-anak baru tiba di St. Moritz. Kami sudah berkoordinasi dengan polisi setempat agar menjauhkan pers dari keluarga Bapak.”
“Oke. Penting sekali bagi saya untuk berkonsentrasi pada kampanye tanpa gangguan nyonya besar,” matanya melirik ke arah kolam renang.
“Tentu saja, Pak. Tentu saja.”

Politisi senior itu menduduki kursi di belakang meja kerjanya yang sangat besar. Pada dinding di belakangnya tergantung sebuah lukisan portret setinggi tiga meter. Di sana tampak ia berdiri menggunakan seragam kebesaran, lengkap dengan segala regalia, dengan latar belakang keindahan alam negaranya.

“Karina, silakan duduk.” Perempuan itu tergopoh-gopoh mendekati kursi di hadapan si politisi. Sedikit terhuyung-hutung. Masih jetlag sepertinya. “Ada sesuatu yang sangat penting yang hendak saya bicarakan.”
“Masalah elektabilitas, Pak?” air mukanya cemas.
“Ya, salah satunya. Saya benar-benar khawatir mengenai hal ini. Dalam tiga bulan terakhir, elektabilitas saya selalu kalah jauh dari si keparat. Rata-rata tertinggal 25%.” Mendengar hal itu Karina semakin gelisah.
“Pasukan media massa dan media sosial kita sudah dikerahkan untuk menyebar propaganda, Pak.”
“Saya tahu. Tetapi sejak si Jaksa Agung Muda idealis itu berkoar di media bahwa dia akan membuka kasusku dari lima tahun lalu, semua tindakan kita bagaikan tong kosong. Apalagi tadi pagi ia baru saja sesumbar di akun media sosialnya bahwa besok akan membawa bukti-bukti baru ke Kejaksaan.” Sang direktur kampanye menunduk semakin dalam. “Kamu tahu artinya bila kita kalah?”

Karina, sang direktur kampanye, adalah mantan sukarelawan yang paling vokal saat si politisi mencalonkan diri lima tahun lalu. Imbas dari kemenangan jagoan yang dielu-elukannya, konglomerasi keluarganya mendapat durian runtuh. Berbagai kontrak pemerintah dilimpahkan ke mereka. Mulai dari pembangunan jalan tol, pengadaan kapal-kapal berat, hingga impor vaksin bagi seluruh rumah sakit di pelosok negeri. Dengan perpanjangan tangan-tangan kekuasaan si politisi dan mesin propaganda raksasa Karina di belakang mereka, sama sekali bukan hal yang sulit untuk menggiring opini masyarakat. Mengalihkan tatapan mata publik ke arah lain sudah bagai permainan anak-anak.

Ancaman kekalahan di pemilihan berikutnya berpotensi menjungkirbalikkan fondasi kekuasaan dan menghentikan perputaran roda propaganda yang telah mapan. Dan Karina memiliki banyak rahasia yang harus tetap terkubur. Jauh di dalam tanah, jauh dari endusan publik.

“Apa yang harus saya dan tim lakukan, Pak?”
“Begini. Saya telah memikirkan hal ini selama beberapa hari terakhir. Saya rasa saya tahu orang yang dapat membantu kita keluar dari masalah,” jawab si politisi. Matanya menatap tajam ke arah Karina.
“Siapa, Pak? Biar saya hubungi sekarang juga.”
“Kamu tidak mengenalnya,” Karina sedikit terkejut. “Saya akan pertemukan kamu dengannya nanti. Tetapi sebelum itu, saya ingin kamu melakukan sesuatu untuk saya. Sebuah permintaan pribadi.”
“Tentu saja, Pak. Apa saja, Bapak tinggal sebutkan,” jawabnya tergesa-gesa.
“Orang yang saya ceritakan ini, dia memiliki pengaruh yang luar biasa. Saya sangat yakin, dengan bantuannya kita mampu lolos dari masalah elektabilitas yang sedang kita hadapi.” Karina memperbaiki posisi duduknya dan memperhatikan dengan seksama. “Pria ini membantu saya keluar dari masalah tuntutan hukum lima tahun lalu.” Si politisi mengeluarkan sebatang cerutu dari dalam laci. “Namun sebagai akibatnya, saya berhutang banyak. Sementara itu,” ia menyalakan cerutunya, “kamu tahu sendiri bahwa arus keluar-masuk asetku saat ini sedang diawasi secara ketat. Saya tidak dapat meminta bantuannya lagi sebelum…”
“Maaf bila saya lancang memotong, Pak. Saya rasa saya tahu arah pembicaraan ini. Tentu saja saya siap, Pak. Berapa pun besarnya hutang tersebut, saya yang akan menanganinya,” ujarnya berapi-api.
“Kamu yakin? Hutang ini sangat besar. Memang, bantuan darinya akan sangat sepadan. Sangat, sangat sepadan.”
“Bapak tidak perlu meyakinkan saya lagi. Bapak berikan saja nomer kontaknya, saya yang akan menangani selanjutnya,” jawab Karina mantap.

