“Pukul 22.00 waktu Pasifik. Detektif Mulyana Suradji melapor telah mendarat di Viridis...,” suara gemuruh STM - Special Transfer Mobile yang menyalakan mesinnya bergema ke sekelilingnya, dan ketika semuanya mereda kembali, “... di Viridis 15. Akan melapor kembali jika aku sudah ada di bagian yang kurang berisik. Mulya out.” Dia kemudian mencopot apparat dari telunjuknya dan mengantonginya ke bagian dalam mantelnya. Lebih baik berhati-hati di Viridis. Maskernya yang lebih seperti helm luar angkasa membuat dia kepanasan, tapi mungkin ini karena ketidaknyamanan dia berada di Viridis.
Ada beberapa Viridis menyebar di seluruh dunia, dibangun beberapa dekade yang lalu, untuk membersihkan air laut bumi yang sudah mati. Jauh ketika manusia masih lebih optimis. Idealnya, kompleks ini tidak untuk didiami manusia, hanya sebuah fasilitas raksasa. Tapi kemudian, pemberontakan, pembuangan tawanan politik, membuat mereka dan keturunannya membangun kota-kota gubuk dari logam-logam pretelan dan menciptakan habitat baru di sini. Darat dan Viridis memiliki hubungan perdagangan yang tidak stabil, dihiasi oleh perampokan dan penipuan, sampai tidak jelas lagi siapa yang benar. Seluruh kompleks raksasa itu terlihat seperti kaleng, dengan warna dominan hitam dan jingga oksidasi.
Mulya melangkah cepat-cepat dari gerbang terowongan lintas laut, melewati rentetan panjang manusia yang berbaring di sepanjang dermaga yang lagi-lagi logam. Mulya tidak yakin mereka berbaring, atau dibaringkan. Sudah mati, atau menunggu mati. Wabah menyerang paling keras di Viridis-Viridis, dan mereka tidak punya perangkat memadai untuk menahan progresinya, jadi orang-orang yang terjangkit diletakkan saja di dermaga, untuk nantinya dibuang ke laut jika ada yang kaku dan mulai mengeluarkan bau. Asam laut akan menyelesaikan apa yang tersisa dari mayat-mayat tersebut. Entah kapan Viridis akan mencapai tujuan pembuatan mereka jika manusia terus-menerus menambahkan racun ke laut. Mata mereka yang masih hidup umumnya berwarna keunguan, kosong. Mulya selalu merasa tatapan-tatapan mereka adalah tatapan menghakimi. Mengapa orang darat tidak peduli dengan kami?
Orang daratpun tidak memiliki pemecahan untuk ini, setidaknya belum, jawab Mulya dalam hati untuk pertanyaan khayalannya, sambil menekan tombol penyaring udara di maskernya kencang-kencang ke level sepuluh, untuk mencegah bau logam, karat, darah, atau mungkin kematian sampai ke hidungnya. Orang darat harus selalu mengenakan masker sepenuh wajah ke Viridis, tubuh mereka sensitif untuk udaranya. Apa yang bisa diharapkan dari udara penuh oksidasi dan laut yang mati? Umur pendek dan mata perih?
“Detektif!” Andreika berlari-lari menyambutnya. Dia lahir di Viridis, jadi tidak perlu mengenakan masker. Mulya menggeram, dia selalu kesal jika Andreika yang ditugaskan mendampinginya. Dia seharusnya tidak bekerja di lapangan, “aku sudah mengurus kelengkapan Bapak. Lebih baik kita cepat.”
“Apakah Dr. Randall sudah diamankan?” Mulya menekankan ke lima jarinya pada pad yang dijulurkan Andreika. Komputer pad itu menjerit gembira mengkonfirmasi identitasnya. Mulya melanjutan langkah cepatnya, Andreika berusaha menyusulnya.
“Subjek sudah diamankan di Divisi Keamanan, “ wow kabar buruk, “mereka kekurangan orang. Jadi lebih baik kita cepat, pak. Sedang banyak aksi protes di Viridis ini. Dua titik di kota gubuk, dan satu kelompok mencoba merusak inti Viridis. Memakai masker adalah cari mati untuk waktu-waktu ini, Pak.”
Bukannya selalu berbahaya setiap waktu, ya? “Yah, mau bagaimana lagi?” Memakai masker di Viridis adalah penanda visual untuk orang-orang darat, membuat mereka rawan terkena tindak kriminal sepele, seperti perampokan apparat jari dengan memotong jari, “cek latar belakang?”
“Siap, pak. Sudah saya update ke apparat bapak. Terenkripsi.”
Andreika lebih cocok untuk pekerjaan riset. Mulya memasang apparatnya dan membacanya. Lalu, “Saya harap kita tidak perlu menggunakan cara murahan ini. Berikutnya, apakah ada intelejen lebih lanjut tentang Patinnassarani?”
“Belum ada, pak.”
Entah sudah berapa lama Mulya menahan dirinya untuk tidak mencekik Andreika, jadi dia hanya berhenti melangkah, menarik nafas panjang, dan menghembuskannya, merasakan rasa pahit yang tumbuh di lidahnya. Dia melanjutkan jalannya, “Baiklah. Nampaknya semuanya tergantung pada diriku.”
--
“Kami bisa mengatasi masalah ini sendiri, tidak perlu campur tangan orang darat,” suara serak dan bergemuruh Kapten Grondix menyambutnya ketika dia melangkah masuk ke markas Divisi Keamanan Viridis - DKV. Lengan seragam birunya sampai ke siku, menunjukkan tato ular di kedua lengan bawahnya. Mantan VIPER, rupanya. Kantung matanya besar sekali, sisi-sisi bibirnya yang tipis menunjukkan hasil cemberut bertahun-tahun, rambutnya cepak dengan uban di sana sini. Penuaan karena bertahun-tahun menjadi kepala keamanan di Viridis, bukan hasil menjadi anggota anggota separatis yang dikebiri. Tiga anak buahnya berdiri di belakangnya, dengan berbagai pose preman yang mengancam dan berbagai tingkat kelelahan.
Lampu di ruangan kaleng itu berkedip-kedip. Mungkin memang sudah akan rusak atau arus listrik menjadi terhambat karena sabotase pemrotes. Di tengah ruangan hanya ada satu meja, sisanya adalah loker-loker arsip yang sepertinya dipulung dari darat. Pintu ganda hanya ada dua, satu adalah pintu masuk mereka, dan yang kedua ada di belakang tukang-tukang pukul DKV ini. Padat dan pengap, pewangi artifisial masker Mulya tidak menghindarkannya dari perasaan tertekan.
“Saya mohon maaf jika kami melangkahi jurisdiksi Kapten. Tapi subjek yang kami maksud untuk lindungi adalah penting untuk orang darat, dan dia secara hukum ada di bawah perlindungan pemerintah Asia Tenggara,” Mulya berharap dengan bersopan santun dengan orang-orang terbelakang ini, dengan memperlakukan mereka seperti manusia beradab, rasa simpatinya bisa tumbuh dan dia lebih mampu mentolerir omong kosong mereka.
“Berharap menyimpan Dr. Randall untuk diri kalian sendiri?” ujar Grondix berkacak pinggang dan meluaskan bidang dadanya.
“Penelitian Dr. Randall adalah penting untuk seluruh manusia, bukan hanya orang darat, atau orang Viridis. Kalau nyawanya terancam, semua orang akan dirugikan,” Mulya menunggu rasa simpati untuk tumbuh, tapi sulit sekali.
“Laboratorium Dr. Randall ada di sini...”
“Tapi laboratorium pusatnya ada di Jawa. Dr. Randall ada di bawah otoritas LVI, “ Laboratorium Virologi Iapetus. Singkatannya saja sudah cukup untuk Mulyana, mengucapkan ‘Iapetus’ selalu membangkitkan rasa aneh di lidahnya, rasa yang belum pernah dia kenal. Menyingkatnya membantu Mulya untuk menganggap tempat itu tidak ada. Toh tidak banyak orang yang tahu singkatannya, “dia adalah aset penting untuk mereka, dan BIAT 10 adalah institusi penyidik khusus yang bertugas melindungi kepentingan LVI.”
“Langsung pada intinya saja, Detektif,” Grondix menekankan kata terakhirnya dengan nada mencibir. Simpatinya pada masyarakat Viridis tidak berhasil dia temui. Mungkin mereka memang tidak pantas diperlakukan dengan hormat.
“Intinya, Kapten,” dengan gigitan yang Mulya harapkan sama dengan sang Kapten, “kami berterimakasih atas kerjasama bapak-bapak sekalian dalam mengamankan Dr. Randall,” Mulya menegakkan posturnya dan membusungkan dadanya juga, dengan harapan memberi kesan mengancam, “tapi tugas bapak-bapak hanya sampai di sini.”
Grondix dan anak buahnya beranjak dari posisi mereka masing-masing dan mendekat lamban-lamban ke arah Mulya. Harus seperti ini interaksi dengan masyarakat Viridis berlangsung. Tidak pernah mereka bisa dibujuk dengan akal sehat. Karat dan udara laut yang mati mungkin mempengaruhi perkembangan otak mereka. Tapi sehancur apapun otak manusia, bagian yang mengatur pemecahan masalah dengan kekerasan tidak pernah rusak. Seperti kecoa yang tahan radiasi. Mulya menyentuh pinggangnya, merasakan pistolnya di balik jubah.
“Kau bukan pemerintah, tapi juga bukan dari Viridis manapun, dan kau melangkah seenaknya ke markas kami memberi kami perintah,” Kapten Grondix mendekatkan wajahnya ke maskernya. Trik mengancam preman. Tidak masalah. Pakai trik yang sama saja.
“Bagaimana kabar Amelia?”
Pertanyaan Mulya berhasil membuat gelombang di ruangan itu. Tidak nyata, tapi seluruh bahasa tubuh mereka berubah. Postur menggertak Grondix masih tidak berubah, tapi ke tiga anak buahnya saling melihat satu dengan yang lain, “apa... yang... ada apa dengan Amelia...” ada yang melintas di mata Grondix, Mulya tidak tahu itu apa.
“Data dari Dr. Randall terakhir mengenai status wabah di Viridis 15 menunjukkan bahwa istri anda...”
“BAIK! Baik!” Grondix melepas seluruh aksi tangguhnya, mengangkat telunjuk dan jari tengah tangan kanannya, isyarat agar pasukan premannya ikut melepas aksi tangguh mereka. Mulya berharap dia tidak lupa lagi memberikan paket parsel pada Andreika atas jasa intelijennya. Grondix mendekatkan wajahnya ke area telinga Mulya dan berbicara dalam frekuensi yang diharapkan hanya bisa didengar oleh mereka berdua, “...kolega dan anak buahku belum tahu Amelia terkena wabah. Apakah kamu bisa mengatur agar dia mendapatkan perawatan di darat?”
“Yang terbaik. Aku sudah meneruskan data mengenai Amelia ke Dr. Priyogo, kepala LVI, agar dia bisa dimasukkan dalam daftar prioritas,” Mulya menyunggingkan senyum yang diatur agar tidak terlalu ramah, tapi juga tidak terlihat palsu. Dia tidak tahu apakah dia jago melakukan olah wajah seperti itu.
Grondix menatap tajam matanya. Kali ini penuh rasa terimakasih. Mulya akhirnya menemukan simpati yang dia cari untuk orang Viridis. Mereka manusia juga. Wajah Grondix seperti bersinar sedikit, seperti ada beban besar diangkat dari pundaknya, “baiklah. Kami akan mengantarkan anda... “
“Detektif!” Andreika menyela, dan tidak sampai sedetik, suara ledakan yang tidak terlalu jauh menggelegar. Lantai markas DKV berguncang hebat, dan mereka untuk beberapa saat ada dalam kegelapan. Rasa pahit di mulut Mulya muncul kembali, rasa yang dia kenal. Cahaya merah berdenyut-denyut dan bunyi sirine rendah tanda darurat menggeram. Dari luar terdengar suara jeritan orang-orang dan teriakan kesakitan.
“Status, Sersan!” teriaknya pada Andreika.
“Dia disini!”
“Siapa?”
“Patinnassarani!”
Rasa pahit di lidahnya menjadi lebih kental, dan tubuhnya menjadi ringan. Adrenalin.
“Kapten Grondix! Di mana Kapten menahan Dr. Randall?” teriak Mulya pada Grondix. Dalam cahaya merah, kelelahan wajah Grondix lebih jelas terlihat. Tidak, itu bukan kelelahan, tapi penyesalan.
--
Lorong penahanan di markas DKV hanya dua meter lebarnya, membuat Mulya, Andreika, dan pasukan bawahan Grondix tidak bisa berlari dalam satu kolom. Dia benci berlari di belakang mereka, tapi gedung ini adalah milik DKV, dan hanya mereka yang tahu di mana Dr. Randall berada. Mulya merasa bisa melesat cepat, menemui Jonas Patinnassarani, residivis yang sudah lama dia kejar. Dalam setahun ke belakang, banyak ilmuwan LVI yang terbunuh dengan rapi, dan hasil penyelidikannya mengarahkannya pada Jonas. Tidak ada data mengenai dia, kecuali mengenai masa kecilnya: dia besar di masyarakat Viridis. Dr. Randall adalah salah satu ilmuwan teratas yang mengerjakan pengembangan sistem perawatan dan antivirus untuk wabah, dan domisili prakteknya yang paling dekat dengan korban Jonas terakhir menunjukkan Mulya bahwa dialah korban berikutnya. Seharusnya kita senang kalau perkiraan kita benar, tapi sekarang kebenaran tidak berarti apa-apa kecuali Jonas bisa dihentikan.
Kenapa dia mengincar ilmuwan LVI, dan kenapa mereka dieksekusi dengan cara seperti itu: disekap dan dihabisi pelan-pelan, selalu menjadi misteri baginya. MediCorps nampaknya tidak mungkin memperlakukan saingannya seperti ini, menggunakan pembunuh bayaran. Catatan mereka bersih, resmi maupun laporan intelijen. Jonas membuat Mulya sulit tertidur, dan ketidakberdayaan Mulya menghubungkan berbagai poin dalam penyelidikannya selalu membuat lidahnya pahit.
Rasanya seperti sudah ratusan pintu penjara melesat cepat di kiri dan kanan mereka, tapi ruangan yang mereka tuju seperti tidak tercapai. Dia menyesali hambatan yang diakibatkan oleh Grondix, dan sekarang Dr. Randall sungguh-sungguh terancam. Pistolnya dia genggam dengan kedua tangan di depan tubuhnya, kunci pengamannya dibuka, membuat lampu led di pinggiran pistolnya menyala hijau, mengalir berdenyut ke depan pucuknya, pertanda siap ditembakkan.
Ketika sampai di depan pintu logam bertuliskan ‘INTE—OGATION R-OM’ di ujung lorong setelah lima kali berbelok, dua orang pasukan keamanan mengambil posisi bersandar pada kedua sisi pintu, diikuti oleh Grondix membawa balok penghancur pintu. Memasukkan kombinasi akan memakan waktu lama, dan mendobrak pintu menjadi alternatif lebih cepat. Untuk ini, Mulya bersyukur bahwa kekerasan dalam otak manusia masih ada. Masih seperti kecoa, tapi kecoa yang berguna.
Bagian ujung balok yang datar ditempelkan pada permukaan pintu, dan dalam getaran kecil, pintu terdobrak ke dalam. Bunyi lantang hanya keluar dari pintu logam, tidak dari alat pendobraknya. Gelombang infrasonik. Boleh juga. Teknologi yang lahir Viridis, tapi patut diintegrasikan ke BIAT 10. Kedua prajurit yang tadi berjaga di sayap-sayap pintu menodongkan senjata mereka ke dalam ruangan, dalam posisi defensif. Mereka perlahan-lahan masuk satu persatu dalam posisi siaga. Angin laut berhembus dari dalam ruangan.
Dr. Randall masih duduk di tengah ruangan, tak sadarkan diri dengan kepala dan kedua tangannya di atas meja. Cahaya matahari sore yang kemerahan jatuh ke atasnya dari lubang di langit-langit. Rupanya bagian langit-langitlah yang meledak tadi. Pemandangan ini mengingatkan pada lukisan-lukisan Yesus yang sedang berdoa di hutan, beberapa saat sebelum kematiannya. Cahaya turun menyamping ke wajahnya yang memandang balik ke langit. Suara-suara kebingungan dan kesakitan terdengar dari luar kompleks gedung.
“Andreika, cek vitalnya!”
Andreika melesat ke tubuh Dr. Randall dan menempelkan jari telunjuk dan tengahnya ke nadi lehernya, “Dia hanya pingsan, Detektif!”
Tiba-tiba semuanya terjadi begitu cepat. Dalam beberapa detik, seluruh pasukan DKV yang mengawal mereka jatuh satu persatu dengan erangan yang mengerikan. Lidah Mulya pahit. Saat berikutnya, Andreika terlempar ke dinding. Masker wajah Mulya terlepas sempurna dari kepalanya, dengan rasa sakit di rahang kanannya menyusul. Bau Viridis berebutan masuk indera penciumannya seketika. Tidak ada bau karat, tidak ada bau kematian, hanya aroma laut. Detik berikutnya dia melihat pistol yang dia pegang melesat ke belakang Dr. Randall. Untuk sesaat, dia merasa terbebaskan. Menggenggam pistol baru terasa sebagai beban ketika pistol itu terlepas dari tangannya --atau lebih tepatnya, pistol, tangan, beserta lengan bawahnya lepas dari tungkainya. Rasa pahit dalam mulutnya pelan-pelan tergantikan dengan rasa menusuk luar biasa dari apa yang tersisa dari tangan kanannya.
Mulya menjerit, tapi tak bisa mendengar suaranya sendiri. Seluruh ruangan berputar. Jonas hanyalah siluet di hadapannya, satu tangan memeluk torso Dr. Randall, satu tangan memegang benda panjang – pedang, yang matanya diarahkan ke leher Dr. Randall. Posisi menyandera.
Tinggi 170 cm, postur tubuh rata-rata. Tidak ada bau karat, tidak ada bau kematian, hanya aroma laut.
Senin, 24 April 2017
[MANUSCRIPT] 01 Prolog - Yin dan Yang [draft 2]
Diposting oleh
Homeoerotika
di
01.06
Log Pribadi Ahmad Suradji
INISIATIF IAPETUS
LOG 1. Sabtu, 1 Oktober 2168
Tuhan itu ada. Ada yang bilang dalam hati, ada yang bilang di langit. Aku bilang Dia ada di sini, luar angkasa hitungannya adalah ‘langit’ untuk mereka yang di bumi. Kalau mereka bilang Tuhan bertahta di Saturnus, aku tidak akan protes. Kami akhirnya sampai di Iapetus, bulan Saturnus. Permukaan Saturnus berikut cincinnya terlihat jelas dari sini.
Dengan bangga, saya, Ahmad Suradji, melaporkan bahwa Kubah Habitat Otomatis telah sempurna terbangun, dan secara kasat mata semua terlihat sempurna. Iapetus X serius sekali mengerjakan ini.
Aku datang dengan 9 astronot: James Addison, Anggun Laksono, Tae Fa (hihi), George Barry, Dahlia Martin, Kendall Martono, Xian Jie, Kaloepa Rarpu, dan Brian Hendrick. Kaloepa dan Brian adalah supervisor yang ditunjuk Iapetus X untuk langsung melaporkan hasil penemuan kami kepada mereka.
Dua tahun yang lalu Iapetus X menemukan adanya gelombang radiasi dan elektromagnetik yang menarik di Titik 0. Letaknya hampir di tengah Cassini Regio, bagian gelap Iapetus dalam pegunungan tepat di tengah ekuator Iapetus. Harapannya kami bisa menemukan alasan yang lebih kongkrit mengapa pegunungan ini terbentuk, dan apakah warna gelap ini sungguh disebabkan oleh cyro-vulkanisme.
Menurutku, Tuhan itu adalah keseimbangan antara gelap dan terang, seperti Iapetus. Kalau Tuhan memang bertahta di Cassini Regio, aku akan berak di celana.
IES kami benar-benar membantu perjalanan dari Probe ke dalam Kubah Habitat. Jika tidak, kami akan sudah beku sebelum aku sempat mengetik apapun ke log. Kami langsung disambut IBU, AI kembangan terbaru dari Iapetus X, yang membangun dan merawat Kubah Habitat selama dua tahun sebelum kedatangan kami. Kami mengecek efisiensi dan efektifitas level 1 dan semuanya 100%. IBU benar-benar keren.
Bank musiknya juga lengkap, walau tertinggal 2 tahun. Tapi aku cukup senang ada album lengkap Groengy Vanhoever. Aku bisa mendengar itu sepanjang tahun.
[AKHIR LOG]
LOOOOOOGGGG 999999, TTuHMINGG tuhKTobr222 69
James, Anggun, Tae Fa, dan George berangkat pertama ke Titik 0. IBU akan memantau mereka melalui IE 00001 11100 00101 11000 00110 00100 01100 00001 11100 00100 11000 10010 11000 aku berpikir ekspedisi ke dunia baru otomatis membuat kita menjadi lebih superior di bandi 00001 11100 00101 11000 00110 00100 01100 00001 11100 00100 11000 10010 11000 istem daur ulang udara, sistem daur ulang makanan, dan hubungannya dengan toilet. Walaupun sistem ini sudah teruji di bumi, kenyataan bahwa makanan kami didaur ulang kembal 00001 11100 00101 11000 00110 00100 01100 00001 11100 00100 11000 10010 11000 ke mulut mereka. Pilihannya adalah ‘itu’ atau kelaparan.
LOG 10 [no entry] [no entry] [no entry]
Sarah dan Mulya 00001 11100 00101 11000 00110 00100 01100 00001 11100 00100 11000 10010 11000bumi, 00001 11100 00101 11000 00110 00100 01100 00001 11100 00100 11000 10010 11000
JANGAN KESINI!
00001 11100 00101 11000 00110 00100 01100 00001 11100 00100 11000 10010 11000
00001 11100 00101 11000 00110 00100 01100 00001 11100 00100 11000 10010 11000
[AKHIR LOG]
Menghitung.
Menghitung.
Menghitung.
INISIATIF IAPETUS
LOG 1. Sabtu, 1 Oktober 2168
Tuhan itu ada. Ada yang bilang dalam hati, ada yang bilang di langit. Aku bilang Dia ada di sini, luar angkasa hitungannya adalah ‘langit’ untuk mereka yang di bumi. Kalau mereka bilang Tuhan bertahta di Saturnus, aku tidak akan protes. Kami akhirnya sampai di Iapetus, bulan Saturnus. Permukaan Saturnus berikut cincinnya terlihat jelas dari sini.
Dengan bangga, saya, Ahmad Suradji, melaporkan bahwa Kubah Habitat Otomatis telah sempurna terbangun, dan secara kasat mata semua terlihat sempurna. Iapetus X serius sekali mengerjakan ini.
Aku datang dengan 9 astronot: James Addison, Anggun Laksono, Tae Fa (hihi), George Barry, Dahlia Martin, Kendall Martono, Xian Jie, Kaloepa Rarpu, dan Brian Hendrick. Kaloepa dan Brian adalah supervisor yang ditunjuk Iapetus X untuk langsung melaporkan hasil penemuan kami kepada mereka.
Dua tahun yang lalu Iapetus X menemukan adanya gelombang radiasi dan elektromagnetik yang menarik di Titik 0. Letaknya hampir di tengah Cassini Regio, bagian gelap Iapetus dalam pegunungan tepat di tengah ekuator Iapetus. Harapannya kami bisa menemukan alasan yang lebih kongkrit mengapa pegunungan ini terbentuk, dan apakah warna gelap ini sungguh disebabkan oleh cyro-vulkanisme.
Menurutku, Tuhan itu adalah keseimbangan antara gelap dan terang, seperti Iapetus. Kalau Tuhan memang bertahta di Cassini Regio, aku akan berak di celana.
IES kami benar-benar membantu perjalanan dari Probe ke dalam Kubah Habitat. Jika tidak, kami akan sudah beku sebelum aku sempat mengetik apapun ke log. Kami langsung disambut IBU, AI kembangan terbaru dari Iapetus X, yang membangun dan merawat Kubah Habitat selama dua tahun sebelum kedatangan kami. Kami mengecek efisiensi dan efektifitas level 1 dan semuanya 100%. IBU benar-benar keren.
Bank musiknya juga lengkap, walau tertinggal 2 tahun. Tapi aku cukup senang ada album lengkap Groengy Vanhoever. Aku bisa mendengar itu sepanjang tahun.
[AKHIR LOG]
LOG 2. Minggu, 2 Oktober 2168
James, Anggun, Tae Fa, dan George berangkat pertama ke Titik 0. IBU akan memantau mereka melalui IES mereka masing-masing.
Aku bertugas sebagai peneliti habitat, baik dalam lingkungan buatan sementara seperti dalam kubah ini, atau nanti jika kami berhasil menterraforma Iapetus. Mengapa persisnya Iapetus X memilih tempat ini dibanding Mars, kami tidak terlalu tahu. Mungkin Kaloepa dan Brian tahu. Waktu kecil aku berpikir ekspedisi ke dunia baru otomatis membuat kita menjadi lebih superior di banding orang-orang lain, tapi pada kenyataannya tidak begitu.
Kaloepa dan Brian orang-orang bodoh yang memegang terlalu banyak otoritas. Aku rasa tidak ada yang suka mereka, setidaknya aku harap aku tidak sendiri.
Aku mengecek sistem daur ulang udara, sistem daur ulang makanan, dan hubungannya dengan toilet. Walaupun sistem ini sudah teruji di bumi, kenyataan bahwa makanan kami didaur ulang kembali dari pembuangan kami tetap membuatku jijik, seberapa banyaknya nutrisi yang ada di sana. Orang-orang berusaha tidak memperdulikan itu setiap mereka memasukkan ‘makanan’ ini ke mulut mereka. Pilihannya adalah ‘itu’ atau kelaparan.
Tapi aku suka kopinya. Proses ini membuat rasanya begitu tebal dan seimbang. Aku tidak mau menyentuh bubur makanan daur ulang yang warnanya kecoklatan, tapi kopi kuberi pengecualian. Mungkin aku bisa minta tolong IBU untuk merekalibrasi pewarna makanannya untuk pakai warna-warni permen saja.
Setidaknya mengingatkan aku pada mobil-mobilan Mulya.
Aku juga sudah merekalibrasi cahaya dan suhu Kubah Habitat untuk meniru daur siang malam ekuator bumi. Hangat dan terang terus-terusan akan kurang baik buat manusia, kurasa.
[AKHIR LOG]
James, Anggun, Tae Fa, dan George berangkat pertama ke Titik 0. IBU akan memantau mereka melalui IES mereka masing-masing.
Aku bertugas sebagai peneliti habitat, baik dalam lingkungan buatan sementara seperti dalam kubah ini, atau nanti jika kami berhasil menterraforma Iapetus. Mengapa persisnya Iapetus X memilih tempat ini dibanding Mars, kami tidak terlalu tahu. Mungkin Kaloepa dan Brian tahu. Waktu kecil aku berpikir ekspedisi ke dunia baru otomatis membuat kita menjadi lebih superior di banding orang-orang lain, tapi pada kenyataannya tidak begitu.
Kaloepa dan Brian orang-orang bodoh yang memegang terlalu banyak otoritas. Aku rasa tidak ada yang suka mereka, setidaknya aku harap aku tidak sendiri.
Aku mengecek sistem daur ulang udara, sistem daur ulang makanan, dan hubungannya dengan toilet. Walaupun sistem ini sudah teruji di bumi, kenyataan bahwa makanan kami didaur ulang kembali dari pembuangan kami tetap membuatku jijik, seberapa banyaknya nutrisi yang ada di sana. Orang-orang berusaha tidak memperdulikan itu setiap mereka memasukkan ‘makanan’ ini ke mulut mereka. Pilihannya adalah ‘itu’ atau kelaparan.
Tapi aku suka kopinya. Proses ini membuat rasanya begitu tebal dan seimbang. Aku tidak mau menyentuh bubur makanan daur ulang yang warnanya kecoklatan, tapi kopi kuberi pengecualian. Mungkin aku bisa minta tolong IBU untuk merekalibrasi pewarna makanannya untuk pakai warna-warni permen saja.
Setidaknya mengingatkan aku pada mobil-mobilan Mulya.
Aku juga sudah merekalibrasi cahaya dan suhu Kubah Habitat untuk meniru daur siang malam ekuator bumi. Hangat dan terang terus-terusan akan kurang baik buat manusia, kurasa.
[AKHIR LOG]
LOG 3. Senin, 3 Oktober 2168
Tim pertama sudah pulang. IBU diperintahkan untuk mengenkripsi sebagian data yang mereka kumpulkan oleh Kaloepa. Dia bahkan tidak menunggu lama untuk setidaknya berpura-pura bahwa mereka menjadi bagian internal kelompok ini. Aku juga malas untuk terganggu sedemikian rupa pada tingkah polah mereka.
Anggun kelihatannya mencari jalan kebalikan dari aku.
[LOG SUARA]
Anggun: Ini harus cepat kita laporkan ke bumi, kita tidak dipersiapkan untuk ini. Tidak ada ilmuwan di sini yang... .
Kaloepa: Saya harap anda mengerti bahwa saya dan Brian yang dipercaya Iapetus X untuk mengambil keputuan mengenai bagaimana memperlakukan data-data yang kita kumpulkan.
Anggun: Tapi kenapa...
Kaloepa: Saya juga tidak berkewajiban menjelaskan keputusan saya...
[AKHIR LOG SUARA]
Aku mencuri rekam perdebatan mereka, tapi hanya sebegitu saja yang bisa kuambil. Wajah Anggun memerah setelah berdebat dengan Kaloepa, sedangkan James, Tae Fa, dan George mengeluh kelelahan dan langsung beristirahat. Aku memaksa mereka untuk mengecek kondisi medis mereka terlebih dahulu di PMO, tapi hanya James saja yang mau, dan dia langsung tertidur. Tae Fa dan George langsung ke ranjang mereka masing-masing.
Analisa James tidak menunjukkan apa-apa yang serius, kuharap yang lain sama saja.
Aku minum 3 gelas kopi kali ini.
[AKHIR LOG]
LOG 4. Rabu, 5 Oktober 2168
Tim kedua: Kendall, Xian, dan Brian berangkat ke Titik 0. Kami menunggu sehari supaya Anggun membaik. Keadaan Tim pertama tidak membaik, tapi tidak juga memburuk. Mereka tidur terus. Pembacaan PMO terbaru menunjukkan anomali pada sistem limbik, frontal cortex, dan basal ganglia mereka. Tapi hanya sejauh itu yang mereka temukan.
Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Apakah Titik 0? Apa ada sesuatu dalam makanan mereka? Aku perlu melakukan pemeriksaan manual lagi pada sistem daur ulang. Walau kalau ada apa-apa dengan sistem itu, seharusnya kami semua terkena.
PMO dan Kubah Habitat tidak mampu memberikan penanganan tumor.
[AKHIR LOG]
LOG 5. Kamis, 6 Oktober 2168
[LOG ERROR]
11110 01100 00001 11000 00100 00001 01100 10010 11000 11110 00100 10100 10000 00110 10010 01100 01010 01100 00111 11111 00100 00111 11000 11110 00101 01001 11100 11110 00100 01100 00110 01100 00100 00111 10000 00110 11000 00111 11000 11110 11000 00110 00100 10010 01100 01010 01100 00110 10101 11000 00100 00111 11000 00110 11100 10100 01100 11000 00111 11111 00100 01101 10000 00111 10011 11000 01110 11000 11000 00110 00100 11000 11001 11000 01001 00100 00111 10000 00110 11100 00110 11010 11100 11110 11110 11000 00110 00100 11110 01100 00001 11000 00100 10011 01100 10100 11000 00100 10011 10000 01010 01100 00110 00001 10000 01010 11000 11110 10100 01100 00100 10010 10000 00110 01011 11000 00110 00100 10010 00110 11000 00100 00111 10000 01010 10000 11110 11000 00110 11111 00100 10010 11000 00110 00100 00111 10000 00110 01011 01100 00110 00001 10000 01011 01010 11000 10100 01100 11110 11000 00110 00100 10010 01100 01010 01100 00111
[LOG ERROR]
LOG 5. Jumat, 7 Oktober 2168
[LOG SUARA]
Kaloepa: Saya tekankan sekali lagi. Ini adalah rahasia dari Iapetus X. Anda tidak berhak mendesak saya, dan saya tidak memiliki hak...
Dahlia: Tidak memiliki hak, atau tidak mau?
Kaloepa: Saya...
Ahmad: Begini ya. Iapetus X tidak perlu tahu bahwa anda membocorkan temuan rahasia anda yang – catat – tim kami temukan. Tanpa kami, anda tidak punya cukup data untuk dilaporkan. Berbeda dengan anda, ini adalah untuk kelangsungan hidup tim ini. Tim kedua tak pulang-pulang dan tak bisa dihubungi... dan tim pertama...
Dahlia: Menghilang...
Ahmad: Menghilang. Mereka pergi dari Kubah, tanpa IES mereka. IBU tidak bisa menghubungi mereka, dan ada tumor...
Kaloepa: Pengorbanan yang diperlukan untuk kelangsungan hidup manusia...
[Data suara tidak bisa didekripsi]
Dahlia: Ahmad! AHMAD STOP! Kita perlu bekerjasama di sini! Kita belum tahu apakah itu tumor!
Kaloepa: Bajingan...
IBU: Saya menemukan koordinat Kendall, Xian, dan Brian.
Dahlia: Di mana mereka? Apa mereka baik-baik saja?
IBU: Tepat di tengah Cassini Regio. Tanda-tanda vital mereka menunjukkan mereka baik-baik saja.
Kaloepa: Lihat kan? Mereka baik-baik saja!
Ahmad: Apa mereka melakukan aktivitas?
IBU: Mereka hanya diam di tempat.
Dahlia: Diam di... Apa maksud... Bagaimana dengan ... yang pergi?
IBU: Saya berusaha memperluas pencarian dengan mengganti metoda berdasarkan suhu tubuh, karena mereka tidak dalam IES. Sejauh ini nihil, karena jika saya hanya di sini, jangkauan saya tidak cukup untuk menyisir lebih jauh.