Konglomerasi keluarganya tiga tahun berturut-turut berada di Forbes 500, rekening pribadinya tersebar dari Geneva hingga Pulau Cayman, tentu Karina dapat menjawab permintaan si politisi dengan percaya diri. Lagi pula apa gunanya semua aset tersebut bila nanti dibekukan oleh rezim pengganti. Lebih baik berkorban sekarang untuk mendapatkan untung yang lebih besar di kemudian hari, mungkin begitu pikirnya. “Berapapun biayanya akan saya sediakan. Kelanggengan kepemimpinan Bapak adalah tujuan hidup saya,” tambah Karina. Dalam benak ia mengira-ngira besar hutang si politisi serta mengalkulasi aset-aset apa saja yang harus ia korbankan. Lamunannya dibuyarkan oleh suara ketukan di pintu. Saat pintu terbuka, seorang pria dengan kemeja merah muda dan celana kargo selutut sudah berdiri di sana.

“Halo, Bos!”
“Halo. Silakan masuk.”
“Halo, sepertinya kita belum berkenalan,” ujar pria itu sambil mengulurkan tangan ke arah Karina.
“Karina, direktur kampanye Pak…”
“Ah, tentu saja,” pria itu menyambut tangan Karina dan mencium punggun tangannya dengan lembut.
“Ini, Karina. Calon duta besar saya di periode berikutnya,” sambung si politisi sambil sedikit menyunggingkan senyum, berusaha mencairkan suasana. Ia berjalan mendekati kabinet yang berisi beberapa botol minuman. “Saya tadi baru saja berdiskusi dengan Karina. Dia setuju untuk mempergunakan asetnya untuk membayar hutang saya kepadamu.”

Dari perubahan mimik wajahnya, pria itu terlihat agak kaget. Ia masih memegang tangan Karina saat menoleh ke arah si politisi. “Begitu?” ujarnya.

“Ya, saya setuju untuk menggantikan beliau melunasi hutangnya pada anda,” ucap Karina tegas. “Sebagai pendukungnya yang paling setia, saya seratus persen berkomitmen pada keputusan ini. Secepatnya tim pengacara dan akuntan saya akan segera menghubungi anda, memformalkan perubahan kontrak.”
“Tidak perlu, nona. Saya melihat mata anda yang begitu indah, saya tahu anda orang yang dapat dipercaya. Yang saya butuhkan hanya persetujuan verbal dan jabatan tangan anda,” ujar pria itu, senyum masih tersungging di bibir.

Karina mengulurkan tangannya dengan sigap. Pria itu melirik pada si politisi yang hanya menatap dari jauh dengan raut wajah dingin. Si politisi meneguk sekaligus minuman di gelasnya. Saat ia menggengam erat tangan Karina, matanya sekilas tampak bersinar. Tapi kurasa cuma aku yang bisa melihat itu. Karina sendiri sedikit terkejut oleh betapa dingin tangan yang ia genggam. Pikiran yang masih diselimuti oleh berbagai masalah kampanye membuatnya segera menepis keanehan tersebut.

“Nona cantik, anda tidak perlu lagi pusing memikirkan masalah kampanye,” ujar pria itu.
“Baiklah. Terima kasih, Karina. Sekarang ada yang hendak saya bahas dengan teman saya ini,” ujar si politisi.
“Tentu saja, Pak,” jawab Karina. Seiring kakinya melangkah menuju pintu, Karina merasakan suhu ruangan drastis berubah menjadi sangat dingin. Ia menatap ke luar, mentari masih bersinar cerah. Mungkin cuma thermostat yang bermasalah, gumamnya dalam hati.