Dahlia: Tim Kendall membawa versi mobilemu dalam IES mereka, bisakah kau ping dari posisi mereka?
IBU: Menghitung... menghitung... menghitung...
Ahmad: Kita harus membawa IBU ikut. Memaksakan IBU berfungsi di sini dan mobilenya memakan banyak tenaga.
Dahlia: Kaloepa. Dengar. Kita perlu tahu apa yang data apa yang diperoleh tim Anggun untuk mencari tahu apa yang terjadi dengan mereka dan bisa menyusun failsave. Kalau tim ini menghilang ke pelosok Iapetus tanpa ada data yang lebih lanjut mengenai anomali ini, misi ini akan dianggap tidak berhasil.
Ahmad: Misi ANDA, dianggap tidak berhasil...
IBU: Menghitung... menghitung... menghitung...
Kaloepa: Baiklah. Sialan. Tim Dahlia menemukan bahwa sumber radioaktif dan elektromagentik pada Cassini Regio tidak diam. Bukan mineral, bukan aktivitas cyro-vulkanisme, tapi ... bergerak. Teratur.
Ahmad: Gerakan tektonik di bawah es?
Kaloepa: Tadinya mereka pikir begitu, tapi kalaupun ini adalah aktivitas... katakanlah, alami, dia... Ah persetan! IBU, tolong putar ulang laporan mereka.
IBU: Menghitung... menghitung... menghitung...
Dahlia: IBU, hentikan proses tadi dan ...
IBU: Menghitung... menghitung... menghitung...
[AKHIR LOG SUARA]
[AKHIR LOG]
LOG 6. JUmAt 8*& Oktober 2168
[LOG ERROR]
10100 11000 00111 01101 01001 10000 00100 10100 11100 10010 11000 00101 00100 10010 01100 01101 10000 01010 00011 01001 10000 00101 00111 11111 00100 11110 00011 00011 01010 10010 01100 00110 11000 00001 00100 10100 11100 10010 11000 00101 00100 10010 01100 01101 10000 01010 00011 01001 10000 00101 00111 11111 00100 10011 11100 00111 01100 10011 11111 00100 10011 11100 11110 11000 00110 11110 11000 00101 00100 10010 11100 01001 11100 00100 01101 01001 11000 00110 10000 00001 00100 01100 00110 01100 00100 00101 11000 00110 10101 11000 00100 01011 11000 10100 10011 11111 00100 10100 11100 00110 01011 01011 11100 00101 00100 00111 10000 00110 11000 01010 01100 11110 00111
[LOG ERROR]
LOG 7. 10100 11000 10011 00001 11100 00100 00011 11111 00100 00011 11110 00001 00011 10011 10000 01010 2168
[LOG ERROR]
11110 10000 00101 01100 10010 11100 01101 11000 00110 00100 10011 10000 01010 10011 11000 10100 01100 10100 00100 11110 11000 01010 10011 00011 00110 00100 10100 10000 00111 11000 00001 11000 00110 11111 00100 10010 11000 00110 00100 11110 11000 00111 01100 00100 10011 01100 10100 11000 00100 10011 10000 01010 11110 00011 01001 11000 10011 00011 01010 11000 10100 01100 00100 10010 10000 00110 01011 11000 00110 00100 10010 00110 11000 00100 00111 10000 01010 10000 11110 11000 00110 11111 00100 00110 11000 00111 01101 11000 11110 00110 10101 11000 00100 11110 11000 00111 01100 00100 11000 11110 11000 00110 00100 01001 10000 10011 01100 00101 00100 10011 10000 01010 00101 11000 10100 01100 01001 00100 11010 01100 11110 11000 00100 11110 11000 00111 01100 00100 00111 10000 00110 01011 01011 11100 00110 11000 11110 11000 00110 00100 10010 11100 11000 00100 11110 01010 00011 00111 00011 10100 00011 00111 00100 10111
[LOG ERROR]
LOG 8. Minggu, 10 Oktober 2168
Untuk Mulya, putraku. Apa kabar mama? Papa rindu sinar matahari. Pasti kamu dan mama bisa menikmati sinar matahari dengan bebas. Papa senang dan lega, kalian tidak di sini bersama papa. Cahaya buatan dan sistem daur ulang dalam Kubah Habitat hampir kolaps, dan sekarang papa berjuang melawan dingin. IBU tidak bisa diandalkan lagi untuk mengatur otomatis, dan pembacaannya selalu salah. Papa tidak tahu apakah papa bisa pulang lagi, dan ini membuat papa sedih.
Tadi malam papa mimpi aneh. Teman-teman papa datang ke sini, seakan mengajak papa untuk ikut bersama mereka. Mereka nampak sedih, dan papa terbangun dengan menangis. Papa lihat kamu dan mama bersama mereka. Papa tanya apa yang terjadi dengan mereka. Papa tanya apakah mereka baik-baik saja, tapi mereka tidak menjawab. Hanya sedih. Untungnya hanya mimpi, karena ketika papa bangun, hanya Dahlia dan Kaleupa yang masih di sini. Mimpinya nyata sekali.
Papa takut. Sepertinya hari ini kami bertiga akan pergi membawa IBU ke Cassini Regio, berusaha mencari teman-teman kami. Semoga mereka ada, dan hidup, supaya kami bisa pulang. Supaya papa bisa ketemu kamu lagi.
Kami akan bawa IES mereka juga. Siapa tahu mereka membutuhkannya.
[AKHIR LOG]
LOG 9. MiNGGu, 1!0) OkTOBRE 216^(9
Dengan bangga, saya, Ahmad Su 11000 00101 00111 11000 10010 00100 10100 11100 01010 11000 10010 11010 01100 00100 01100 11000 01101 10000 00001 11100 radji, melaporkan bahwa Kubah Habitat Otomatis telah sempurna terbangun, dan secara kasat mata semua terlihat sempurna. Iap 10100 00100 10111 00100 11010 11000 00111 10000 10100 00100 11000 10010 10010 01100 10100 00011 00110 00110 11111 00100 etus X serius sekali mengerjakan ini.
Aku datang dengan 9 astr 11000 00110 01011 01011 11100 00110 00100 01001 11000 11110 10100 00011 00110 00011 00100 00001 11000 10000 00100 10110 supervisor yang ditunjuk Iapetus X untuk langsung melaporkan hasil penemuan kami kepada mereka.
Dua tahun yang lalu Iapetus X menemukan adanya gelombang radiasi dan elektromagnetik yang menarik di Titik 0. Letaknya hampir di tengah Cas 11000 00100 01011 10000 00011 01010 01011 10000 00100 10011 11000 01010 01010 10101 00100 10010 11000 00101 01001 01100 11000 00100 00111 11000 01010 00001 01100 00110 00100 11110 10000 00110 10010 11000 01001 01001 00100 00111 11000 01010 00001 00011 00110 00011 00100 10111 01100 11000 00110 00100 11010 01100 10000 00100 11110 11000 01001 00011 10000 01101 11000 00100 01010 11000 01010 01101 11100 00100 10011 01010 01100 11000 00110 00100 00101 10000 00110 10010 01010 01100 01110 11110 00100 01110 11000 10100 10100 01100 00110 01100 00100 01010 10000 01011 01100 00011 00100 nisme.
Tim pertama sudah pulang. IBU diperintahkan untuk mengenkripsi sebagian data yang mereka kumpulkan oleh Kaloepa. Dia bahkan tidak menunggu lama untuk setidaknya berpura-pura bahwa mereka menjadi bagian internal kelompok ini. Aku juga malas untuk terganggu sedemikian rupa pada tingkah polah mereka.
Anggun kelihatannya mencari jalan kebalikan dari aku.
[LOG SUARA]
Anggun: Ini harus cepat kita laporkan ke bumi, kita tidak dipersiapkan untuk ini. Tidak ada ilmuwan di sini yang... .
Kaloepa: Saya harap anda mengerti bahwa saya dan Brian yang dipercaya Iapetus X untuk mengambil keputuan mengenai bagaimana memperlakukan data-data yang kita kumpulkan.
Anggun: Tapi kenapa...
Kaloepa: Saya juga tidak berkewajiban menjelaskan keputusan saya...
[AKHIR LOG SUARA]
Aku mencuri rekam perdebatan mereka, tapi hanya sebegitu saja yang bisa kuambil. Wajah Anggun memerah setelah berdebat dengan Kaloepa, sedangkan James, Tae Fa, dan George mengeluh kelelahan dan langsung beristirahat. Aku memaksa mereka untuk mengecek kondisi medis mereka terlebih dahulu di PMO, tapi hanya James saja yang mau, dan dia langsung tertidur. Tae Fa dan George langsung ke ranjang mereka masing-masing.
Analisa James tidak menunjukkan apa-apa yang serius, kuharap yang lain sama saja.
Aku minum 3 gelas kopi kali ini.
[AKHIR LOG]
LOG 4. Rabu, 5 Oktober 2168
Tim kedua: Kendall, Xian, dan Brian berangkat ke Titik 0. Kami menunggu sehari supaya Anggun membaik. Keadaan Tim pertama tidak membaik, tapi tidak juga memburuk. Mereka tidur terus. Pembacaan PMO terbaru menunjukkan anomali pada sistem limbik, frontal cortex, dan basal ganglia mereka. Tapi hanya sejauh itu yang mereka temukan.
Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Apakah Titik 0? Apa ada sesuatu dalam makanan mereka? Aku perlu melakukan pemeriksaan manual lagi pada sistem daur ulang. Walau kalau ada apa-apa dengan sistem itu, seharusnya kami semua terkena.
PMO dan Kubah Habitat tidak mampu memberikan penanganan tumor.
[AKHIR LOG]
LOG 5. Kamis, 6 Oktober 2168
[LOG ERROR]
11110 01100 00001 11000 00100 00001 01100 10010 11000 11110 00100 10100 10000 00110 10010 01100 01010 01100 00111 11111 00100 00111 11000 11110 00101 01001 11100 11110 00100 01100 00110 01100 00100 00111 10000 00110 11000 00111 11000 11110 11000 00110 00100 10010 01100 01010 01100 00110 10101 11000 00100 00111 11000 00110 11100 10100 01100 11000 00111 11111 00100 01101 10000 00111 10011 11000 01110 11000 11000 00110 00100 11000 11001 11000 01001 00100 00111 10000 00110 11100 00110 11010 11100 11110 11110 11000 00110 00100 11110 01100 00001 11000 00100 10011 01100 10100 11000 00100 10011 10000 01010 01100 00110 00001 10000 01010 11000 11110 10100 01100 00100 10010 10000 00110 01011 11000 00110 00100 10010 00110 11000 00100 00111 10000 01010 10000 11110 11000 00110 11111 00100 10010 11000 00110 00100 00111 10000 00110 01011 01100 00110 00001 10000 01011 01010 11000 10100 01100 11110 11000 00110 00100 10010 01100 01010 01100 00111
[LOG ERROR]
LOG 5. Jumat, 7 Oktober 2168
[LOG SUARA]
Kaloepa: Saya tekankan sekali lagi. Ini adalah rahasia dari Iapetus X. Anda tidak berhak mendesak saya, dan saya tidak memiliki hak...
Dahlia: Tidak memiliki hak, atau tidak mau?
Kaloepa: Saya...
Ahmad: Begini ya. Iapetus X tidak perlu tahu bahwa anda membocorkan temuan rahasia anda yang – catat – tim kami temukan. Tanpa kami, anda tidak punya cukup data untuk dilaporkan. Berbeda dengan anda, ini adalah untuk kelangsungan hidup tim ini. Tim kedua tak pulang-pulang dan tak bisa dihubungi... dan tim pertama...
Dahlia: Menghilang...
Ahmad: Menghilang. Mereka pergi dari Kubah, tanpa IES mereka. IBU tidak bisa menghubungi mereka, dan ada tumor...
Kaloepa: Pengorbanan yang diperlukan untuk kelangsungan hidup manusia...
[Data suara tidak bisa didekripsi]
Dahlia: Ahmad! AHMAD STOP! Kita perlu bekerjasama di sini! Kita belum tahu apakah itu tumor!
Kaloepa: Bajingan...
IBU: Saya menemukan koordinat Kendall, Xian, dan Brian.
Dahlia: Di mana mereka? Apa mereka baik-baik saja?
IBU: Tepat di tengah Cassini Regio. Tanda-tanda vital mereka menunjukkan mereka baik-baik saja.
Kaloepa: Lihat kan? Mereka baik-baik saja!
Ahmad: Apa mereka melakukan aktivitas?
IBU: Mereka hanya diam di tempat.
Dahlia: Diam di... Apa maksud... Bagaimana dengan ... yang pergi?
IBU: Saya berusaha memperluas pencarian dengan mengganti metoda berdasarkan suhu tubuh, karena mereka tidak dalam IES. Sejauh ini nihil, karena jika saya hanya di sini, jangkauan saya tidak cukup untuk menyisir lebih jauh.
Dahlia: Tim Kendall membawa versi mobilemu dalam IES mereka, bisakah kau ping dari posisi mereka?
IBU: Menghitung... menghitung... menghitung...
Ahmad: Kita harus membawa IBU ikut. Memaksakan IBU berfungsi di sini dan mobilenya memakan banyak tenaga.
Dahlia: Kaloepa. Dengar. Kita perlu tahu apa yang data apa yang diperoleh tim Anggun untuk mencari tahu apa yang terjadi dengan mereka dan bisa menyusun failsave. Kalau tim ini menghilang ke pelosok Iapetus tanpa ada data yang lebih lanjut mengenai anomali ini, misi ini akan dianggap tidak berhasil.
Ahmad: Misi ANDA, dianggap tidak berhasil...
IBU: Menghitung... menghitung... menghitung...
Kaloepa: Baiklah. Sialan. Tim Dahlia menemukan bahwa sumber radioaktif dan elektromagentik pada Cassini Regio tidak diam. Bukan mineral, bukan aktivitas cyro-vulkanisme, tapi ... bergerak. Teratur.
Ahmad: Gerakan tektonik di bawah es?
Kaloepa: Tadinya mereka pikir begitu, tapi kalaupun ini adalah aktivitas... katakanlah, alami, dia... Ah persetan! IBU, tolong putar ulang laporan mereka.
IBU: Menghitung... menghitung... menghitung...
Dahlia: IBU, hentikan proses tadi dan ...
IBU: Menghitung... menghitung... menghitung...
[AKHIR LOG SUARA]
[AKHIR LOG]
LOG 6. JUmAt 8*& Oktober 2168
[LOG ERROR]
10100 11000 00111 01101 01001 10000 00100 10100 11100 10010 11000 00101 00100 10010 01100 01101 10000 01010 00011 01001 10000 00101 00111 11111 00100 11110 00011 00011 01010 10010 01100 00110 11000 00001 00100 10100 11100 10010 11000 00101 00100 10010 01100 01101 10000 01010 00011 01001 10000 00101 00111 11111 00100 10011 11100 00111 01100 10011 11111 00100 10011 11100 11110 11000 00110 11110 11000 00101 00100 10010 11100 01001 11100 00100 01101 01001 11000 00110 10000 00001 00100 01100 00110 01100 00100 00101 11000 00110 10101 11000 00100 01011 11000 10100 10011 11111 00100 10100 11100 00110 01011 01011 11100 00101 00100 00111 10000 00110 11000 01010 01100 11110 00111
[LOG ERROR]
LOG 7. 10100 11000 10011 00001 11100 00100 00011 11111 00100 00011 11110 00001 00011 10011 10000 01010 2168
[LOG ERROR]
11110 10000 00101 01100 10010 11100 01101 11000 00110 00100 10011 10000 01010 10011 11000 10100 01100 10100 00100 11110 11000 01010 10011 00011 00110 00100 10100 10000 00111 11000 00001 11000 00110 11111 00100 10010 11000 00110 00100 11110 11000 00111 01100 00100 10011 01100 10100 11000 00100 10011 10000 01010 11110 00011 01001 11000 10011 00011 01010 11000 10100 01100 00100 10010 10000 00110 01011 11000 00110 00100 10010 00110 11000 00100 00111 10000 01010 10000 11110 11000 00110 11111 00100 00110 11000 00111 01101 11000 11110 00110 10101 11000 00100 11110 11000 00111 01100 00100 11000 11110 11000 00110 00100 01001 10000 10011 01100 00101 00100 10011 10000 01010 00101 11000 10100 01100 01001 00100 11010 01100 11110 11000 00100 11110 11000 00111 01100 00100 00111 10000 00110 01011 01011 11100 00110 11000 11110 11000 00110 00100 10010 11100 11000 00100 11110 01010 00011 00111 00011 10100 00011 00111 00100 10111
[LOG ERROR]
LOG 8. Minggu, 10 Oktober 2168
Untuk Mulya, putraku. Apa kabar mama? Papa rindu sinar matahari. Pasti kamu dan mama bisa menikmati sinar matahari dengan bebas. Papa senang dan lega, kalian tidak di sini bersama papa. Cahaya buatan dan sistem daur ulang dalam Kubah Habitat hampir kolaps, dan sekarang papa berjuang melawan dingin. IBU tidak bisa diandalkan lagi untuk mengatur otomatis, dan pembacaannya selalu salah. Papa tidak tahu apakah papa bisa pulang lagi, dan ini membuat papa sedih.
Tadi malam papa mimpi aneh. Teman-teman papa datang ke sini, seakan mengajak papa untuk ikut bersama mereka. Mereka nampak sedih, dan papa terbangun dengan menangis. Papa lihat kamu dan mama bersama mereka. Papa tanya apa yang terjadi dengan mereka. Papa tanya apakah mereka baik-baik saja, tapi mereka tidak menjawab. Hanya sedih. Untungnya hanya mimpi, karena ketika papa bangun, hanya Dahlia dan Kaleupa yang masih di sini. Mimpinya nyata sekali.
Papa takut. Sepertinya hari ini kami bertiga akan pergi membawa IBU ke Cassini Regio, berusaha mencari teman-teman kami. Semoga mereka ada, dan hidup, supaya kami bisa pulang. Supaya papa bisa ketemu kamu lagi.
Kami akan bawa IES mereka juga. Siapa tahu mereka membutuhkannya.
[AKHIR LOG]
LOG 9. MiNGGu, 1!0) OkTOBRE 216^(9
Dengan bangga, saya, Ahmad Su 11000 00101 00111 11000 10010 00100 10100 11100 01010 11000 10010 11010 01100 00100 01100 11000 01101 10000 00001 11100 radji, melaporkan bahwa Kubah Habitat Otomatis telah sempurna terbangun, dan secara kasat mata semua terlihat sempurna. Iap 10100 00100 10111 00100 11010 11000 00111 10000 10100 00100 11000 10010 10010 01100 10100 00011 00110 00110 11111 00100 etus X serius sekali mengerjakan ini.
Aku datang dengan 9 astr 11000 00110 01011 01011 11100 00110 00100 01001 11000 11110 10100 00011 00110 00011 00100 00001 11000 10000 00100 10110 supervisor yang ditunjuk Iapetus X untuk langsung melaporkan hasil penemuan kami kepada mereka.
Dua tahun yang lalu Iapetus X menemukan adanya gelombang radiasi dan elektromagnetik yang menarik di Titik 0. Letaknya hampir di tengah Cas 11000 00100 01011 10000 00011 01010 01011 10000 00100 10011 11000 01010 01010 10101 00100 10010 11000 00101 01001 01100 11000 00100 00111 11000 01010 00001 01100 00110 00100 11110 10000 00110 10010 11000 01001 01001 00100 00111 11000 01010 00001 00011 00110 00011 00100 10111 01100 11000 00110 00100 11010 01100 10000 00100 11110 11000 01001 00011 10000 01101 11000 00100 01010 11000 01010 01101 11100 00100 10011 01010 01100 11000 00110 00100 00101 10000 00110 10010 01010 01100 01110 11110 00100 01110 11000 10100 10100 01100 00110 01100 00100 01010 10000 01011 01100 00011 00100 nisme.
LOOOOOOGGGG 999999, TTuHMINGG tuhKTobr222 69
James, Anggun, Tae Fa, dan George berangkat pertama ke Titik 0. IBU akan memantau mereka melalui IE 00001 11100 00101 11000 00110 00100 01100 00001 11100 00100 11000 10010 11000 aku berpikir ekspedisi ke dunia baru otomatis membuat kita menjadi lebih superior di bandi 00001 11100 00101 11000 00110 00100 01100 00001 11100 00100 11000 10010 11000 istem daur ulang udara, sistem daur ulang makanan, dan hubungannya dengan toilet. Walaupun sistem ini sudah teruji di bumi, kenyataan bahwa makanan kami didaur ulang kembal 00001 11100 00101 11000 00110 00100 01100 00001 11100 00100 11000 10010 11000 ke mulut mereka. Pilihannya adalah ‘itu’ atau kelaparan.
LOG 10 [no entry] [no entry] [no entry]
Sarah dan Mulya 00001 11100 00101 11000 00110 00100 01100 00001 11100 00100 11000 10010 11000bumi, 00001 11100 00101 11000 00110 00100 01100 00001 11100 00100 11000 10010 11000
JANGAN KESINI!
00001 11100 00101 11000 00110 00100 01100 00001 11100 00100 11000 10010 11000
00001 11100 00101 11000 00110 00100 01100 00001 11100 00100 11000 10010 11000
[AKHIR LOG]
Menghitung.
Menghitung.
Menghitung.
Minggu, 16 April 2017
[MANUSRCRIPT] 01 Prolog - Yin dan Yang
Diposting oleh
Homeoerotika
di
21.07
Log Harian Pengkukuh Ahmad Suradji.
Inisiatif Iapetus.
LOG 1.
Jumat, 24 Oktober 2188, Tahun Terra
Tuhan itu ada. Aku yakin. Kalau indahnya matahari pagi dan sore di bumi tidak cukup menunjukkan keberadaanNya, berdiri di Iapetus akan mengubah semua pikiran. Atau setidaknya perspektif. Luar biasa indahnya. Ananda, kalau kamu ada di sini sama papa, kamu bisa lihat Saturnus dan cincinnya. Kamu bisa lihat foto, tentu, tapi melihat langsung akan beda sekali rasanya. Sayangnya aku tidak bisa merasakan udaranya. Kami terpaksa masih harus menghirup oksigen buatan yang didaur ulang di Kubah Terraforma. Jadi aku masih belum bisa menghirup udara asli Iapetus. Mungkin tidak akan pernah bisa.
Dua tahun bumi yang lalu, sebelum Inisiatif Iapetus berangkat, Proyek Iapetus mengirimkan paket terraforming terlebih dahulu ke sini. Bukan untuk koloni, sih. Tapi untuk Inisiatif Iapetus ini. Secara otomatis Proyek membangun habitat kecil khusus untuk menampung 10 orang. Dua orang teknisi mekanik, dua orang teknisi biologi, dua orang teknisi luar angkasa, satu orang botanis, satu orang zoologis, satu pilot, dan satu arkeolog, aku.
Kami ditemani juga oleh 3I (Inisiatif Iapetus terIntegrasi), sebuah AI – Kecerdasan Buatan untuk membantu kami menganalisa data Titik 0 yang mungkin terlewati oleh keterbatasan manusia. Aku suka 3I. Bank lagunya banyak. Perlu dicari tahu apakah memori musiknya itu resmi atau bajakan.
Kami perlu istirahat terlebih dahulu. Besok (kami masih pakai standar 24 jam bumi di sini) tim pertama akan masuk terlebih dahulu ke Titik 0: Angga dan James. Keduanya teknisi mekanik. Hanya membaca titik permukaan.
Ahmad Out.
LOG 2.
Sabtu, 25 Oktober 2188, Tahun Terra
Rasanya aneh bangun dari tidur dan menemukan langit dalam keadaan yang sama seperti sebelum tidur. Lampu dalam habitat dibuat semirip mungkin dengan intensitas matahari pada permukaan bumi khatulistiwa, tapi tetap saja rasanya aneh ketika mengintip ke luar dan langit masih ‘malam’ berbintang. Satu-satunya yang bisa membuatku benar-benar terbangun adalah kopi. Lucu betapa aku tidak pernah menyukai kopi selama di bumi, dan sekarang pikiran tajamku tergantung sepenuhnya padanya. Sistem daur ulang di sini boleh juga, lebih maju dari yang selama ini aku lihat – selama ini maksudnya tiga tahun yang lalu, sebelum kami berangkat.
Waktu aku pergi, aku dan Sinta sama-sama berumur 25 tahun. Sekarang Sinta sudah 28 tahun dan aku masih 25 tahun, karena cyrostatis. Aku ingin lihat wajah Ananda, dia sudah lima tahun sekarang, harusnya begitu. Kadang aku sebal kenapa kita bisa pergi sejauh ini tanpa teknologi komunikasi yang lebih canggih ditemukan terlebih dahulu. Akan lebih mudah bekerja tanpa rasa rindu. Tapi ini untuk kebaikan umat manusia juga. Agar bumi, bulan, dan Mars tidak lagi berkelahi. Kami pahlawan. Setidaknya aku harap begitu.
Angga dan James sudah memulai ekspedisi mereka, walau pembacaan 3I mengenai Titik 0 masih patut dipertanyakan. Ada gelombang yang terkadang memuncak di sana, tapi bisa jadi karena udara dingin membengkokkan sinyalnya, karena 3I memillih melempar ping infrasonik dalam pemindaiannya. Perkembangannya akan kuapdate besok.
Ahmad Out.
LOG 3.
Minggu, 26 Oktober 2188
Hasil ekspedisi Angga dan James menunjukkan bahwa Titik 0 memang lebih sarat gelombang radioaktifnya sampai radius 10 meter permukaan, dan 3 meter kedalaman. Selain itu tidak ada yang berarti. Di habitat kami berusaha berhipotesa mengenai kemungkinan adanya mineral yang familiar di area ini, dan yang terpenting, apakah itu mineral yang kita cari. Terlalu cepat untuk menyimpulkannya sekarang. Kami perlu melakukan studi kembali.
3I sedang sering memutar Rex Maximus. Greg nampak suka sekali band itu. Tapi kalau besok dia masih memutar itu, kepalaku akan pecah.
Di luar itu, Angga dan James terlihat lebih letih. Pandangan mereka seringkali kosong. Aku rasa aku tidak akan pergi ke mana-mana tanpa terlebih dahulu minum kopi. Mereka tidak mau minum kopi sebelum pergi, dan lihat mereka sekarang. Kelelahan. Anak muda sekarang entah kenapa lebih lembek, berjalan-jalan di permukaan Iapetus saja harus kehabisan nafas seperti itu, padahal gravitasinya hanya 1/40 bumi.
Ananda, papa harap kamu besar dengan kesukaan berolahraga. Kasihan kamu kalau sampai nanti dikomentari orang tua seperti papa sekarang. Tapi tergantung Ananda mau jadi apa nanti. Insinyur seperti papa, seniman seperti mama? Terserah Ananda nanti.
Ahmad Out.
LOG 4
Senin, 27 Oktober 2188
Selamat pagi. Hari ini kopinya aneh. Aku harus mengecek.
Ada keadaan darurat.
Ahmad Out.
LOG 5.
Selasa, 28 Oktober 2188
Aku tidak tahu bagaimana menjelaskan ini. Tapi James menghilang. 3I berusaha mencari posisinya berdasarkan ping ke komunikator ESUnya, dan menemukan bahwa dia diam tak bergerak di 15 km ke dalam Titik 0, lebih jauh dari pada jarak yang mereka tempuh Sabtu kemarin, walau memang lebih mudah berjalan sejauh itu di gravitasi seperti ini. Tapi kenapa dia diam di titik itu...
Kami berusaha menanyakan Angga. Siapa tahu ada info penting yang James bagikan ketika mereka pergi bersama, tapi Angga katatonik sekarang, dia tidak bisa diajak berkomunikasi. Hasil pembacaan medis 3I menunjukkan tanda-tanda ‘pertumbuhan’ di sistem limbik, frontal cortex, dan basal ganglianya. Apakah itu kerusakan internal atau ada pengaruh eksternal, masih belum diketahui. Aku tidak tahu mana yang lebih menakutkan, Angga tiba-tiba mengembangkan tumor tepat ketika dia 1000 miliar km dari bumi, atau dia terkena agen luar lain ketika di Iapetus, ketika ekspedisi ke Titik 0, dalam keadaan memakai ESU, yang seharusnya melindunginya dari radiasi apapun.
3I memindai ESUnya juga, dan tidak menemukan apa-apa. Mesin AHTS (Automated Human Treatment System) kami tidak dibuat untuk merawat penyakit degeneratif... .
Dia masih punya kekasih di bumi... .
Kenyataan bahwa James masih di luar sana diam tak bergerak juga tidak menolong.
Besok Randi, Alex, dan Siska akan mengecek besok ke titik di mana James berada, dan kami akan terus memonitor pergerakan mereka dan mencoba mempertahankan komunikasi selama mereka pergi.
Mungkin berdiam diri di sisi gelap Iapetus adalah keputusan yang salah. Aku butuh kopi.
Ahmad Out.
LOG 6.
Rabu, 29 Oktober 2188
Semalam aku bermimpi James kembali ke habitat. Dia duduk di bagian kaki ranjangku dan menatap lurus ke arah bumi berada. Aku berusaha memanggil namanya tapi tidak ada suara yang keluar. Aku tidak yakin itu mimpi atau bukan, sampai ketika aku bangun dan menemukan James masih belum ada di sini, barulah aku yakin ini bukanlah mimpi.
Gregor membuatkan kami sarapan makaroni. Seluruh bahannya palsu, dia mengolahnya ulang dari pasta daur ulang, tapi rasanya lumayan
[ERROR] 6d 61 6b 61 72 6f 6e 69 2e 62 75 6d 69 2e 73 65 72 69 62 75 2e 6b 69 6c 6f 6d 65 74 65 72 [ERROR]
[ERROR] 52 61 6e 64 69 2c 20 41 6c 65 78 2c 20 64 61 6e 20 53 69 73 6b 61 20 [ERROR]
Angga masih sama. Aku tidak mengerti bagaimana keadaan bisa semakin buruk secara cepat. Mungkinkah habitat ini ‘terinfeksi’ sesuatu sebelum kami sampai di sini? Kedengarannya sangat fantastis. Tapi apa sebabnya bumi begitu tertarik dengan Titik 0. Kamipun tidak diberi tahu.
Aku akan memindai manual habitat ini selama Randi, Alex, dan Siska pergi.
Ahmad Out.
LOG 7.
[ERROR] 6b 6f 6f 72 64 69 6e 61 74 20 62 75 6d 69 20 64 69 74 65 6d 75 6b 61 6e 2e 20 6d 65 6e 67 65 6a 75 74 6b 61 6e 20 73 65 6b 61 6c 69 20 62 61 68 77 61 20 61 64 61 20 6b 65 68 69 64 75 70 61 6e 20 64 69 20 70 6c 61 6e 65 74 20 74 65 72 62 65 6c 61 6b 61 6e 67 20 73 65 70 65 72 74 69 20 69 74 75 2e 20 62 61 68 6b 61 6e 20 74 65 72 6c 61 6c 75 20 64 65 6b 61 74 20 6b 65 20 6d 61 74 61 68 61 72 69 2e 20 70 65 72 6c 75 20 6d 65 6e 67 69 72 69 6d 6b 61 6e 20 61 67 65 6e 20 6d 75 6c 74 69 68 61 62 69 74 61 74 20 6b 65 20 73 61 6e 61 2e 20 6d 65 6e 67 65 74 65 73 20 61 70 61 6b 61 68 20 70 65 72 6d 75 6b 61 61 6e 20 70 6c 61 6e 65 74 20 61 69 72 20 69 74 75 20 62 69 73 61 20 6b 69 74 61 20 64 69 61 6d 69 2e [ERROR]
[pesan rusak] ... seharusnya 3I saja yang ke sini ... [pesan rusak]
LOG 8.
[ERROR] 62 65 72 64 61 73 61 72 6b 61 6e 20 70 65 6d 62 61 63 61 61 6e 20 6b 6f 64 65 20 77 61 6b 74 75 20 6d 65 72 65 6b 61 2c 20 73 69 6b 6c 75 73 20 68 61 72 69 20 6d 65 72 65 6b 61 20 61 64 61 6c 61 68 20 73 61 74 75 20 68 61 72 69 20 6d 65 72 65 6b 61 20 61 64 61 6c 61 68 20 73 61 74 75 20 70 65 72 20 74 75 6a 75 68 20 70 75 6c 75 68 20 64 75 61 20 68 61 72 69 20 64 69 20 73 69 6e 69 2e 20 61 6e 67 6b 61 6e 79 61 20 61 6e 65 68 2c 20 74 69 64 61 6b 20 62 75 6c 61 74 [ERROR]
[ERROR] 41 68 6d 61 64 20 53 75 72 61 64 6a 69 2e 20 4d 65 72 65 6b 61 20 6d 65 6d 69 6c 69 6b 69 20 6e 61 6d 61 20 69 6e 64 69 76 69 64 75 61 6c 2e 20 4d 65 6e 61 72 69 6b 2e 20 [ERROR]
LOG 9.
Sabtu, 1 November 2188
Jika ini catatan terakhirku, aku harap suatu saat bumi bisa membacanya. Aku harap Ananda bisa membacanya. Aku bahkan tidak tahu dia seperti apa sekarang. Seluruh anggota Inisiatif menghilang di titik yang sama dan aku menulis ini dari Titik 0. Tidak ada yang istimewa sejauh ini. 3I sudah berhenti berfungsi dari kemarin dan terus mengeluarkan tulisan yang terlihat seperti sekuens heksadesimal. Jangan-jangan itu memang heksadesimal.
Aku sudah terlanjur di sini. Aku akan buang waktu jika aku kembali dan menerjemahkan kode itu. Semoga itu hanya pesan error saja dan bukan apa-apa. Diam di habitat tidak akan menghasilkan apa-apa.