“Saya tahu kamu seorang politisi yang licin. Tetapi mengkhianatinya seperti itu… Wow, saya terkesima, Bos,” ujar si pria sesaat setelah pintu kembali tertutup.
“Kamu sendiri yang menulisnya di kontrak yang kamu sodorkan lima tahun lalu,” jawab si politisi singkat.
“Dari awal saya sudah merasakan bahwa anda adalah pelanggan yang spesial. Jarang sekali ada yang membaca tumpukan pasal-pasal itu,” sang pria tertawa kecil. Sang politisi kembali duduk di kursinya.
“Lalu, mengenai bonus yang kamu tawarkan?”
“Kita baru saja menutup satu bisnis dan anda sudah hendak membahas bisnis baru. Santai sedikit lah,” pria itu menjatuhkan badannya ke sofa besar di sudut ruangan. “Tentu. Seperti ucapan saya dulu, bisnis ini mementingkan kepuasan klien. Saya tidak pernah mengingkari janji. Tidak pernah. Anda akan segera mendapat tambahan keuntungan pasca perjanjian yang baru kita tutup tadi.”
“Baiklah. Lalu, mengenai atasan anda?” tanyanya hati-hati.
Pria itu tertawa lantang, bagai telah menunggu-nunggu pertanyaan tadi. “Jawaban saya masih sama. Beliau tidak suka kepadamu, Bos. Nilai merahmu terlalu banyak. Tidak ada peluang sama sekali ia akan meloloskanmu. Tapi,” pria itu mengambil jeda sejenak, “mungkin saya bisa menawarkan bisnis baru lainnya.”
“Maksudmu?”
“Saya tetap memberikan bonus sesuai yang telah dijabarkan di perjanjian awal kita dulu, efektif mulai detik ini: anda akan terpilih untuk periode kedua,” gelegar guntur terdengar dari balik jendela tepat di akhir kalimat pria itu. Ya, petir di siang bolong. Temanku itu memang teatrikal.

“Mengenai bisnis baru yang kau sebutkan barusan?”
“Bila anda bisa membawa lebih banyak orang lagi untuk menyerahkan jiwanya padaku, seperti yang baru saja anda lakukan pada gadis malang tadi…”

Di sini pria itu tiba-tiba menghentikan kalimatnya. Ia mengeluarkan arloji bandul dari dalam saku celananya. Sambil menatap arloji, ia mengangkat tangannya. Tak lama kemudian, ia mulai menghitung mundur menggunakan jari-jarinya.

“Lima, empat, tiga, dua, satu.” Berselang sekitar satu detik dari kata terakhir tadi, sayup-sayup terdengar suara menggelegar dari kejauhan. Kali ini bukan petir. “Helikopter yang ditumpangi Karina baru saja menabrak tebing,” pria itu menekuk wajahnya, membuat mimik sedih. Ia memasukkan arloji ke dalam saku. Si politisi hanya duduk membisu. Wajahnya pucat, cerutu di tangannya hampir saja jatuh.

“Sampai di mana tadi? Oh ya, bila anda dapat terus menyuplai saya dengan jiwa-jiwa malang, maka tim kami, yang tersebar di seluruh benua dan samudera, akan menjamin bahwasanya semua kemewahan, semua kesenangan, semua gadis-gadis muda, semua Chardonnay, Merlot, dan Chianti yang anda cintai, vila-vila besar di kaki gunung seperti ini, mulai dari Patagonia hingga Carpathia, akan selalu tersedia bagi anda. Kamu memang tidak akan menuju ke atas,” tangannya menunjuk ke langit-langit, “tetapi setidaknya Bos bisa menikmati tempat ini sembari menunggu tujuan akhir.” Ia membalikkan tangannya, telunjuknya mengarah ke lantai. “Jadi, sekali lagi, are you in or are you out?”

Politisi setengah baya itu bangkit dari kursinya. Ia menghisap cerutu dalam-dalam, lalu mematikannya di asbak bersalut emas. Ia berjalan menghampiri si pria, “bila itu tujuan akhir saya, tentunya akan lebih baik bila saya membawa banyak teman.” Dan ia pun mengulurkan tangannya.
“Haha, saya tahu anda memang pelanggan yang cerdas,” pria itu bangkit dari sofa, menyambut tangan si politisi dan menjabatnya erat. Ia lalu melangkah ke arah pintu keluar.

“Bos, selera anda bagus. Saya sangat menyukai vila ini. Dulu saya pernah mengunjungi sang gubernur jenderal yang membangunnya. Tak terkira berapa ribu jiwa-jiwa malang yang ia kirimkan kepadaku. Nanti saya akan kenalkan anda padanya. Kalian berdua pasti cocok. Sampai bertemu lagi!”

Si pria misterius itu menutup pintu. Suara menggelegar dari luar jendela mengiringi tawanya yang masih terdengar dari balik dinding. Sebuah petir menghujam bumi tidak jauh dari komplek vila mewah sang politisi. Awan mendung besar bergulung-gulung menyusuri punggung pegunungan. Gadis-gadis muda dari kolam renang tertawa-tawa kecil, berlarian masuk ke dalam ruangan kerja si politisi untuk menghindari gerimis.

Tak berselang lama hujan berubah deras. Sederas keuntungan bisnis temanku selama beberapa ribu tahun terakhir. Bangsa manusia, kalian memang selalu jatuh pada lubang-lubang yang sama.