[ERROR] 49 6e 64 69 76 69 64 75 20 74 65 72 61 6b 68 69 72 20 64 61 74 61 6e 67 20 6b 65 20 73 69 6e 69 2e 20 53 65 6a 61 75 68 20 69 6e 69 20 70 72 6f 73 65 73 20 69 6e 74 65 67 72 61 73 69 20 6d 65 6e 69 6d 62 75 6b 61 6e 20 72 65 61 6b 73 69 20 79 61 6e 67 20 6d 65 6e 61 72 69 6b 2c 20 64 61 6e 20 64 69 61 20 6b 65 6d 75 6e 67 6b 69 6e 61 6e 20 62 65 73 61 72 20 74 69 64 61 6b 20 69 73 74 69 6d 65 77 61 2e 20 54 61 70 69 20 74 69 64 61 6b 20 61 64 61 20 73 61 6c 61 68 6e 79 61 20 64 69 20 63 6f 62 61 [ERROR]
...bahan yang sepertinya mampu memasuki ESU...
[pesan rusak]
...masih belum menemukan...
[pesan rusak]
...jangan kesini!!!
[ERROR] 74TUJU75 6aAN 75 61 6e 3a 20 62 75 6d 69BUMI[ERROR]
Inisiatif Iapetus.
LOG 1.
Jumat, 24 Oktober 2188, Tahun Terra
Tuhan itu ada. Aku yakin. Kalau indahnya matahari pagi dan sore di bumi tidak cukup menunjukkan keberadaanNya, berdiri di Iapetus akan mengubah semua pikiran. Atau setidaknya perspektif. Luar biasa indahnya. Ananda, kalau kamu ada di sini sama papa, kamu bisa lihat Saturnus dan cincinnya. Kamu bisa lihat foto, tentu, tapi melihat langsung akan beda sekali rasanya. Sayangnya aku tidak bisa merasakan udaranya. Kami terpaksa masih harus menghirup oksigen buatan yang didaur ulang di Kubah Terraforma. Jadi aku masih belum bisa menghirup udara asli Iapetus. Mungkin tidak akan pernah bisa.
Dua tahun bumi yang lalu, sebelum Inisiatif Iapetus berangkat, Proyek Iapetus mengirimkan paket terraforming terlebih dahulu ke sini. Bukan untuk koloni, sih. Tapi untuk Inisiatif Iapetus ini. Secara otomatis Proyek membangun habitat kecil khusus untuk menampung 10 orang. Dua orang teknisi mekanik, dua orang teknisi biologi, dua orang teknisi luar angkasa, satu orang botanis, satu orang zoologis, satu pilot, dan satu arkeolog, aku.
Kami ditemani juga oleh 3I (Inisiatif Iapetus terIntegrasi), sebuah AI – Kecerdasan Buatan untuk membantu kami menganalisa data Titik 0 yang mungkin terlewati oleh keterbatasan manusia. Aku suka 3I. Bank lagunya banyak. Perlu dicari tahu apakah memori musiknya itu resmi atau bajakan.
Kami perlu istirahat terlebih dahulu. Besok (kami masih pakai standar 24 jam bumi di sini) tim pertama akan masuk terlebih dahulu ke Titik 0: Angga dan James. Keduanya teknisi mekanik. Hanya membaca titik permukaan.
Ahmad Out.
LOG 2.
Sabtu, 25 Oktober 2188, Tahun Terra
Rasanya aneh bangun dari tidur dan menemukan langit dalam keadaan yang sama seperti sebelum tidur. Lampu dalam habitat dibuat semirip mungkin dengan intensitas matahari pada permukaan bumi khatulistiwa, tapi tetap saja rasanya aneh ketika mengintip ke luar dan langit masih ‘malam’ berbintang. Satu-satunya yang bisa membuatku benar-benar terbangun adalah kopi. Lucu betapa aku tidak pernah menyukai kopi selama di bumi, dan sekarang pikiran tajamku tergantung sepenuhnya padanya. Sistem daur ulang di sini boleh juga, lebih maju dari yang selama ini aku lihat – selama ini maksudnya tiga tahun yang lalu, sebelum kami berangkat.
Waktu aku pergi, aku dan Sinta sama-sama berumur 25 tahun. Sekarang Sinta sudah 28 tahun dan aku masih 25 tahun, karena cyrostatis. Aku ingin lihat wajah Ananda, dia sudah lima tahun sekarang, harusnya begitu. Kadang aku sebal kenapa kita bisa pergi sejauh ini tanpa teknologi komunikasi yang lebih canggih ditemukan terlebih dahulu. Akan lebih mudah bekerja tanpa rasa rindu. Tapi ini untuk kebaikan umat manusia juga. Agar bumi, bulan, dan Mars tidak lagi berkelahi. Kami pahlawan. Setidaknya aku harap begitu.
Angga dan James sudah memulai ekspedisi mereka, walau pembacaan 3I mengenai Titik 0 masih patut dipertanyakan. Ada gelombang yang terkadang memuncak di sana, tapi bisa jadi karena udara dingin membengkokkan sinyalnya, karena 3I memillih melempar ping infrasonik dalam pemindaiannya. Perkembangannya akan kuapdate besok.
Ahmad Out.
LOG 3.
Minggu, 26 Oktober 2188
Hasil ekspedisi Angga dan James menunjukkan bahwa Titik 0 memang lebih sarat gelombang radioaktifnya sampai radius 10 meter permukaan, dan 3 meter kedalaman. Selain itu tidak ada yang berarti. Di habitat kami berusaha berhipotesa mengenai kemungkinan adanya mineral yang familiar di area ini, dan yang terpenting, apakah itu mineral yang kita cari. Terlalu cepat untuk menyimpulkannya sekarang. Kami perlu melakukan studi kembali.
3I sedang sering memutar Rex Maximus. Greg nampak suka sekali band itu. Tapi kalau besok dia masih memutar itu, kepalaku akan pecah.
Di luar itu, Angga dan James terlihat lebih letih. Pandangan mereka seringkali kosong. Aku rasa aku tidak akan pergi ke mana-mana tanpa terlebih dahulu minum kopi. Mereka tidak mau minum kopi sebelum pergi, dan lihat mereka sekarang. Kelelahan. Anak muda sekarang entah kenapa lebih lembek, berjalan-jalan di permukaan Iapetus saja harus kehabisan nafas seperti itu, padahal gravitasinya hanya 1/40 bumi.
Ananda, papa harap kamu besar dengan kesukaan berolahraga. Kasihan kamu kalau sampai nanti dikomentari orang tua seperti papa sekarang. Tapi tergantung Ananda mau jadi apa nanti. Insinyur seperti papa, seniman seperti mama? Terserah Ananda nanti.
Ahmad Out.
LOG 4
Senin, 27 Oktober 2188
Selamat pagi. Hari ini kopinya aneh. Aku harus mengecek.
Ada keadaan darurat.
Ahmad Out.
LOG 5.
Selasa, 28 Oktober 2188
Aku tidak tahu bagaimana menjelaskan ini. Tapi James menghilang. 3I berusaha mencari posisinya berdasarkan ping ke komunikator ESUnya, dan menemukan bahwa dia diam tak bergerak di 15 km ke dalam Titik 0, lebih jauh dari pada jarak yang mereka tempuh Sabtu kemarin, walau memang lebih mudah berjalan sejauh itu di gravitasi seperti ini. Tapi kenapa dia diam di titik itu...
Kami berusaha menanyakan Angga. Siapa tahu ada info penting yang James bagikan ketika mereka pergi bersama, tapi Angga katatonik sekarang, dia tidak bisa diajak berkomunikasi. Hasil pembacaan medis 3I menunjukkan tanda-tanda ‘pertumbuhan’ di sistem limbik, frontal cortex, dan basal ganglianya. Apakah itu kerusakan internal atau ada pengaruh eksternal, masih belum diketahui. Aku tidak tahu mana yang lebih menakutkan, Angga tiba-tiba mengembangkan tumor tepat ketika dia 1000 miliar km dari bumi, atau dia terkena agen luar lain ketika di Iapetus, ketika ekspedisi ke Titik 0, dalam keadaan memakai ESU, yang seharusnya melindunginya dari radiasi apapun.
3I memindai ESUnya juga, dan tidak menemukan apa-apa. Mesin AHTS (Automated Human Treatment System) kami tidak dibuat untuk merawat penyakit degeneratif... .
Dia masih punya kekasih di bumi... .
Kenyataan bahwa James masih di luar sana diam tak bergerak juga tidak menolong.
Besok Randi, Alex, dan Siska akan mengecek besok ke titik di mana James berada, dan kami akan terus memonitor pergerakan mereka dan mencoba mempertahankan komunikasi selama mereka pergi.
Mungkin berdiam diri di sisi gelap Iapetus adalah keputusan yang salah. Aku butuh kopi.
Ahmad Out.
LOG 6.
Rabu, 29 Oktober 2188
Semalam aku bermimpi James kembali ke habitat. Dia duduk di bagian kaki ranjangku dan menatap lurus ke arah bumi berada. Aku berusaha memanggil namanya tapi tidak ada suara yang keluar. Aku tidak yakin itu mimpi atau bukan, sampai ketika aku bangun dan menemukan James masih belum ada di sini, barulah aku yakin ini bukanlah mimpi.
Gregor membuatkan kami sarapan makaroni. Seluruh bahannya palsu, dia mengolahnya ulang dari pasta daur ulang, tapi rasanya lumayan
[ERROR] 6d 61 6b 61 72 6f 6e 69 2e 62 75 6d 69 2e 73 65 72 69 62 75 2e 6b 69 6c 6f 6d 65 74 65 72 [ERROR]
[ERROR] 52 61 6e 64 69 2c 20 41 6c 65 78 2c 20 64 61 6e 20 53 69 73 6b 61 20 [ERROR]
Angga masih sama. Aku tidak mengerti bagaimana keadaan bisa semakin buruk secara cepat. Mungkinkah habitat ini ‘terinfeksi’ sesuatu sebelum kami sampai di sini? Kedengarannya sangat fantastis. Tapi apa sebabnya bumi begitu tertarik dengan Titik 0. Kamipun tidak diberi tahu.
Aku akan memindai manual habitat ini selama Randi, Alex, dan Siska pergi.
Ahmad Out.
LOG 7.
[ERROR] 6b 6f 6f 72 64 69 6e 61 74 20 62 75 6d 69 20 64 69 74 65 6d 75 6b 61 6e 2e 20 6d 65 6e 67 65 6a 75 74 6b 61 6e 20 73 65 6b 61 6c 69 20 62 61 68 77 61 20 61 64 61 20 6b 65 68 69 64 75 70 61 6e 20 64 69 20 70 6c 61 6e 65 74 20 74 65 72 62 65 6c 61 6b 61 6e 67 20 73 65 70 65 72 74 69 20 69 74 75 2e 20 62 61 68 6b 61 6e 20 74 65 72 6c 61 6c 75 20 64 65 6b 61 74 20 6b 65 20 6d 61 74 61 68 61 72 69 2e 20 70 65 72 6c 75 20 6d 65 6e 67 69 72 69 6d 6b 61 6e 20 61 67 65 6e 20 6d 75 6c 74 69 68 61 62 69 74 61 74 20 6b 65 20 73 61 6e 61 2e 20 6d 65 6e 67 65 74 65 73 20 61 70 61 6b 61 68 20 70 65 72 6d 75 6b 61 61 6e 20 70 6c 61 6e 65 74 20 61 69 72 20 69 74 75 20 62 69 73 61 20 6b 69 74 61 20 64 69 61 6d 69 2e [ERROR]
[pesan rusak] ... seharusnya 3I saja yang ke sini ... [pesan rusak]
LOG 8.
[ERROR] 62 65 72 64 61 73 61 72 6b 61 6e 20 70 65 6d 62 61 63 61 61 6e 20 6b 6f 64 65 20 77 61 6b 74 75 20 6d 65 72 65 6b 61 2c 20 73 69 6b 6c 75 73 20 68 61 72 69 20 6d 65 72 65 6b 61 20 61 64 61 6c 61 68 20 73 61 74 75 20 68 61 72 69 20 6d 65 72 65 6b 61 20 61 64 61 6c 61 68 20 73 61 74 75 20 70 65 72 20 74 75 6a 75 68 20 70 75 6c 75 68 20 64 75 61 20 68 61 72 69 20 64 69 20 73 69 6e 69 2e 20 61 6e 67 6b 61 6e 79 61 20 61 6e 65 68 2c 20 74 69 64 61 6b 20 62 75 6c 61 74 [ERROR]
[ERROR] 41 68 6d 61 64 20 53 75 72 61 64 6a 69 2e 20 4d 65 72 65 6b 61 20 6d 65 6d 69 6c 69 6b 69 20 6e 61 6d 61 20 69 6e 64 69 76 69 64 75 61 6c 2e 20 4d 65 6e 61 72 69 6b 2e 20 [ERROR]
LOG 9.
Sabtu, 1 November 2188
Jika ini catatan terakhirku, aku harap suatu saat bumi bisa membacanya. Aku harap Ananda bisa membacanya. Aku bahkan tidak tahu dia seperti apa sekarang. Seluruh anggota Inisiatif menghilang di titik yang sama dan aku menulis ini dari Titik 0. Tidak ada yang istimewa sejauh ini. 3I sudah berhenti berfungsi dari kemarin dan terus mengeluarkan tulisan yang terlihat seperti sekuens heksadesimal. Jangan-jangan itu memang heksadesimal.
Aku sudah terlanjur di sini. Aku akan buang waktu jika aku kembali dan menerjemahkan kode itu. Semoga itu hanya pesan error saja dan bukan apa-apa. Diam di habitat tidak akan menghasilkan apa-apa.
[ERROR] 49 6e 64 69 76 69 64 75 20 74 65 72 61 6b 68 69 72 20 64 61 74 61 6e 67 20 6b 65 20 73 69 6e 69 2e 20 53 65 6a 61 75 68 20 69 6e 69 20 70 72 6f 73 65 73 20 69 6e 74 65 67 72 61 73 69 20 6d 65 6e 69 6d 62 75 6b 61 6e 20 72 65 61 6b 73 69 20 79 61 6e 67 20 6d 65 6e 61 72 69 6b 2c 20 64 61 6e 20 64 69 61 20 6b 65 6d 75 6e 67 6b 69 6e 61 6e 20 62 65 73 61 72 20 74 69 64 61 6b 20 69 73 74 69 6d 65 77 61 2e 20 54 61 70 69 20 74 69 64 61 6b 20 61 64 61 20 73 61 6c 61 68 6e 79 61 20 64 69 20 63 6f 62 61 [ERROR]
...bahan yang sepertinya mampu memasuki ESU...
[pesan rusak]
...masih belum menemukan...
[pesan rusak]
...jangan kesini!!!
[ERROR] 74TUJU75 6aAN 75 61 6e 3a 20 62 75 6d 69BUMI[ERROR]
Rabu, 31 Agustus 2016
[GENRE LOST WORLD] Ayodele
Diposting oleh
iqbalbaskara
di
20.52
Ayodele masih berdiri terdiam. Perlahan ia merasakan matanya mengering, dan secara refleks mengedipkannya. Mulutnya masih menganga tanpa ia sadari. Lututnya menyerah, ia jatuh bersimpuh. Bersamaan dengan kembalinya kesadaran dirinya, ia melihat ke arah kedua tangannya yang gemetar. Otaknya memerintah tangan kirinya untuk memegangi tangan kanannya, menghentikan getaran itu. Sebuah usaha yang sia-sia. Ia menolehkan kepalanya ke belakang, melihat kelima anggota timnya menunjukkan ekspresi serupa. Di sebelahnya Mpenzi sudah terlebih dulu berlutut, air mata terlihat di pipi perempuan itu, sebuah senyum lebar terbentuk di bibirnya.
----
"Ayodele! Yode cepat masuk! Sebentar lagi gelap, lihat itu Jua sudah mulai tenggelam!" begitulah hampir setiap hari Mzaa memanggil anak laki-lakinya. Ayodele sebenarnya anak yang patuh dan menurut kepada Mzaa-nya -- ibunya -- tetapi seperti kebanyakan anak seumurannya, imajinasi dan luapan energi mengambil alih perhatiannya. Sembari berjalan pulang bersama Mzaa-nya biasanya Yode kecil bercerita tentang penemuannya hari ini. Tentang bagaimana sebuah pecahan batu adalah pecahan mangkuk dari peradaban manusia ribuan tahun sebelumnya, sebuah ranting adalah sisa-sisa tombak seorang pemburu ketika ia memburu naga.
Mzaa biasanya hanya tersenyum melihat antusiasme anaknya. Mzaa seorang yang religius. Imani, kepercayaan yang ia anut --yang dianut oleh hampir seluruh manusia-- bercerita tentang hukuman dari Amma. Tentang bagaimana manusia dijatuhkan dari Surga karena mereka lancang membuka Pintu pengetahuanNya. Tentang bagaimana seekor ikan paus menemui mereka pada saat mereka jatuh dari Surga dan menolong mereka, menciptakan Gaea agar mereka mendarat dengan selamat. Bagaimana Amma menciptakan Jua untuk menemani manusia agar tidak berada dalam kegelapan. Bagaimana Amma menciptakan Mbodze, Nyange dan Matsezi -- ketiga bulan Gaea yang saling berkejaran di langit-- untuk menemani manusia di kala malam. Imani mengajarkan bahwa manusia tidak berkembang dari peradaban purbakala, tapi diciptakan Amma dalam kondisinya saat ini. Tetap dan tidak berubah.
Ketika Yode beranjak dewasa, hari-harinya dihabiskan membaca kitab-kitab Imani. Mzaa selalu membayangkan anaknya akan menjadi seorang Kuhani, seorang alim yang terpandang. Kebahagiaan Mzaa hilang seketika ketika suatu hari ia menemukan Yode di kamarnya, terkubur di tumpukan kitab-kitab. Punggungnya membungkuk di hadapan meja kerjanya, di hadapannya tiga buah kitab terbuka, telunjuk di tangan kanannya menunjuk satu baris di sebuah kitab, telunjuk tangan kirinya menunjuk baris di kitab lain. Kuhani mendudukkan diri di ranjang anaknya, memandangi punggung anaknya lalu tersenyum.
"Nak, di Hekalu minggu depan akan dimulai prosesi pentahbisan Kuhani, kau tidak sekalian ikutan saja?" tanya Mzaa.
"Aku tidak berniat menjadi Kuhani, Ibu." jawab Yode singkat. Masih memunggungi ibunya.
Mzaa membutuhkan waktu sejenak untuk mencerna jawaban tersebut.
"Lalu kenapa kau begitu tekun mempelajari Imani, anakku?"
Yode membalikkan badan, memandang ibunya sejenak.
"Maaf Bu. Aku takut Ibu tak ingin mendengar jawabanku.."
Tatapan mata Mzaa tak lepas dari wajah anaknya itu, tangannya yang mengepal memperlihatkan apa yang ada di hatinya. Yode mengerti arti tatapan itu dan menyerah, menjawab pertanyaan ibunya.
"Aku percaya Imani adalah kumpulan legenda. Legenda-legenda yang lahir dari sebuah kebenaran sejati. Kitab-kitab Imani seringkali isinya bertentangan satu sama lain. Tetapi ada beberapa legenda yang saling mengkonfirmasi satu sama lain, dari situ aku menyimpulkan ada kebenaran di dalam legenda-legenda itu. Aku mencari kebenaran itu Ibu."
Mzaa tidak mengeluarkan suara apapun mendengar jawaban anaknya itu. Tapi Yode bisa menebak badai seperti apa yang berkecamuk di dalam benak perempuan yang paling ia sayangi itu.
"Maafkan aku Ibu."
Mzaa tidak menjawab apa-apa, berusaha membentuk sebuah senyuman, lalu berdiri, meninggalkan anaknya di kamarnya. Yode hanya bisa memandangi punggung ibunya keluar dari kamar dan menutup pintunya.
Sejak saat itu Yode selalu merasa ada jarak antara ia dan ibunya. Suatu kali ia tak sengaja mendengar ibunya berdoa kepada Baba untuk memberikan pencerahan kepada Yode agar ia kembali ke jalan seharusnya, tetapi sama sekali Mzaa tak pernah melarang atau menghalangi cita-cita anaknya.
Di jenjang pendidikan tinggi, Yode bertemu dengan Mpenzi, perempuan yang merebut hati dan pikirannya. Yang bisa menjadi kekasih dan partner diskusi. Perempuan yang akhirnya menjadi istrinya. Di sana pula ia bertemu dengan Jacob, Hera, Ahmadi, Patel, dan Sambas. Kelima orang dengan visi serupa, yang menemaninya memperjuangkan ekspedisi di hadapan para penyandang dana dan guru-guru besar. Merekalah yang menemaninya dalam pencariannya akan kebenaran.
Penelusuran mereka terhadap kitab-kitab Imani membimbing mereka menemukan bukit Megiddo, bukit di mana manusia mendarat setelah jatuh dari Surga. Tempat di mana ekspedisi mereka berujung.
------
Ayodele merasakan kekuatan kembali ke kedua kakinya dan berdiri. Ia berjalan mendekati sebuah plakat logam yang sebelumnya tertutup oleh tetumbuhan dan bebatuan berumur ribuan tahun. Plakat yang ia temukan bersama timnya. Di atas plakat itu tertera beberapa baris tulisan dalam aksara kuno. Aksara yang baru saja dipecahkan artinya oleh Patel, sang filolog. Aksara yang berkata:
"Di sini awal mula yang baru bagi umat manusia, tempat mendaratnya Moebius. Tempatnya beristirahat dari perjalanannya mengarungi angkasa. Di sini seluruh pengetahuan manusia disimpan untuk digunakan kembali."
Di sebelah tulisan tersebut sebuah cerukan berbentuk telapak tangan terlihat. Ayodele membalikkan badannya ke arah teman-temannya. Dari ekspresi dan gestur mereka ia bisa merasakan dorongan untuk menempelkan tangannya di cerukan tersebut. Sejenak ia memperhatikan cerukan tersebut, mencoba menerka apa yang akan terjadi, lalu dengan yakin ia taruh tangannya di ceruk tersebut.
Ceruk tersebut memancarkan cahaya biru kehijauan, ia bisa merasakan listrik mengaliri jari-jarinya. Ia merasakan sebuah jarum kecil menusuk ibu jarinya, dan sinar tersebut berubah menjadi biru.
Bukit tempat mereka berdiri mendadak bergerak, seperti gempa bumi, tetapi berirama, berdenyut. Mereka bisa merasakan sebuah geraman dengan frekuensi yang hampir terlalu rendah untuk didengar. Lalu sebuah suara perempuan terdengar mengucapkan kata-kata dalam bahasa yang asing bagi mereka. Kata-kata yang -- kalau saja mereka mengerti -- mengucapkan:
"Selamat datang, manusia. Namaku Ava, teman kalian. Kalian baru saja membangunkanku dan Moebius. kami akan membantu kalian menemukan kembali Bumi. Tempat kalian berasal."
Minggu, 21 Agustus 2016
Nung
Diposting oleh
Homeoerotika
di
01.33
Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory Diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com
Jantung
Nung berhenti seiring suara menggelegar dari arah rumahnya. Apakah ibu sudah
tiada? Hawa panas terasa di punggungnya, di tengah hujan yang turun deras.
Rumahnya meledak, bersama ibu Sriti di dalamnya. Nung tidak mau menoleh untuk
memastikan. Ibu menyuruhnya berlari, dengan empat buah cangkir yang ditutup
kain kedap air, jauh dari rumah. Lari sejauh-jauhnya, dari rumah, karena Sang
Buto Ijo akan mengejarnya. Nung menggigit bibirnya, menahan tangis yang memaksa
untuk tertumpah. Tapi Nung harus berlari sekarang. Menangis untuk hari lain.
Hari ini berlari.
Bulan
tidak menampilkan dirinya malam itu. Awan hujan menutupi cahayanya. Hujan
menghantam bumi dengan keras, membuat hutan ini terlihat kembali asing bagi
Nung. Dia tidak pernah tahu bagaimana rupanya di malam hari, ibu Sriti tidak
pernah mengijinkannya keluar di malam hari. Ibu Sriti ... apakah kau masih ada?
Apakah kau berhasil bersembunyi? Kenapa aku harus pergi di ulang tahunku yang
ke delapan belas, alih-alih menjagamu dari serangan sang Buta? Nung harus
kembali nanti, mencari tahu apakah ibu Sriti selamat. Mencari untuk hari lain.
Hari ini berlari.
Dentum
langkah Sang Buto Ijo membangunkan Nung dari lamunannya. Dia beranjak bersegera
untuk berlari lagi. Sulit untuk melesat. Sepatu butnya penuh lumpur di luar dan
di dalam, dan jubah kulit rusanya makin berat karena menyeret di lumpur dan
tertimpa air hujan. Dia mendekap ke empat kantong cangkir ibu Sriti dan
berusaha sekuatnya untuk berlari. Petir menyambar dan menerangi deretan pohon
di depannya. Untuk sesaat, pemandangan itu begitu indahnya. Nung mengambil
langkah lebar dan terus berlari.
Aku
lahir di hutan ini, kenang Nung tiba-tiba. Ibu Sriti sering bercerita bagaimana
dia menemukan Nung. Ibu Sriti tinggal sendirian dan mengharapkan memiliki
seorang anak gadis. Dia menemukan Nung di hutan ini, tertidur di atas kelopak
anggrek putih raksasa. Ibu Sriti bercerita tidak seharusnya dia mengambil Nung
dari anggrek itu, karena pemiliknya adalah Sang Buto Ijo. Ibu Sriti tidak pernah
bercerita bagaimana dia bisa membesarkan dan merawat Nung tanpa gangguan Sang
Buto Ijo selama delapan belas tahun ini. Yang selalu dia ceritakan adalah rasa
cinta yang mengalir menghangatkan hati ibu Sriti ketika melihat Nung yang masih
bayi. Rasa hangat yang juga Nung rasakan selama dirawat dan dibesarkan ibu
Sriti.
Rasa
hangat yang baru saja padam ketika Sang Buto Ijo mendatangi mereka tadi, dan
seluruh kehidupan Nung berubah sedemikian rupa. Hangat jadi dingin. Terang jadi
gelap. Ria jadi duka.
Kilat
menyambar lagi. Satu kilat, dua kilat, tiga kilat. Sambung menyambung seakan
memberi tahu dengan cahaya sekejapnya kemana Nung harus menyelinap. Entah sudah
sejauh apa Nung berlari, dia tidak bisa tahu pasti. Hujan tidak kunjung mereda,
dan nampak tidak akan menghentikan derunya dalam waktu-waktu ini. Jutaan
ranting memaksa Nung untuk menghentikan larinya, dengan merenggut jubahnya kiri
dan kanan, namun Nung tidak berhenti. Dia menarik tudung jubahnya menutupi
kepalanya, agar setidaknya air hujan tidak menghalangi pandangannya.
Tapi
ternyata air matanya yang membuat buram. Nung baru tersadar bahwa dia berlari
sambil menangis tersedu. Dia ingin berhenti saja. Tapi ibu Sriti menyuruhnya
berlari terus. Sampai kapan, Bu? Sampai ka...
“Disitu
kau rupanya!” sebuah suara menggelegar dari belakangnya. Nung menjerit dan
terjatuh ke lantai hutan. Dia menoleh dan melihat samar garis luar tubuh Sang
Buto Ijo berdiri di belakangnya. Makhluk itu besar, tingginya tiga kali lipat
tingginya. Dia terlihat kuat dan berat, namun bagaimana dia mampu mengejar Nung
sejauh ini, adalah pertanyaan yang harus ditanyakan di lain hari. Hari ini
berlari.
“Kamu
tidak akan bisa lari, Nung!” Sang Buto Ijo mendentumkan kakinya melangkah
mendekati tempat Nung terjatuh, “ibumu sudah menjanjikanmu kepadaku delapan
belas tahun yang lalu! Ini sudah takdirmu, nduk!”
Apa?
Nung menjejakkan kedua kakinya lagi ke tanah, dan berusaha mendorong dirinya
bangun. Apa maksudnya menjanjikan diriku? Sang Buto Ijo mendentumkan kakinya ke
tanah, dan seisi hutan gemetar, dan petir menyambar beriringan. Seakan satu
suara, dan Nung adalah suara sumbang. Nung kehilangan keseimbangannya dan
kembali limbung ke pelukan lumpur di lantai hutan. Nung merintih setiap kali
mengambil nafas, dan tangannya berusaha mencari sesuatu di tanah. Daun. Rumput.
Tidak adakah batu?
Dentuman
kaki Sang Buto mendarat lagi, kali ini tanpa iringan petir. Nung terlempar
sedikit dari tempatnya jatuh, dan cangkir-cangkir pemberian ibunya
berkelotakan. Dia mendekat. Apa yang mau dia lakukan padaku? Nung mengambil
satu cangkir dan tanpa berpikir macam-macam, melemparkannya ke arah Sang Buto
Ijo.
Cangkir
itu pecah di depan Sang Buto, kain penutupnya sobek terbuka dan suara desis
yang nyaring mengumumkan, “ATEEEEEENNGGG!!!”. Cahaya hijau menyilaukan
membelesak terpancar dari tempatnya. Sang Buto terkejut dan celingukan. Aroma
pahit dan tajam memenuhi tempat mereka. Sihir apa ini? Bau ini. Pahit tapi
nyaman. Kopi?
“Kamu masih kecil, tidak boleh
minum kopi,” kata ibu Sriti. Cahaya matahari sore yang hangat menembus gubuk
kami, menegaskan debu-debu kecil yang selalu beterbangan yang hanya terlihat
jika cahaya menimpanya.
“Jadi kapan Nung boleh minum
kopi?” ujarku manja. Aku ingat senyum ibu Sriti. Hangat.
Nung
menyentak dirinya keluar dari kenangan manis. Ibu Sriti sudah tidak ada.
Kenangan hanya untuk hari lain. Sang Buto Ijopun terlihat tenggelam dalam
kenangannya sendiri. Menatap nanar entah ke mana dan tersenyum-senyum. Dia
tidak menyadari bahwa serangkaian tumbuhan menjalar mulai merayapi kakinya.
Hari
ini, lari.
Hujan
masih tidak ramah. Bulan masih bersembunyi. Nung menginginkan panduan, tapi
baik cahaya maupun ibu Sitri tidak ada bersamanya. Rasa kesendirian perlahan
mengambil alih, beriringan dengan rasa sakit di telapak dan lututnya. Air mata
tidak lagi mengalir, cukup air hujan saja yang mendera wajahnya, dan jubahnya,
dan seluruh tubuhnya. Kenapa ibu Sitri memberinya secangkir kopi dan kenapa
melemparkannya bisa menghentikan kejaran Sang Buto Ijo adalah pertanyaan untuk
lain hari. Untuk hari ini, ...
“Lari?”
suara Buto Ijo menyambut laju pikiran Nung. Tidak perlu menoleh lagi untuk
memastikan siapa yang mengejarnya. Dia lepas dari jeratan, rupanya. Nung
menyentak satu kakinya dan berbelok ke kanan seketika, mengkelindankan dirinya
dengan batang-batang pohon. Sang Buto Ijo menggeram putus asa, menandakan
gerakan Nung tadi membuatnya kehilangan jejaknya. Berhasil. Nung lalu mendadak
bergerak ke kiri, setelah merasa dia sudah cukup jauh. Pola liku-liku ini
diulang-ulang oleh Nung.
Suara
bergemuruh dan bergemerisik menggema di atas Nung. Batang-batang pohon melesat
kencang di atas dan di sekitar Nung. Dedaunan bertebangan tak tentu arah. Nung
terjatuh lagi dan jubahnya terkoyak lepas dari tubuhnya. Dia menjerit melihat
Sang Buto sudah muncul di belakangnya, menggenggam jubahnya. Trik berlari
berlikunya tidak lagi berhasil mengecoh Sang Buto. Matanya yang merah menyala
menatap mata Nung. Sang Buto menggeram memamerkan taring-taringnya, dan
geramannya mengakibatkn getaran kecil di sekitar Nung.
Tanpa
berpikir panjang, Nung melemparkan cangkir kedua. Kali ini langsung ke wajah
Sang Buto.
“RAAAAMBUUUUNG!!!”
desis suara yang keluar dari cangkir. Cahaya kuning menyala ketika cangkir itu
pecah dan kainnya terbuka. Sang Buto berteriak sekarang, membuat getaran yang
cukup melambungkan Nung ke belakang. Udara seketika menjadi lebih hangat, tapi
menyesakkan. Aroma pahit dan sedikit asam menular di udara. Cahaya kuning itu
lembut menyentuh sekelilingnya.
“Kalau kamu sudah delapan belas
tahun, kamu baru boleh mencicipi kopi,” cerita ibu Sitri sambil mengelus
rambutku suatu siang di pekarangan rumah kami. Aku membaringkan kepalaku di
pangkuan ibu Sitri dan memandangi senyumnya.
“Kenapa ketika aku delapan belas
tahun, Bu?” serombongan kupu-kupu berwarna kuning beterbangan di sekitar kami.
“Kalau sekarang kamu coba
kopinya,” lanjut ibu Sitri, “kamu tidak akan suka...”
Aku lantas duduk tegak dan
menatap matanya yang penuh cinta. Matanya selalu penuh cinta, “kan belum aku
coba, Bu...”
“Nanti saja. Kamu akan tahu
betapa hangatnya aroma kopi ketika kamu dewasa nanti. Betapa dia bisa
menggiringmu dari kegelapan yang mengejarmu...”
Tiba-tiba
rombongan kupu-kupu kuning itu muncul di antara Nung dan Buto Ijo. Sebelum Nung
bisa memahami apa yang terjadi di hadapannya, satu per satu batang-batang bambu
tumbuh mencuat. Satu, dua, lima, sepuluh. Makin lama makin cepat dan banyak,
membentuk sepetak hutan bambu.
“Lari,
Nung!” terdengar serombongan suara yang walau sulit dipercaya, Nung yakin
diteriakkan oleh rombongan kupu-kupu tadi. Nung tidak berpikir lagi, dia
langsung melesat berlari, karena nampaknya hutan bambu itu tumbuh mendekat
kepadanya, dan dia bisa mendengar geraman dan bentakan Sang Buto Ijo yang
berusaha menghancurkan hutan bambu yang menghalanginya dari Nung. Tanpa
jubahnya, Nung merasa larinya lebih ringan, dan dinginnya hujan di malam hari tidak mengganggunya, sepertinya akibat bersentuhan dengan kekuatan kopi
Rambung. Rombongan kupu-kupu kuning itu terbang di depan Nung, menunjukkannya
jalan.
Sebuah
ladang luas terbuka seketika di hadapan Nung. Rupanya para kupu-kupu itu
menunjukkan jalan keluar dari hutan, karena mereka tiba-tiba menyebar dan
menghilang. Hujan mulai mereda, walau masih jatuh semena-mena. Hari ini, lari.
Andai saja kaki Nung tidak sesakit sekarang, dia ingin melesat
secepat-cepatnya. Tapi dia harus berlari terus, tidak tahu kapan pelariannya
selesai. Tidak tahu apa yang akan ditemuinya. Tidak tahu apakah bisa bertemu
ibu Sitri lagi. Setidaknya sekarang dia tahu dua cangkir kopi yang dibawanya
bisa digunakan untuk apa. Jika cangkir terakhir habis, entah apa ...
Setelah
berlari kira-kira dua puluh depa, Nung bisa mendengar dentum langkah Sang Buto
yang baru saja berhasil menembus hutan, jauh di belakangnya. Nung menghentikan
langkahnya, lalu berbalik. Dia melemparkan cangkir ketiga, dan kali ini bersiap
untuk melihat apa yang akan terjadi. Cangkir itu pecah sekitar dua depa di
hadapannya. Raungan “LINTOOOONG!!” terdengar dan dari pecahan cangkir itu
keluarlah cahaya biru yang menyenangkan. Kehangatan kembali muncul di
sekelilingnya. Lebih hangat dari kopi-kopi sebelumya. Kali ini aromanya lebih
berlapis: pahit, asam, manis. Ladang luas yang menjembatani dirinya dan Sang
Buto berubah menjadi lautan dengan ombak yang mengamuk, Sang Buto langsung
jatuh ke lautan itu meronta-ronta.
“Apapun yang terjadi, Ibu
sayaaang sekali sama Nung...”
Nung
tersenyum mengenang ibunya. Sementara Sang Buto masih bergumul berusaha
mengangkat dirinya keluar dari permukaan lautan.
“Sejak Ibu pertama kali melihatmu
di atas anggrek putih itu, Ibu tahu, kalau Nunglah putri yang Ibu idam-idamkan.
Ibu sangat berharap kamu selalu bahagia...”
Nung
merasakan kehangatan mengalir dari matanya dan menjalari pipinya.
“Tunggu
aku gadis kurang ajar!!! Jangan kamu lari lagi!!!” teriak Sang Buto, yang
kelihatannya mulai bisa mengendalikan dirinya dan berenang cepat ke arah Nung.
“Kamu
tinggal punya satu cangkir lagi, gadis bodoh. Setelah itu kamu tidak akan bisa
lagi menghindari kejaranku!!!” lanjutnya diantara mengambil nafas dan
membenamkan wajahnya ketika berenang.
“Kopi
akan selalu memberikan kehangatan...” bisik Nung pada dirinya sendiri, lalu
menjatuhkan cangkir terakhir ke dalam lautan tempat Sang Buto berada.
“JAAAAVAAA...”
Cahaya
merah merekah di atas lautan. Udara terasa lebih tebal. Harum pahit manis
merebak di udara. Kali ini tidak terlalu asam, tapi ada jejak-jejak rasa
berkarat. Hujan tinggallah gerimis, beriringan dengan air lautan yang berubah
pekat dan padat menjadi lumpur. Sang Buto Ijo terkejut dengan perubahan
tiba-tiba dengan air yang sedang dia arungi. Setelah melihat sekelilingnya,
senyum merekah di wajahnya. Matanya yang merah menyala kembali menatap ke arah
Nung.
“Hahahah!”
gelegarnya, “air ini jadi padat! Terimakasih pada kopi-kopi ibumu itu!” kedua
tangannya menjejak ke genangan lumpur padat yang baru saja terbentuk dan dengan
satu dorongan, dia menolakkan tubuhnya yang tadi terbenam setengah naik ke
permukaan. Setelah menapak lagi, Sang Buto bergegas berlari ke arah Nung.
Tapi
Nung pasrah, tidak mau berlari lagi.
“Apapun yang terjadi, Ibu
sayaaang sekali sama Nung...”
“Kau
itu milikku, Nung!” gelegar Sang Buto, sambil berlari berdentum, “ibumu itu
mencurimu dariku! Dia berjanji menyerahkanmu kembali padaku setelah kau berumur
delapan belas tahun!!”
“Kenapa ketika aku delapan belas
tahun, Bu?” sekarang
Nung mengerti kenapa. Dia tersenyum dan memandangi langit. Awan berarak membuka
tirainya. Bulan purnama mengintip perlahan. Kalau ibunya masih hidup, dia ingin
memeluknya sekarang.
Tiba-tiba
lautan lumpur padat di hadapannya bergetar, dan retakan-retakan serta merta
terbentuk melintasinya ke berbagai arah. Cahaya kemerahan muncul dari
retakan-retakan itu lalu kemudian retakan-retakan itu melebar. Desisan-desisan
dan suara getaran menggema dari berbagai penjuru. Sang Buto terhenti dari
larinya dan memandang sekelilingnya dengan kebingungan. Lahar panas membuncah
keluar dari retakan-retakan, Sang Buto berusaha mencari tapakan kaki, tapi
setiap dia melangkahkan kakinya ke bagian lumpur, potongan lumpur itu dengan
mudah terbenam ke dalam cairan lahar yang menyala dan membakar kaki Sang Buto
Ijo. Raksasa itu mengerang dan menggeram, berusaha sekuat tenaga untuk keluar
dari lahar. Satu-satunya yang bisa dia lakukan hanya berteriak, melemparkan
ancaman-ancaman ke arah Nung, tapi lahar panas itu menelannya pada akhirnya.
Kopi-kopi ibu Sriti menyelamatkan Nung dari kejaran Sang Buto Ijo.
Tidak
perlu menunggu besok menunggu jawaban. Tidak perlu menunggu besok untuk mencari
tahu apakah ibu Sriti selamat. Hari ini, berlari pulang. Sang purnama bersinar
terang, tanda setuju.
Rabu, 25 Mei 2016
[DRAMA] Langit Dua Dunia
Mobil pun
berhenti, tembok tinggi itu terlihat jelas, berdiri dihadapanku setinggi
langit, entah bagaimana tembok ini dibangun dan disusun, Saya tidak bisa
melihat ujungnya.
“Selamat siang,
Pak! Mendung yaa, sudah seperti sore hari padahal masih siang…,” sang Sopir
berbicara dengan seseorang yang berseragam lengkap, tubuhnya seperti tertutup baju
logam, helmnya keren berwarna merah, dia memegang senapan di dadanya.
“S… E… E… D…,
Seed?” tulisan berwarna putih di bahu orang itu tampak jelas.
“Social,
Economic and Environmental Development… “
“Apa itu
artinya?”
“Polisi…,” jawab Kevin singkat, matanya
memandang ke arah tumpukan hitam rongsokan jauh disana di Distric-25, Polisi…
“Hei
Kaleng!! Kalau diajak ngobrol itu jawab donk!,” dia tak bergeming.
“Oh
Tidak...!!! dia mendekat…” bugh… bugh…
bugh… derap kakinya berat.
GLAAGGG!!! Tiba-tiba saja gerbang
terbuka, sang Sopir melaju kembali perlahan. Saya lega, pertemuan dengan polisi
selalu saja menyisakan rasa takut. Saya tak percaya ada orang seperti itu yang
bekerja hanya untuk menjaga gerbang sendirian.
“Dia
bukan manusia kok…,” tiba-tiba Kevin berkata, apa? Dia membaca pikiran Saya
lagi?
Mobil
bergerak masuk ke dalam lorong gelap, tiba-tiba ada seperti 2 garis lurus
bersinar di sepanjang tepi jalan, dingin. Saya tidak bisa melihat apa-apa di
depan sana. Mobil pun berhenti.
“Bantu
Aku…,” hah??
“Bantu
apa?,” Saya samasekali tidak mengerti apa yang dikatakan Kevin, sekarang dia
sering mengatakan hal-hal yang…
“Bantu
Aku dengan do’a… mudah-mudahan kita bisa melewati lorong ini dengan selamat,”
Kevin tertunduk lagi.
Apa
maksudnya melewati lorong ini dengan selamat? Apa sebelumnya ada yang tidak berhasil
melewati lorong ini dengan selamat? Berakhir dalam keadaan terluka? Mati? Hah!!
MATI…
ZZLLLLLRRRDDD… cahaya merah seperti
tembok laser tampak di depan kami. Piiiippp…
Piiiippp… Piiiippp… bagian depan mobil masuk menembus tembok laser,
perlahan terus masuk dan berhenti pada tempat sopir duduk. Piiiippp… Piiiippp… Piiiippp… suara itu terdengar lagi, entah apa
yang sedang terjadi saat ini.
“Kita
Akan pulang, Kal… Aku berjanji akan membawa kamu pulang,” Kevin masih saja
tertunduk, sepertinya pulang adalah... ZZLLLLLRRRDDD…
mobil kembali bergerak, cahaya merah itu mulai mendekati Saya dan Kevin.
Ya
Allah, sebenarnya Saya ada dimana?? Selamatkan jalan Saya ini Yaa Allah… Saya
tidak tahu apa yang akan terjadi diluar sana, tapi setidaknya biarkan Saya
tetap hidup. Kalaupun saya tidak bisa bertahan. Tidak bisa melewati tembok ini,
mudah-mudahan Engkau selalu menjaga Ibu… Ibu… Ibu… Saya ingin pulang, Ibu…
Haikal kangen Ibu, maafkan Haikal yang sering nakal, sering gangguin Melisa…
Melisa… jagalah Ibu, mungkin Kakak tidak bisa pulang dalam waktu dekat, jagalah
dia Melisa… Ya Allah…
ZZLLLLLRRRDDD… cahaya itu makin
mendekat, perlahan tubuh Saya masuk kedalam sinar itu, Kevin di depan Saya
masih saja tertunduk, paha kiri, pundak, telinga Kevin mulai masuk… mata,
hidung seluruh tubuh kami masuk ke dalam tembok laser itu, semuanya terlihat
merah, silau.
Ya
Allah, Saya ingin pulang…
Piiiippp… Piiiippp… Piiiippp… gelang di
tangan Kevin berkelip lalu padam. Kenapa?? Itu?? Saya tidak mengerti, apa ini
saatnya?? Saat penentuan layak untuk lewat atau tidak?. Piiiippp… Piiiippp… Piiiippp… kini gelang ditangan Saya yang
berkelip…. Piiiippp… Piiiippp… Piiiippp… bunyinya
makin keras, tidak… Saya memejamkan mata.
Ya,
Alloh ampuni Saya pernah nyolong jambu di rumah Bu Narto… ampun banget, ga kan
ngulangi lagi deh… dulu pernah nyontek juga, tapi itu kepepet, Ya Alloh engkau
juga pasti ngerti …
Brummm… Saya tidak sanggup melihat apa
yang akan terjadi nanti, Saya pasti masuk penjara, dibunuh, dibuang, disiksa. Polisi,
tembok pembatas… Penyelundupan?? Pantas saja Kevin meminta Saya untuk berdo’a, ini
sepertinya akhir hidup Saya.
Angin
bertiup menyapu rambut Saya. Tidak!! Apakah sekarang semua hukuman untuk Saya
sang penyelundup akan dimulai ?? Ibuuu… Haikal sayang Ibuuu….
“Kal,
udah woii!!”
“….”
Hah?.
Perlahan
Saya membuka mata dalam takut, benar-benar takut, tapi ini hangat, cahaya
matahari hangat jatuh di pipi Saya, Saya melihat ke sekitar, di sebelah kanan
Saya tembok tinggi menjulang semakin menjauh, oh bukan… kami yang menjauh dari
tembok itu, tembok yang seperti memisahkan dua dunia, , langit tampak cerah,
kemana Tuhan akan membawa Saya pergi…
Saya sedang sibuk
Bandung, 25 Mei 2016
Rabu, 18 Mei 2016
[FIKSI ILMIAH] Generasi
Diposting oleh
iqbalbaskara
di
17.02
"Selamat pagi Kapten, selamat ulang tahun," suara itu menyapa. Perempuan, pertengahan 20-an, alto - kontralto, tekstur serak basah, kadangkala sedikit jejak vibrato terdengar di sana sini. Begitulah ia diprogram, emulasi suara aktris abad 21 favorit sang kapten.
Ismail Archer mengedipkan kelopak matanya yang terasa seberat batu. Fisiknya terlihat sehat untuk pria paruh baya. "Selamat pagi Ava, yang ke-berapa ya hari ini?" ia agak terkejut mendengar paraunya suaranya sendiri. "98 tahun Kapten, panjang umur dan sehat selalu," suara Ava terdengar ceria, sintetis tentu saja, tapi cukup untuk menaikkan suasana hati sang kapten. Tujuh puluh tahun sudah... "Terima kasih Ava," senyumnya muncul tanpa disadari. Ia berjalan dari ranjangnya, duduk di atas kursi kerjanya. Layar-layar di atas meja kerjanya menampilkan video hasil tangkapan CCTV dari berbagai dek. Ruang mesin dipenuhi teknisi yang sibuk berjalan ke sana-sini, kamera luar menangkap bintang-bintang berkelap kelip, puluhan kamera di dek hunian menunjukkan kesibukan ribuan manusia yang menjadi penumpangnya. Dari waktu ke waktu Ismail mengagumi betapa besar dan masifnya pesawat yang ia nahkodai ini.
Hari ini adalah hari yang ia tunggu-tunggu, tapi bukan karena ini hari jadinya, di usianya saat ini hari jadi datang dan lewat tanpa banyak meninggalkan kesan.
"Bagaimana kabarmu hari ini Moby?" Ismail berteriak. Sebuah geraman menjawabnya, menggema di seluruh kabin beberapa detik lamanya, dengan frekuensi yang sangat rendah sehingga ia lebih dirasakan dibanding didengar. ".. bagus bagus," Ismail mengangguk.. "..senang mendengarmu bersemangat begitu. Ava, bisa kau berikan ringkasan eksekutif keadaan Moebius hari ini?" Segera setelah kalimat itu terucap, logo PBB tampil di terminal pribadi Ismail, sejenak saja, kemudian tampil tabel-tabel, grafik, dan angka-angka. "Secara umum keadaan Moebius baik Kapten, sangat baik. Retakan pada sisi kiri akibat tumbukan asteroid dua hari lalu hampir tak tersisa, lapisan kitin tumbuh menutupinya dengan baik. Secara struktural keadaannya seperti baru," Ava menjawab. "Bagaimana dengan elektroniknya? Pemindai tekanan di dekat roket pendorong nomor 3 apakah sudah diperbaiki? Bagian-bagian biomekatroniknya? Hubungan implan dengan jaringan organiknya?" Ismail bertanya tanpa mengalihkan pandangan dari terminal pribadinya. "Semua baik Kapten, pemindai yang malfungsi sudah diperbaiki oleh teknisi dan para drone. Kendaraan kita dalam keadaan puncak" Kalau Ava punya wajah, ia pasti sedang tersenyum sekarang, Ismail seperti ayah yang sedang mengkhawatirkan keadaan anaknya. Memang dari sudut pandang tertentu, Moebius adalah anaknya. "Moby bukan kendaraan Ava, jangan suka meledeknya seperti itu," Ismail menutup tampilan di terminalnya.
Dengan insiden KRI Birang, umat manusia diingatkan bahwa mereka tidak sendirian di alam semesta. Melalui sebuah proses yang kurang lebih demoktratis mereka memutuskan untuk mengumpulkan segala upaya dan sumberdaya untuk mengkolonisasi tata surya lain. Sol adalah tata surya tempat kelahiran manusia, tapi ia tidak boleh binasa di sana. Menimbang untung-ruginya, perjalanan seratus tahun untuk kolonisasi Gliese 581c menjadi patut dilaksanakan, .
Ismail bergabung ke dalam proyek Moebius di awal pembentukannya. Ia menyaksikan kelahiran Moebius, secara cukup harfiah. Ia masih ingat bagaimana makhluk itu dikeluarkan dari salah satu dari puluhan tabung raksasa di galangan eksperimental di Luna. Kulitnya masih lembut dan lunak, agak transparan berbuku-buku seperti larva serangga, tetapi beberapa bagiannya seperti kepala dan sirip vestigialnya mengingatkan pada ikan paus. Moby adalah pesawat kimera sibernetik satu-satunya di dunia. Ia lahir dari kebutuhan untuk sebuah kendaraan untuk perjalanan antar bintang yang bisa memperbaiki dirinya sendiri.
Itu adalah kali terakhir ia melihat Moby dari luar, segera setelahnya Ismail memasuki pelatihan pilot bersama sembilan orang lainnya. Ialah yang akhirnya dipilih untuk menjadi nahkoda Moby. Menurut informasi dari pelatihnya, dari segi nilai sebenarnya ada kandidat lain yang lebih baik, hanya saja Moby menjatuhkan pilihan kepadanya. Pada saat keberangkatan ia diantar meninggalkan orbit Bumi dengan sebuah pesawat ulang alik, dan dari pesawat tanpa jendela tersebut melalui pintu kedap udara langsung ke dalam anjungan yang juga berfungsi sebagai kabinnya. Itulah terakhir kalinya ia melihat pemandangan di luar kabinnya secara langsung. Akses ke bagian lain di dalam Moby tertutup oleh sebuah pintu merah bertuliskan EMERGENCY ONLY yang selalu terkunci.
Ismail memutuskan untuk bertanya untuk terakhir kalinya kepada Ava, mungkin jawabannya berbeda dengan beberapa tahun lalu, "Ava, bisa tolong bukakan akses ke dek hunian?"
"Maaf kapten, seperti yang sudah pernah saya jawab, Anda tahu saya tidak bisa memberikan akses tersebut," Ava menjawab, lemah lembut tapi tegas, tak bisa ditawar. "Seperti pada briefing awal, membuka akses ke anjungan membawa resiko terlalu tinggi untuk keamanan, lagipula..."
Sebelum Ava sempat melanjutkan Ismail menghembuskan napas seperti ratusan kali sebelumnya lalu berkata, "Oke oke aku paham...heheh, sudah kuduga.. kau tahu kan kalau aku orang biasa, aku pasti sudah gila sekarang? Sendirian di dalam ruangan puluhan tahun seperti ini?"
"Ya kapten, untungnya Anda bukan orang biasa," suara Ava terdengar bercanda.
Ismail Archer mengedipkan kelopak matanya yang terasa seberat batu. Fisiknya terlihat sehat untuk pria paruh baya. "Selamat pagi Ava, yang ke-berapa ya hari ini?" ia agak terkejut mendengar paraunya suaranya sendiri. "98 tahun Kapten, panjang umur dan sehat selalu," suara Ava terdengar ceria, sintetis tentu saja, tapi cukup untuk menaikkan suasana hati sang kapten. Tujuh puluh tahun sudah... "Terima kasih Ava," senyumnya muncul tanpa disadari. Ia berjalan dari ranjangnya, duduk di atas kursi kerjanya. Layar-layar di atas meja kerjanya menampilkan video hasil tangkapan CCTV dari berbagai dek. Ruang mesin dipenuhi teknisi yang sibuk berjalan ke sana-sini, kamera luar menangkap bintang-bintang berkelap kelip, puluhan kamera di dek hunian menunjukkan kesibukan ribuan manusia yang menjadi penumpangnya. Dari waktu ke waktu Ismail mengagumi betapa besar dan masifnya pesawat yang ia nahkodai ini.
Hari ini adalah hari yang ia tunggu-tunggu, tapi bukan karena ini hari jadinya, di usianya saat ini hari jadi datang dan lewat tanpa banyak meninggalkan kesan.
"Bagaimana kabarmu hari ini Moby?" Ismail berteriak. Sebuah geraman menjawabnya, menggema di seluruh kabin beberapa detik lamanya, dengan frekuensi yang sangat rendah sehingga ia lebih dirasakan dibanding didengar. ".. bagus bagus," Ismail mengangguk.. "..senang mendengarmu bersemangat begitu. Ava, bisa kau berikan ringkasan eksekutif keadaan Moebius hari ini?" Segera setelah kalimat itu terucap, logo PBB tampil di terminal pribadi Ismail, sejenak saja, kemudian tampil tabel-tabel, grafik, dan angka-angka. "Secara umum keadaan Moebius baik Kapten, sangat baik. Retakan pada sisi kiri akibat tumbukan asteroid dua hari lalu hampir tak tersisa, lapisan kitin tumbuh menutupinya dengan baik. Secara struktural keadaannya seperti baru," Ava menjawab. "Bagaimana dengan elektroniknya? Pemindai tekanan di dekat roket pendorong nomor 3 apakah sudah diperbaiki? Bagian-bagian biomekatroniknya? Hubungan implan dengan jaringan organiknya?" Ismail bertanya tanpa mengalihkan pandangan dari terminal pribadinya. "Semua baik Kapten, pemindai yang malfungsi sudah diperbaiki oleh teknisi dan para drone. Kendaraan kita dalam keadaan puncak" Kalau Ava punya wajah, ia pasti sedang tersenyum sekarang, Ismail seperti ayah yang sedang mengkhawatirkan keadaan anaknya. Memang dari sudut pandang tertentu, Moebius adalah anaknya. "Moby bukan kendaraan Ava, jangan suka meledeknya seperti itu," Ismail menutup tampilan di terminalnya.
Dengan insiden KRI Birang, umat manusia diingatkan bahwa mereka tidak sendirian di alam semesta. Melalui sebuah proses yang kurang lebih demoktratis mereka memutuskan untuk mengumpulkan segala upaya dan sumberdaya untuk mengkolonisasi tata surya lain. Sol adalah tata surya tempat kelahiran manusia, tapi ia tidak boleh binasa di sana. Menimbang untung-ruginya, perjalanan seratus tahun untuk kolonisasi Gliese 581c menjadi patut dilaksanakan, .
Ismail bergabung ke dalam proyek Moebius di awal pembentukannya. Ia menyaksikan kelahiran Moebius, secara cukup harfiah. Ia masih ingat bagaimana makhluk itu dikeluarkan dari salah satu dari puluhan tabung raksasa di galangan eksperimental di Luna. Kulitnya masih lembut dan lunak, agak transparan berbuku-buku seperti larva serangga, tetapi beberapa bagiannya seperti kepala dan sirip vestigialnya mengingatkan pada ikan paus. Moby adalah pesawat kimera sibernetik satu-satunya di dunia. Ia lahir dari kebutuhan untuk sebuah kendaraan untuk perjalanan antar bintang yang bisa memperbaiki dirinya sendiri.
Itu adalah kali terakhir ia melihat Moby dari luar, segera setelahnya Ismail memasuki pelatihan pilot bersama sembilan orang lainnya. Ialah yang akhirnya dipilih untuk menjadi nahkoda Moby. Menurut informasi dari pelatihnya, dari segi nilai sebenarnya ada kandidat lain yang lebih baik, hanya saja Moby menjatuhkan pilihan kepadanya. Pada saat keberangkatan ia diantar meninggalkan orbit Bumi dengan sebuah pesawat ulang alik, dan dari pesawat tanpa jendela tersebut melalui pintu kedap udara langsung ke dalam anjungan yang juga berfungsi sebagai kabinnya. Itulah terakhir kalinya ia melihat pemandangan di luar kabinnya secara langsung. Akses ke bagian lain di dalam Moby tertutup oleh sebuah pintu merah bertuliskan EMERGENCY ONLY yang selalu terkunci.
Ismail memutuskan untuk bertanya untuk terakhir kalinya kepada Ava, mungkin jawabannya berbeda dengan beberapa tahun lalu, "Ava, bisa tolong bukakan akses ke dek hunian?"
"Maaf kapten, seperti yang sudah pernah saya jawab, Anda tahu saya tidak bisa memberikan akses tersebut," Ava menjawab, lemah lembut tapi tegas, tak bisa ditawar. "Seperti pada briefing awal, membuka akses ke anjungan membawa resiko terlalu tinggi untuk keamanan, lagipula..."
Sebelum Ava sempat melanjutkan Ismail menghembuskan napas seperti ratusan kali sebelumnya lalu berkata, "Oke oke aku paham...heheh, sudah kuduga.. kau tahu kan kalau aku orang biasa, aku pasti sudah gila sekarang? Sendirian di dalam ruangan puluhan tahun seperti ini?"
"Ya kapten, untungnya Anda bukan orang biasa," suara Ava terdengar bercanda.
"Kapten, sesuai jadwal proses rehat akan segera dimulai," Ava memberitahukan.
Tiap dekade Moebius akan memasuki proses rehat. Seluruh jaringan intranet antara seluruh komputer yang ada di dalamnya dimatikan, seluruh navigasi dijalankan oleh komputer cadangan yang jauh lebih lemah dibanding komputer utamanya. Proses ini diperlukan untuk melakukan beberapa hal, yang terpenting adalah untuk menyaring informasi-informasi yang tidak berguna dari ratusan sensor yang menyala non-stop di sekujur badan pesawat tersebut, membuat katalog dan mengecek integritas data yang dikumpulkan selama satu dekade terakhir, dan menjalankan fungsi heuristik untuk mencari abnormalitas pada kecerdasan buatannya.
Tiap dekade Moebius akan memasuki proses rehat. Seluruh jaringan intranet antara seluruh komputer yang ada di dalamnya dimatikan, seluruh navigasi dijalankan oleh komputer cadangan yang jauh lebih lemah dibanding komputer utamanya. Proses ini diperlukan untuk melakukan beberapa hal, yang terpenting adalah untuk menyaring informasi-informasi yang tidak berguna dari ratusan sensor yang menyala non-stop di sekujur badan pesawat tersebut, membuat katalog dan mengecek integritas data yang dikumpulkan selama satu dekade terakhir, dan menjalankan fungsi heuristik untuk mencari abnormalitas pada kecerdasan buatannya.
Yang tak kalah penting, proses sepuluh menit ini memberikan waktu istirahat untuk Moby dari semua rangsangan elektronik dari segala macam sistem yang dikaitkan padanya.
"Ada yang ingin Anda sampaikan sebelumnya? Seperti yang Anda tahu saya akan tidak aktif selama proses rehat," lanjut Ava.
"Tidak ada Ava, thanks untuk pemberitahuannya," pandangan Ismail masih lekat ke terminal pribadinya.
"Oke Kapten, sampai jumpa sepuluh menit lagi. Moby, jaga kapten kita baik-baik," kalimat Ava disambut suara geraman bersahabat Moby.
"Yap," Ismail mengeluarkan suara, matanya terfokus pada hitungan mundur pada terminal pribadinya. Lima menit lagi.
"Ada yang ingin Anda sampaikan sebelumnya? Seperti yang Anda tahu saya akan tidak aktif selama proses rehat," lanjut Ava.
"Tidak ada Ava, thanks untuk pemberitahuannya," pandangan Ismail masih lekat ke terminal pribadinya.
"Oke Kapten, sampai jumpa sepuluh menit lagi. Moby, jaga kapten kita baik-baik," kalimat Ava disambut suara geraman bersahabat Moby.
"Yap," Ismail mengeluarkan suara, matanya terfokus pada hitungan mundur pada terminal pribadinya. Lima menit lagi.
Ia akan keluar dari kabin ini, apapun yang terjadi.
Ismail menggunakan waktu sepuluh menit setiap sepuluh tahun selama beberapa puluh tahun terakhir ini untuk menuliskan beberapa baris kode dari sebuah perangkat lunak mini. Hari ini ia akan mengeksekusinya.
Ismail menggunakan waktu sepuluh menit setiap sepuluh tahun selama beberapa puluh tahun terakhir ini untuk menuliskan beberapa baris kode dari sebuah perangkat lunak mini. Hari ini ia akan mengeksekusinya.
Penanda waktu menunjukkan tersisa 5 menit lagi... Ia menuliskan beberapa baris terakhir kode, tersisa 3 menit.. 2 menit, ia menghapus penanda comment dari beberapa baris lainnya... tersisa 1 menit. Compiling.
Pada saat komputer utama baru selesai dinyalakan ulang, sebelum subrutin keamanan dijalankan ia menghubungkan terminal pribadinya ke salah satu port komputer utama dan mengeksekusi kodenya. Di Bumi ia pasti akan diadili sebagai pengkhianat untuk kelancangannya ini.
Pada saat komputer utama baru selesai dinyalakan ulang, sebelum subrutin keamanan dijalankan ia menghubungkan terminal pribadinya ke salah satu port komputer utama dan mengeksekusi kodenya. Di Bumi ia pasti akan diadili sebagai pengkhianat untuk kelancangannya ini.
Tapi Bumi milyaran kilometer dan puluhan tahun jauhnya.
Untuk sejenak tidak terjadi apa-apa, kemudian suara sirene itu menyala. Berkali-kali. Lampu anjungan yang tadinya kebiruan kini menjadi oranye bergantian dengan merah. Pintu ke dek hunian! Ismail memalingkan wajahnya ke arah pintu merah itu. Tepat di tengah pintu tersebut, sebuah panil terbuka, menampilkan sebuah pemindai telapak tangan.
Untuk sejenak tidak terjadi apa-apa, kemudian suara sirene itu menyala. Berkali-kali. Lampu anjungan yang tadinya kebiruan kini menjadi oranye bergantian dengan merah. Pintu ke dek hunian! Ismail memalingkan wajahnya ke arah pintu merah itu. Tepat di tengah pintu tersebut, sebuah panil terbuka, menampilkan sebuah pemindai telapak tangan.
Bergegas dari kursi kerjanya Ismail hampir melompat ke arah pintu tersebut, menempelkan telapak tangannya di atas pemindai. Ia bisa merasakan aliran-aliran listrik mikro merambati telapak tangannya, membaca garis-garisnya. Bersamaan dengan bunyi yang terdengar seperti suara petasan dan percikan api, pintu merah tersebut terbuka.
Ismail berdiri terdiam, menghirup kejadian di hadapannya, mengacuhkan sirene yang meraung-raung di sekitarnya.
Ismail berdiri terdiam, menghirup kejadian di hadapannya, mengacuhkan sirene yang meraung-raung di sekitarnya.
Di benaknya, hanya ada dirinya dan pintu itu, dibaliknya terdapat kebebasannya untuk keluar dari penjaranya, untuk melangkah ke dek hunian, untuk berinteraksi lagi dengan manusia lain. Sedikit ragu-ragu ia mendorong pintu tersebut dengan kedua belah tangannya. Berat. Baja setebal lima sentimeter tersebut perlahan bergerak, sampai terbuka seluruhnya. Ia melangkahkan kakinya melewati pintu tersebut.
Ruangan di mana ia berada berukuran tiga kali lima belas meter. Suhu ruangan tersebut minimal sepuluh derajat lebih rendah dibandingkan di dalam anjungan. Di kiri kanan ruang tersebut dipenuhi laci-laci berbagai ukuran, di ujungnya terlihat beberapa tabung dan seperti yang pernah ia lihat di Luna. Tidak ada pintu keluar lain. Safe deposit box? batin Ismail. Tepat di hadapannya, di atas sebuah terminal kecil sebuah tombol bertuliskan EJECT menyala berkedap-kedip, lalu mati. Luput dari perhatiannya sirene pun berhenti bersuara, lampu kembali menjadi biru, terminal pribadinya jatuh dari tangannya berdentang beradu dengan lantai logam.
"Kapten?" suara Ava memecah keheningan. Ia sudah aktif kembali.
"Ava, apa artinya ini?" Ismail bahkan tidak mengerti apa yang sedang ia rasakan saat ini. Kaget? Marah? Takut?
Ruangan di mana ia berada berukuran tiga kali lima belas meter. Suhu ruangan tersebut minimal sepuluh derajat lebih rendah dibandingkan di dalam anjungan. Di kiri kanan ruang tersebut dipenuhi laci-laci berbagai ukuran, di ujungnya terlihat beberapa tabung dan seperti yang pernah ia lihat di Luna. Tidak ada pintu keluar lain. Safe deposit box? batin Ismail. Tepat di hadapannya, di atas sebuah terminal kecil sebuah tombol bertuliskan EJECT menyala berkedap-kedip, lalu mati. Luput dari perhatiannya sirene pun berhenti bersuara, lampu kembali menjadi biru, terminal pribadinya jatuh dari tangannya berdentang beradu dengan lantai logam.
"Kapten?" suara Ava memecah keheningan. Ia sudah aktif kembali.
"Ava, apa artinya ini?" Ismail bahkan tidak mengerti apa yang sedang ia rasakan saat ini. Kaget? Marah? Takut?
"Mana jalan ke dek hunian? Mana para penumpang? Mana para teknisi?!"
"Kapten, sepertinya sudah saatnya Anda memahami keseluruhan misi ini. Maafkan saya, Bumi khawatir Anda tidak akan mampu menjalankan misi ini apabila Anda mengetahuinya sejak awal."
"Tahu apa?! Ava? Cepat bicara!" sakit. Ismail merasakan sakit, ia dikhianati, dibohongi.
"Kapten, yang anda lihat melalui monitor di meja Anda adalah simulasi, bukan tangkapan CCTV. Misi kita bukanlah kolonisasi tata surya lain, Moby bukanlah kapal koloni" Ava melanjutkan.
"Moby adalah sekoci penyelamat, Kapten. Misinya adalah menyelamatkan warisan Bumi, benih-benihnya, baik hewani dan nabati untuk ditanam dan berkembang biak di dunia baru. Dan Anda adalah penjaganya."
"Kapten, sepertinya sudah saatnya Anda memahami keseluruhan misi ini. Maafkan saya, Bumi khawatir Anda tidak akan mampu menjalankan misi ini apabila Anda mengetahuinya sejak awal."
"Tahu apa?! Ava? Cepat bicara!" sakit. Ismail merasakan sakit, ia dikhianati, dibohongi.
"Kapten, yang anda lihat melalui monitor di meja Anda adalah simulasi, bukan tangkapan CCTV. Misi kita bukanlah kolonisasi tata surya lain, Moby bukanlah kapal koloni" Ava melanjutkan.
"Moby adalah sekoci penyelamat, Kapten. Misinya adalah menyelamatkan warisan Bumi, benih-benihnya, baik hewani dan nabati untuk ditanam dan berkembang biak di dunia baru. Dan Anda adalah penjaganya."
Langganan:
Postingan (Atom)
